
Pagi itu hari minggu yang sangat cerah sekali. Aryani dan Salim tampak membawa beberapa bungkusan makanan. Juga ada boneka dan juga beberapa baju-baju bayi untuk cucunya.
Mereka berdua kemarin berbelanja banyak untuk memberikan kejutan kepada cucu-cucunya.
Semua barang-barang itu dimasukan kedalam mobil Anton, walaupun Anton mencoba mencegah mereka untuk kerumah kakaknya.
Tapi kakek dan nenek itu memaksa untuk minta diantarkan ke rumahnya Anita.
Setibanya mereka di rumah Anita tentu disambut oleh anak dan menantunya, tak terkecuali sang cucu yang lucu dan menggemaskan yaitu Keiza.
"Kungkung sama Mumu* pasti engga tahu yah, oom Ton bawa pacal ke rumah,"kata Keiza mengadu kepada kakek dan neneknya.
(\=beberapa etnis tionghoa memanggil kakek dan nenek dengan sebutan seperti itu)
"Memangnya Kei tahu pacar itu apa?" tanya Salim.
"Tahu dong Kungkung, oom Ton bawa pelempuan kesini tuh ada di dalam,"
cucunya menjelaskan.
"Mana sayang coba ajak Mumu lihat ke dalam," Aryani penasaran.
Lalu Keiza mengajak kakek dan nenek nya masuk untuk diperlihatkan kekasih pamannya.
Anton menepuk-nepuk keningnya menunjukkan dia pusing, sementara
kakak dan iparnya berbisik-bisik mentertawakan dirinya.
"Itu pacalnya oom Ton !!!,"seru Keiza sambil menunjuk kepada Mela yang sedang duduk termanggu di ruang makan.
Salim dan Aryani memicingkan kedua matanya melihat gadis itu, dan Mela yang tiba-tiba melihat ada kedua orang tua itu langsung menghampiri dan memberi salam.
"Kamu bukannya gadis yang ada di paviliun yah, kok bisa kemari," tanya Aryani.
"Iya Mamah dia diajak Anton menginap disini sudah dua malam kemarin. Dia mau membuat skripsi tentang apotik dan klinik kita," Anita menjelaskan kepada kedua orang tuanya.
"Mengapa Anton dari kemarin tidak bilang apapun kepada kami yah," Salim terdengar merasa heran dengan penjelasan Anita.
" Duduk dulu Mamah...Papah...," Fajar mempersilahkan kedua mertuanya untuk duduk.
Mela merasa kikuk dan bingung, jadi dia kembali lagi ke belakang.
"Mana tadi gadis itu, suruh duduk sini, "
Salim meminta Anita memanggil Mela.
Jujur Mela merasa tegang sekali, dia merasaka seluruh tubuhnya dingin seketika.
Lalu dia duduk dihadapan Salim dan Aryani, kedua orang tua itu memandang tajam kepada Mela.
"Kamu mengapa tidak mau dibawa Anton ke rumah kami padahal kamu sudah lama di rumah Anita. Apakah Anton melarangnya ?"tanya Salim.
Mela bingung tak tahu harus menjawab apa, tapi dia berusaha menjawab," maaf Bapak dan Ibu, saya sama sekali tidak paham. Saya memang dibawa dokter Anton kemari untuk membuat skripsi. Tapi saya tidak tahu sama sekali rumah bapak dan ibu, saya mohon maaf".
"Mana Anton yah, tadi dia ada sekarang dimana dia?" tanya Aryani dan lalu semua mencari Anton.
Rupanya dia masih di depan mengajak keponakannya bermain sambil berpikir nanti harus bicara apa kepada ayah dan ibunya.
"Ton sana cepat jangan sampai papah marah dong,"ujar Anita mengingatkan.
Anton lalu datang menghampiri kedua orang tuanya, tampak wajahnya begitu cemas.
"Maksudmu apa membawa anak orang kemari dengan dalih membuat skripsi. Ini masih perusahaan papah, hanya memang Anita dan Fajar mengelolanya tapi yang memiliki masih papah".
"Harusnya kalian ijin dulu kepada kami, dan kalau kami setuju baru skripsi bisa dilanjutkan," Salim berkata menegaskan siapa dirinya.
"Bukan maksud Anton lancang pah, memang Anton salah tidak minta ijin dulu kepada papah dan mamah," Anton berusaha menjelaskan.
"Kamu selama dua hari ini pulang ke rumah dan tidak cerita apapun sama mamah papah, terlalu !" kata Aryani.
"Semalam kamu pulang sampai tengah malam, pasti dari sini kan. Mengapa kamu tidak bilang kamu bawa anak gadis kemari ".
Melapun gemetar ketakutan, wajahnya pucat. Dia bingung ternyata serumit ini untuk urusan skripsi dan mengapa pula dokter Anton tidak membawanya menemui orang tuanya untuk minta ijin.
"Masalahnya begini, kalau Anton bawa dia menghadap ke Mamah dan Papah pasti nanti jadi beda urusan. Saat ini urusan dia hanya untuk skripsi".
"Pertimbangan Anton, suatu saat akan dibawa ke rumah Mamah dan Papah untuk urusan berbeda lagi," Anton berusaha menjelaskan.
"Urusan apa kalau kamu mau bawa dia nanti menemui papah dan mamah?" tanya Salim sambil sorot matanya tajam ke arah Anton.
Anton terdiam, lalu dia menatap Mela yang sedang duduk dan terlihat cemas dan ketakutan.
Lalu Anton menatap kakaknya dan juga iparnya yang tengah memandang ke arah Anton juga.
Sambil terlihat menguatkan hati akhirnya dia berkata kepada orang tuanya demikian, "Urusan jika kami sudah resmi pacaran dan akan melangkah ke jenjang selanjutnya".
"Nah itu dia, repot amat kamu tuh. Ya sudah segera saja jadikan kalian pacaran, tanggung anak orang dibawa kemari," kata Salim sambil tertawa senang.
"Hahahaha...emang Kamu tuh Ton, banyak muter-muter dulu, sudah pokoknya Mamah setuju kalian pacaran. Kamu Mela cepet beresin kuliah, biar segera kami lamar ke Cirebon yah," Aryani dengan santainya bicara kepada Anton.
Lalu mereka beranjak dan mengajak semua ke ruang makan. Hanya tinggal Mela yang menunduk, antara harus bahagia atau harus bagaimana, serasa mimpi apa dia harus disuruh pacaran dengan Anton oleh orangtuanya.
Anton juga bingung apa benar yang dia sampaikan barusan itu memang keluar dari hatinya atau hanya emosi semata.
Dia sebagai lelaki sudah hukumnya harus menjaga lisan atas yang telah diucapkan barusan dihadapan ayah ibunya.
Keduanya saling bertatapan tapi tak bisa mengeluarkan suatu katapun, seakan tercekat lidah keduanya.
"Hei!!! kalian sini, ngapain disana cuma tatap-tatapan, sini gabung mamah bawa kue enak ini," Aryani memanggil keduanya memecah kebisuan yang terjadi.
Mela berjalan di belakang Anton, sesungguhnya kakinya terasa berat untuk melangkah ke ruang makan, karena disana berkumpul lengkap keluarga Anton.
Namun Mela disambut ramah oleh orang tua dan keluarga kakaknya Anton, disuruhnya dia duduk bersama diantara mereka.
Di atas meja terlihat ada beberapa macam kue yang terlihat enak dan
ada kue olahan pisang yang terlihat menggiurkan.
Mela dipersilahkan untuk mengambil kue-kue disana sambil mereka semua berbincang dengan ceria.
"Ayo Mela jangan malu-malu, kamu sudah mama anggap anak sendiri,
kelak kamupun akan menjadi bagian dari keluarga ini,"Aryani selalu saja mengatakan seperti itu sehingga membuat Mela semakin salah tingkah.
"Iya papah sudah lama kepingin seperti ini, Anita sama Fajar dan anak-anak. Sekarang ada Anton membawa Mela, semoga dalam waktu dekat kalian bisa segera menikah. Papah juga kepingin segera punya cucu dari anak lelakinya papah, "mendengar Salim berkata seperti itu Anton hanya bisa tersenyum lalu dia melirik Mela yang masih diam tertunduk.
"Mela.. Ayo ambil kue.. Ini pilih kuenya enak-enak loh, mamah yang bawa tadi buat kita nih," Anita menyodorkan kue ke hadapan Mela.
Sambil malu-malu Mela memilih kue dan mengambil satu buah yang pasti kue pisang.
Anita langsung melirik suaminya dan dengan ujung matanya dia memberi kode untuk melihat kue apa yang dimakan Mela. Suaminya melihat dan keduanya cekikikan.
"Hmmm pasti deh cici sama ko Fajar tuh yah....," Anton menatap kedua kakaknya yang sedang cekikikan.
"Ada apa sih Nita?"tanya Aryani.
Anita dan Fajar terus cekikikan, kedua orang tuanya merasa aneh. Namun karena itu semua menjadi ikut tertawa bersama.
Setelah menunaikan ibadah Ashar, Anton dan Mela berpamitan harus kembali ke Cirebon.
__ADS_1
Dan perkiraan sekitar dua minggu ke depan mereka akan kembali lagi untuk melanjutkan menyelesaikan skripsinya Mela.
Di perjalanan Mela dan Anton hanya terdiam, tidak ada pembicaraan apapun satu sama lain.
Keduanya sibuk dengan perasaan dan pemikiran masing-masing.
Mela yang sampai saat ini masih takjub dengan keluarga Anton yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, bahkan kedua orang tua Anton berharap dia segera menjadi menantu mereka.
Sementara Anton merasa bingung apakah keputusan yang dia sampaikan kepada orang tuanya adalah sesuatu yang tepat.
Apakah memang benar dia sudah mencintai Mela dan berharap Mela menjadi pendampingnya kelak.
Tapi dia merasa dirinya cacat seperti ini sekarang, belum tentu juga Mela mau menerimanya.
Jalan tol sore itu tampak lengang, sehingga pas bersamaan dengan adzan maghrib mereka sudah tiba di Cirebon dan segera menuju tempat mereka tinggal karena kebetulan lokasinya tidak jauh dari pintu tol.
Tak lama merekapun tiba di halaman paviliun, ketika mobil berhenti parkir maka Melapun bersiap untuk turun. Namun saat hendak membuka pintu tangan kanannya dipegang oleh Anton dan diapun terkejut seketika. Lantas dia menoleh menatap Anton yang juga sedang memandang dirinya.
"Mela, kamu bersedia menjadi kekasih seorang cacat, seorang difabel seperti aku?"tanya Anton sambil lurus menatap Mela.
Sejenak Mela terdiam lalu membalas memandang Anton, diapun bertanya balik, "Dokter Anton memang seorang dokter yang cacat tapi punya segalanya bahkan masa depannyapun akan sukses. Memangnya mau menerima gadis kampung yang miskin dan bodoh seperti aku ini untuk menjadi kekasihnya ?".
Anton hanya menatap Mela, dia tidak menjawab apapun, lalu dia meraih Mela didekatkan kepada dirinya. Dikecupnya kening Mela sambil dia berkata," Jujur mau punya kekasih yang kurus tapi makannya banyak".
Mela mendorong Anton, lalu menatap tajam sambil berkata manja," Aku juga mau menjadi kekasih pria yang suka susah aku tebak apa maunya".
"Tapi pria itu cacat engga? Aku cacat loh cuma punya satu kaki".
"Memangnya ada peraturan yang mengharuskan seorang perempuan harus punya kekasih berkaki lengkap".
Lalu Anton kembali meraih Mela dan kembali mencium keningnya.
Sejak malam itu mereka resmi sudah berpacaran. Setiap malam pulang Kuliah Mela selalu dijemput oleh Anton.
Bahkan mereka berjanjian nanti hari minggu mereka akan mengunjungi ibu nya Mela di desa Sindanglaut.
Singkat cerita hari minggu tiba, Anton dan Mela sejak dini hari sudah bersiap. Bahkan malam sebelumnya Mela sudah belanja banyak kue untuk dibawanya ke desanya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, tibalah mereka di depan rumah Mela.
Menuju rumah Mela harus masuk dan melewati halaman kantor kuwu.
Dan letaknya tak jauh dari kantor kuwu tersebut hanya berbeda sekitar 5 rumah ke arah barat.
Rumahnya dari dasar sampai tengah bangunan terbuat dari tembok, dan tengah ke atas terbuat dari kayu.
Pintu dan jendelanya juga terbuat dari kayu, memang bukan kayu jati tapi cukup lumayan kuat untuk dijadikan bangunan rumah.
Di rumah hanya ada Wahyu sendirian, dia adik bungsunya Mela, maka dia menyambut Mela dan juga Anton.
"Ang, kuwen tah demenan aang kuh?" bisik Wahyu kepada kakaknya. (\=kak, itu yah kekasih kakak)
"Hus... bocah cilik rame bae, Mimi ning endi?" Mela sok ketus sambil balik bertanya dimana ibunya. (\=hus anak kecil ribut saja, mana ibu)
"Mimi nganter nang pesenan intip, ning umahe ibu Kuwu," jawab Wahyu.
(\=Ibu sedang mengantar pepes tahu ke rumah ibu kuwu)
"Dok sayang, ibuku sedang mengantar pesanan pepes sebentar ke rumah ibu Kuwu, tunggu sebentar yah," kata Mela kepada Anton memberitahukan ibunya sedang tidak di rumah.
Anton hanya mengangguk, lalu diapun duduk di bale-bale di teras depan rumah Mela. Hawa di daerah rumah Mela panas sekali, tapi duduk di bale-bale agak lumayan ada semilir angin.
"Wahyu !!! Ai Rahman ning endi? Manjing menggawe tah dina minggu gen?" Mela menanyakan adik keduanya yaitu Rahman kepada Wahyu. (\= Wahyu kalau Rahman kemana? Apakah hari minggu juga masuk kerja?)
"Iya Ang, olih giliran dina minggu, awit esuk sampe mengko bengi jam Wolu. Mengko giliran wong sejene maning, "jawab Wahyu menjelaskan kepada kakaknya.
Sambil menyiapkan minuman Mela meminta Wahyu untuk menjemput ibunya. Sampaikan kepada ibu kalau di rumah sedang ada tamu temannya Mela.
"Batur apa...yong mau gen yang ... yang..... ai demenan kuh ngaku bae ambir gelis nika!,"seru Wahyu sambil berjalan keluar rumah menuju rumah ibu kuwu.
(\=teman apa...orang tadi juga sayang-sayangan... kalau kekasih ngaku saja agar cepat nikah)
Ditengah jalan Wahyu dicegat oleh Aris anak nya pak Kuwu.
"Yu, ana sapa ning umah ira? Aang Mela teka tah? Karo sapa?"tanya Aris kepada Wahyu
(\=Yu, ada siapa di rumahmu? Kak Mela datang yah? Bersama siapa?)
"Iya karo bature, ana apa jeh nakoni kita kuh ?"jawab Wahyu tidak suka.(\=Iya bersama kawannya, ada apa bertanya segala)
Aris tak menjawab malah mendorong punggung Wahyu, untung Wahyu tidak sampai terjatuh.
Tampak Aris berjalan mendekati rumah Mela, dia mengintip ke arah rumah Mela dari balik pohon di halaman kantor kuwu.
Wahyu melihat itu lalu melanjutkan perjalanannya ke rumah Aris, menyusul ibunya yang sedang mengantarkan pesanan pepes tahu kepada ibunya Aris.
Kuwu di desa Mela bernama Baharudin, tetapi keluarga Mela memanggilnya Mang Bahar karena masih terhitung kerabat jauh dari keluarga almarhum ayahnya Mela.
Mang Bahar mempunyai seorang anak laki-laki bernama Aris, namun dia bukanlah pemuda yang bisa dijadikan contoh.
Pekerjaan setiap hari berkumpul bersama kawanannya untuk berjudi atau mabuk-mabukan.
Bila uang habis, tanpa ragu dia akan meminta kepada ibunya. Mang Bahar sendiri memang sudah jengah dengan kelakuan anaknya. Namun istrinya selalu membelanya, sehingga prilaku buruknya semakin hari semakin menjadi karena dia selalu mudah mendapatkan apapun.
Tapi dia kesulitan mendekati Mela, berkali-kali dia mencoba menarik hati Mela, tapi tak pernah digubris.
Bahkan pernah berjanji dihadapan Mela, kalau Mela menerima cintanya maka dia akan berhenti mabuk dan judi.
Tentu saja hal itu hanya dianggap angin oleh Mela, karena dirinya yakin orang seperti Aris sulit berubah.
Setibanya Wahyu di depan rumah ibu Kuwu, terlihat ibunya juga sudah selesai dan bersiap pulang.
Melihat anaknya menjemput segera ibunya menghampiri, "Cung, ana apa nyusul mene?". (\=nak ada apa menyusul kemari)
"Ang Mela teka karo bature, kayae sih wis demenan kuh, tapi kedelenge bature aang kuh wong cino , " ujar Wahyu mengabarkan kepada ibunya.
(\=Kak Mela datang dengan temannya, sepertinya sih mereka sudah pacaran, tapi kelihatannya teman kakak itu orang cina)
Ibunya hanya diam sambil keduanya berjalan menuju ke rumahnya. Dan memang di depan rumah terlihat anak gadisnya sedang berbincang sambil tertawa bahagia dengan seorang pria yang tampak berbeda dengan mereka.
Mela melihat ibunya datang segera menyambut memberi salam, begitu juga dengan Anton.
"Mimi, iki bature Mela, arane dokter Anton,"kata Mela memperkenalkan Anton kepada ibunya. (\=bu, ini teman Mela, namanya dokter Anton)
"Oh ini dokter Anton yang sering Mela ceritakan yah,"kata bu Sinah terlihat bahagia dan bangga dengan kekasihnya Mela itu.
"Iya bu, panggil saja saya Anton, ini kan bukan di puskesmas," kata Anton kepada ibu Sinah.
"Ya sudah silahkan duduk, maaf ibu tidak punya cemilan. Nanti sebentar ibu masak dulu buat makan siang yah,"kata ibu Sinah mempersilahkan Anton untuk duduk sementara dia akan memasak untuk makan siang nanti.
"Mela bantu Mimi, Wahyu tulung baturi dokter Anton disit," Mela meminta Wahyu menemani Anton.
(\=Mela bantu ibu, Wahyu tolong temani dokter Anton sebentar.
Wahyu lalu menemani Anton dan ketika tahu Anton seorang dokter dia begitu senang sekali. Wahyu juga bercerita dia sekolah farmasi, dan ingin sekali suatu saat nanti menjadi seorang apoteker.
"Cuma saya sadar diri kak Anton, karena sekolah apoteker mahal pasti kami tak mampu. Jadi semoga lulus nanti bisa kerja di apotik saja cukup,"kata Wahyu kepada Anton.
"Kamu jangan patah semangat, contoh kakakmu dia lanjut kuliah sambil kerja kan," timpal Anton.
__ADS_1
Anton mengajak Wahyu berselancar melalui telepon genggamnya mencari beberapa kampus yang menerima kelas karyawan untuk jurusan Farmasi.
Ternyata ada di Bandung, kemudian Anton mengatakan kalau memang benar mau melanjutkan studi kelak jangan khawatir, dia akan coba membantunya.
Wahyu juga mengirim chat kepada Rahman kakaknya, dia mengatakan sedang bersama kawan baiknya Mela. Bahasa mereka adalah demenannya Mela.
Rahman juga akhirnya mencoba meminta tolong temannya untuk berganti shift lebih awal, dengan alasan ada saudara datang dari luar kota.
Akhirnya temannya bersedia berganti setelah maghrib nanti.
Siang hari telah tiba, Mela dan ibunya menyiapkan makanan yang sudah matang di bale-bale teras rumahnya. Mela dan ibunya memasak urab daun pepaya, tempe goreng hangat, tak ketinggalan pepes tahu juga sambal terasi dadakan. Sungguh menggoda selera sekali.
Anton dan Wahyu sedang jalan-jalan ke belakang rumah. Wahyu menunjukkan kambing peliharaan mereka yang jumlahnya ada 5 ekor, ada 1 jantan dan 2 betina, saat ini ada 2 ekor anakannya.
Di belakang rumah Mela juga ada kebun yang lumayan besar, ditanami singkong, pepaya dan pohon pisang. Pantas Mela suka pisang, karena di halaman belakang rumahnya ada sekitar 3 pohon pisang tumbuh di sana.
Mela menyusul ke belakang rumahnya memanggil Anton dan adiknya untuk makan siang bersama.
Kemudian setelah mencuci tangan keduanyapun duduk di bale-bale.
"Kak Anton kenapa dari tadi tidak naik ke atas sini, enak di sebelah sini loh duduknya sambil kaki dilipat bersila, "kata Wahyu sambil menciduk nasi.
"Hus bocah cerewet," sela Mela sambil melotot ke arah Wahyu.
"Lah aang tuh, emang bener lebih enak sebelah dalam sini kok duduknya,"tukas Wahyu sambil bibir dicebikan.
Anton tersenyum ke arah Wahyu sambil berkata,"Saya sekarang tidak bisa Yu, nanti yah setelah sholat Dzuhur saya duduk bersamamu".
Wahyu hanya diam sambil mengunyah dia bingung, mengapa duduk saja harus tunggu habis sholat, dalam pikirnya aneh juga kekasih kakaknya.
"Masakan ibu enak sekali, ini urab daun pepaya yah. Enak sekali tidak pahit,"kata Anton memuji masakan ibu Sinah.
"Ibu hanya menggoreng saja nak Anton, yang mengolah urab ini Mela," Ibu Sinah menjelaskan.
Anton mengacungkan jempolnya pada Mela. Dia memang suka sekali sayuran, sehingga olahan sayuran masakan Mela cocok di lidahnya.
Selesai makan Wahyu mengajak Anton untuk beribadah di masjid dekat kantor kuwu.
Dan benar seperti orang-orang yang sebelumnya, Wahyu juga terpana saat Anton meminjam sandal jepit. Lalu dia menggulung celana panjangnya dan membuka kakinya.
Kemudian berjalan menuju Masjid dengan menggunakan tongkat.
"Nanti setelah sholat kita duduk santai di bale-bale sambil selonjoran yah," ajak Anton yang membuat Wahyu tersipu tak enak hati.
Siang itu ramai orang- orang bergosip ada orang tinggi, putih dan tampan tapi berkaki satu sedang sholat di Masjid.
Adzan Maghrib berkumandang, Wahyu dan Anton sudah di dalam masjid menanti saatnya berjamaah.
Sementara Rahman baru tiba dari tempat kerjanya. Kawannya berbaik hati menggantikan tugas Rahman yang seharusnya selesai 2 jam lagi.
Rahman memarkirkan sepeda motornya, dan saat duduk di bale-bale hendak membuka sepatu, dia terkejut terbengong ada kaki bersandar di dekat pintu.
Lalu dia dengan panik bertanya kepada kakaknya, dan disambut tawa oleh kakaknya.
" Itu kaki demenan aang".
Rahman masih belum paham sampai dia melihat adiknya baru pulang dari Masjid dengan pria berkaki satu.
Setelah makan malam bersama dengan menu terong balado dan telur dadar.
Rasa masakan Mela membuat Anton semakin terkesan dengannya.
Setelah selesai makan Mela bersiap untuk kembali ke paviliun bersama Anton. Dia membereskan pakaian dan beberapa macam makanan kampung untuk dibawanya nanti. Dia juga sedang diberi nasihat oleh ibunya untuk yakin dan benar-benar tulus mencintai Anton dan menerima kekurangan Anton.
Sementara di depan ketiga lelaki yaitu Anton, Rahman dan Wahyu sedang berbincang ringan di halaman.
Anton menjelaskan rasa penasaran Wahyu yang mempertanyakan cara Anton menyetir mobil.
Anton dan Rahman menjelaskan kepadanya sambil diselingi canda. Wahyu rupanya tidak paham ada mobil automatic transmisinya.
Ketika ketiganya sedang tertawa-tawa, sekonyong-konyong datanglah 5 orang lelaki membawa parang. Mereka adalah Aris dan empat orang kroninya.
" Hei !!! Cina buntung!!! Ada urusan apa sama Mela?"seru Aris sambil menunjuk Anton dengan parang.
"Aris jangan onar disini, mau apa kalian menggangu tamu kami?"tanya Rahman dengan kesal.
"MENENG IRA !!!"bentak Aris kepada Rahman. (\= Diam Kau)
Rahman semakin kesal dia maju menantang Aris," Ira pengen apa gawe rusuh ning kene". (\=apa maksudmu membuat rusuh disini)
"WONG CINA AREP REBUT KAKANG IRA!!! KITA BELI TERIMA!!!" teriak Rahman lagi.
(\=Orang Cina mau merebut kakakmu, aku tak terima)
Sementara Anton juga mulai berdiri dan dia menatap Aris tajam.
Orang-orangpun berdatangan melihat kerusuhan yang Aris perbuat namun tak ada yang berani melerai.
Mela yang sedang di kamar mendengar ada keributan langsung melihat keluar dan segera berlari sambil berteriak," ARIS !!!! BRENG**K IRA!!!"
Mela berlari dan mendorong Aris, melihat gerakan Mela demikian segera Anton menyambarnya, memegangi Mela yang tampak begitu emosi.
"MELA!!! IRA MIKIR BELI HAH !!!NAPA MILIH WONG CACAT!!! KITA KURANG APA MELA???!!!!
(\=Mela, kau berpikir tidak, mengapa memilih orang cacat, aku kurang apa)
" KURANG AJAR!!! BAJ***AN," terima Mela dengan sangat murka, sampai nafasnya tersengal-sengal.
"Mela sudah, Mela dengar sudah, kamu diam,"kata Anton menenangkan Mela.
Lalu Anton menatap Aris dan berkata," Maaf saya hanya sedang bertamu disini, kalau saya ada salah saya mohon maaf mungkin kita bisa bicara secara baik-baik di dalam".
Aris lalu berjalan mendekati Anton, Rahman dan Wahyu mencoba menghalang tapi mereka dipegang oleh anak buahnya Aris.
Sementara Mela dipeluk ibunya dan mereka juga dihadang oleh salah satu anak buah Aris.
Aris semakin mendekat, tercium nafasnya berbau alkohol menyengat dan dia berbisik ke telinga Anton ,
"Dengar hei Cina cacat, jauhi Mela. Sekarang kau kuampuni, lain kali kau ******. Paham?!"
Anton tidak bergeming dia diam sambil tangannya mengepal, kemudian dia berkata sambil menahan geram," Saya tidak ada urusan dengan anda, saya dan Mela bukan urusan anda".
Aris melotot dan memasang wajah bengis lalu dia menarik kerah baju Anton ," BANG**T DENGAR JAUHI MELA!!!".
Anton membalas tatapan Aris tanpa rasa takut sedikitpun dan dia menarik tangan Aris dan mendorongnya lalu Arispun terjatuh ke belakang.
Anak buahnya serentak bergerak hendak menghajar Anton, namun tiba-tiba orang-orang berdatangan dan juga Kuwu Bahar.
"ARIS.. NAPA IRA !!! AJA GAWE RUSUH BAE!!!" Hardik Ayahnya.
(\=Aris kenapa kau, jangan membuat rusuh)
"BUBAR KABEH!!! BUBAR !!!"Bahar mengusir semua orang disana.
Lalu dia menatap Anton dan dia mendekat," Anda juga silahkan pergi, sudah malam jangan menggangu keresahan warga".
Setelah itu Bahar pergi meninggalkan mereka, kembali ke rumahnya sambil membawa Aris.
Mela dan Antonpun pamit, mereka dikawal oleh Rahman dan Wahyu sampai ujung jalan yang dianggap sudah aman dari anak buah Aris.
__ADS_1