Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

Orang terdekat Anton di Puskemas sekarang sepertinya semua sedang kasmaran.


Jaya yang terlihat semakin dekat dengan Miranti, Trisno dengan Lovely si gadis kue dan juga Haikal yang secara terbuka mendekati adik sepupunya Anton.


"Bro, sibuk tidak?"tanya Anton di depan ruangan praktek Haikal.


"Masuk saja Bang, kebetulan pasien sudah selesai semua kok," sahut Haikal sambil mempersilahkan Anton duduk.


Anton duduk sambil menghela nafas, lalu berkata ," Haikal, aku mau bicara antar teman, antara sebagai sesama lelaki".


"Maaf yah...aku paham kalau kamu terlihat suka dengan sepupuku. Tapi sejak awal aku sudah mengatakan kalau dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya".


"Ya Bang, aku paham kalau Apri sudah dijodohkan dengan seorang pria bernama Isman," sahut Haikal sambil senyum.


"Hmmm...aku melihat kalian sudah terlalu dekat selama satu bulan ini. Apakah kalian tidak takut akan saling terluka?"tanya Anton dengan tatapan tajam kepada Haikal.


"Ada sedikit rasa takut sih Bang, tapi jujur aku senang kalau sedang bersama Apri," jawab Haikal lagi.


"Masalahnya dalam waktu dekat ada kemungkinan pertunangan mereka akan diresmikan. Lalu Apri menikah dengan Isman, apa kamu tidak terluka nantinya?"Anton sedikit keras mengingatkan kepada Haikal.


"Iya sih, kalau mereka sampai jadi menikah mungkin aku terluka, tapi kalau tidak jadi tentu aku menjadi saudara abang," tukas Haikal dengan santainya.


"Waduh, kenapa susah sekali mengingatkan kamu yah bro".


Haikal kembali tersenyum lalu dia berkata kepada Anton.


"Bang, kalau lelaki benar cinta pasti setiap saat akan menghubungi. Entah itu telepon, chat, sms atau apa saja. Mungkin abang juga pernah merasakan itu bukan?".


Anton mendengarkan, kemudian dia mengiyakan apa yang dikatakan Haikal.


"Maaf Bang, dulu sewaktu belum menikah kalau Mbak Mela pergi seorang diri atau bersama temannya, apakah akan Abang pantau atau tidak?".


"Jangankan sebelum menikah, sekarang saja walau sudah bersama kalau istriku minta ijin ke suatu tempat pasti aku hubungi untuk meyakinkan dia sudah tiba dengan selamat atau belum," Anton menjelaskan kepada Haikal.


"Nah itu, kalau lelaki berjauhan dengan kekasihnya dan hanya menelepon satu minggu sekali. Atau sekedar mengirim chat sesekali, apakah itu saling cinta?"Haikal menodong Anton untuk berpikir akan hal itu.


"Mungkin saja Isman pria sibuk sekali bro".


"Masa menelepon kekasihnya jam sembilan malam, bertanya ada dimana. Apri menjawab sedang makan bersama teman. Lalu Isman hanya berkata "Ya sudah selamat makan", begitu saja loh".


"Hmmm...dulu Mela pergi malam pasti aku akan marah dan menyuruh cepat pulang".


"Nah itu dia Bang....aku tidak berani menyimpulkan apapun, hanya memang Apri lebih bahagia saat bersamaku".


"Terserah kalau begitu, yang pasti minggu depan aku ada simposium dan pelatihan di kota Yogyakarta selama satu minggu. Jadi aku terpaksa titip Apri kepadamu, pergi dan pulang kerja bersamamu".


"Tenang Bang, aku jamin dia baik-baik saja bersamaku".


Anton tidak bisa berkata apapun dan dia berlalu dari ruangan Haikal.


Anton berjalan menuju ruangan Jaya, dilihatnya Jaya sedang komunikasi lewat telepon Video dengan Miranti.


"Mana teman-temanmu, aku lihat dong. Lalu itu lelaki siapa yang duduk di dekat mu?"tanya Jaya sambil memperhatikan tampilan video Miranti.


"Ini teman-teman semua, sedang ada acara kantor. Makan-makan karena bulan ini over target," terlihat Miranti memperlihatkan semua temannya melalui ponselnya di seberang sana.


"Oke aku percaya, ya sudah silahkan makan, kamu duduknya pindah jangan dekat lelaki itu yah".


"Hahahaha....iya deh...aku pindah... ini aku bawa tas aku yah...aku pindah ke dekat para cewek," sahut Miranti sambil memperlihatkan dia pindah duduk ke meja teman perempuan.


"Ya sudah, nanti kalau sudah pulang jangan lupa telepon aku," kata Jaya sambil memberikan cium jauh kepada Miranti.


"Hmmm yang mau nikah, ayo cepat jangan ditunda lama-lama," goda Anton di depan pintu.


"Nanti bro, baru sebulan kami dekat. Nanti tunggu bulan depan, aku mau kenalkan dia kepada orang tuaku," sahut Jaya mantap.


"Nah gitu dong, lucu yah kisah cinta setiap orang berbeda-beda. Selalu ada tahapan rumit untuk menguji perasaan cinta itu yah," kata Anton sambil duduk dihadapan Jaya.


"Istrimu memang perempuan hebat bro, aku salut sama Mela. Tidak pernah menuntut, tidak pernah mengeluh walau apapun yang terjadi. Beruntung bro dokter menikah dengannya," kata Jaya memuji istrinya Anton.


"Benar juga, aku menikah hampir tujuh bulan tapi belum pernah mengajaknya bulan madu berdua. Kasihan juga yah istriku," kata Anton tiba-tiba ingat kalau mereka belum pernah menghabiskan waktu berdua saja berbulan madu.


"Nah...minggu depan bro dokter kan simposium di Yogyakarta, ajak dong istri atau minta Mela menyusul ke sana. Nikmati berduaan di sana, nanti kembali lagi bareng berdua," saran Jaya kepada Anton.


"Cerdas juga bro Jaya, oke deh aku lihat jadwal acaranya. Nanti aku minta istriku menyusul saja ke sana. Sip terima kasih, siapa tahu pulang dari sana hamil yah," kata Anton terlihat ceria sekali.


Jaya menunjuk ke arah sahabatnya sambil mengedipkan matanya tanda mendukung dengan harapan Anton.


"Mi...aku mulai simposium itu hari senin sampai kamis malam. Hari Jum'at itu hanya acara silaturahmi dengan dewan IDI pusat sampai tengah hari saja, setelah itu acara penutupan dan selesai".


"Ini tiket kereta api, dari stasiun sini jam sembilan pagi, diperkirakan Mi tiba di Yogyakarta menjelang sore. Nanti aku jemput di stasiun," kata Anton kepada istrinya.


"Tapi nanti masih banyak teman doktermu, aku malu Pi. Nanti disangka memanfaatkan kesempatan," kata Mela merasa khawatir suaminya nanti di cap buruk.


"Mi...sayang...aku sudah pesan hotel sendiri dong, nanti kita menginap di hotel berbeda. Kita selama ini belum pernah bulan madu kan," Anton meyakinkan istrinya kalau keberangkatannya


nanti tidak akan jadi masalah.


"Nanti Apri sendiri di sini bagaimana Pi?"tanya Mela sekarang khawatir kepada Aprilia.


"Sudah tidak usah dipikirkan, lebih baik pikirkan nanti mau kemana saja di Yogyakarta,"kata Anton sambil merangkul istrinya.


"Hmmm...aku mau jalan-jalan ke semua tempat yang ada di film Ada Apa dengan Cinta," kata Mela sambil tersenyum manis kepada suaminya.


"Oke pasti aku antar kemana saja tempat yang Mi inginkan. Sekarang kita bonus- bonusan yuk".


" Pi sayang...maaf aku lagi palang merah...hihihi," kata Mela sambil cekikikan dan Anton langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil sebal.


Hari minggu pagi Anton bersiap menuju ke stasiun akan berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri undangan acara simposium yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia.


Pada acara tersebut juga semua jajaran dokter di Indonesia akan diberikan pengetahuan tentang mutasi virus.


Haikal pagi itu datang ke rumah yang ditempati Anton, menawarkan diri untuk mengantar Anton ke stasiun.


"Tidak usah diantar, aku sudah pesan taksi online. Apri kamu nanti pulang jangan malam-malam sekali. Kasihan Mbak Mela mengerjakan apa-apa sendirian, bantu lagi dong," Anton mulai lagi cerewet kepada Aprilia.


Gadis itu malah cuek saja bermain game online, tidak peduli apa yang diributkan oleh Anton.


Tak lama taksi online datang, lalu Anton pamit kepada istrinya.


"Hati-hati di jalan yah Pi, nanti tiba di sana kabari aku yah," kata Mela sambil mencium tangan Anton.


Anton memeluk istrinya, mencium keningnya, lalu berjalan ke depan sambil menggandeng istrinya.


Baru kali pertama setelah tinggal serumah, mereka harus terpisah jarak lagi.


Untung cuma beberapa hari saja dan nanti menjelang akhir minggu Mela akan menyusul suaminya ke Yogyakarta.


Taksi online sudah melaju menuju stasiun kota, satu jam lagi kereta akan segera membawa suaminya berangkat ke kota gudeg.


Mela kembali masuk rumah dan kembali melakukan pekerjaan di bagian belakang rumah.


Apalagi kalau bukan mencuci pakaian, memasak, menyapu, mengepel lantai dan menyetrika pakaian.


Tugas seorang istri dan ibu rumah tangga pada umumnya, mau mencari asisten rumah tangga tapi untuk apa juga.


Mela tidak bekerja, hanya bekerja dengan cara online saja menawarkan kosmetik produksi kakak iparnya dengan dokter Wina.


Setidaknya bisa memiliki waktu untuk mengurus rumah sendiri selagi belum punya anak.


"Apri, Mbak Mela luar biasa yah. Dari tadi aku perhatikan dia tidak berhenti melakukan pekerjaan rumah. Tapi dia tidak mengeluh atau bagaimana yah," kata Haikal mencoba memancing empati Aprilia.


"Iya aku kasihan sama Mbak Mela, apalagi kak Anton apapun juga harus sama istri. Sampai mencari apapun juga harus teriak-teriak memanggil Mbak Mela menanyakan ini disimpan dimana, itu disimpan dimana,"Aprilia memperlihatkan rasa kesal kepada kakak sepupunya.


"Ah kamu juga tidak suka membantu Mbak Mela, berarti kamu sama saja sama Bang Anton," sela Haikal sambil melirik Aprilia.


"Enak saja, memangnya kalau membantu Mbak Mela harus disiarkan lewat radio...Ya kali...," tukas Aprilia sambil mencebik ke arah Haikal.


"Ya sudah, kamu bantu Mbak Mela yah, aku pamit dulu. Nanti sore aku jemput kamu, kita nonton bioskop lagi. Oke ...".


"Hmmm...Oke deh".


Lalu Haikal pamit kepada Mela, dan setelah Haikal pulang, ada gadis perkasa beraksi.


Menyapu dan mengepel, membantu menjemur pakaian dan membantu memasak di dapur.


Anton sudah tiba di Yogyakarta pada pukul empat sore tadi, dia menelepon istrinya ketika tiba di hotel yang sudah dipesankan oleh panitia penyelenggara simposium tersebut.


Mela juga senang suaminya sudah selamat sampai tujuan, dan mendoakan semoga segala urusan pekerjaan selama di sana dapat berjalan lancar.


Karena menurut informasi akan ada ujian juga bagi semua dokter yang diundang, dan nilai ujian serta sertifikat yang akan diterima bisa dijadikan sebagai salah satu penunjang untuk pengajuan ijin membuka praktek di rumahnya nanti.


Setelah saling bercakap-cakap cukup lama dengan suaminya, lalu sementara pembicaraan dihentikan dulu dan Anton berjanji nanti malam akan kembali menelepon istrinya.


Di kota lain Septa Hidayat sedang mempelajari berkas draft kerjasama pembangunan hotel dan juga usaha di bidang travel yang akan segera dilaksanakan bulan depan.

__ADS_1


Yang mengajak usaha bersama yaitu teman lamanya bernama Ruslan, konsep kerjasama dan keuntungan yang ditawarkannya kepada Septa sangat menggiurkan sekali.


Pembagian keuntungan yang ditawarkan Ruslan benar-benar membuat Septa sangat tertarik.


"Ayolah kalau sudah setuju dengan penawaranku ini kita bisa buatkan perjanjian resminya. Kau tanda tangan saja dulu konsep ini," kata Ruslan seakan mendesak Septa.


"Tenang sahabat, aku tetap harus membahas dulu dengan keluargaku agar nanti ke depannya tidak ada masalah," sahut Septa mencoba meminta waktu kepada Ruslan untuk mempelajarinya.


"Ya sudah terserahmu saja, tapi apa yang aku tawarkan ini membawa keuntungan besar bagi kita berdua," Ruslan kembali mengiming-iming keuntungan kepada Septa.


"Septa, adikku Isman kan sekarang menjadi pimpinan Bank, dia juga nanti akan menjadi suami adikmu. Kenapa kau harus takut dengan penawaran kerjasama kita ini?".


"Sesungguhnya bukan takut, tapi aku hanya ingin meminta ijin dari keluarga dulu agar usaha mendapat restu dan dukungan doa keluarga," jawab Septa lagi.


Ruslan tampak tidak senang dengan apa yang disampaikan oleh Septa, tapi dia berusaha profesional di hadapan sahabatnya itu.


Istri Septa adalah seorang sarjana hukum, walau dia tidak berkarier tetap, sesekali dia suka diminta oleh suatu lembaga hukum milik sahabatnya untuk membuatkan perjanjian kontrak kerjasama untuk perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.


Septa kembali ke rumah, dan meminta istrinya Lisma untuk melihat konsep kontrak kerja yang ditawarkan oleh Ruslan.


Lisma mempelajari satu persatu setiap kalimat di dalam konsep kontrak kerja itu, tampak tidak ada yang aneh.


Namun baik Lisma maupun Septa merasa ragu dengan konsep tersebut.


"Bang, sebenarnya isi konsep ini tidak ada yang salah, tapi aku merasa ragu yah. Ada sesuatu yang aneh dengan draft isi kontrak ini tapi...apa yang ganjilnya belum bisa aku buktikan," Lisma istri Septa memberikan pendapatnya.


"Jadi begini dek, Ruslan akan mengajukan pinjaman ke Bank sebesar sekian milyar untuk proyek ini. Tapi nanti nama peminjam di Bank menggunakan nama Abang".


"Setelah dana tersebut cair, uang tersebut nanti diserahkan kepada Ruslan untuk pembangunan proyek hotel dan travel".


"Keuntungan dari hotel dan travel tadi terbagi 60:40. Yang mendapat 60 persen yaitu abang karena nama Abang yang dipakai menjadi debitur bank tersebut," Septa menjelaskan kepada istrinya.


"Mungkin ini yang ganjil Bang, apakah Abang sudah yakin menjadi debitur Bank tersebut. Jangan sampai nanti uangnya malah dibawa lari orang lain".


"Bukannya adek curiga dengan Ruslan, dia selama ini baik dengan Abang bahkan adiknya Isman juga bersedia dijodohkan dengan Apri ".


"Hanya ini menyangkut urusan uang dalam jumlah besar, jangan sampai persahabatan bahkan mungkin tali silaturahmi kekeluargaan menjadi putus dengan masalah ini," Lisma mencoba memberikan analisanya kepada suaminya.


Septa merenung, di satu sisi ada ajakan menarik tapi di sisi lain terasa ada keganjilan.


Bahkan Isman adiknya Ruslan juga sampai bersedia dijodohkan dengan Aprilia.


Sesungguhnya Septa kurang setuju, masalah bisnis dikaitkan dengan perjodohan.


Tapi Mamah Cahyani sangat mendukung sekali perjodohan itu, karena berharap Aprilia bisa hidup lebih layak dan bahagia.


"Bang, karena ini menyangkut bisnis keluarga. Apa salahnya Abang mencoba membahas dengan Bang Cakra, siapa tahu beliau lebih paham masalah ini," Lisma mencoba memberi saran kepada suaminya.


"Beliau orang sibuk dek, abang mana berani bertanya. Tak enak hati rasanya menambah beban pikiran beliau," kata Septa dengan sedikit putus asa.


"Sebenarnya sih kalau mau tahu apakah Ruslan beritikad baik atau tidak, seharusnya mengajaknya bertemu Ko Fajar. Setidaknya dia bisa membaca karakter orang," kata Lisma memberi ide lagi.


"Iya sih, cuma Fajar pasti tidak paham urusan kontrak kerja macam begini".


"Tapi apa salahnya Bang kalau dicoba, sebab Ko Fajar bekerja sama dengan dokter di klinik itu pasti juga ada kontrak kerja. Nanti mungkin bisa bertukar pikiran dengan kita".


Septa merenung sebentar, lalu dia setuju dengan ide istrinya dan melalui surat elektronik, Septa mengirimkan hasil pindaian konsep kontrak kerjanya dengan Ruslan kepada Fajar.


"Isman, apakah dana sebesar dua puluh lima milyar untuk masuk ke rekening aku sudah kamu siapkan?" tanya Ruslan kepada adiknya melalui ponselnya.


"Sudah siap Bang, hanya butuh segera tanda tangan Septa Hidayat. Lalu uang bisa segera cair ke rekeningmu?" jawab Isman kepada kakaknya.


"Lalu bagaimana urusan selanjutnya setelah uang itu cair?"tanya Ruslan lagi kepada adiknya.


"Tenang Bang, setelah uang cair lalu aku mengundurkan diri dari Bank ini dan kita tinggal kabur saja. Mudah kan,"sahut Isman dengan entengnya.


"Lalu urusan perjodohan dengan adiknya Septa bagaimana?" tanya Ruslan lagi.


"Bang, kalau uang sudah di tangan, gadis macam artis pun bisa ku beli. Buat apa aku repot dengan gadis bodoh itu. Malas sekali aku dengan adiknya Septa itu," kata Isman terlihat kesal saat ditanya soal perjodohan.


"Hahahaha....Tapi ibunya gadis itu sangat ingin kamu jadi menantunya. Bisa jantungan dia kalau kamu tinggalkan anak gadisnya," Ruslan meledek adiknya.


"Bang perempuan bodoh macam Aprilia itu mana cocok denganku. Pacarku banyak dan cantik-cantik, malas aku memikirkan perempuan kampungan itu," Isman menggerutu kesal bila harus mengingat Aprilia.


"Hahaha...ya sudah, aku akan terus mencoba menjalankan aksiku, karena Septa keparat itu juga belum mau menanda tangani surat kontrak kerjanya".


"Kalau memang susah pakai jalan lain Bang, nanti kita pikirkan lagi. Yang penting ada tanda tangan orang itu, uang cair dan kita bisa kabur," Isman memberikan jalan keluar kepada kakaknya.


Ruslan setuju dan mereka menutup pembicaraan teleponnya.


"Mbak Mela, aku sama Haikal mau minta ijin yah. Kami mau menonton film di bioskop. Apakah Mbak akan ikut serta?" Aprilia meminta ijin sambil berbasa-basi mengajak Mela.


"Mbak di rumah sendirian, apakah tidak ikut kami saja?"tanya Aprilia lagi.


"Biasa juga aku sendirian, paling kalau bosan aku ke rumah tetangga atau malah mereka yang suka main ke rumah sini," jawab Mela dengan senyum ramahnya.


"Oke mbak, makasih yah. Nanti pulangnya aku bawakan kue yang enak deh".


"Hmmm...paling juga lupa lagi. Sudah sana jangan pulang malam yah".


Haikal juga pamit kepada Mela dan segera membawa gadis itu naik ke motornya.


"Jadi ingat dulu deh, sore-sore begini naik motor sama Pi Anton jalan-jalan," Mela berguman sendirian saat melihat kedua insan muda belia pergi berkencan.


Haikal dan Aprilia mengantri tiket bioskop, mereka akan menonton film tentang sekelompok pesulap yang membasmi kejahatan.


Hampir semua gadis yang akan menonton film di sana bersaing berdandan cantik dan seksi.


Pakaian mereka sangat minim menggoda iman, dan polesan wajahnya juga sangat berani.


Mungkin hanya segelintir gadis yang berdandan sederhana seperti Aprilia.


Biasanya dia selalu acuh tak acuh bila berada di antara gadis lain yang cantik dan bergaya.


Tapi entah mengapa kali ini dia merasa resah, ada rasa takut Haikal melirik gadis-gadis seksi dan berpaling darinya.


Padahal diantara mereka tidak ada kata jadian atau apapun. Selama hampir dua bulan ini hampir setiap hari bersama tetapi tidak ada komitmen apapun.


Padahal Aprilia sekarang sudah banyak perubahan, dia sudah belajar berdandan kepada Mela.


Bahkan Mela membelikan krim perawatan wajah, dan mengajari


dirinya memoles kelopak mata dan juga memakai lipstik jika hendak pergi keluar rumah.


Sekarang juga caranya berpakaian dan memakai kerudung juga sudah diperbaiki oleh Mela, sehingga bisa lebih terlihat rapi dan modis.


Haikal berdiri disamping Aprilia, dan di depan mereka ada sekelompok gadis muda yang juga mengantri.


Semuanya berpakaian minim dan seksi, mereka saling berkelakar satu sama lain sambil tertawa-tawa.


Ada salah satu diantara mereka


memakai baju atasan yang sangat terbuka, sehingga kalau bergerak isi tubuhnya hampir menyembul keluar.


Aprilia melirik wajah Haikal yang terlihat santai-santai saja.


Dengan penasaran dia menarik bahu Haikal sambil berbisik ,


"Kamu pasti suka melihat mereka semua yah".


Haikal memandang wajah Aprilia lalu tersenyum , " Wajar dong laki-laki pasti suka melihat mereka, yang bahaya kalau aku suka melihat bapak sekuriti berkumis itu".


"Dasar mata genit, sengaja pilih antrian di sini biar melihat yang gratisan".


"Perasaan yang meminta antri di sini kan kamu, tadi kamu loh yang menarik aku kemari".


"Anak gajah, seharusnya kalau tahu aku salah pilih antrian itu langsung pindah lagi dong".


"Yang bilang salah mengantri siapa...orang sudah benar kok ini untuk mengantri tiket nonton".


"Memang....senang kan melihat paha putih-putih, matanya jadi segar," Aprilia merajuk cemberut.


"Kok kamu cemberut, pasti cemburu yah melihat aku melihat paha putih-putih,"goda Haikal sambil menyenggol bahu Aprilia.


"Anak gajah, siapa bilang cemburu, dasar kegeeran...".


Haikal tersenyum geli melihat Aprilia yang terus cemberut sepanjang gadis-gadis itu berdiri dihadapan mereka.


Akhirnya mereka tiba di depan penjaga tiket, dan Haikal masih ingin iseng kepada Aprilia.


"Mbak, kalau gadis-gadis barusan beli tiket film apa yah?".


Penjaga tadi menjawab satu judul film dengan ramahnya.


"Apri, film mereka berbeda dengan yang akan kita nonton nanti, jadi bagaimana nih...mau ganti atau tetap film semula?"tanya Haikal sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Aprilia sangat kesal, dia mendengus lalu melengos pergi sambil berkata, "Terserah mamang siomay saja deh, dasar ganjen".


Haikal tertawa geli dan memesan tiket film yang sudah mereka rencanakan sebelumya.


"Kasihan mas, pacarnya cemburu loh," kata petugas tiket sambil ikut tertawa.


"Biarin mbak, biar tambah mesra nantinya," sahut Haikal sambil cekikikan, dan petugas tadi juga tertawa.


Aprilia masih cemberut ketika Haikal mendekatinya sambil membawa satu paket berbondong jagung dengan dua botol air mineral.


"Nih kesukaanmu, sudah jangan cemberut saja. Memangnya aku salah apa sama kamu?"kata Haikal sambil menyenggol lengan Aprilia.


"Siapa yang cemberut, memang mukaku kayak begini. Gitu aja kok repot," sahut Aprilia sambil tetap pura-pura marah cemberut.


Tak lama theater yang akan memutar film pilihan mereka di buka dan keduanya segera masuk ke dalamnya.


Ternyata penggemar film itu cukup banyak, sehingga kursi-kursi di dalam theater hampir terisi penuh.


Hampir kebanyakan pasangan muda mudi, ada juga yang terlihat sudah menikah. Namun kelompok anak-anak muda baik lelaki atau perempuan juga cukup banyak terlihat.


Sebelum film di putar, seperti biasa ditayangkan beberapa iklan atau beberapa sekuel film yang akan tayang kemudian hari.


Aprilia meminta kotak kertas berisi berbondong jagung tadi yang ada di pangkuan Haikal.


Kebetulan orang-orang sekitar masih terlihat tampak sibuk ada yang mencari kursi, ada yang berpindah bangku dan ada juga yang tengah bertransaksi dengan penjual berondong jagung yang ada di dalam theater.


"Haikal, kotak berondongnya simpan di aku saja biar tidak mengganggu kamu," kata Aprilia sambil menarik kotak berondongnya.


Haikal memberikannya dan wajahnya jadi agak menunduk ke arah Aprilia.


Entah ada angin apa, tiba-tiba saja timbul niat iseng, dan Aprilia secara spontan mengecup pipi Haikal.


"Cup...".


Haikal tersentak, lalu Aprilia segera menarik kotak berondong dan menyimpannya diantara dirinya dan Haikal.


Sehingga membuat Haikal kesulitan kalau mau membalas kecupan iseng Aprilia tadi.


Sepanjang film berlangsung, Aprilia tampak serius menikmati tayangan filmnya, sementara Haikal merasa dongkol karena dikerjai Aprilia.


Dia tidak bisa membalas kecupan tadi dan itu membuatnya sebal sepanjang film berlangsung.


Berondong jagung habis sudah ketika film juga berakhir, dimana sejak awal Haikal tidak tahu apa isi ceritanya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku ke toilet dulu yah, sudah kebelet," kata Aprilia sambil setengah berlari meninggalkan Haikal.


Tak lama Haikal menyusul keluar theater dan dia juga menuju toilet pria.


Sambil mengantri di toilet, ada beberapa pria sibuk membahas film tadi, tapi Haikal asli tidak tahu tadi film apa yang ditontonnya.


Akhirnya mereka bertemu di lobby bioskop, lalu Haikal bertanya kepada Aprilia.


"Tadi itu apa maksudnya?"tanya Haikal sambil menatap Aprilia.


Aprilia diam saja, tiba-tiba ada yang memanggil Haikal.


"Woi bro...apa kabar Haikal?" sapa teman kuliahnya dulu.


Mereka saling berbincang sehingga Aprilia lolos dari pertanyaan tadi.


Mereka sama-sama berjalan menuju parkiran motor, lalu temannya berpisah ketika sudah menemukan kendaraannya.


"Hei...jawab aku...tadi itu apa maksudnya?"tanya Haikal lagi.


Tiba-tiba ponsel Aprilia berbunyi ternyata dari Mela.


"Ya Mbak....iya....Sekarang pulang...oke...," itu jawaban Aprilia kepada Mela yang menyuruhnya segera pulang.


"Kata Mbak Mela barusan aku disuruh pulang cepat karena sedang tidak ada Kak Anton".


Haikal menarik nafas lalu naik ke atas motornya dan setelah Aprilia naik di belakang mereka segera melaju pulang.


Tiba di depan rumah, saat Aprilia turun dari motor Haikal.


"Apri, kamu belum jawab loh. Tadi di bioskop itu maksudnya apa sih?" tanya Haikal sambil memegang lengan Aprilia.


"Hei...sudah malam yah...besok lagi saja kalian mengobrol. Tidak enak, tidak ada Kak Anton nanti disangka apa kamu pulang malam dari rumah ini," tegur Mela yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah kepada Haikal.


Sambil masih sebal karena belum mendapat jawaban dari Aprilia, langsung Haikal pamit pulang kepada Mela.


Lalu Mela segera mengunci pagar dan pintu rumahnya, merasa suami sedang jauh di luar kota malah membuatnya lebih takut untuk berada di luar rumah.


Sebagai wanita baik-baik malah takut kalau suami sedang di luar kota, dia takut ada fitnah kalau sampai terlihat berada di luar rumah berlama-lama.


Setibanya di rumahnya, Haikal mengirimkan chat kepada Aprilia.


"Apa maksudnya tadi di bioskop kamu mencium pipiku?".


Tapi sampai besok paginya chat tadi hanya dibaca oleh Aprilia dan sama sekali tidak di jawab.


Haikal menjemput Aprilia ke rumah yang ditempati Mela.


"Lah...barusan dia sudah pergi naik ojek online, mbak kira kalian tidak janjian".


Lalu Haikal pamit, mau tak mau hari ini dia akan sangat sibuk karena dokter Anton sedang mengikuti pelatihan di luar kota.


Pulang kerja agak terlambat karena pasien banyak sementara Haikal menangani sendirian saja.


Selepas Maghrib dia baru bisa menyelesaikan semua pekerjaan, lalu dia melajukan motornya ke tempat kerja Aprilia.


"Baru saja lima menit yang lalu dia pulang naik ojek online, katanya kurang enak badan," kata Brandon Law kepada Haikal.


Kembali Haikal gigit jari dibuat kesal dengan tingkah Aprilia yang seakan menghindari dirinya.


Kejadian begitu berlangsung selama beberapa hari, membuat Haikal kesal dan uring-uringan baik di tempat kerja maupun di rumahnya.


"Halo Haikal, aku titip Aprilia yah. Karena siang tadi istriku menyusul ke Yogyakarta. Jadi kami akan ada di sini selama tiga harian. Maaf yah bro merepotkan,"kata Anton siang itu menelepon Haikal dari Yogyakarta.


"Tenang Bang, pasti saya jagain dong. Selamat menikmati liburan saja yah Bang Anton dan Mbak Mela,"sahut Haikal sambil senyum licik.


Sore harinya Haikal segera mengebut pulang ke rumahnya setelah semua pekerjaan selesai.


"Mas Harjo...apakah masih menyimpan kunci cadangan rumah yang ditempati dokter Anton?"tanya Haikal kepada salah satu pegawai di rumah kakeknya.


"Ada den Haikal, tapi kunci pagar dan kunci garasi saja," jawab Mas Harjo sambil memberikan kunci cadangan yang diminta oleh cucu majikannya itu.


Walau kakeknya Haikal sudah meninggal, tapi karyawan yang bekerja di rumah itu tidak ada yang dikeluarkan.


Kakeknya sudah membayarkan dimuka kepada seorang notaris untuk mengurus keuangan dan membayarkan gaji pegawai lamanya di rumah tersebut.


Setelah mandi Haikal membawa kunci cadangan tadi dan berjalan kaki menuju rumah yang ditempati Anton dan Mela.


Kondisi rumah terlihat masih kosong, sepertinya Aprilia belum pulang kerja.


Haikal Membuka pintu pagar dan menguncinya lagi dari dalam, kemudian dia membuka pintu samping garasi. Sama seperti barusan, dia mengunci lagi dari dalam dan mencopot anak kuncinya.


Lalu Haikal duduk di kursi yang ada di ruangan itu menunggu seseorang kembali ke rumah itu.


Benar saja tak lama terdengar ada ojek online berhenti di muka rumah itu, lalu terdengar seseorang membuka kunci pagar.


Orang tadi berjalan menuju garasi setelah tadi pagi diberi amanat panjang lebar oleh Mela.


"Kalau pulang kerja langsung pulang, nanti sampai rumah kunci lagi semua pintu. Haikal jangan di suruh masuk, nanti jadi omongan orang. Kalau mau ngobrol di depan pagar saja. Paham".


Karena sudah ada amanat, maka Aprilia melaksanakan pesan tadi agar tidak menjadi bahan omelan lagi dari kakak sepupunya.


Dia masuk kedalam garasi dan segera mengunci pintu garasi tadi, namun ketika membalikan badan tiba-tiba ada orang tinggi besar menghadangnya.


Aprilia terkejut setengah mati dan hampir berteriak, tapi mulutnya di tahan oleh jari Haikal.


Aprilia memepetkan badannya ke tembok, Haikal mengurung Aprilia dengan menempelkan kedua tangannya diantara tubuh Aprilia.


Jantung Aprilia berdebar kencang saat Haikal mendekatkan bibirnya ke telinga Aprilia.


"Mengapa kamu tidak menjawab aku, apa maksudmu mencium pipiku kemarin ini. Lalu mengapa kamu menghindari aku beberapa hari ini," kata Haikal dengan nada yang seakan sinis mendesis.


Aprilia tidak bisa menjawab, lidahnya seakan kelu dan lehernya tercekat karena gemetaran dan merasa ketakutan.


"Aku marah sekali, dan sekarang kamu akan aku hukum," kata Haikal lagi masih dengan nada dingin menakutkan.


Lalu tiba-tiba Haikal mencium bibir Aprilia, tentu saja gadis itu terkejut tapi tak bisa menghindar karena sekarang Haikal memeluknya dengan erat.


Aprilia mencoba melepaskan diri tapi tenaga Haikal jauh lebih kuat, dan sialnya lama-lama Aprilia juga menikmati ciuman itu.


Akhirnya malam itu mereka berciuman di garasi rumah yang ditempati Anton.

__ADS_1


Lupa segalanya, lupa kalau dia sudah dijodohkan, lupa kalau di rumah sedang tidak ada orang.


Yang pasti keduanya berciuman di malam itu dengan penuh rasa cinta yang menggelora.


__ADS_2