
Sila sebelumnya tinggal sendirian di kamar messnya, namun sekarang dia senang sekali mendapatkan teman sekamar yaitu Mela.
"Teh Mela, kenapa kok tidurnya di mess, katanya teteh itu pacarnya oom Anton?"
tanya Sila kepada Mela
"Emang kenapa ....ayo kamu tidak mau aku disini yah?"goda Mela kepadanya.
"Bukan begitu teteh* mah... cuma aneh saja mengapa teteh tidak tinggal di dalam karena kan teteh pacar oom Anton..gitu atuh teteh mah iiiihhhh," kata Sila dengan logat sunda Majalaya yang sangat kental.
*teteh \= kakak perempuan (bahasa sunda)
"Hahaha...kan baru pacarnya bukan istrinya, kalau masih pacar bisa saja putus. Malu dong kalau sudah tinggal
di dalam lalu putus," kata Mela sambil tertawa santai
"Naha* teteh mah ngomong putus segala.... jangan atuh teteh kan baik lalu oom Anton juga baik jangan putus atuh teteh," kata Sila sambil wajah nya tiba-tiba bersedih.
*naha \= mengapa ( bahasa sunda)
"Hahahaha... Sila ...Sila...Siapa yang mau putus.... kan ini misalkan bukan
benaran putus,"Mela tertawa geli melihat keluguan Sila.
Memang Mela juga termasuk gadis polos dan lugu di usia yang sudah hampir 25 tahun, namun Sila lebih lagi polos dan lugunya dari Mela.
Sila tahun lalu baru saja menamatkan SMA nya, lalu karena tidak ada biaya untuk kuliah jadi dia bekerja di apotik Wiharja Farma.
Dia adalah sepupunya Yanto salah satu karyawan senior selain Pertiwi di apotik sini.
Sila bahagia sekamar bersama Mela selain sekarang tidak kesepian kalau malam hari, dia juga merasa seperti punya kakak perempuan.
"Teteh itu kakaknya mas Maning yah?"
tanya Sila lagi kepada Mela.
"Maning...????".
"Adik saya itu Wahyu yang keriting, hitam dan gendut," jelas Mela kepada Sila.
"Hehehe...iya mas Wahyu itu sekarang dipanggil mas Maning sama semua karyawan di sini. Soalnya kalau sedang bercanda suka ngomong........ Wahyu maning.... Wahyu Maning...,"kata Sila menceritakan mengapa Wahyu disebut seperti tadi.
"Oalah.... Hahahaha...kayak gitu panggilannya....Hahahaha....maning itu artinya lagi....jadi arti nya .....Wahyu lagi...Wahyu lagi...begitu maksudnya," Mela tertawa mendengar alasannya adiknya dipanggil maning.
Sila juga ikut tertawa begitu tahu dari penjelasan Mela, namun dia menurut Sila sudah terlanjur disebut Maning oleh siapapun bahkan oleh Keiza.
"Neng Keiza meuni sayang sama mas Maning, tiap sore pasti mereka bermain bola bersama di halaman depan".
"Iya Sila, alhamdulillah keluarga Wiharja semuanya baik yah. Aku senang bisa bekerja di sini sekarang, berbeda dengan di tempatku dulu bekerja".
"Kenapa gitu teh di tempat kerja teteh yang dulu?"selidik Sila.
"Walau sebenarnya masih terhitung saudara tapi aku diperlakukan kasar terutama oleh istrinya Wawak aku".
"Tapi sudahlah sekarang aku sudah jauh dari dia, aku bahagia di sini,"kata Mela yang tadinya matanya menerawang ingat masa lalunya namun sekarang dia merasa bahagia.
Lalu Sila dan Mela saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Sila adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya dan semuanya pergi merantau ke negeri orang menjadi tenaga kerja asal Indonesia. Kakak pertamanya bekerja jadi butuh tambang di Malaysia, sedangkan kakak keduanya menjadi pegawai pabrik di Korea Selatan.
Penghasilan tiap bulan yang mereka kirimkan memang lumayan tapi tidak mencukupi bila ditambah dengan Sila kuliah.
Kebetulan Yanto sepupunya mengajak dia bekerja di sini dan dia juga sekarang mengambil kursus kecantikan di salah satu lembaga keterampilan. Karena Anita bersama Wina berencana akan mengembangkan usahanya lagi. Kelak ke depannya mereka berdua akan membuka klinik kecantikan dan salon kecantikan juga di gedung berbeda.
Maka Sila salah satunya dipersiapkan oleh Anita agar nanti ke depannya saat membuka usaha tersebut sudah ada tenaga ahli.
"Teteh kan tidak bisa dandan yah, nanti Sila ajarkan mau tidak?" tanya Sila kepada Mela.
Dan tentu saja disambut gembira oleh Mela.
"Begini dandan yang sederhana saja yah..setiap harinya teteh memakai eye liner untuk di pangkal mata sampai ujung dan maskara untuk bulu mata".
Lalu Sila memberitahukan alat-alatnya dan mengajarkan cara memakainya.
Menarik garis memanjang dari pangkal mata hingga ujung mata sampai terlihat sama keduanya.
Lalu cara menggunakan maskara agar bulu mata terlihat lentik.
"Nah kan mata teteh jadi lebih hidup, lebih terbuka dan lebih tajam, jadi mirip Artis yang di televisi deh , "kata Sila takjub melihat Mela setelah didandani sederhana jadi tampak aura cantiknya muncul.
"Nanti bisa sholat tidak kalau dandan begini?"tanya Mela ragu-ragu.
"Bisa atuh soalnya kosmetik herbal ini mah teh khusus untuk wanita berhijab," jawab Sila meyakinan Mela.
Mela melihat dirinya di cermin yang ada di kamarnya dan dia merasa cukup puas dengan cara berdandan yang diajarkan Sila.
"Nanti kalau alis sih besok Sila bawa dulu alatnya, karena alis teteh harus dirapihkan dulu, " kata Sila sambil memandang alis wajah Mela.
"Sudah cukup Sila begini saja dulu, tiba-tiba berubah semua akunya malu," Mela tersipu-sipu malu
"Nah cream yang dari dokter jangan lupa harus rajin dipakai yah biar warna kulit wajah teteh ku semakin cantik dan merata, pasti oom Anton semakin cinta sama teteh,"kata Sila menyemangati Mela agar penampilan dirinya menjadi semakin baik.
Keesokan paginya dia kembali belajar dari Sila berdandan seperti semalam bahkan Sila menambahkan perona pipi di wajahnya. Menjadi semakin cerah wajah Mela pagi itu.
Jadwal praktek Fabian memang sore hari, sekarang sudah ada dokter mata lain yang jadwal pagi hari yaitu dokter Susanti.
Namun semalam ada barang Fabian tertinggal jadi dia sempatkan pagi itu ke klinik untuk mengambilnya agar tidak terlambat ke rumah sakit.
Apotik masih tutup tapi Fabian sudah menghubungi Yanto jadi bisa masuk.
Saat dia masuk ke ruangan dalam untuk menuju tangga, tak sengaja dia melihat Mela yang mulai masuk ke dalam dari arah mess.
Sejenak Fabian terdiam memandang dari anak tangga memperhatikan Mela yang melangkah mendekat karena akan menuju kantor apotik dan klinik.
"Mela kah itu....wow...iya benar .... astaga tambah cantik saja dia yah,"
guman Fabian saat melihat Mela.
Sementara Mela tidak tahu ada Fabian yang sedang mengamati dirinya. Dia terus saja melangkah masuk ke ruangan kantor.
Fabian segera naik ke lantai dua dan masuk ke ruangan klinik, segera dia mengambil agenda dan power bank nya yang semalam tertinggal di meja.
Sambil dalam hatinya bertanya- tanya apakah Mela sekarang sudah resmi kerja di sini atau masih hanya untuk menyelesaikan skripsinya.
Dia berharap sekali Mela sudah resmi bergabung di sini sehingga dia bisa mendekatinya.
"Mumpung belum beneran jadi sama Anton, kalau bisa gue tikung kenapa tidak, "Fabian bicara sendiri di dalam ruangannya dan terlihat ada kilatan licik pada matanya.
Lalu dia bergegas turun dan segera meninggalkan apotik karena memang dikejar waktu untuk praktek di rumah sakit.
Mela masuk ke kantor pagi itu, belum ada siapapun di sana. Pertiwi juga ada, padahal biasanya datang pagi. Mungkin karena hamil sudah besar jadi Pertiwi sering datang terlambat.
Tiba-tiba pintu yang menghubungkan kantor dengan rumah keluarga Wiharja terbuka dan Anita muncul dari pintu.
"Mela sini..Aku ada yang lupa....ayo cepat sini!!!" ajak Anita kepada Mela.
Mela segera mengikuti Anita menuju kediaman keluarga Wiharja dan ternyata Anita mengajak ke lantai dua yang belum pernah dia injak sebelumnya.
__ADS_1
Di lantai dua kediaman Wiharja ternyata masih luas, disana tampak ada tiga kamar tidur besar.
Anita mengajak masuk ke dalam kamar tidurnya. Dan memang terlihat ruangan kamar yang besar hampir seukuran rumahnya di kampung.
Mereka berdiri dihadapan lemari yang tinggi dan besar, lalu Anita membuka salah satu pintu lemari yang ada disana.
Dan dia mengeluarkan satu buah koper ukuran cukup besar, lalu membukanya dan terlihat berisi pakaian bagus yang jumlah banyak.
"Ini yang waktu itu aku sempat telepon kamu pagi-pagi saat bongkar lemari. Tapi belum sempat saja aku kirimkan. Bawa saja semua yang cocok kamu pakai, bagikan juga buat Sila atau misal saudaramu di kampung," kata Anita dan Mela sungguh tercengang karena di dalam koper itu pakaiannya banyak dan terlihat beberapa masih menempel label harganya.
"Dulu aku beli saat mau menikah, eh.. baru sebulan menikah sudah langsung hamil. Setelah melahirkan sudah tidak ada yang muat lagi. Ditambah sekarang sudah ada anak kedua, yah sudah deh mohon maaf makin tambah melarlah tubuhku, " lanjut Anita menertawakan dirinya sendiri.
Mela masih terkejut sambil melihat semua pakaian yang ada di koper itu, tak bisa berkata apapun melihat begitu banyak pakaian bagus-bagus yang akan segera menjadi miliknya.
Lalu dia mengucapkan terima kasih dan segera membawa koper tadi ke bawah. Sambil sebelumnya dia bertanya kamar siapa saja di atas itu. Anita menjelaskan bahwa di atas adalah kamarnya dengan Fajar, lalu disebelah kamar Keiza yang terhubung pintu penghubung di bagian dalamnya dengan kamar mereka.
Dan satu lagi dulunya adalah kamarnya Anton, namun sekarang dijadikan kamar pak Salim dan ibu Aryani bila menginap di situ.
"Kalau Anton menginap di kamar yang mana ?"tanya Mela ingin tahu.
"Oh....di kamar sebelah ruang makan yang biasa kamu tempati, tapi kamu malah minta tidur di mess," tukas Anita sambil manyun.
"Tapi nanti kalau kalian sudah menikah dan misalkan belum ada rumah, nanti tinggal di sini saja yah biar ramai lagi rumah ini," lanjut Anita sambil senyum memeluk bahu Mela.
Mela hanya tersenyum malu-malu, dia belum terbayang kapan menikah dan apakah benar Anton akan menikahinya. Semua masih misteri bagi dirinya.
Marsinah atau yang biasa dipanggil bu Sinah baru saja selesai membereskan semua pepes tahu yang dikenal dengan sebutan intip tahu ke dalam keranjang.
Hari ini dia mendapat pesanan banyak dari kantor kecamatan yang dulunya almarhum suaminya bekerja di sana.
Pesanan sebanyak dua ratus lima puluh buah pepes tahu yang dia siapkan untuk acara di kantor kecamatan, katanya ada tamu dari daerah lain, jadi pepes ini dijadikan oleh-oleh khas daerahnya.
Sedang dia membersihkan rumahnya, tiba-tiba dikejutkan oleh suara mobil yang datang dan terparkir di halaman rumahnya.
Dipikirnya yang akan ambil pesanan, tapi ternyata bukan dan dia sangat terperangah karena dihadapannya berdiri kakaknya yaitu haji Damar.
Kejutan sekali buat Marsinah karena sang kakak setelah berpuluh tahun, baru kali ini menginjakkan kakinya di rumah ini yang merupakan rumah masa kecilnya mereka juga.
"Masyaallah...mas Damar, silahkan masuk mas... ada angin apa membawa mas kemari,"kata Marsinah sambil segera membereskan bale-bale di teras rumahnya untuk Damar duduk di situ.
"Assalamualaikum, apa kabarmu Sinah? " tanya Damar sambil dia menyandarkan dirinya di bale-bale teras rumah itu.
"Walaikumsalam.....mas Damar... aduh sampai kaget mas... tiba-tiba kemari luar biasa ...Ya Allah..., "Sinah masih terkejut dengan kedatangan kakaknya.
"Astagfirullah.... kamu tuh melihat aku datang seperti melihat setan saja.... ckckck.. dasar kamu tuh..sudah tua masih suka seperti anak-anak," ujar Damar mengomeli sang adik yang dari tadi kaget melihat kedatangannya.
"Hahahah... maaf mas... habis mas ini sudah lama sekali sejak dulu menikah baru kemari lagi, " ujar Sinah sambil menatap sang kakak.
"Mau minum apa mas,masih kopi hitam atau teh manis ? "tanya Sinah yang hafal kesukaan kakaknya.
"Kopi hitam saja, cuma gulanya sedikit saja yah".
Marsinah menyiapkan minuman untuk sang kakak dan mengeluarkan cemilan kampung yang masih ada di dapurnya yaitu rengginang.
Dia menyajikan minuman dan makanan ringan itu kehadapan kakak lelakinya itu.
Damar menghirup kopi buatan tangan adiknya dan terasa nikmat sekali seakan kembali ke masa dulu ketika orang tua mereka masih hidup.
"Sinah... kamu jangan kaget yah.. Atin ditangkap polisi , "ujar Damar sambil menatap adiknya.
Marsinah terbelalak, kembali terkejut mendengar ucapan kakaknya.
"Priben mas...beli salah rungu tah kita... mba Atin ditahan pulisi,priben ceritae..," Sinah mulai mengeluarkan air mata.
(\=Gimana mas....tak salah dengarkah aku...mba Atin ditahan polisi... bagaimana bisa)
Beruntung dokter Iskandar melaporkan hal tersebut kepada kepolisian, agar perbuatan nista praktek ilegal tersebut bisa segera dihilangkan dari muka bumi.
Marsinah mendengarnya merinding dan dia sama sekali tak menyangka semua perbuatan kakak iparnya.
Dia sangat menyayangkan seorang yang begitu terhormat seperti Supriatin bisa berbuat sebodoh dan senista itu.
Demi ingin kaya raya dia rela percaya kepada paranormal gadungan itu.
Dengan menggugurkan satu janin akan semakin bertambah kekayaannya.
Selama hampir dua minggu ini sejak kejadian Wiwit lalu penangkapan Atin beserta komplotan Wiro, maka Damar sangat lelah setiap hari dia bolak balik urusan ke kantor polisi dan juga ke rumah sakit melihat kondisi anaknya.
Beruntung Wiwit kemarin sudah boleh pulang ke rumah karena kondisinya sudah pulih, hanya harus benar-benar menjaga kandungannya juga menjaga kesehatannya.
Ratna sebagai calon mertuanya setiap hari membuatkan makanan untuk Wiwit, makanan itu dibawa oleh Surya anaknya saat hendak mengunjungi kekasihnya itu.
Baru hari ini Damar bisa agak leluasa, karena Supriatin dan komplotan Wiro sudah masuk penjara tinggal menunggu jadwal sidang pengadilan yang akan menjatuhi masa hukuman berapa tahun nanti mereka harus mendekam di dalam sel penjara.
Damar menyempatkan hari ini untuk mengunjungi adiknya mencurahkan isi hatinya.
Petugas kecamatan datang hendak mengambil pesanan pepes tahu, dan Marsinah menyambut sambil berurai air mata.
"Bu Sinah kenapa menangis?" tanya petugas itu sambil bmelirik curiga kepada Damar.
"Tidak apa-apa nak..ibu baik-baik saja kok. Hanya kelilipan saja,"jawab Sinah sambil senyum dipaksakan.
Lalu petugas tadi sambil melirik Damar berkata lagi," Kalau ada apa-apa nanti ibu hubungin saya yah...".
Marsinah mengiyakan sambil berucap terima kasih sudah memesan banyak.
Setelah petugas tadi pergi, Marsinah kembali duduk dihadapan kakaknya.
"Sinah.. aku lapar...kau punya makanan apa?"Damar mengeluh perutnya terasa lapar.
"Ada intip tahu sama ikan goreng juga sambal, sebentar aku siapkan".
Marsinah bergegas kembali ke dapur menyiapkan makanan untuk kakaknya yang barusan merasa kelaparan.
"Mas mau makan dimana...di bale-bale atau di dalam?!!!"teriak Sinah kepada kakaknya.
"Wes ning kene bae ambir enak olih angin semriwing....aja kelalen sambel terasi pedese....!!!"jawab Damar sambil berteriak juga. (\=disini saja biar enak ada angin semilir, jangan lupa sambal terasi pedasnya)
Tak lama makanan sudah siap tersaji di bale-bale, nasi hangat, sambal terasi pedas, ikan goreng dan pepes intip tahu jamur.
Damar lahap sekali makannya, siang itu serasa membawanya kembali kepada suasana masa lalunya.
Tempat dia makan sekarang, makanan yang disajikan dan semuanya.
Sambil mengunyah menatap ke atas ke langit-langit juga melihat dinding, kayu penopang sudah banyak yang keropos.
Dalam hatinya dia berjanji akan segera membereskan rumah masa kecilnya ini nanti setelah semua urusan selesai.
"Sinah...bulan depan Wiwit akan segera dinikahkan dengan Surya tapi tidak akan mengundang orang-orang, hanya akad nikah saja dan hanya keluarga saja yang hadir".
"Tanggal pira mas?"tanya Sinah.(\=Tanggal berapa mas)
Sambil menghela nafas, Damar bilang belum pasti nanti akan dikabari lagi.
Menunggu kondisi Wiwit benar-benar pulih dulu.
__ADS_1
Sebenarnya Mela dan adik-adiknya sudah tahu tentang kasus Supriatin, namun ketiganya merahasiakan kepada ibunya karena takut ibunya terkejut dan sakit kalau diberitahukan.
Mela mengetahuinya saat dia beberapa waktu lalu menelepon Narti.
Sedianya dia menelepon Narti hendak berbagi keceriaan, akan mengirimkan beberapa pakaian dari Anita kepada Narti.
Namun saat itu malah mendapatkan berita tentang Supriatin dan komplotan Wiro yang ditangkap polisi.
Mela sangat terkejut dan tidak percaya bahwa seorang Wak Atin perbuatannya sungguh keji.
Mela juga merahasiakan kisah ini pada keluarga kekasihnya. Alasannya malu kalau di keluarga besarnya ada kejadian seburuk itu.
Dua minggu sudah Mela tidak bertemu Anton, karena Anton beberapa waktu lalu masih mengeluh sakit kepalanya.
Selama ini mereka berkomunikasi lewat telepon atau saling berkirim pesan chat.
Saling bercerita tentang pekerjaan, juga kondisi kesehatan. Mela menyampaikan kekesalannya kepada temannya Anton yaitu dokter Fabian.
Sering Mela dibuat kesal oleh Fabian yang suka tiba-tiba minta tolong yang aneh-aneh bahkan tidak ada urusan dengan pekerjaan. Namun Anton hanya menyuruh dia sabar karena orang bekerja dimanapun pasti sama ada orang yang menjengkelkan.
Hari ini sabtu siang dan Anton pulang ke Bandung tapi naik shuttle bus seperti Mela beberapa waktu yang lalu.
Dia diantar oleh Jaya naik mobil milik Anton menuju pool shuttle bus.
"Bro, kau pakai saja mobilku kalau ada perlu tapi awas jangan sampai ada noda di jok yah. Susah membersihkannya," kata Anton menggoda Jaya.
"Hahahaha...sinting kau bro dokter... masa di mobilmu...penginapan banyak bro...hahahahha, "Jaya tergelak saat sahabatnya itu menyindirnya.
"Mana tahu kepepet bro... penginapan penuh sementara desakan semakin kencang...bisa saja kan... hahahah... cuma jangan sampai digerebek polisi bro...pegawai puskemas kedapatan mesum di dalam mobil dengan plat D xxxx...Nanti aku yang dituduh kan ini mobilku ..hahahaha," seloroh Anton kembali melontarkan candaan yang menohok Jaya.
"Hahahaha....kau benar parah dokter sinting... fantasinya kebangetan..... kebanyakan baca berita mesum......
hahahaha".
Jaya tertawa terbahak-bahak selama perjalanan karena Anton terus saja melontarkan candaan yang memang sebenarnya sering Jaya lakukan.
Setibanya di pool shuttle bus, Anton turun dan sebelumnya dia berpesan lagi kepada Jaya sambil menahan tawa, "bro...hati-hati yah ......jangan sampai kepepet di daerah keramat yah... Nanti tidak bisa lepas bahaya loh...".
Sontak Jaya tertawa dan melemparkan bantal mobil ke arah Anton.
Hari sudah menjelang sore saat tiba di kota Bandung, Fajar sudah sepuluh menit lamanya menanti kedatangan adik iparnya.
Tak lama yang ditunggupun tiba, lalu Anton segera naik ke mobil minibus besar yang bertuliskan WIHARJA FARMA di badan mobil tersebut.
Fajar mengajak Anton ke pertemuan arisan dan kumpulan pedagang apotik di kota Bandung.
Acara tersebut diadakan di salah satu rumah makan yang cukup terkenal di sana.
Anton sebenarnya ingin segera bertemu Mela, tapi dia tidak enak kepada kakak iparnya yang sudah menjemputnya.
Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 100 orang, seharusnya yang hadir lebih dari Itu namun sebagian besar banyak yang sudah menitip suara kepada peserta lain.
Dalam pertemuan akhirnya ditentukan bahwa Wiharja Farma menjadi sub distributor untuk seluruh obat yang dikeluarkan oleh PT..GOLDEN FARMASI, untuk mencegah pengiriman obat yang tidak sesuai pesanan dan menumpuk di gudang.
Selai itu dibentuk wadah perkumpulan dan otomatis Fajar Sanjaya menjadi ketuanya.
Sehingga apabila ada keluhan atau apapun dari anggota pedagang apotik bisa disampaikan kepada Fajar untuk nanti dikemukakan pada pertemuan mendatang.
Dan sesuai kesepakatan pertemuan sekalian arisan diadakan setiap satu bulan sekali di akhir minggu ke empat.
Anton tidak banyak terlibat di acara itu, dia hanya mengambil makanan yang tersaji banyak di meja parasmanan.
Tanpa dia sadari sejak tadi sepasang mata melihatnya dengan tatapan tidak suka.
Jam 21.00 acara pun selesai, semua tamu saling bersalaman.
Kegiatan rutin ini dibayar atas iuran kas perkumpulan dan juga sebagian oleh pemenang arisan.
Fajar dan Anton sedang bersiap untuk pulang, tiba-tiba ada yang menyapanya yaitu orang yang sejak tadi melihat Anton.
"Boss Fajar....selamat yah...jadi ketua nih...lalu apotik Wiharja juga tambah maju dikelola oleh boss Fajar,"orang tadi menyalami dan mengucapkan selamat tapi nadanya tidak enak didengar.
Fajar membalasnya baik-baik," Boss Tanoko...terima kasih...sama- sama Boss Tanoko juga tambah sukses yah usahanya".
"Hahaha..aku sih biasa saja, dari dulu begini-begini saja tidak ada yang berubah".
"Bisa saja boss Tanoko ini merendah tapi jalan-jalan luar negeri terus nih".
"Yah begitulah Tanoko dan keluarga, kalau main di dalam negeri saja sih bosanlah".
"Sip lah, Boss Tanoko mana ada lawan ," Fajar menimpali sambil senyum sinis.
Suasana serasa ganjil di mata Anton yang sedari tadi melihat mereka berdua berbincang.
"Boss Fajar dari sini kita lanjutlah yuk, biasa kita ber cafe.....minum-minum dikit lah...,"ajak Tanoko kepada Fajar.
"Tidaklah boss, aku di rumah ada anak bayi, kasihan istri kalau ditinggal pergi kelamaan".
"Waduh...Boss Fajar ini masih saja dari dulu anggota ISTI.......Hahahahha.....
ikatan suami takut istri.......hahahaha," Tanoko tertawa lebar mengejek Fajar.
Fajar mulai merasa mual menghadapi Tanoko, Anton yang terdiam sejak tadi juga mulai merasa gerah.
"Kalau tak salah ini adik iparmu yah.. waduh Boss sampai di kawal... hebat banget boss ini,istri cintai buanget".
Fajar masih diam saja tidak menjawab sambil dia mulai beranjak berdiri dari duduknya.
"Gimana boss, ikut tidak...pengawalnya suruh pulang saja...kita hepi hepi dulu di cafe".
"Sorry sekali lagi, saya harus pulang. Maklumlah saya suami takut istri, Kalau istri sampai marah kan saya sengsara. Masa harus tidur berdekapan dengan Tanoko Mulyo... ogahlah yaaaahhhh...," Fajar mengejek telak Tanoko dengan santai tapi menghujam.
Tanoko terdiam dan tampak mencerna ucapan Fajar, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Fajar dan Anton.
Di dalam mobil barulah mereka berdua tertawa, "Aduh... ko Fajar bisa banget menyindir telak orang tadi. Siapa dia sih sebenarnya?"
"Ton, dia itu bisa jadi iparmu kalau Anita bukan pilih aku... hahahaha,"jawab Fajar sambil tertawa keras.
"Wah......amit-amit punya ipar seperti begitu...haduh..tapi kapan cici pernah pacaran sama dia yah?"Anton bertanya sambil berpikir mengingat-ingat.
"Tidak pacaran kok, cuma dia cari muka terus dihadapan papah dan mamahmu. Sampai janji mau masuk Islam kalau Anita mau sama dia".
"Kok aku tidak tahu yah," Anton masih berusaha mengingat-ingat.
"Kamu masih koma waktu itu, Tanoko hadir sebagai orang yang sok peduli. Sementara aku kan cuma pegawai papah, mana dianggap".
"Bagaimanapun juga Tanoko mencoba mendekati Anita, tapi cintanya sama pegawai papahnya, bukan salah aku dong dicintai anak boss...Hahaha," Fajar menyombongkan diri kepada iparnya.
"Tapi ko Fajar bisa sabar yah dikatakan seperti tadi oleh Tanoko, "ujar Fajar menyentil iparnya.
"Kalau awak dihina sudah biasa, jangan sampai orang itu mengganggu orang rumahku..... habis nanti orang itu.... jangan macam-macam sama anak Batam, " kata Fajar berapi-api sambil mengingat ucapan Tanoko tadi.
Anton hanya tersenyum melihat sang kakak ipar yang terlihat dalam hatinya sedang kesal kepada Tanoko.
Dia tahu sekali bahwa iparnya memang sangat mencintai kakaknya, tapi kalau Anton lihat memang Fajar juga sering tampak kalah oleh kakaknya.
__ADS_1
"Elu juga memang bucin keles....hihihi," kata Anton tertawa dalam hati sambil menatap Fajar.