Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedelapan Puluh Tujuh


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya Jaya pernah meminjam mobil Haikal untuk menjemput orang tuanya dan juga membawa Miranti untuk pindah ke kotanya.


Kebetulan orang tua Jaya sudah pensiun, jadi mereka punya banyak waktu untuk tinggal di rumah yang sudah mereka berikan kepada Jaya.


Mereka cukup khawatir saat tahu Miranti yatim piatu dan Jaya tinggal sendiri, kedua orang tua itu takut anaknya khilaf.


Saat menuju rumah Jaya, tak sengaja Miranti melihat ada tulisan "Disewakan tempat tinggal dan tempat usaha".


Miranti minta ijin untuk sejenak berhenti untuk melihat tempat tersebut.


"Astaga, ini kan tempat salon kecantikan punya banci loh. Aku ingat karena dulu Mela pernah didandani di sini saat mau wisuda," kata Jaya saat melihat tempat yang disewakan.


"Selamat siang, ada yang bisa Melati bantu?"tanya pemilik tempat yang ternyata benar seorang waria.


"Mbak, saya mau melihat tempat yang disewakan seperti yang tercantum di sana,"kata Miranti kepadanya.


Lalu Melati menunjukkan, ternyata yang disewakan adalah garasi rumah dan diatasnya memang ada sebuah kamar dan kamar mandi.


Tempatnya bersih dan menarik karena sudah di cat ulang dan direnovasi menjadi seperti toko kecil di lantai bawah dan kamar tidur nyaman dengan kamar mandi di lantai atasnya.


Sungguh nyaman untuk tinggal di tempat itu dan bisa membuka usaha di ruang bekas garasi tersebut.


Setelah negosiasi harga, akhirnya Miranti sepakat dan dia segera menepati tempat itu.


"Oom...itu Mbaknya cantik yah".


"Hmm...iya tentu sajalah,


awas saja kalau kamu sampai sadar dan jadi cowok lagi saat melihatnya".


"Aiiihhh...tenang Oom, kami kan sesama gadis cantik jelita dong, mending cari suami".


Jaya bulu kuduknya jadi merinding mendengar Melati berkata seperti itu.


Miranti menyulap garasi rumah Melati menjadi toko kue, dan dengan penuh semangat mencari uang dengan membuat kue.


Dengan mengeluarkan semua tabungannya, lalu membeli berbagai peralatan untuk membuat kue, seperti kompor gas, alat pengocok adonan kue, alat memanggang dan juga alat menggoreng khusus untuk kue.


Dia membeli showcase untuk memajang kue buatannya.


Kebetulan anak pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Jaya bersedia membantunya.


Namanya Sumarni, sudah mempunyai seorang anak kecil dan suaminya seorang pekerja bangunan.


Sumarni setiap pagi datang membantu sambil membawa anaknya, dan kebetulan anak itu tenang jadi Miranti tidak keberatan dibawa setiap hari.


Bahkan anak kecil itu suka membantu melayani pembeli kue, membuat Miranti jadi sayang kepadanya.


Salon berdampingan dengan toko kue, tentunya membuat toko kecil Miranti cepat terkenal.


Padu padan yang cocok, orang potong rambut bisa sambil membeli kue, dan sebaliknya orang membeli kue malah sekalian potong rambut.


"Say, tiap malam Oom Jaya selalu mampir kemari, tapi dikau tak dinikahi. Cih...cowok macam apaan kayak gitu?" Melati sang pemilik salon mulai mencari bahan gibah dengan menyelidiki Miranti.


"Pasti mau gosipin aku yah nantinya...kepoin aku buat dijadiin bahan ngerumpi yah..," sahut Miranti yang saat itu sedang membuat adonan kue.


"Aih....cinta...menghakimi eikeh kayak gitu...iiihhh...


sebel deh... orang nanya doang karena peduli say," tukas Melati sambil mukanya plintat plintut sok merasa dihakimi Miranti.


"Pokoknya gitu deh... rahasia kami dong mau cepetan nikah atau engganya,"sahut Miranti sambil mengedipkan mata kepada Melati.


"Duh...rahasia-rahasia segala...Oom Jaya tuh seharusnya cepat menikahi dirimu say... coba kalau aku cowok...sudah lama aku menikahimu," ujar Melati lagi dengan bergaya manja lalu mencomot sepotong kue di meja.


"Heh...bayar...!!!"teriak Miranti sambil melotot.


"Iya nanti bayar...galak amat sih...pantesan engga nikah-nikah".


"Weeww...bukan urusanmu...hahahaha".


Miranti senang sekali menggoda Melati, sebab waria itu selalu saja ingin tahu urusan orang lain dan nanti bergunjing kepada pelanggan salonnya mengenai Miranti.


Orang yang mendengar gosipnya tentu penasaran kepada Miranti, jadi hampir setiap orang yang membeli kue seakan berusaha menginvestigasi Miranti.


Hampir semua yang membeli kue baik wanita maupun pria atau siapapun pasti menanyakan statusnya dan kapan menikahnya, lalu serasa ingin tahu mengapa Miranti seperti yang digantung statusnya.


"Sudah jangan didengar Mbak Miranti, yang nanya sama Marni juga banyak dan hampir semua nanya mengapa Mbak secantik ini tapi digantung nikahnya sama pak Jaya," kata Sumarni mencoba menceritakan kalau dia juga suka ditanya orang lain tentang Miranti.


Tapi Miranti tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Walau Sumarni setiap hari bersamanya tapi Miranti tak pernah sekalipun menceritakan apa yang terjadi atas dirinya dengan Jaya.


Memang semua orang sekitar juga tahu dan melihat bagaimana Jaya setiap pulang kerja pasti langsung ke toko kue Miranti.


Dia membantu Miranti berjualan sampai malam hari, bahkan membantu merapihkan dan mencuci semua peralatan dagangnya.


Sumarni memang bekerja tidak sampai malam, selepas Maghrib saat Jaya datang pasti dia segera pulang karena anaknya harus segera istirahat dan tidur.


Sehingga semua orang akan melihat sosok Jaya membantu Miranti berjualan sampai kuenya habis terjual.


Malam itu Miranti menghitung uang sambil mencatat keperluan belanja bahan kue risol hari.


"Mas, besok aku pinjam motor lagi yah mau belanja bahan lagi untuk keperluan tiga hari ke depan," kata Miranti sambil menulis bahan yang akan dia belanjakan besok.


"Ya silahkan, pakai saja tapi mungkin seperti biasa, kita ke Puskemas dulu lalu motor dibawa saja olehmu. Tak usah menjemput aku besok sore, karena Haikal sudah masuk nanti aku menebeng dia pulang kerjanya," kata Jaya sambil merapihkan piring dan juga peralatan kue sehabis di cuci.


"Oh...berarti Haikal dan Aprilia sudah resmi bertunangan yah. Bahagia sekali mereka, kapan mereka akan menikah?" tanya Miranti yang senang kalau akhirnya Haikal dan Aprilia bertunangan.


"Katanya sih dalam beberapa bulan ke depan, dan Haikal mengundurkan diri dari Puskesmas sini lalu akan pindah ke Papua bersama Apri," kata Jaya menjelaskan.


"Turut bahagia kepada mereka berdua, tidak seperti kita begini terus tak ada kejelasan," kata Miranti setengah menyindir hubungan mereka berdua.


"Sayang, aku sudah mau mengantar kamu mencari ayahmu tapi kamu yang susah untuk diajak pergi. Aku harus bagaimana lagi, pihak keluargaku dan juga pihak penghulu hanya minta kejelasan status ayahmu. Aku siap kapan juga kamu mau minta diantar mencarinya," ujar Jaya menegaskan kepada Miranti.


Lalu Miranti menghela nafas panjang dan memandang Jaya, sambil berkaca-kaca dia sambil berkata ," Mas, aku ingat dulu bagaimana kami diusir dan dihina saat Ibuku membawaku untuk menemui ayahku. Kami tak boleh masuk rumah itu, bahkan aku sama sekali tak pernah melihat wajah ayahku".


"Kami berjalan kaki kehausan dan kelaparan mencari alamat ayahku. Sesampainya di depan rumah ayahku, kami diusir oleh istrinya dan wajah ibuku dilempari amplop berisi sejumlah uang".


"Ibuku terpaksa harus mengambil amplop itu sambil menangis sakit hati merasa terhina. Tapi mau tak mau beliau butuh uang itu untuk keperluanku sekolah. Kami kembali lagi ke Bandung dan sebagian uang itu digunakan untuk membuat usaha kue seperti ini, sebagian lagi untuk aku sekolah".


Jaya mendekati Miranti dan merangkul bahunya, dia paham kalau Miranti pasti sakit hati dan kecewa dengan perlakuan istri ayahnya bahkan kepada ayahnya yang tak pernah bisa dijumpai sekalipun.


"Dari kecil sampai lulus kuliah aku dan Ibu berjualan kue seperti ini. Aku tak malu ke sekolah bahkan kuliah sambil berjualan, kue aku titip di kantin sekolah. Alhamdulillah selalu habis karena kue kami enak".


"Kalau libur sekolah paling enak bisa dapat uang lebih banyak, aku keliling perkantoran dan pasti selalu banyak yang memborong kue kami," kenang Miranti mengingat masa sulit kehidupannya.


"Skuter kakek itu yang mengantar aku belanja, dan membawa dagangan setiap harinya. Lalu ibuku sakit saat aku menjelang lulus kuliah, jadi terpaksa dijual untuk pengobatan ibu. Sayang beliau wafat sehari setelah aku wisuda," akhirnya Miranti tak bisa lagi menahan air matanya sehingga mengalir deras di pipinya.


Jaya meraihnya dan mendekapnya ke bahunya sambil mengelus punggung kekasihnya.


Melati banci selalu saja ingin tahu urusan orang, dia mengintip dari balik pintu garasi yang setengah tertutup.


"Ampun yah...bikin nangis anak orang, karuan harusnya dinikahi tapi malah dibikin nangis...dasar lelaki mau enaknya sendiri," sindir Melati dari depan teras rumahnya.


Sebenarnya Melati peduli kepada Miranti, karena dia juga punya perasaan bagaimana wanita seusia Miranti belum juga segera dinikahi padahal hubungan dengan Jaya sudah cukup lama.


Hanya jeleknya kalau Miranti sempat mencurahkan isi hati, pasti Melati tak bisa pegang rahasia. Mulutnya seperti ember bocor, apa juga diceritakan kepada setiap orang terutama kepada pelanggan salonnya.


"Sirik aja yah lihat orang pacaran, mau yah punya cowok nanti aku kasih deh yang ganteng,"goda Jaya dari dalam ruangan toko Miranti.


"Mau dong satu, tapi yang bikin bahagia yah jangan kayak situ bisanya bikin nangis," timpal Melati dengan genit.


"Miranti nangis bahagia tahu...nangis karena aku bikin enak...hahahaha," kata Jaya lagi memanasi Melati.


"Mau dong yang enak Oom...,"kata Melati sambil lari kecil masuk ke ruangan toko.


Jaya mengacungkan tinjunya sambil menatap Melati ," Ini yang enak... mau engga...hahahaha".


Melati menatap sebal kepada Jaya sambil mulutnya komat kamit tak karuan, dan Miranti jadi tertawa melihat kejadian itu.


Setelah pertemuan di kediaman Anton beberapa waktu lalu, maka di suatu hari sabtu Haikal dan Aprilia terlihat menuju kediaman Miranti untuk menjemputnya dan juga Jaya.

__ADS_1


Untung Anton sudah mendapat sebagian wewenang di Puskemas sehingga dia bisa memberikan ijin kepada Haikal dan Jaya untuk ijin tidak masuk di hari sabtu.


Sehingga di sabtu pagi itu Haikal dan Jaya menuju ke Jakarta dengan kekasih masing-masing untuk mencari ayahnya Miranti dan juga untuk menemui pamannya Haikal.


Sementara di Puskemas Anton sibuk melayani pasien dan dia juga menerima surat pemberitahuan bahwa pengganti dokter Haikal nanti bernama Rossie Tamadi.


Saat ini dokter tersebut masih menyelesaikan tugas akhirnya di salah satu Universitas terkemuka di kota Jakarta dan nanti setelah selesai akan langsung bertugas di Puskemas tempat Anton bertugas.


"Hmmm tumben ada dokter perempuan mau bertugas ke daerah. Semoga saja betah karena biasanya jarang mau anak kota besar tinggal di daerah," ujar Anton dalam hati.


Mobil Haikal sudah melaju di jalan tol menuju kota Jakarta.


"Kita ke rumah paman saya dulu yah, nanti setelah itu baru kita mencari rumah ayahnya Mbak Miranti," ujar Haikal sambil mengemudi di jalan tol.


"Siap bro, tenang saja, kamipun sangat berterima kasih sudah bersedia mengantarkan mencari rumah ayahnya Miranti,"kata Jaya merasa tidak enak hati kepada Haikal.


"Tenang Bang, biar kita bisa bersama-sama bahagia yah. Kita saling membantu dan kami sangat berharap Abang dan Mbak Miranti mempunyai jalan keluar dari masalah ini,"sahut Haikal menyemangati Jaya.


Mereka berempat tiba di sebuah rumah mewah berpagar tinggi. Miranti dan Jaya saling berpandangan tak menyangka kalau Haikal memang benar berasal dari keluarga kaya raya sekali tapi orangnya sangat sederhana dan rendah hati.


"Ini rumah kakaknya ayah saya, mungkin ada yang pernah mendengar nama Handi Subrata," kata Haikal sambil memasuki halaman rumah tersebut.


"Handi Subrata? Pemilik Subrata Tower di Jakarta ini dan pengusaha sukses. Aku pernah tahu karena salah satu bidang usahanya adalah obat-instan, kalau tidak salah herbal untuk mengobati kanker," kata Miranti menyebutkan kalau dia tahu pemilik nama tersebut.


"Ya benar Mbak, karena dulu istri pertamanya meninggal karena kanker jadi beliau sekarang mempunyai usaha obat itu," kata Haikal membenarkan sambil mereka berjalan menuju ke dalam rumah mewah tersebut.


"Selamat siang, selamat datang mas Haikal. Silahkan masuk tuan dan nyonya sudah menunggu di halaman belakang,"sambut salah seorang pelayan di rumah itu.


"Selamat siang juga, terima kasih nanti saya ke sana, eh iya apakah Bang Yuan ada di rumah?"tanya Haikal kepada pelayan itu.


"Kebetulan beliau baru saja datang, silahkan masuk semua sudah menanti di halaman belakang".


Lalu Haikal membawa semua masuk ke dalam rumah mewah yang sangat besar dan luas itu.


Rumah kakeknya di Cirebon sudah termasuk mewah dan besar, namun rumah ini dua kali lipatnya mewah dan besarnya.


Di halaman belakang tampak pamannya sedang duduk berkumpul bersama keluarganya.


"Haikal my bro...apa kabarmu?"sapa sepupunya yang bernama Yuan.


"Kabar baik Bang Yuan, kalau Abang apa kabarnya. Pulang dari Berlin jadi tambah ganteng saja nih," kata Haikal sambil memeluk sepupunya.


"Hahaha...Aku ke Berlin


hanya menemani Mamih juga Papih menjenguk Kakak. Kamu jadi ke Papua, ayo silahkan duduk. Ayo yang lain silahkan duduk," pria bernama Yuan itu tampak ramah sekali.


"Oom...Tante...apa kabar?"sapa Haikal saat bertemu dengan paman dan bibinya.


Dia menyalami kedua orang tua itu sambil memperkenalkan siapa saja yang dia bawa.


"Oom dan Tante, perkenalkan ini tunangan saya namanya Aprilia," kata Haikal memperkenalkan kekasihnya.


"Gadis yang baik dan manis, tante turut senang dengan rencana pernikahan kalian. Hanya maaf mungkin pada saat hari pernikahan kalian nanti kami tak bisa hadir," kata Ibu Indah Subrata istri dari Handi Subrata pamannya Haikal.


"Iya Haikal, Oom dan Tante harus ke luar negeri karena kondisi kakak masih belum pulih,"kata Handi Subrata yaitu Kakak dari Bambang Subrata ayahnya Haikal.


Note : Untuk kisah keluarga Subrata pernah author unggah di cerpen manga, tapi setelah buku ini habis akan diceritakan dalam novel karena sesungguhnya banyak yang belum terulas di cerpen.


"Tak apa-apa Oom dan Tante, saya paham bahkan saya turut bersedih mendengar kondisi kakak," kata Haikal memahami kondisi keluarga pamannya itu.


"Ya nanti aku juga sepertinya tidak bisa datang Haikal, paling nanti Yohana yang akan hadir bersama keluarganya yah," Yuan juga ikut menimpali.


"Eh, tapi nanti aku pasti akan ke Papua, suatu saat aku akan ke sana mengunjungi kamu yah. Selamat yah nanti kalian menikah, maafkan abangmu ini yah Aprilia, kalau Haikal macam-macam kamu laporkan sama abang yah," kata Yuan sambil tertawa menggoda Haikal dan Aprilia.


"Oom, maaf ini kawan saya Bang Jaya dan calon istrinya, mereka hendak mencari alamat seseorang di Jakarta ini. Dan kalau tak salah tinggalnya di sekitar perumahan ini juga,"kata Haikal menjelaskan bahwa Jaya dan Miranti hendak mencari sebuah alamat.


"Loh memangnya siapa yang akan kalian cari?" tanya Handi Subrata kepada Jaya dan Miranti.


"Maafkan kami pak, apakah Bapak pernah mendengar nama Hartawan Chandra?"tanya Jaya dengan santun.


"Oalah...Hartawan Chandra, tentu saja aku paham. Tapi sekarang dia sakit, kalau tak salah sudah lumpuh tak berdaya karena komplikasi stroke dan berbagai penyakit lain seperti jantung dan diabetes," Pak Handi menjelaskan tentang kondisi ayahnya Miranti.


Mendengar itu membuat Miranti cukup terkejut, tapi dia berusaha menahan diri.


"Maaf Bu, ini calon istri saya adalah anak dari pak Hartawan Chandra," kata Jaya menjelaskan.


"APA?!!!" Ibu Indah dan Pak Handi merasa terkejut mendengarnya.


Lalu mereka minta Miranti menjelaskan tentang asal-usul sampai ada berani mengatakan kalau dirinya anak dari Hartawan Chandra.


Pak Handi dan Ibu Indah merasa kaget sekali, dan mereka tak menyangka seorang pengusaha sukses dan kaya raya seperti Hartawan Chandra ternyata mempunyai rahasia terpendam.


"Yuan kamu ada waktu, kalau ada mari kita antar mereka sebentar ke rumah Hartawan Chandra," kata Ibu Indah kepada anaknya.


"Pak Handi dan Ibu Handi, maafkan kami kalau jadi merepotkan. Kami tak bermaksud untuk jadi merepotkan keluarga di sini," kata Jaya kepada keluarga Subrata.


"Tenang mas Jaya, ini Mamih saya memang harus menemani agar istrinya Pak Hartawan tidak mengusir kalian,"kata Yuan memenangkan Jaya.


Jaya dan Miranti jadi tidak enak sekali, tapi mereka cukup bingung juga mendengar pernyataan Yuan.


Pak Handi memberi ijin istrinya dan anaknya mengantarkan rombongan Haikal menuju rumah ayahnya Miranti.


Sesampainya di sebuah rumah, Miranti jadi ingat kembali saat dia kecil dulu pernah dibawa oleh almarhumah ibunya ke rumah tersebut.


Memang mungkin ada beberapa perubahan tapi pada dasarnya dia ingat pernah menapaki jalan itu menuju rumah besar itu.


"Pak, ada Ibu Diana?"tanya ibu Indah Subrata kepada penjaga pintu rumah itu.


"Ada Bu, silahkan masuk bu," petugas itu segera mempersilahkan semua masuk ke halaman rumah itu.


Petugas tadi berlari tergopoh-gopoh ke dalam menemui majikannya, memberitahukan bahwa di depan ada Ibu Indah Subrata.


Tak lama pintu depan terbuka dan keluarlah seorang wanita yang usianya menjelang setengah baya tapi masih terlihat cantik sebanding dengan Ibu Indah Subrata.


Dan Miranti ingat sekali kalau wajah itu yang dulu pernah memaki ibunya dan melemparkan amplop berisi uang ke wajah Ibunya.


"Diana, kami mau menjenguk suamimu, ada dimana sekarang suamimu?"tanya Ibu Indah dengan nada tegas kepada wanita tadi.


"Eh...Ibu Indah...hehehe... ada di dalam, tapi ini siapa yah Bu. Banyak sekali orang yang kemari?"tanya wanita itu dengan sedikit heran.


"Sudahlah tak usah banyak bicara, kamu bisa tidak mempersilahkan kami masuk ke dalam untuk menjenguk suamimu?"kata Ibu Indah lagi dengan suara terdengar agak lantang.


Lalu Diana seakan ketakutan dan mengijinkan semua masuk untuk menjenguk Hartawan Chandra.


Miranti gemetar, dia sampai merasa lemas kedua kakinya ketika melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.


Jaya memeganginya, dan Aprilia juga sambil mengusap-usap punggung Miranti sambil berjalan masuk.


Kemudian wanita bernama Diana itu membuka sebuah pintu kamar, dan di sana terlihat seorang pria yang tergolek lemah di atas sebuah tempat tidur.


"Bang Yuan, kok Ibu itu tampak ketakutan saat bertemu Tante Indah?" bisik Haikal bertanya kepada kakak sepupunya.


"Diana itu punya hutang


banyak kepada Mamihku, dia membawa kabur berlian Mamih dengan jumlah hampir milyaran rupiah".


"Mamih terlalu baik tidak melaporkan ke Polisi, tapi jangan sampai dia macam- macam nanti pasti habis oleh Mamih,"bisik Yuan menjelaskan kepada Haikal.


Mendengar itu Haikal menganggukan kepalanya tanda paham apa yang dimaksud sepupunya.


"Diana, maaf yah, aku dan suamimu ingin berkata sesuatu. Tapi kami tidak ingin kamu terlibat dalam pembicaraan ini," ujar Ibu Indah kepada Ibu Diana.


"Tapi aku kan istrinya, masa aku tak boleh tahu apa yang kalian akan bicarakan,"kata Diana merasa tak suka diperlakukan seperti itu di rumahnya sendiri.


"Hmmm...boleh saja tahu, asal bayar segera uangku tiga milyar saat ini juga," kata Ibu Indah dengan mata melotot ke arah Ibu Diana.


Mendengar itu Diana jadi terdiam dan sambil kesal dia pergi meninggalkan rombongan Ibu Indah yang sekarang berada di kamar suaminya.


Pintu kamar ditutup rapat, sehingga hanya yang ada di dalam ruangan saja yang bisa berkomunikasi.

__ADS_1


Hartawan Chandra yang lemah tak berdaya merasa bingung tiba-tiba banyak orang masuk ke dalam kamar tidurnya.


Beliau melihat ada Ibu Indah Subrata di dalam kamarnya bersama beberapa orang yang tak dia kenali, selain Ibu Indah yang dia kenali lagi yaitu hanya Yuan saja.


"Hartawan, ini aku Indah istri Handi temanmu. Aku sengaja kemari karena hendak menolong gadis ini, apakah kamu mengenali siapa dia?"tanya Ibu Indah langsung kepada ayahnya Miranti.


Hartawan Chandra memandang wajah Miranti, gadis yang sangat cantik sekali dan memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rosita kekasih saat dia muda dulu.


"Siapa gadis itu Indah? Mengapa wajahnya mirip Rosita, dulu aku mempunyai kekasih bernama Rosita dan sangat mirip sekali dengan gadis ini," Hartawan Chandra memandangi wajah Miranti berlama-lama sambil merasa takjub melihat ada wanita berwajah sangat mirip dengan kekasihnya.


"Hartawan, dia adalah anaknya Rosita, gadis cantik ini anak almarhum Rosita. Dan dia adalah anak kandungmu hasil buah cintamu dengan Rosita," kata Ibu Indah sambil memegang bahu Miranti.


Hartawan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Indah, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan kirinya sambil menitikan air mata. Lalu tangan kanannya dijulurkan untuk meraih Miranti, lalu berusaha bangkit dan mendekati Miranti.


"Jadi benar Rosita hamil, Ya Tuhan ampuni aku, sungguh aku tak tahu kalau dia hamil. Maafkan aku nak, kemarilah nak...maafkan ayahmu ini nak, berpuluh tahun aku berusaha mencari keberadaan Rosita tapi tak pernah bisa aku temukan," Hartawan meraih Miranti kedalam pelukannya dan mereka menangis berdua.


Semua yang berada dalam ruangan menjadi ikut terharu melihat kejadian itu, tak ada yang tidak meneteskan air mata.


Sambil memandangi wajah cantik Miranti, lantas Hartawan bercerita tentang kehidupan masa lalunya.


Dua puluh sembilan tahun yang lalu Hartawan Chandra mempunyai kekasih bernama Rosita, mereka berdua tinggal di kota Bandung.


Hartawan sesuai dengan namanya adalah anak orang kaya raya, dia jatuh cinta kepada Rosita anak pedagang kue yang memiliki seorang ayah veteran perang yang cacat kakinya.


Rosita mempunyai seorang sahabat bernama Diana, mereka sama-sama tinggal di pinggiran kota Bandung dan juga sama-sama anak rakyat jelata saja.


Diam-diam Diana merasa iri hati melihat sahabatnya dicintai dan hendak dinikahi oleh seorang pria kaya raya.


Dalam hatinya timbul rasa iri dengki dan ingin merebut kebahagian yang dimiliki Rosita.


Ayahnya Hartawan adalah pemilik pabrik tekstil terkenal sedangkan ibunya memiliki toko emas.


Lalu diam-diam Diana melamar pekerjaan di toko emas milik ibunya Hartawan, dan dia bekerja dengan sangat rajin dengan tujuan ingin merebut perhatian Ibunya Hartawan.


Benar saja, sang Ibu melirik Diana dan berpikir untuk menjodohkan dengan anaknya.


Suatu hari ibunya melihat Hartawan sedang berduaan dengan Rosita yang sedang menjajakan kuenya.


Lantas Diana dengan tega menghasut kalau Rosita adalah wanita panggilan yang berpura- pura berjualan kue padahal menjajakan dirinya.


Mendengar itu otomatis Ibunya Hartawan menjadi terhasut dan masuk perangkap Diana.


Orang tuanya Hartawan menentang hubungannya dengan Rosita, bahkan diancam kalau sampai nekad menikahi Rosita maka akan diusir dari keluarga.


Tapi karena cinta sudah melekat maka Hartawan nekad menikahi Rosita, namun karena saat itu tidak ada restu maka mereka menikah siri.


Harapan Hartawan adalah apabila suatu saat Rosita hamil, maka pasti orang tuanya tak akan tinggal diam dan pasti akan jadi merestui hubungan mereka karena sudah ada janin di dalam tubuh Rosita.


Diana tahu hal ini, dan dia menceritakan kepada Ibunya Hartawan tentu saja dengan menambah bumbu penyedap dan juga memutar balik fakta.


Dikatakan oleh Diana kalau Rosita dan Hartawan sudah menikah siri, padahal janin dalam perutnya adalah hasil hubungan gelap dengan lelaki lain yang dituduhkan sebagai perbuatan Hartawan karena Rosita mengincar harta keluarga mereka.


Lantas Ibunya dan ayahnya Hartawan di bawah hasutan Diana berhasil masuk kedalam skenario otak licik dan busuknya.


Diana yang tahu keberadaan Hartawan dan Rosita lalu datang dan memberi kabar kalau Ibunya Hartawan sakit keras.


Mendengar itu lantas Hartawan segera menemui ibunya seorang diri dan disaat bersamaan Hartawan diminta untuk mengantarkan Ibunya berobat ke dokter di Jakarta.


Ibunya Hartawan minta Diana menemaninya selama perjalanan menuju Jakarta untuk berobat.


Padahal Ibunya baik-baik saja, Diana telah mengajarinya untuk berpura-pura sakit keras.


Setibanya di Jakarta lalu Hartawan dijebak dan diminta untuk segera menikah secara sah dengan Diana.


Keluarganya Hartawan sudah mempersiapkan semuanya, dan akhirnya mau tak mau Hartawan dipaksa untuk menikah dengan Diana.


Dengan berat hati akhirnya dia mengucap ijab kabul dan menanda tangani surat pernikahannya dengan Diana secara sah.


Sementara itu di kediaman Rosita di hari yang sama terjadi kecelakaan, rumah mereka kebakaran dan ibunya Rosita meninggal dunia karena peristiwa itu.


Rosita dan ayahnya tak punya lagi tempat tinggal karena sudah luluh lantak dimakan si jago merah.


Setelah memakamkan Ibunya lalu mereka pindah rumah mencari rumah yang bisa disewa.


Hartawan juga tak kunjung datang, sementara perut Rosita juga semakin hari semakin besar hingga akhirnya dia melahirkan tanpa didampingi seorang suami.


Dia merawat bayi perempuannya seorang diri sambil berdagang kue keliling. Ayahnya yang berkaki satu hanya bisa membantunya sesekali karena keterbatasannya.


Diana bahagia luar biasa menjadi istri sah orang kaya raya dan dia terus berusaha menutupi keberadaan Rosita.


Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian Rosita mendapatkan kabar kalau Hartawan ada di Jakarta, lalu dia menyusulnya kesana untuk menyampaikan kalau mereka sudah punya seorang anak.


Berbekal alamat yang diberikan oleh seseorang tetangga lama, akhirnya Rosita berhasil menemukan rumah Hartawan di Jakarta.


Namun apa yang terjadi, yang ada dia terkejut dan kecewa karena kekasihnya telah menikah dengan Diana sahabatnya sendiri.


Bahkan Diana menghalangi Rosita yang ingin memperlihatkan Miranti anaknya kepada Hartawan.


Diana mengusir Rosita sambil melemparkan sejumlah uang ke wajah Rosita.


Hancur sudah hatinya, hancur lebur sudah perasaannya. Rosita membawa anaknya Miranti kembali ke kotanya dan berbekal uang dari Diana, diputarlah uang itu untuk modal membuka usaha kue.


Dan sampai Rosita meninggal dunia karena sakit lambung yang sudah sangat kronis, selama itu pula dia tak pernah berjumpa dengan Hartawan.


"Maafkan ayahmu ini nak, aku ayah tak berguna, lelaki bodoh yang tak bertanggung jawab kepada anaknya sendiri. Ya Tuhan ampuni aku, bagaimana caraku menebus dosa ini," Hartawan terus mengutuki dirinya karena merasa sangat bersalah.


"Ayah maafkan juga Miranti, karena berpuluh tahun selalu merasa dendam kepada ayah. Sungguh Miranti dan Ibu tak tahu kisah sebenarnya dibalik semua ini," ujar Miranti sambil menangis juga.


"Jaya kemarilah, kapan kalian menikah. Aku akan berusaha hadir dan menjadi wali nikahmu nak sebagai penebus rasa bersalah dan dosaku," kata Hartawan sambil menggenggam tangan Miranti dan Jaya.


"Indah aku mohon pertolonganmu sekali lagi, hanya kamu yang bisa membantuku keluar dari rumah ini untuk menjadi wali pernikahan anakku," pinta Hartawan kepada Ibu Indah.


Kemudian Ibu Indah juga menyetujui dan akan membantu Hartawan untuk bisa menjadi wali nikah Miranti.


Tiga minggu kemudian, Haikal kembali ke Jakarta untuk menemui tante Indah.


Lalu mereka membuat skenario agar pak Hartawan Chandra bisa dibawa pergi.


Akhirnya dengan sedikit gertak dan ancaman maka Diana kalah dan mengijinkan Hartawan dibawa pergi oleh Haikal dan Ibu Indah.


Ibu Indah hanya bertugas sampai Hartawan bisa dibawa pergi oleh Haikal, kemudian beliau turun di rumahnya karena harus bersiap untuk pergi keluar negeri.


Haikal lanjut membawa Hartawan menuju ke kota Cirebon, karena siang harinya Miranti dan Jaya akan menikah.


Di sebuah Kantor Urusan Agama, sepasang pengantin sudah bersiap menanti ayahnya Miranti.


Tak lama Haikal datang membawa Hartawan Chandra dan segera menuju ke ruangan pernikahan Miranti dan Jaya.


"Saya nikahkan dan kawinkan putri tercinta saya yaitu Miranti Chandra binti Hartawan Chandra kepada Jaya Permana bin Suwandi Permana dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dibayar tunai".


"Saya terima nikah dan kawinnya Miranti Chandra binti Hartawan Chandra dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dibayar tunai".


Sah sudah pernikahan Miranti dan Jaya, walau sangat sederhana sekali sesuai permintaan Miranti tapi semuanya berjalan dengan lancar.


"Maafkan ayahmu nak, berbahagialah dengan suamimu jadilah istri kesayangan suami. Dan kelak jadilah seorang ibu yang luar biasa seperti ibumu. Aku tak pernah membahagiakanmu nak, tapi aku sangat bahagia karena sudah bisa menikahkan. Terjawab sudah semua doaku, terima kasih Ya Allah," Hartawan memeluk anak gadis yang tak pernah dia timang saat bayi dulu.


Tapi hatinya saat ini bahagia bisa menikahkan anak gadisnya itu.


Sebelum kembali ke Jakarta diantar oleh Haikal lagi, Hartawan minta diantar ke makam Rosita.


Setelah menemukan makamnya lalu Hartawan lama terlihat seperti berbincang di makam itu.


"Jemputlah aku Rosita, segera bawa aku bersamamu. Sudah tunai tugasku menikahkan anak kita, sekarang aku juga sudah tak punya beban apapun lagi hanya penyakit menggerogoti tubuhku. Jangan biarkan aku berlama-lama hidup dalam kesengsaraan".


Kemudian Haikal mengantar kembali Hartawan Chandra ke rumah tinggalnya dan setelah itu kembali lagi ke kota Cirebon karena dia juga harus mengurus segalanya untuk pernikahannya.


Sebulan setelah Miranti dan Jaya menikah, terdengar kabar Hartawan Chandra meninggal dunia.


Dari pernikahannya dengan Diana, mereka tidak dikaruniai keturunan.

__ADS_1


Dan setelah Hartawan meninggal, maka Diana menanggung akibat atas ulahnya sendiri.


Gaya hidup mewah berlebihan bahkan sampai berhutang milyaran demi gaya hidup, saat ini dia ditagih dan diancam sana sini atas hutang yang telah dia habiskan untuk foya-foya.


__ADS_2