Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kelima Puluh


__ADS_3

Sebelum lanjut bab ini, author tampaknya tidak perlu menjelaskan singkatan pangkat-pangkat di Kepolisian yah...sudah umum diketahui oleh seluruh Warga Negara Indonesia. Jadi author akan lanjut yah....kalau ada yang penasaran bisa ngintip di mbah google.....sip...cussss..


"Jadi rencananya di tempat ini BRIPDA Suhatma jadi penjual warung, IPDA Sari dan Novia jadi mahasiswi yang minta bantuan untuk tugas kampus, AIPDA Rohmat jadi pemulung nanti berjaga di sekitar taman," IPTU Murad menjelaskan kepada timnya dan juga kepada atasannya AKP Yansen Simanjuntak.


"Diperkirakan anak pembawa minuman akan diturunkan dari mobil di sekitar taman, nanti AIPDA Rohmat yang akan memantau disekitar taman".


"Saya dan pak Komandan memonitor dari seberang jalan. Apakah ada pertanyaan?"tanya IPDA Murad kepada yang hadir dalam ruang meeting pagi itu.


"Tidak bisa begitu saja Murad, ini harus ada pengalih perhatian. Karena analisa saya pasti di dalam mobil itu akan ada lebih dari dua orang," AKP Yansen Simanjuntak memberikan masukannya.


"Mungkin pengalih perhatian bisa berupa tukang jualan atau petugas kebersihan, nanti bisa di tambahkan dua orang Bintara di sekitar taman ini," sahut IPDA Murad sambil menunjuk papan tulis yang ada gambaran rencana penyamaran mereka.


"Saya rasa kurang tepat, harus yang heboh...harus ada yang bersedia menjadi waria, pasti perhatian orang yang memantau di mobil pasti akan teralihkan,"AKP Yansen menyampaikan idenya dan disambut tawa anak buahnya.


Tapi itu ide yang masuk akal karena akan membuat penjahat dalam mobil tidak konsentrasi kepada target.


Lalu mereka memanggil masuk lagi dua orang Bintara untuk mematangkan penyamaran mereka.


Pak Salim mencari kacamatanya, beliau lupa dimana semalam kacamata itu disimpan. Biasalah hampir semua orang berusia lima puluh tahun lebih pasti akan sering mengalami hal seperti ini.


Beliau mencari ke arah ruang tamu rumah keluarga besarnya, siapa tahu ada di sana.


Sudah sebulan lebih pak Salim dan istrinya tidak kembali ke rumah di bukit.


Karena kemarin ini Anton sempat koma lagi dan sebentar lagi Anton juga akan menikah maka pak Salim dan istrinya sementara tinggal di kediaman lamanya.


Saat hendak menuju ruang tamu dia menghentikan langkahnya rupanya ada Anton dan Mela sedang berbicara berduaan.


Namun ternyata kakek juga suka ikut penasaran, ingin tahu apa yang sedang anaknya dan calon menantunya bicarakan.


"Mela, aku selama ini bahagia sekali bersamamu. Kamu selalu menurut apa yang aku mau, kamu juga selalu setuju saja dengan apa yang aku sampaikan atau keluargaku inginkan".


"Tapi aku juga tidak mau kamu seperti begitu terus, kamu juga harus punya prinsip. Harus bisa menyampaikan keinginanmu, mintalah apa yang kamu mau. Dan tuntutlah aku sesuatu agar aku bekerja lebih semangat".


"Dibalik kelemahanku sebagai orang cacat, aku masih punya semangat.


Aku ingin menjadi berarti untuk yang aku cintai. Dan akan berusaha untuk memenuhi permintaannya," Anton menatap Mela yang terlihat sangat terharu terhadap kekasihnya yang memang benar lelaki bertanggung jawab.


Pak Salim yang menguping juga merasa bangga, dia bahagia mendengar anak lelakinya berkata seperti itu kepada kekasihnya.


Menunjukkan bahwa lelaki Wiharja adalah lelaki yang jantan, tangguh dan bertanggung jawab.


"Ini baru anakku,"gumannya dengan berbangga hati.


"Pah lagi appp......,"Aryani yang tiba-tiba masuk dan bertanya kepada suaminya, langsung dipotong ucapannya oleh sang suami.


"Sssstttt....sini.....sssttt..,"ajak pak Salim kepada istrinya untuk duduk di sebelahnya menguping pembicaraan anak mereka.


Aryani duduk disamping suami nya lalu pak Salim membisikan tentang pembicaraan anaknya dan calon menantunya.


Sambil manggut-manggut kemudian keduanya bersama-sama menguping pembicaraan Anton dan Mela.


"Aku bingung sayang, kamu dan juga keluargamu sudah terlalu baik. Bahkan terkadang kami merasa sudah banyak merepotkan kalian".


"Rumah kami di kampung tiba-tiba diperbaiki, adikku bekerja di sini diberi makan dan minumnya gratis, setiap bulan diberi gaji yang di atas standar rata-rata lulusan SMK".


Sambil menghela nafas sebentar Mela melanjutkan lagi," Bahkan sekarang aku dan ibuku juga ada disini. Sebulan ini aku tidak banyak membantu cici Anita karena sibuk mengurusi kamu sakit. Namun aku masih diberi gaji, bahkan ibuku juga diberi honor karena telah membantu cici menjaga Keiza dan Kaysan".


Mela mulai terbawa perasaan karena selama ini dia memang merasakan keluarga kekasihnya itu sangat baik dan tidak perhitungan dalam memberikan apapun.


"Itu beda ceritanya, tidak ada kaitan dengan hubungan kita. Soal pekerjaan itu urusan antara Anita dengan kamu.


Masalah dia memberi apa kepada keluargamu itu adalah kebijaksanaan kakakku".


"Namun diantara aku dan kamu ingin ada keterbukaan, kamu berhak meminta aku seperti apa mau mu dan aku juga demikian. Kita juga harus membahas masa depan kita, apa yang kamu harapkan dan aku harapkan".


"Kamu tidak boleh rendah diri terhadap keluargaku, kamu juga punya hak untuk bicara menentukan langkah kehidupan masa depan kita berdua,"ujar Anton berusaha meyakinkan Mela untuk menyampaikan keinginannya.


Mela terdiam, dia memang terkadang suka merasa rendah diri terhadap kebaikan keluarga Anton, walaupun memang dia punya keinginan dalam hati kalau menikah nanti.


Lalu dia memandang Anton seraya berkata," Tapi kalau aku meminta sesuatu apakah tidak akan disebut materialistis...


jujur aku takut disebut cewek matre memanfaatkan keluarga suami".


Mela menunduk merasa takut kalau ada tuduhan seperti itu kepada dirinya.


"Matre apanya...aku yang tahu kamu seperti bagaimana, mengapa pusing dengan ucapan orang lain".


"Keluargaku juga apa adanya, kami bukan konglomerat yang bergelimang harta. Mungkin kamu juga merasakan bagaimana keluargaku selama ini," Anton mencoba menegaskan kepada Mela agar jangan sampai terus dilanda rendah diri.


Setelah berpikir lalu Mela tersenyum dan berkata,"Baiklah...kalau begitu aku ada beberapa permintaan kepadamu".


"Satu....aku ingin kamu ikut ujian Pegawai Negeri Sipil, punya profesi dokter jangan tanggung-tanggung aku tidak mau kamu cuma sekedar dokter kontrak".


"Dua....aku ingin setelah menikah mempunyai rumah sendiri yang bagian depannya bisa kita buka usaha apotik dan klinik".


"Tiga...aku ingin rumahnya bukan pemberian orang tuamu tetapi hasil kerja kerasmu," Mela berkata tegas dan lantang menghadap Anton.


"Oke....aku terima keinginanmu dan aku akan berusaha mewujudkannya. Aku senang akhirnya kamu meminta sesuatu seperti ini kepadaku," Anton tersenyum kepada Mela karena akhirnya dia diminta oleh kekasihnya untuk melakukan sesuatu bagi mereka.


"Tapi aku juga boleh minta sesuatu juga yah kepadamu...,"ujar Anton dengan senyum yang aneh.


"Mau minta apa?"tanya Mela polos.


"Minta....kita nanti punya anak tiga," kata Anton sambil mengedipkan matanya.


Mela langsung memutar matanya dan pura-pura pingsan.


"WWOOOIIII....NUJU NAON IEU TEH!!!!!" teriak Anita menggoda orang tuanya yang sedang menguping.


(\=wooooi sedang apa ini)


"NITA!!!...Astagfirullah...reuwas nyaho... waduh budak teh kabina-bina,"Aryani sangat terkejut sekali dan mengomel.


(\=Nita...Astagfirullah..kaget tahu...waduh Kamu keterlaluan)


Anton dan Mela yang mendengar ada kerusuhan dari balik dinding tempat mereka berbincang dan segera mereka mendekati.


Terlihat sang kakak sedang tertawa melihat kedua orang tuanya yang menguping pembicaraan adiknya sedang bercakap-cakap dengan kekasihnya.


Ibu Lussy mantan guru SMP nya Anton, sedang menghubungi Fajar. Beliau memberitahukan kalau klaim asuransi rawat inap Anton sudah dicairkan tetapi pembayarannya masuk ke rekening Anton.


Fajar sangat berterima kasih atas bantuan ibu Lussy tersebut, dan Fajar juga mengabarkan kalau Anton juga sudah sadar beberapa waktu yang lalu dan rencananya akan segera menikah.


Ibu Lussy tentu saja bahagia sekali mendengar mantan muridnya itu sudah sadar, dan beliau berjanji akan datang kalau diundang ke pernikahan Anton.


Sementara Anton sedang bingung melihat saldo rekening E- Banking nya nilainya bertambah cukup besar, dan merupakan kiriman dari perusahaan Asuransi.


Lalu dia bertanya kepada iparnya,"Koko Fajar...maaf apakah koko yang telah memproses asuransi rawat inap saya beberapa waktu yang lalu?"


"Ya benar, kemarin ini aku membayar biaya perawatanmu, lalu aku mencoba memproses asuransinya dan hari ini kata ibu Lussy sudah masuk ke rekeningmu," Fajar menerangkan kepada Anton tentang proses asuransi kemarin ini.


"Wow...jumlahnya banyak sekali, aku kirim yah ke rekeningnya koko Fajar, ini kan hak nya koko karena kemarin ini sudah membayar semua biaya perawatan rumah sakitku".


"Sudah tidak usah, anggap saja hadiah pernikahanmu dari aku dan Anita. Tak usah dipikirkan karena uangku kemarin sudah ada yang mengganti," sahut Fajar lagi dengan tenang menyikapi masalah keuangan.


"Tapi kan kemarin koko membayar memakai kartu kredit tentu harus dibayar ke bank tagihannya,"kembali Anton mencoba berusaha untuk mengembalikan uang itu karena tak enak hati kepada iparnya.


"Tenang saja, tagihannya sudah ada yang melunasi jadi akupun tak punya hutang ke bank...sudahlah aku masih ada pekerjaan,"Fajar meninggalkan Anton yang masih bingung antara senang juga tak enak hati.


Fajar orang yang banyak amal, uang pasien konsultasi selalu tidak diambil, hampir 99% diberikan untuk keperluan pesantren yang sering dikunjunginya yangmana dia juga sebagai salah satu pembimbing disana.


Bahkan jika ada yang minta nomor rekeningnya pasti yang dia berikan adalah nomor rekening pesantren.


Memang Fajar juga masih diberi gaji oleh mertuanya karena dia selama ini masih bekerja sebagai tangan kanan mertuanya dalam melakukan berbagai urusan di apotik dan klinik tersebut.


Namun gajinya sudah pasti masuk ke saku istrinya sebagai biaya rumah tangga dan keperluan anak-anak mereka.


Lantas darimana dia punya uang untuk keperluan dirinya bahkan seperti untuk membayar tagihan kartu kredit.


Kadang di dompetnya hanya ada uang sekedar untuk membeli bensin juga parkir kalau dia mendapat tugas dari mertuanya.


Yang menjadi pertanyaan bagaimana caranya membayar tagihan kartu kredit yang telah dia gunakan sewaktu dipakai untuk membayar biaya rumah sakit Anton.


Ternyata orang baik ada saja rezekinya, dan jangan salah memang di dunia nyata sekalipun kalau kita ikhlas dan ridho dalam hal apapun pasti selalu ada jalannya.


Dokter Jaka merasa sangat bahagia setelah berkonsultasi dengan Fajar beberapa kali, lalu melakukan semua saran yang Fajar berikan.


Kini dia dan istrinya kembali rujuk dan kehidupan mereka juga sudah bahagia kembali.


Keluarga besarnya pun memaafkan dan menerimanya kembali. Sehingga dia bisa menjalani kehidupan rumah tangganya dengan bahagia lagi.

__ADS_1


Dokter Jaka meminta tolong pihak administrasi rumah sakit meminta foto copy kartu kredit Fajar.


Karena kebetulan ketentuan dari rumah sakit untuk mengcopy pembayaran yang dilakukan melalui kartu kredit sebagai arsip mereka.


Dan dokter Jaka menerima copy kartu tersebut lalu bergegas ke ATM terdekat dan membayarkan semua tagihan kartu kredit Fajar.


Begitu juga saat mobil dinas pesantren harus masuk bengkel karena ada kerusakan mesin, hasil perkiraan biaya


dari bengkel atas kerusakan harus sedia uanh sekitar tiga juta rupiah.


Tanoko juga sudah belajar banyak dari Fajar, bagaimana ketika seseorang lelaki berada di posisi dengan tingkat ekonomi lebih bawah dari keluarga istri tapi tetap dihormati dan dihargai istri.


Resep Fajar kepada Tanoko adalah tetap jadi diri sendiri dan tunjukan kualitas diri sebagai suami dan menjadi lelaki harus punya prinsip yang kuat.


Jangan sombong dengan harta mertua seperti yang Tanoko lakukan selama ini, tapi perlihatkan kerja kerasmu sebagai lelaki.


Karena wanita akan bahagia menikmati hasil kerja keras suaminya walau dari nilainya jauh lebih rendah dibandingkan harta orang tua sang wanita.


Walau orang tuanya bergelimang harta punya banyak kendaraan, tapi istri akan bahagia hanya naik sepeda motor butut tapi milik suaminya sendiri.


Lalu satu lagi dalam keimanan, dalam agama apapun...tujukan lelaki adalah seorang imam bagi keluarganya.


Tunjukkan baktimu kepada Penciptamu, ajarkan istri dan anak beribadah maka niscaya rumah tangga akan bahagia.


Tanoko mendengarkan dan berusaha mengubah pola pikirnya selama ini.


Benar dia pernah jatuh usaha bisnisnya sehingga mertua harus turun tangan membantu membayarkan hutang usahanya.


Tapi kesalahannya adalah sejak itu dia merasa keenakan karena mertua selalu membantu urusan segalanya termasuk perekonomian keluarganya.


Istrinya sebenarnya kesal atas perilaku Tanoko yang seakan tidak pernah berpikir masa depan dan seenaknya mempergunakan fasilitas orang tuanya.


Sejak itu dia berubah menjadi lebih sensitif dan pemarah kepada suaminya.


Tanoko merasa istrinya berubah, dia juga merasa tidak senang sehingga kerap mereka beradu mulut.


Sampai Tanoko melihat Fajar tidak jauh berbeda dengannya hidup di rumah mertua, namun Anita istrinya sangat menghormati dan menghargai dirinya.


Setelah mendengar semua nasehat Fajar dia mencoba terus memperbaiki dirinya sampai akhirnya berubah 360 derajat. Dia menjadi lebih rajin bekerja, dia membuka usaha kecil-kecilan di pasar baru berupa toko pakaian anak-anak kecil.


Semua kendaraan yang dia pinjam dari mertuanya dikembalikannya, tabungan yang ada dijadikan modal usahanya.


Sementara dia membeli sepeda motor sebagai kaki untuk kesana kemari mejalankan usahanya.


Dan ternyata benar istrinya berubah, jauh lebih menghormatinya. Bahkan benar istrinya bahagia -bahagia saja kemana-mana pergi naik motor bersama suaminya.


Tanoko juga sekarang lebih rajin ibadah di agamanya, bahkan dia menjadi salah satu aktifis di gerejanya.


Waktu itu Tanoko sempat melihat mobil pesantren ada di bengkel, lalu tanpa pikir panjang lagi segera dia menemui pemilik bengkel untuk membayarkan lima puluh persennya.


Sehingga saat Fajar hendak membayar cukup terkejut karena sudah ada yang membayar tagihan setengahnya sehingga dia membayar sisanya saja.


Dan dia tak tahu kalau Tanoko yang telah membayar, Fajar hanya bisa mendoakan Tuhan akan membalas kebaikan orang tadi.


BRIPDA Ryan dan Asep sedang didandani oleh IPDA Sari dan Novia. Kedua pria itu hanya pasrah saja karena mereka didandani oleh dua wanita yang pangkatnya lebih senior dari mereka.


"Mbak Sari....sumpah saya masuk kepolisian itu ingin orang tua bangga, tapi sungguh saya tidak menyangka harus menyamar jadi banci,"kata Asep sambil merasa sebal dan sedih karena dipilih komandannya untuk pekerjaan ini.


"Iya mbak...sama saya juga mbak seumur- umur baru sekarang pakai pakaian begini,"Ryan juga berkata demikian tak habis pikir dapat tugas begini.


"Diam kalian, berisik..mau naik pangkat tidak...Kalau mau naik pangkat apapun harus berani dilakukan,"sentak Sari kepada keduanya.


"Ayo kalian nanti jalannya harus yang genit yah, sebisa mungkin harus all out menggoda penjahatnya,"kata Novia mengajarkan mereka berdua jalan.


"Nah..sudah cantik...ayo kita bergerak sekarang!!!"ujar IPTU Murad yang tiba-tiba masuk.


"Bang beneran ini sih Ndan*.. hancur reputasi kami... mana harus jalan keluar sementara di depan banyak anggota lain Ndan...malu kami Ndan,"kata Asep mengeluh.


*Ndan\= panggilan untuk komandan.


"Kamu ini bagaimana...polisi harus siap menjalankan tugas menjadi apapun, ini tugas penyamaran pertama kalian... lakukan dengan baik untuk penilaian kalian,"tegur IPTU Murad dengan tegas.


Maka keduanya mau tak mau dibawah perintah atasannya harus keluar dari ruangan tempat mereka didandani.


Dan benar saja mereka ketika mereka keluar ruangan semua anggota polisi yang sedang berada di kantor riuh mengerjai mereka, ada yang bersiul, ada yang memfoto mereka.


Dan tak kepalang tanggung mereka berdua juga langsung beraksi berjalan dengan genit sambil melambaikan tangan menuju mobil yang akan membawa mereka menuju ke lokasi penjebakan.


Ditubuh dan telinga yang akan bertugas melakukan penyamaran dipasangi alat penyadap dan alat komunikasi.


Kedua polisi wanita di bagian telinga dipasangi alat untuk mendengar perintah dan untuk berbicara kepada atasannya. Karena memakai hijab maka tidak akan terlihat dari luar.


Pemeran banci pada kedua telinganya dipasangkan anting-anting jepit yang dihubungkan dengan alat pendengar agar bisa mendengar semua perintah dari komandan.


Lokasi penjebakan dan penyamaran berada di bawah jalan layang.


Di dekat sana ada tanah kosong yang belum terusik Pemerintah Daerah sehingga masih terbengkalai tak terurus .


Lalu tim penjebakan ini mendirikan sebuah warung rokok dan minuman ringan.


Suasana jalan cukup jauh dari suasana keramaian, biasanya warung seperti ini sering menjual minuman keras.


BRIPDA Suhatma yang waktu itu pernah berurusan langsung dengan kasus penembakan pemuda yang membawa minumannya keras, tengab bersiap berjaga di warung sebagai pemilik warung.


Tak lama anggota tim lainnya tiba dan memarkirkan kendaraan tidak jauh dari lokasi warung.


Mobilnya minibus dengan ukuran cukup besar, dan di badan mobil ada tulisan POLZ FM 63 Mhz Radio Anak Gaul.


Seakan itu mobil milik salah satu pemancar radio anak muda. Untung tidak ada orang yang reseh nanti bisa ribut mengapa ada mobil pemancar radio di bawah jembatan layang yang susah sinyal.


AIPDA Rohmat turun pertama dari mobil dan segera menyeberang jalan menuju taman berpura-pura jadi pemulung.


Taman disitu memang taman tidak terurus sehingga keberadaan Rohmat disitu tidak membuat orang curiga.


Tak lama ada sebuah mobil sedan berhenti didekat taman tersebut.


Di dalamnya ada seorang sopir, dan tiga orang laki-laki lainnya.


Mobil itu parkir di dekat taman dengan mengambil posisi di tempat yang agak gelap.


Tak jauh dari situ terlihat Rohmat sedang mengumpulkan botol-botol plastik bekas minuman.


Sambil melaporkan posisi mobil dan apa yang dia lihat kepada IPTU Murad dan AKP Yansen yang berada di mobil POLZ FM


Lalu dari dalam mobil turun seorang pemuda berusia sekitar 18 tahun dengan ransel di punggungnya.


Ransel itu tampak berat, dan pemuda itu jalan perlahan menuju warung Suhatma.


Pemuda tadi duduk di jok belakang mobil sedan tadi bersama seorang pria yang sekarang berdiri di luar mobil mengamatinya dari jauh.


Anak itu juga sama dilengkapi dengan alat penyadap di badannya. Sehingga ketika anak itu bicara apapun kepada siapapun pasti akan diketahui oleh orang yang di mobil.


Di dalam mobil sopir terlihat lelah dan menurunkan senderan jok kursi mobilnya ke belakang.


Sementara orang yang di sebelahnya tampak memonitor anak pembawa ransel tadi.


Warung Suhatma sepi hanya ada dia seorang diri sedang menunggu warung sambil mendengarkan radio.


"Pak, ini barang baru, apakah di warung ini mau mengambil?,"ujar Romi nama si kurir minuman keras.


Kalau masih ingat, Romi adalah pemuda yang menuduh Anton telah membunuh kakeknya.


"Oh...bawa berapa malam ini?"tanya Suhatma kepada Romi


"Biasa sepuluh pak," katanya sambil menyerahkan ranselnya.


Lalu Suhatma menerima dan membawa masuk warungnya.


Saat itu tiba - tiba ada dua orang gadis berkerudung berjalan kaki berdua dari arah berlawanan.


Keduanya tampak lelah, lalu mereka mendekati warung dan salah satunya berkata," Pak es teh dua pak, di plastik saja".


"Eh pak jangan di plastik kita minum saja disini," gadis satunya menukas kawannya.


"Aduh di plastik sajalah, biar kita bawa pulang".


"Kamu tuh pulang saja pinginnya, kita masih kurang responden. Ini kebetulan ada bapak warung dan mas ini, kita bisa minta tolong mereka untuk menjawab tugas kita".


"HHm.. benar juga yah, bapak dan mas tolong kami yah... Kami ini mahasiswa sedang membuat tugas kuesioner, nanti mas jawab ya dan tidak saja. Kami yang mencatat,"pinta salah satu mahasiswa itu kepada Romi.


"Eh....pertanyaan apa mbak?"tanya Suhatma sambil memberikan dua botol minuman teh manis.

__ADS_1


"Ini pak seputar masalah kesehatan, kami mahasiwa jurusan kesehatan masyarakat. Apakah bapak dan mas bersedia menolong kami?"kedua gadis mahasiswa itu minta tolong kepada Suhatma dan Romi.


Pembicaraan mereka didengar oleh tim polisi dan juga tim penjahat dari mobil berbeda.


Romi menoleh ke arah mobil yang tadi mengangkutnya dan dia melihat satu kedipan lampu mobil pertanda boleh.


"Ya kasihan bro, anak gadis lagipula pemilik warung seperti belum bayar, sudah beri tanda satu kedipan lampu saja ,"kata yang memonitor di mobil sedan kepada pemegang kemudi.


Romi mengiyakan kepada kedua gadis mahasiswa itu, lalu duduk didekat kedua gadia mahasiswa itu.


" Mas ini ada pertanyaan di dalam buku ini, nanti saya buka lembar per lembar pertanyaanya dan jawab hanya dengan kata YA atau TIDAK yah,"kata Novia memperlihatkan seperti sebuah buku tulis kepada Romi.


Sementara Sari berlagak seperti orang yang siap mencatat setelah responden menjawab.


"Ingat ya mas...sekali lagi saya ulangi, mohon hanya menjawab YA atau TIDAK agar kami tidak sulit mencatatnya".


Romi menganggukan kepalanya kepada kedua gadis itu.


Sementara ketiga anak buah Kang Jap Fan alias Kang Japar mengamati dari mobil mereka, tak lama dari seberang jalan tampak dua waria mendekati mobil mereka.


"Waduh ada kayak ginian, lumayan kita godain,"kata si sopir kepada kedua kawannya.


"Hmmm...lu aja deh, gue harus mantau itu anak," jawab yang memonitor.


Kedua waria semakin mendekat dengan berjalan genit sekali.


"Bro kalau di dalam mobil ada yang kelainan beneran gimana yah...mati deh kita,"kata Asep sambil berjalan dengan gemulai.


"Sudah diam....kita saling bantu saja kalau ada apa-apa, awas kamu jangan tegang bro, santai saja,"sahut Ryan mengingatkan kepada Asep.


"Eh...tadi kata komandan aku Septa dan kamu Rayni yah bro.. awas jangan lupa juga".


Sementara itu di warung Romi tengah mulai membaca halaman pertama dari buku yang Novia buka.


Tertulis pada halaman itu:


Jangan takut kami dari kepolisian, kami akan menolongmu


Romi mendelik lalu berkata " YA"


"Malam oom...duh cucok deh banyak yang ganteng...sini Septa temenin mau kan oom,"Asep mulai menggoda pria di dalam mobil yang saat itu sedang membuka kaca jendelanya.


"Sini dong say...ngobrol sama oom,"si sopir mulai tergoda.


"Aawww dibelakang ada cowok ganteng juga...Rayni boleh masuk engga oom...," Ryan juga memulai aksinya kepada pria dibelakang.


Pria itu tampak dingin, tapi dia turun dari mobil tersebut. Lalu dia berdiri dan merangkul Ryan. Mau menepis tapi tak mungkin karena bahaya kalau ketahuan.


Bacaan pertanyaan kedua:


Kamu bersama tiga orang lainnya, apakah kamu dipaksa?


"Ya"


Bacaan pertanyaan ketiga :


Apakah mereka membawa senjata?


"Ya"


Bacaan Pertanyaan keempat:


Apakah semua bersenjata?


"Tidak"


Novia menatap Sari, lalu Sari segera menulis di halaman berikutnya.


Tulisannya:


Apakah ada satu orang ahli menembak di sana?


"Ya"


Tulisan selanjutnya:


Apakah pembicaraan kita disadap?


"Ya"


Selanjutnya lagi:


Apakah kamu akan dibunuh kalau membocorkan rahasia ini oleh mereka


"Ya"


Sementara di mobil terjadi hal yang cukup mengerikan, rupanya yang duduk dibelakang mempunyai kelainan, dia terlihat penyuka sesama jenis yang berdandan wanita seperti Ryan malam ini.


Dan ini episode hidup terberat Ryan, dia harus memutar otak sambil bicara agar tidak ketahuan juga agar dirinya tidak diapa-apakan oleh lelaki itu.


"Oom...iiihhh...jangan genit aaahhh... Rayni jadi malu iiihhh oom...masa baru ketemu sudah pegang-pegang....Nanti dong kita janjian lagi sih....".


"Memang minggu depan kamu masih mangkal disini?"tanya lelaki itu, sambil tak sengaja ujung mata Ryan melihat ada senjata di balik jaket lelaki itu.


"Masih dong oom, ngapain minggu depan...besok saja oom, kita hepi-hepi sama Rayni.. Nanti Rayni mau bikin kejutan buat oom,"jawab Ryan sambil mencubit dagu lelaki itu dan membuat lelaki itu jadi tambah gemas.


Tulisan selanjutnya:


Nanti warung akan pesan minuman keras untuk besok, kamu harus kemari lagi esok malam membawa banyak botol.


"Ya:


Tulisan lagi :


Kamu kalau mau lepas dari ancaman mereka harus bekerjasama dengan kami.


"Ya"


Lagi :


Ingat besok malam datang kemari membawa pesanan sesuai petunjuk pemilik warung.


"Ya"


Terakhir :


Satu lagi ingat kalau ditanya oleh mereka kamu jawab membantu mahasiswa membuat tugas tentang kesehatan masyarakat.


"Ya"


"Makasih ya mas sudah bantu kami mengisi data. Sekarang kami pamit duluan yah, ini pak bayarannya dua teh es manis dan permen," kata Sari dan Novia membayar ke warung lalu mereka menyeberang jalan.


"Nak...besok ada club motor besar mau pesta di sini, ada sekitar dua puluh orang. Kamu besok bisa bawakan botol lebih banyak?"Suhatma menjalankan skenarionya.


"Baik pak, butuh berapa banyak?"tanya Romi kepada Suhatma dan dia juga sama mengikuti petunjuk polisi wanita tadi.


"Bawa saja cukup banyak, ini aku titip uang mukanya bersama dengan bayaran yang sekarang".


Lalu Romi mengiyakan dan berjalan ke arah mobil sedan.


"Bro...ini anak dapat order buat besok, kita besok kemari lagi," lelaki yang memonitor memberitahu kawannya kalau besok ada pesanan dari pemilik warung.


"Ya sudah Rayni sayang, besok kita ketemu lagi...besok harus mau hepi- hepi sama abang yah....awas kalau kamu tak ada besok, aku cari dan habisi kamu," lelaki itu meminta Rayni besok bersamanya sambil mengancam juga.


"Galak amat oom.. Rayni janji sama oom ...besok kita ketemu lagi sama oom sayang...".


"Duh yang pacaran ...Septa kedinginan nih...oom yang ini judes sama Septa".


"Sudah sana, ini rokok buatmu sudah minggir sana kami mau jalan," kata sopir sambil melemparkan rokok ke arah Asep dan mereka berlalu.


Di dalam mobil minibus IPDA Murad dan AKP Yansen tak kuat menahan tertawa terbahak-bahak mendengar pembicaraan timnya yang menjadi waria.


Ternyata luar biasa kedua polisi muda itu penuh totalitas dalam bekerja, mereka benar-benar menjalankan penyamarannya dengan kesungguhan.


Lalu mereka semua merapat menuju mobil itu dan kembali ke markas.


"Bravo tim..luar biasa....tepuk tangan untuk BRIPDA Ryan dan Asep....salut untuk kalian....,"seru AKP Yansen sambil menyambut keduanya dengan tepuk tangan.


"Aiiihhh ....makasih Ndan...cucok meong semuanya...".


HAHAHAHAHAHA

__ADS_1


..


__ADS_2