
Waktu sudah menjelang subuh, tapi baik Mela maupun Anton belum tidur barang sekejap juga.
Anton tampak sedang berbicara dengan dokter Iskandar ahli kandungan dan kebidanan di ruang IGD di salah satu rumah sakit swasta terkenal di kabupaten Cirebon.
Terlihat Anton manggut-manggut dan dokter Iskandar menepuk lengan atasnya sambil berjabat tangan lalu meninggalkan tempat itu.
Hampir 5 jam lamanya mereka semua duduk di depan ruang IGD, karena kondisi Wiwit pendarahan hebat dan saat ini sedang terbaring kritis.
Pihak Rumah Sakit belum bisa membawa masuk ke ruang rawat inap karena masih menunggu kamar yang kosong.
Supriatin minta Wiwit agar di rawat di kamar VVIP.
Tapi karena jumlah terbatas, maka harus menunggu pagi harinya untuk mendapatkan kamar yang dimaksud.
Anton lalu mendekati pak Haji Darma yang saat itu terlihat sedang duduk berdampingan dengan Surya, dia lalu menyampaikan pesan dari dokter Iskandar.
"Pak Haji, kondisi Wiwit masih kritis saat ini akan dipantau terus oleh dokter Iskandar dan teamnya".
"Pendarahan sudah bisa dihentikan tapi kondisi Wiwit sendiri sangat lemah jadi butuh penanganan lebih".
"Berita baiknya adalah janin yang dikandung masih dalam kondisi baik, jadi sekarang tinggal menunggu kondisi Wiwit menjadi kuat dulu," Anton mengakhiri penjelasannya.
Wak Atin duduk sendiri di bangku panjang dengan wajah dipenuhi air mata. Dia saat ini sedang merasa bersalah, tadi dia meminta Mbah Wiro dan istrinya Sutiyem untuk menggugurkan kandungan Wiwit.
Sutiyem mengurut perut Wiwit setelah sebelumnya meninumkannya suatu ramuan aneh. Entah karena salah urut atau bagaimana yang pasti Wiwit lalu mengalami pendarahan hebat.
Melihat itu keduanya malah kabur, dan wak Atin menjerit-jerit minta tolong.
"Pak Haji Darma, maafkan saya. Bu Atin maafkan saya juga bu, saya akan menikahi Wiwit, saya bertanggung jawab atas perbuatan saya ini," kata Surya sambil bertelut dihadapan kedua orangtuanya Wiwit.
"Bedeb*h kau Surya, beraninya kamu merusak anakku. Br*ngs*k, aku jijik melihatmu,"kata wak Atin dengan tatapan nanar dan bibirnya bergetar tanda penuh amarah.
"Hmmm sudahlah Atin, sudah terjadi mau apalagi kita, tak ada jalan lain selain menikahkan mereka,"ujar Haji Darma sambil menatap kesal kepada istrinya yang terus keras kepala.
Anton mengajak Mela ke musholla di rumah sakit karena adzan subuh sudah berkumandang.
Setelah mereka melaksanakan ibadah, Anton rehat sebentar di musholla karena dia belum tidur sedetikpun.
Sementara Mela duduk tak jauh dari musholla sambil menjaga kaki palsunya Anton.
Sambil duduk memegangi kaki palsu kekasihnya diapun tertidur di bangku.
Mela terbangun ketika ada yang memanggilnya lembut, dan ketika membuka matanya ternyata ibunya sudah ada dihadapannya.
"Ya Allah...mimi kapan datang, sama siapa jeh?"tanya Mela kepada ibu Sinah ibu kandungnya.
"Tembek teka terus deleng nok turu ning kene ya tak tangienang, mau dewekan bae ngenggo bis bae,"jawab ibunya sambil merapihkan rambut anaknya yang keluar dari kerudungnya.
(\=baru datang lalu melihatmu tidur di sini jadi kubangunkan, barusan sendiri saja naik bis)
"Mi..melas jeh Wiwit meteng, wingi arepan di gugur nang karo wak Atin. Sekien deweke pendarahan parah,"cerita Mela kepada ibunya.
(\=Bu.. kasihan Wiwit hamil, semalam akan digugurkan oleh wak Atin. Dan sekarang mengalami pendarahan hebat)
Lalu ibunya mengajaknya menemui wak Atin, maka Melapun membangunkan Anton memberitahukan ada ibunya juga takut kejadian lagi kakinya hilang di rumah sakit.
Antonpun segera bangun dan merasa kepalanya sakit sekali.
Sejenak berdiam sebentar diapun bisa beranjak bangun, walau kepalanya masih terasa sakit.
Setelah memakai kakinya diapun segera menemui ibunya Mela lalu bersama-sama kembali ke depan
ruang IGD.
Ibu Sinah segera menemui kakak dan kakak iparnya, beliau langsung mendekati kakaknya dan menyalaminya, lalu menuju kepada Supriatin kakak iparnya.
"Arepan apa ira mene Sinah, arepan ngece ning kita tah?"tanya Supriatin dengan sinis. (\=mau apa kamu kesini Sinah, mau mengejek aku yah)
"Atin, coba kamu sedikit bersikap baiklah, adikku jauh-jauh kemari untuk menengok anak kita tapi kamu selalu saja sinis," kata Haji Darma.
"Aku paham kalian semua pasti mentertawakan aku, karena anakku saat ini sudah hamil di luar nikah gara-gara lelaki si*l*n itu!!!"katanya sambil menunjuk Surya.
"Wis mba, wis terjadi, melas ning Wiwit. Sekien wis ikhlas bae, nikah nang bae Wiwit karo Surya. Kang ning weteng kuh putu e mba, dudu putu e wong sejen," kata ibu Sinah mencoba menyadarkan iparnya.
__ADS_1
(\=Sudah mba, sudah terjadi, kasihani Wiwit. Sekarang ikhlas lah, nikahkan saja Wiwit dengan Surya. Yang di dalam perut itu cucunya mba, bukan cucu orang lain)
"Enak bae kamu bicara yah Sinah. Kamu akan punya menantu dokter walau kakinya putus cuma satu. Lah aku ini punya menantu apa... cuma pegawai pabrik seperti dia...!!!".
"Kamu pasti senang mengejek aku kan, benarkan Sinah...Kamu mau sombong akan punya menantu dokter,"Supriatin begitu sinisnya kepada adik iparnya.
"Masyaallah mba, saya tidak ada pikiran seperti itu. Saya datang karena mendengar Wiwit dirawat, tidak ada pikiran lain. Kalau misal Anton jodohnya Mela, itu semua kehendak Allah. Bisa saja Anton itu pegawai pabrik berkaki satu. Bagiku bukan masalah siapapun Anton, maka terimalah juga Surya apa adanya. Dia pegawai pabrik kerja halal mba, kecuali dia perampok," kata Sinah masih berusaha menyadarkan kakak iparnya.
"Saya akan bertanggung jawab kepada anak ibu, saya akan menikahinya. Kalau saya jahat pasti saya sudah pergi meninggalkannya. Tapi saya disini sekarang, dan saya mohon kepada ibu jangan diapa-apakan lagi bayi kami,"kata Surya kepada Supriatin.
"Mana orang tuamu Surya, suruh kemari juga hadapi aku," kata Supriatin masih dengan hati yang keras.
"Ibu saya sedang menuju kemari tadi saya sudah memintanya kemari," kata Surya menjelaskan.
Tak lama memang benar ibunya Surya yang bernama Ratna datang ke rumah sakit. Lalu dia menyusuri lorong rumah sakit mencari ruang IGD.
Sesampainya di depan ruangan IGD tersebut, tak sengaja Supriatin menoleh dan terkejut karena bertemu dengan Ratna.
"Ratna...."
"Atin....."
"Masyaallah Atin, kamu kah ibunya Wiwit?"tanya Ratna sambil mendekati Supriatin.
"Walah Ratna.. mengapa harus kamu.... ya Allah... mengapa harus kamu Ibunya Surya...,"menangislah Supriatin dan Ratna sambil berpelukan.
Semua yang berada di ruangan tidak mengerti siapa sesungguhnya Ratna dan apa hubungannya dengan Supriatin.
Atin kecil mempunyai sahabat bernama Ratna di kampungnya di Arjawinangun kabupaten Cirebon. Rumah keduanya bersebelahan, kemanapun kedua anak kecil itu selalu bersama.
Sampai suatu hari Atin dan Ratna bermain di kebun kelapa mengikuti ayahnya Ratna yang akan naik ke atas pohon kelapa untuk memetik buah kelapa yang sudah siap untuk dijual.
Di pinggang ayahnya Ratna selalu ada terkait erat sebilah pisau parang untuk menebang buah kelapa yang dahannya sulit di tarik oleh tangan.
Atin sahabatnya Ratna sedang main lompat tali tepat di bawah pohon kelapa dimana di atas nya ada ayahnya Ratna yang sibuk memetik kelapa.
Kedua anak itu sudah diperingatkan agar menjauh dari pohon tersebut. Ratna sudah menurut perintah ayahnya, namun memang Atin sejak kecil juga sudah keras kepala sulit diajak untuk menuruti kata orang tua atau siapapun.
Dia tetap saja di situ bermain sendirian.
Tepat di bawah itu Atin masih sedang bermain lompat tali, seketika Ratna melihat pisau ayahnya meluncur ke bawah dan tampak akan menancap ke kepala Atin, segera dia berlari dan mendorong keras Atin ke belakang.
Atin jatuh terlentang ke belakang, sementara Ratna sahabatnya jatuh terjerembab dengan pisau menancap
ke lengan kiri atas menebus sampai
ke pipi kirinya.
Ratna kecil segera dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan banyak jahitan. Diapun pingsan berhari-hari, tubuhnya demam menggigil dan dirawat selama hampir setengah bulan lamanya.
Akhirnya Ratna kecil bisa sembuh juga dan bisa bermain lagi namun saat itu dia menyandang luka di lengan kiri dan pipi kirinya yang sampai setua inipun masih ada bekasnya.
Atin ingat betul kejadian itu, karena Ratna telah mencoba menolongnya agar dia selamat namun Ratna yang menjadi korbannya.
Mereka berteman sampai SMP, lalu terputus komunikasi karena Atin pindah ke tegal ikut dengan orang tuanya yang berdinas disana.
Berpuluh tahun terpisah dan baru saat ini bertemu lagi di IGD dengan masalah
anak-anaknya mereka.
"Maafkan anakku Atin, anakku bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya. Akupun malu Atin tidak bisa mengajari memberikan contoh baik kepada anak lelakiku," Ratnapun terisak karena dia tidak menyangka kalau Surya dan Wiwit bisa melakukan hal terlarang sampai hamil di luar nikah.
"Maafkan Surya mak, Surya sudah mencoreng keluarga kita juga mak. Surya janji akan menikahi Wiwit secara baik-baik," kata Surya sambil berlutut dihadapan ibunya.
Tadinya Atin ingin sekali memaki-maki orang tuanya Surya, namun karena ternyata yang datang adalah Ratna, tercekat sudah amarahnya.
Dia tak akan pernah bisa marah kepada Ratna apapun yang terjadi, karena nyawanya pernah diselamatkan oleh Ratna.
Dia hanya menunduk dan menangis, sambil hatinya masih sangat kesal. Begitu juga Ratna hanya terdiam dan tidak menyangka kalau Wiwit adalah anak sahabatnya.
Tapi bukan Supriatin kalau dia tidak bisa menunjukkan power dirinya. Dia tidak bisa kalau hidupnya seakan terinjak oleh orang lain. Gengsi tinggi harus dia pertahankan demi tampak semuanya sempurna versi dirinya.
Lalu Supriatin melangkah mendekati Sinah yang tengah duduk bertiga dengan anaknya Mela dan calon menantunya Anton.
__ADS_1
"Mela....aku tidak mau melihat mu dan dokter kampungmu itu di rumahku lagi. Aku tidak sudi melihat kebahagiaan kalian di atas penderitaanku. Kalian hari ini juga angkat kaki dan pergi jauh dari rumahku,"kata Supriatin dengan tatapan sinis dan menunjukkan rasa tidak suka atas kebahagiaan keluarga Mela.
"Maaf bu Atin, tapi jangka waktu sewa kontrak saya masih lama loh, masih setengah tahun lagi. Kalau sekarang ibu mengusir maka saya minta uang ganti rugi,"Anton mencoba meminta haknya.
Lalu Supriatin menatapnya tajam dan berkata sambil menunjuk ke arah Mela," Enak saja kamu, mintalah sama Mela. Karena uang kontrakmu dulu diambil untuk keperluan dia".
Mendengar itu Mela gelagapan salah tingkah, dia tak sempat menjelaskan kepada Anton karena kondisinya tidak memungkinkan.
Lalu Supriatin melangkah lagi menuju Surya.
"BERDIRI KAMU!!!" bentaknya kepada Surya.
Maka Suryapun segera bangkit dari duduknya.
"Karena kamu anak Ratna, maka aku menyerah, kamu harus menikah dengan anakku segera mungkin. Dan sekarang kamu bereskan paviliun di sebelah rumahku. Kamu perbaiki sendiri, nanti kalian tinggal di sana," kata Supriatin sambil menatap sebal kepada Surya.
Lalu dia berbisik kepada Surya," Camkan Surya, jangan pernah kau sakiti anakku, dan jangan pernah kau berpikir akan mendapat harta dariku. Walaupun kamu anak Ratna, tapi bagiku kamu adalah sampah".
Lalu Supriatin meninggalkan mereka semua, pergi menjauh entah kemana mungkin menenangkan hatinya.
Haji Darma lalu mendekati adiknya Sinah dan berkata,"Sudahlah Sinah, wis kamu pulang saja. Dan kamu Mela temani ibumu pulang. Begitu juga nak Anton mohon maaf, mungkin nak Anton bisa mendapatkan tempat tinggal lain".
"Istriku seperti itu orangnya, berhati batu dan keras kepala, maafkan istriku karena ucapannya selalu menyakiti orang lain".
Haji Darma terduduk lemas, dia malu dengan ucapan dan perbuatan istrinya. Di saat ada kemalangan seperti inipun, Supriatin istrinya masih saja angkuh dan tidak mau memahami orang lain. Hanya pemikirannya saja yang harus dipahami orang lain.
Sinah beserta Mela dan Antonpun pamit kepada Haji Darma. Karena toh mereka juga sudah tidak dibutuhkan disitu.
Lalu Anton dan Mela membawa ibu Sinah ke paviliun.
Mela segera mengangkat semua barang-barangnya yang kebetulan memang tidak banyak.
Anton menghubungi puskesmas meminta ijin hari ini dia tidak bisa bertugas karena ada suatu urusan mendadak. Lalu dia juga menghubungi Jaya untuk bisa datang ke paviliun.
Jayapun datang bersama Komar si petugas kebersihan.
"Bro, aku diusir dari sini. Ibu Atin minta aku hari ini juga hengkang dari sini," kata Anton kepada Jaya.
"Ada masalah apa rupanya?"tanya Jaya keheranan.
Lalu dia menengok kanan kiri setelah yakin tak ada orang dia bertanya lagi kepada Anton,"Bro dokter tertangkap basah yah sedang melakukan sesuatu dengan Mela?"
"Si*l*n kau !!!, ibu Atin ada masalah keluarga jadi dia mengusir kami. Kau ada info tempat kost atau apa untuk aku tinggal?", tanya Anton sambil dia menahan sakit kepalanya.
"Bro dokter, tinggal saja di rumahku, kan aku tinggal sendiri di rumah orang tuaku. Disana ada tiga kamar, orang tuaku kan sudah lama pindah ke jawa tengah setelah mereka pensiun. Ayolah tinggal saja bersamaku sementara waktu,"ajak Jaya kepada Anton.
"Nanti kamu bersama wanita, aku harus bagaimana bro,"ledek Anton kepadanya.
"Hahahaha.... tidaklah...urusan seperti itu jangan di rumah dong, penginapan banyak bro,"timpal Jaya sambil tertawa.
Akhirnya Anton setuju dengan ajakan Jaya dan sekarang dia berbenah dibantu oleh Jaya dan Komar.
Sementara Mela dan Sinah ibunya berada di kamarnya Mela, dan sama mereka juga sedang berbenah.
"Mimi, priben ya baka Mela mangkat ning Bandung bae, menggawe ning keluarga dokter Anton,"kata Mela kepada ibunya. (\=Bu, bagaimana kalau aku ke Bandung saja yah, bekerja di keluarganya dokter Anton)
"Memang kamu yakin keluarganya akan menerimamu bekerja di sana juga selain Wahyu?"tanya ibunya.
Mela mengiyakan bahwa memang kakaknya Anton sangat ingin sekali Mela membantu di sana.
"Ya sudah, Mimi tidak masalah. Coba kamu bicara sama Anton".
Lalu Mela mencari Anton ke paviliun dan menyampaikan rencananya.
"Mela, tapi aku tampaknya tidak bisa mengantarmu ke Bandung. Aku kurang tidur dan kepalaku sakit sekali," kata Anton sambil merasakan sakit di kepalanya.
"Bro dokter, sekarang kan ada shuttle bus. Mela naik itu saja nanti naik di pool dekat sini dan nanti turun di pool Bandung. Bisa dijemput atau naik ojek online. Jaman now bro dokter," Jaya memberikan solusi agar Mela bisa ke Bandung dan Anton bisa istirahat di rumahnya.
Komar lalu mendapat perintah untuk mengurusi motor Anton dan juga motor Jaya.
Anton dan Jaya mengantarkan Mela dengan menggunakan mobil Anton yang dikemudikan oleh Jaya ke salah satu pool shuttle bus tujuan Bandung, dan nanti setibanya di Bandung Mela akan dijemput Anita.
Setelah itu Anton dan Jaya pergi lagi mengantarkan ibu Sinah sampai ke terminal bus yang akan mengantarkan sampai ke kampungnya.
__ADS_1
Kemudian Anton dan Jaya melaju ke rumah Jaya, dan sepanjang jalan Anton hanya memejamkan matanya karena kepalanya terasa sangat sakit.