
"Baik Mela, skripsimu sudah kami setujui, persiapkan dirimu nanti senin depan maju sidang,"Pak Cahyadi menatap lurus sembari mengulurkan tangannya kepada Mela.
Beliau menjabat erat tangan Mela dan minta Mela mempersiapkan diri untuk menuju sidang Senin di awal minggu mendatang.
Dengan langkah yang mantap Mela mendatangi bagian administrasi Kampus untuk menanyakan berapa buah buku skripsi yang harus dijilidnya dan juga berapa biaya yang harus segera dia lunasi untuk sidang dan wisuda nanti.
"Sore pak Sahrul, maaf mengganggu. Ini skripsi saya sudah disetujui oleh pak Cahyadi," kata Mela kepada pak Sahrul bagian administrasi Sekolah Tinggi Tuparev.
"Oh, mana tanda tangannya?" tanya pak Sahrul dengan dingin.
Memang petugas bagian administrasi ini orangnya dingin sulit diajak senyum, menurut angkatan sebelumnya juga pak Sahrul ini sejak dulu sudah seperti itu.
Namun kalau diajak bicara pasti akan menjawab dan membantu hanya tidak pernah ada senyum di wajahnya.
Kadang para mahasiswa suka iseng membayangkan bagaimana kalau pak Sahrul menonton film komedi atau acara lucu di televisi. Bagaimana cara tertawanya, itu masih menjadi misteri bagi semua mahasiswa.
Lalu Mela memperlihatkan tanda tangan pak Cahyadi. Setelah itu pak Sahrul kembali ke komputer, mencetak sesuatu lalu menemui Mela lagi.
"Melati, nanti yang ada tanda tangan persetujuan pak Cahyadi dijadikan jilid asli untuk menjadi arsip kampus,"kata Pak Sahrul sambil membenarkan kacamatanya dengan tatapan dingin.
"Lalu kamu juga cetak 4 buku lagi, 3 untuk penguji dan 1 untuk kamu dan menurut jadwal kamu bisa sidang Senin awal minggu depan mulai jam 15.00 sore. Berarti kamu mendapatkan urutan ke delapan ini kartu sidangnya jangan sampai ketinggalan".
"Baik pak, segera saya siapkan. Dan untuk biaya sidang dan wisuda berapa lagi yah pak yang harus saya lunasi?".
"Sebentar saya cek dulu,"lalu pak Sahrul kembali ke mejanya dan mengecek datanya Mela.
"Kamu Melati Sekar Wangi kan?" tanyanya pada Mela.
"Ya benar pak".
"Hmmm...kamu sudah lunas semua kok yah semua biayanya sudah lunas," memandang Mela sambil menurunkan kacamatanya ke bawah hidungnya.
"Lunas!!!???" Mela terkejut mendengar biayanya sudah lunas.
"Siapa yang melunasi?,"tanya Mela kepada pak Sahrul.
"Di sini tercatat tanggal 24 Agustus bulan lalu lewat transfer E- Banking atas nama Anton Wiharja,"Pak Sahrul membacakan data pembayar dari catatan di sistem komputer.
"Emang berapa sih pak jumlahnya kalau boleh tahu?"tanya Mela penasaran.
"Kemarin itu jumlahnya tiga juta lima ratus ribu, meliputi biaya sidang, biaya toga, wisuda, cetak ijazah dan nanti legalisasi ijazah, "jawab pak Sahrul menjelaskan semuanya.
"Baiklah, terima kasih informasinya," kata Mela sambil tersenyum dan tetap di jawab dengan tatapan dingin pak Sahrul.
Mela lalu mengirim pesan chat kepada Anton agar menelepon dirinya.
Baru dijawab setengah jam kemudian, mungkin karena Anton sibuk ada pasien.
"Assalamualaikum, ada apa Say?"tanya Anton dari seberang sana.
Saat itu Mela sedang duduk di bangku penjual mie ayam menanti pesanannya.
"Walaikumsalam, ehm, skripsiku sudah disetujui nanti senin awal minggu depan sudah bisa sidang, " kata Mela mengabarkan kepada Anton.
"Wah alhamdulillah dong, selamat yah akhirnya perjuangan bolak balik ke Bandung sudah berhasil , "ujar Anton memberi selamat kepada kekasihnya.
"Iya makasih, cuma tadi aku ke bagian administrasi, ternyata kamu sudah melunasi semua biayanya. Aku jadi malu nih , "kata Mela merasa tak enak hati.
"Kok malu.. kan memang aku sudah janji akan membayarkan semua biaya kuliahmu kan...,"kata Anton lagi.
"Iya terima kasih, ya aku malu soalnya banyak juga jumlahnya. Aku sudah banyak merepotkanmu, aku tak tahu bagaimana caranya untuk mengganti semua itu ,"kata Mela sambil terharu.
"Gampang bayarnya sih, cepat saja bereskan sampai kamu wisuda. Nanti menikah sama aku, bereskan semuanya lalu... jadi istri aku, nah disitu kamu wajib mencicil membayarnya dengan mengikuti apa yang aku inginkan,"balas Anton sambil terkekeh.
"Kok nadanya kayak ancaman yah?" tanya Mela agak bingung.
"Oh bukan ancaman dong, tapi suatu kewajiban istri kelak harus mengikuti apa yang suami inginkan,"kata Anton menegaskan.
"Iya deh... aku sih nurut aja kalau nanti sudah punya suami sih...yang penting awas saja kalau suaminya nanti ganjen mau dicium sembarangan sama wanita lain,"kata Mela menegaskan juga pada Anton.
"Emang mau ngapain, paling kamu sih kabur..hahahah , "ledek Anton kepada Mela.
"Oh...sorry yah...lihat saja nanti kalau terjadi lagi, jangan harap bisa tertawa," ancam Mela sambil sebal.
"Wah...merinding deh aku...hahahah..Eh tapi kamu juga harus bayar sesuatu loh sekarang,"kata Anton tiba-tiba sok serius.
" Bayar apaan?"tanya Mela agak kaget.
"Bayar dengan masak ayam goreng dan terong balado seperti dulu di rumahmu, "kata Anton sok manja.
__ADS_1
"Oh... siap juragan...Nanti sore pulang semuanya pasti tersedia," ujar Mela mengiyakan permintaan kekasihnya.
"Kamu lagi apa sih Mela sayang?"tanya Anton agak curiga mendengar Mela seperti meniup sesuatu.
"Hihihi....biasa.. Yang..mie ayam dulu dong , "jawabnya sambil cekikikan.
" Hhhmmm dasar perut karet," tukas Anton sembari tertawa juga.
Karena hari sudah menjelang sore, pasar pasti sudah tutup. Karena Anton meminta dimasakan ayam goreng dan terong balado, maka setelah mie ayam habis, diapun naik angkutan umum menuju ke salah satu supermarket besar di kota Cirebon.
Mela memasuki supermarket, lalu mengambil troli dan menuju ke konter daging. Dia meminta di timbangkan setengah kilo gram dada ayam kepada petugas, tapi petugas mengisyaratkan menunggu karena ada seorang wanita yang tampak sangat cerewet sedang memilih ayam juga.
"Saya minta yang itu mas ayamnya, jangan yang banyak kulitnya. Itu segar tidak, awas kalau nanti dimasak sampai bau saya komplain".
"Ini saya juga mau ceker ayam satu kilo, tapi awas jangan sampai ada kuku ayamnya dan jangan ada hitam-hitam, kalau saya menemukan seperti itu, kalian saya adukan ke manager kalian!".
"Maaf bu, ayam di supermarket kami sudah terjamin kebersihannya, "jawab petugas sambil tetap tersenyum menghadapi pelanggan yang galak dan cerewet.
Mela yang dari tadi melihat, menunduk pura-pura tidak paham situasi disitu. Dan wanita tadi melirik Mela dengan tatapan tajam.
Setelah wanita tadi selesai, tiba giliran Mela, dengan cepat petugas melayani karena tidak banyak permintaan yang bukan-bukan.
Sehabis dari counter daging, Melapun menuju rak sayuran dan aneka bumbu juga rempah. Dia mengambil terong, bawang putih dan merah, tomat, cabai dan beberapa bumbu lainnya.
Saat memilih ternyata di sampingnya wanita cerewet tadi ada disitu dan sedang mengangkat ponselnya, "Ya benar Saya Triana Wangsa, ada apa yah?"
"Apa!!! tagihan kartu kredit, kok kesaya, tagih ke suami saya dong".
" Memang pakai nama saya, tapi yang bayar itu suami saya Hendranata Sugiharto, kan dia pemegang kartu utama".
Lalu mungkin dari ujung telepon sana menjelaskan bahwa pengguna adalah Triana Wangsa jadi wajib membayar tagihan kartu kreditnya.
"Dengar yah, saya mau telepon suami saya dulu. Nanti situ hubungin saya lagi, " katanya sambil langsung menutup teleponnya.
Mela mau tak mau mendengar semua itu karena dia ada di dekat situ jadi mau tak mau pasti terdengar.
"Halo..Nata...kau ini kurang aj*r jadi suami tuh yah, bukannya bayar cicilan kartu kredit ku malah nyuruh orang bank tagih ke aku. Si*lan kau ini... ".
"Astagfirullah," Mela menyebut karena kaget mendengar ada wanita memarahi suaminya di telepon seperti itu.
"Apa mau mu, enak-enakan sama istri mudamu sampai lupa kewajibanmu memberikan uang sama aku. Brengs*k kamu!!!".
Lalu terdengar dari bujung bsana juga seperti memakinya juga.
Mela menggigil mendengar wanita itu bicara, setelah dia mendapatkan apa yang harus dia beli segera dia pergi menyingkir dari wanita tadi.
Cepat-cepat menuju kasir, dan setelah membayar keluar supermarket tadi lalu naik angkutan umum dan menuju pulang.
Setibanya di paviliun terlihat toko sudah tutup, karena memang sudah jam 17.00 lewat.
Mela segera masuk paviliun, mencuci ayam lalu merebusnya dan menambah beberapa bumbu masakan mengolah ayam goreng.
Lalu dia juga menyisir terong, dan segera menyiapkan bumbunya untuk memasak balado.
Menjelang maghrib ayampun matang tinggal nanti digoreng saat Anton akan makan.
Begitu juga terong balado sudah siap matang, tinggal menunggu nasi matang dari rice cooker.
Melapun mandi dan menunaikan ibadah magrib dulu.
Anton masih belum kembali saat Mela sudah rapih, lalu dia menghubunginya dan bertanya ada dimana.
Ternyata Anton baru bisa pulang karena masih ada pasien yang masih harus dia tangani.
Karena selama ini Mela yang mencuci dan merapihkan pakaian Anton, maka sore itu diapun belajar menjadi istri dengan menyiapkan pakaian ganti untuk Anton.
Dia juga sudah menyiapkan minuman teh hangat untuk kekasihnya.
Tak lama Anton kembali, segera Mela menyambutnya memberi salam lalu mengambil tasnya lalu meletakannya dikamar depan tempat Anton selama ini menyimpan barang-barangnya.
Anton membuka kakinya, menarik tongkatnya sambil menerima baju ganti dari Mela, lalu menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi melaksanakan ibadahnya dulu, lalu setelah beres baru duduk di meja makan dan tampak hidangan yang sudah disiapkan oleh Mela.
Seperti layaknya istri, Mela menyiapkan piring, menciduk nasi setelah itu dia menyimpannya di hadapan Anton.
Lalu juga menyiapkan air minum serta sendok dan garpu.
Lantas keduanya makan bersama setelah sebelumnya memanjatkan doa syukur.
__ADS_1
Anton memang cocok sekali dengan masakan Mela, walau sederhana tapi nikmat di lidah. Tidak banyak rempah tapi membubuhi bumbunya mantap.
"Kamu kalau masak enak loh Say, sering- sering dong masak buat aku hitung-hitung latihan buat kita nikah nanti,"kata Anton sambil menikmati masakannya Mela.
Mela hanya tersenyum malu dipuji kekasihnya.
"Cepatlah lulus yah say.. Aku sudah ingin segera menikah denganmu," kata Anton lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mela.
"Iya lah aku juga pengen cepat lulus agar bisa segera pindah dari toko, aku ingin mencari kerja yang lebih baik,"
kata Mela kepada Anton.
"Aku mau nikahin kamu, tapi kamu pengen cari kerja. Gimana ini?" Anton merengut.
"Ya kan bisa sudah nikah juga sambil bekerja, yang penting urusan rumah tangga tidak terbengkalai," jawab Mela sambil menjentikkan jarinya.
"Kita buka apotik dan klinik saja yuk, seperti di Bandung, nanti kamu yang urus apotiknya. Aku sih urusan pasien saja,"ajak Anton memberi ide kepada Mela.
"Nah itu ide bagus, tapi aku tetap harus belajar dulu ke Wiharja Farma selama beberapa saat sih. Setidaknya nanti akan menjadi cabang di sini tentu aku harus tahu dulu seluk beluknya?"sahut Mela dengan antusias.
"Iya dari dulu sudah kepikiran untuk membuka cabang, yah semoga saja dibukakan jalannya yah".
"Nanti setelah luluspun aku pasti akan langsung ke Bandung, walaupun belum wisuda yang penting ketok palu lulus, aku langsung cap cus ke Bandung. Paling wak Atin ngamuk,"kata Mela sambil menahan tawa membayangkan wak Atin pasti mencak-mencak saat dia akan meminta ijin undur diri.
"Semoga saja wak Atin tidak marah, jangan berpikir buruk dulu dong,"kata Anton menasihati Mela.
Lalu Mela beranjak membersihkan meja dan mencuci piring. Saat dia sedang mencuci piring, timbul niat iseng Anton ingin menggoda Mela.
Sambil merayap menyusuri meja makan dan tembok dapur agar tidak ketahuan Mela, dia diam-diam Mela maksudnya ingin memeluknya dari belakang.
Setelah dekat, HAP..!!!!
Dia langsung peluk pinggang Mela...
Dan..
BUK!!!! Sikut Mela menghajar rusuk Anton.
"Aauuuhhh!!!!" Pekik Anton kesakitan.
"Makanya jangan sembarangan!!!"teriak Mela kesal.
Anton meringis sambil bersandar di tembok dapur.
Sementara di seberang paviliun terlihat Wiwit sedang muntah-muntah di kamar mandi.
Sudah beberapa hari ini dia meriang panas demam dan muntah-muntah.
Narti dimintai tolong oleh Wiwit agar malam ini tidak pulang, menemani dia yang sedang merasa panas dingin.
"Ti, kamu jangan pulang yah malam ini. Temani saya di sini, kepalaku pusing dan mual sekali, "kata Wiwit kepada Narti.
"Non apa tidak periksa dokter saja, kan pak Anton itu dokter, jadi bisa segera diobati, " ujar Narti sambil khawatir melihat Wiwit .
"Dokter puskesmas dia itu, nanti aku diberi obatnya murahan, mana bisa aku segera sembuh , " tukas Wiwit yang memang terkadang suka sombong seperti ibunya.
"Ya Allah, obat sih sama saja non. Mau dari dokter puskemas atau dari dokter dimanapun yang penting bisa segera sembuh," timpal Narti dengan agak sebal.
"Ah malas aku urusan sama dia, nanti sajalah besok lagi aku ke dokter yang lebih paten," kata Wiwit lagi sambil memejamkan matanya.
Narti hanya diam dan kesal juga karena perkataan Wiwit seperti orang paling kaya di dunia saja.
Di kamar Wiwit ada karpet hiasan bergambar kartun princess dan Narti pun berbaring di sana.
Narti pun tertidur di karpet, namun tengah malam dia terbangun dan kaget karena mendengar suara orang berbicara.
Lalu dia bangun dan benar saja di dalam kamar ada Surya yang tengah pelukan dengan Wiwit.
"Walah mas Surya masuk darimana?" tanya Narti sambil membelalakan matanya.
" Sttttt.... diam kamu jangan berisik, sudah tidur lagi, nanti nyonya bangun bisa gawat," kata Surya menghardik Narti tapi dengan suara pelan.
"Mas jangan lama-lama disini nanti nyonya bangun bahaya, saya juga bisa habis dimarahi,"kata Narti mengiba.
"Sudah jangan berisik Narti, mas Surya sedang menjenguk aku. Sudah kamu tidur lagi disitu. Mas Surya juga tidak akan lama kok," kata Wiwit sambil lemas sekali.
Narti pun diam dan tidak mungkin bisa tidur lagi karena ada lelaki di kamar itu juga dia merasa was-was takut wak Atin terbangun.
Tak berapa lama setelah Surya dan Wiwit selesai berbincang, maka Surya kembali menghilang dari balik jendela.
__ADS_1
Rupanya selama ini Surya sering masuk ke kamar Wiwit lewat jendela itu dan Narti baru mengetahuinya.
Dalam hatinya dia menebak apakah Wiwit demam atau jangan-jangan Wiwit sedang hamil.....