
Teman- teman pembaca...melipir sedikit yah....biasa ada gosip hot....sebentar saja.....Author juga baru diberi tahu seseorang.
Ssstttttt.....!!!!
Jadi pada malam setelah usai pesta pernikahan Atikah dan Rahman, hampir semua tamu undangan dan kerabat mulai pamit pulang ke rumahnya masing-masing.
Namun si sok jagoan yang bernama Aris masih belum bisa menerima kenyataan pahit kalau dia tadi dikalahkan telak oleh Jaya.
Disamping mobil sedan tua cepernya dia menunggu Jaya dan Anton keluar dari pekarangan rumah Atikah.
"Awas kalian...aku cegat di sini, biar heboh sekalian...," Aris bicara sendiri dengan masih sangat geram.
Tapi yang ditunggu sejak tadi belum muncul juga.
"Besan....ini kue masih banyak dan juga masakan- masakan masih banyak, ini sudah kami susun dalam box makanan. Silahkan dibawa yah besan untuk kerabat yang tak bisa hadir,"kata ibunya Atikah kepada ibu Sinah.
"Terima kasih besan, padahal tidak usah repot kami sudah makan juga di sini,"sahut ibu Sinah kepada besannya yang tengah memberikan cukup banyak box berisi makanan dan juga kudapan.
"Tidak apa-apa makanan kampung tidak akan cepat basi, simpan saja di lemari es malam ini besok pagi dihangatkan untuk sarapan,"ujar besannya yang bernama Ibu Sumiati.
"Maklum kami orang kampung, kalau ada hajatan masak sendiri bersama keluarga besar dan kerabat beramai-ramai. Jadi jumlahnya banyak dan kami masak sendiri jadi mengolah semuanya dengan baik," lanjut ibu Sumiati sambil menjelaskan dan memuji masakan keluarganya.
"Benar besan, alhamdulillah tadi kami makan enak sekali. Pandai memasak rupanya besan, tak salah anak saya memilih Atikah menjadi istrinya," ibu Sinah juga memuji besan dan menantunya.
Kemudian keduanya berbincang hal lainnya sambil melihat Mela membuka hadiah pelangkahnya dihadapan adik dan istri adiknya.
Tiba-tiba ada seorang sepupu Atikah yang tampak pamit kepada kedua pengantin. Dan juga menghampiri ibu Sumiati dan juga ibu Sinah.
"Bibi maaf Laila pamit dulu yah,"kata gadis berhijab yang cantik dengan dandanan wajahnya yang penuh warna.
"Tapi sudah malam begini apa kamu tidak takut dijalan, memang masih ada angkutan umum ke arah desamu?"tanya ibu Sumiati yang merupakan Bibi dari gadis yang menyebut dirinya Laila.
"Masih ada, sudah bibi tenang saja Laila sudah biasa naik angkutan umum malam-malam," sahutnya dan lalu dia sungkem kepada bibinya dan juga ibu Sinah.
Jaya menyenggol Anton sambil berbisik,"Kok aku kayak pernah melihat wajahnya yah...".
Anton pura-pura tak melihat karena saat itu dia sedang berada dihadapan "Sekuriti" pribadinya, takut nanti ada cubitan panas mengenai salah satu tubuhnya.
Aris masih memandangi terus pekarangan rumah Atikah sambil merokok di dekat mobilnya.
Tiba-tiba ada sesosok wanita muda muncul dari pekarangan sana, memakai baju gamis dan berhijab tidak terlalu tertutup.
Seperti pernah melihat wajah itu, dan sosok itu sedang berjalan ke arahnya.
"Mbak, mau kemana malam-malam begini?"tanya Aris yang tak kuat kalau melihat perempuan cantik.
"Ehm...eh...mas yang tadi mau jatuh yah...hihihi,"sahut si gadis itu sambil menahan tawa saat melihat Aris.
"Oh tadi itu saya tidak sengaja saja hilang keseimbangan, eh..ngomong-ngomong mbak seperti biduan yang tadi menyanyi...kok pakaiannya beda sekarang?"Aris merasa yakin kalau dihadapannya adalah biduan yang tadi menyanyi saat dia di panggung bersama Jaya.
"Hahahah...tadi pakaian panggung, sekarang pakaian angkutan umum, nanti pakaian rumah dan pakaian kamar beda lagi,"sambil senyum menggoda dia berkata demikian kepada Aris.
"Wah...luar biasa yah mbak ini, eh..tapi sekarang mau kemana nih?"tanya Aris sambil berharap bisa mengantarkannya.
"Ah mau ke desa karang suwung ke kontrakan saya,"jawabnya lagi sambil mulai pasang gaya berharap diantar oleh Aris.
"Itu sih searah mbak...hayuk bareng saya saja...sudah malam begini susah angkutan umum juga,"ajak Aris kepada sang gadis yang disambut dengan anggukan kepalanya.
Otomatis Aris lupa kalau akan mencegat Jaya dan mengajaknya berkelahi. Daripada berkelahi lebih baik berkelana menemani si cantik.
Di dalam mobil si gadis mulai akrab dan mulai berani minta sebatang rokok lalu menyulutnya, kerudungnya dilepaskan dan rambutnya digerai....Astagfirullah....
"Saya sih mas sebenarnya dari grup dangdut Karang Suwung, cuma karena Atikah sepupu saja jadi saya menyanyi di sana tadi. Makanya saya mengontrak rumah kecil di karang suwung sekalian menjadi markas anak-anak grup band kami,"ceritanya sambil mengepulkan asap rokok di dalam mobil Aris yang memang sengaja tidak ada AC nya.
Setibanya di depan kontrakan Laila, dia turun dari mobil Aris sambil berkata," Jadi cuma mengantar saja nih tidak akan turun dulu mampir sebentar".
Tanpa harus diulang lagi perkataan barusan, segera Aris turun dan ikut masuk kontrakan tersebut yang segera dikunci dari dalam.
Nah itu barusan kisah sedikit sekali..... tampak tidak penting sih....tapi siapa tahu nanti berguna yah...
Sekarang kita kembali kepada Anton dan Mela ...di bab sebelumnya Anton jatuh pingsan.
Sesaat Anton jatuh pingsan, pengemudi mobil tadi juga turun melihat kondisi Anton.
Jaya mendekati pengemudi itu, dan si pengemudi mengangkat kedua tangannya sambil mengatakan bahwa dia tidak sempat menabrak tetapi Anton jatuh sendiri.
Fajar memeriksa kondisi Anton dan benar adik iparnya pingsan tak sadarkan diri seperti koma lagi.
Mela menangis kencang melihat Anton kekasihnya pingsan membuat suasana tambah panik saja.
Wahyu memberhentikan kendaraan lain yang melaju dari arah berlawanan, karena saat itu Fajar dibantu Jaya dan penjaga rumah mereka mengangkat tubuh Anton ke dalam rumah.
Aryani menjerit - jerit saat melihat anaknya masuk rumah dengan tak sadarkan diri.
Anita sibuk menenangkan ibunya yang menjerit, menangis dan meronta-ronta ingin memeluk anak lelakinya.
Ibu Sinah juga tampak panik sambil memeluk anak gadisnya yang sama menangis kencang sambil meracau entah berkata apa.
Pengemudi mobil tadi memarkirkan kendaraannya lalu ikut menyeberang jalan dan masuk ke dalam rumahnya Fajar.
Ketika dipastikan tidak ada luka pada tubuh Anton, orang itu menyalami Jaya dan mohon pamit.
Mela terus meraung-raung menangis sambil tak jelas dengan perasaannya sendiri. Antara cinta, benci, kesal dan juga merasa bersalah.
Fajar segera membawa mobil dinasnya ke halaman rumah mereka, lalu Anton di bawa nya ke rumah sakit.
Salim memang diam saja tapi membuat semua khawatir takut diamnya itu karena serangan jantung.
Mela, Wahyu dan ibu Sinah ikut dalam mobil Fajar, sementara Jaya membawa orang tuanya Anton dengan mobil milik sahabatnya itu.
Anita tinggal di rumah bersama Encum karena kedua anaknya juga menjadi ikutan menangis kencang saat mendengar teriakan dan tangisan orang yang panik.
Fajar tercatat sebagai anggota IDI ( Ikatan Dokter Indonesia) bidang psikologi, dia memperlihatkan kartunya kepada dokter di IGD rumah sakit ternama di kota itu.
Dokter IGD kemudian memeriksa kondisi Anton dan analisa sementara adalah Anton koma tapi belum tahu penyebabnya.
Fajar menceritakan sedikit riwayat kesehatan Anton kepada dokter tadi.
Dokter itu seorang wanita yang bernama dokter Sunita dan dia segera melakukan tindakan GCS atau Glasgow Coma Scale atau tindakan untuk mengetahui skala kesadaran seseorang.
Mata Anton dirangsang untuk melihat cahaya dan tangannya diberi rasa nyeri.
Saat kelopak matanya dicelikan oleh dokter dan diberi cahaya, bola matanya bereaksi tapi kemudian menutup kembali.
Lalu tangannya diberi rasa nyeri, ada reaksi lemah di tangan tapi kemudian diam lagi.
Dokter Sunita mencoba memanggil namanya tapi tidak ada reaksi, Fajar juga mencoba memanggil sambil menepuk-nepuk pipinya, sama saja Anton hanya terdiam.
Sementara analisa dokter Sunita kalau Anton ada di kondisi koma dengan skala 2 atau 3.
"Mungkin pak Fajar juga paham, kalau kondisi ini sudah dapat dikatakan koma dalam tingkat menengah. Saya berharap kondisi ini bisa membaik, namun terkadang ada juga yang malah menjadi semakin menurun,"kata dokter Sunita menjelaskan kepada Fajar.
"Apakah bisa segera diperiksa MRI dan CT scan?"tanya Fajar kepada dokter itu.
"Karena sekarang hari minggu maka sementara pasien dirawat inap dulu, besok pagi kami jadwalkan untuk hal tersebut, karena kami khawatir adanya penyempitan pembuluh darah di otak,"dokter Sunita rupanya sudah membuat jadwal pemeriksaan lebih lanjut esok harinya.
"Dokter, apakah dokter Fauzan ahli syaraf masih bertugas di rumah sakit ini?"tanya Fajar seketika ingat nama dokter yang dulu menangani Anton.
"Tentu masih, dan besok juga hasil CT scan dan MRI akan kami diskusikan dengan beliau,"sahut dokter Sunita menjelaskan kepada Fajar.
"Sekarang pasien sudah kami berikan infus untuk mengencerkan darahnya dari seluruh tubuh terutama ke bagian otaknya.
"Dan kami juga sudah menghubungi dokter Jaka sebagai ahli tulang untuk memeriksa kondisi pasien karena ternyata beliau difabel. Karena bisa saja ada infeksi dari kakinya atau lainnya yang bisa membuat kondisinya seperti ini," Dokter Sunita dengan sabar menjelaskan kepada Fajar.
Fajar mendatangi bagian administrasi untuk mencari kamar rawat inap untuk Anton.
Sambil menanti dipanggil dia mendekati keluarganya di ruang tunggu. Saat melihat Fajar datang, semua segera memburunya ingin tahu kondisi Anton.
Fajar memeluk mertua perempuannya sambil berkata," Mamah...Sekarang kondisi Anton koma lagi, baru besok pagi Anton akan di CT scan dan MRI, nanti kalau sudah ada hasilnya pasti dokter akan segera memberitahukan kepada kita".
Aryani langsung menangis lagi dipelukan menantunya. Salim juga menitikan air matanya, dia merasa tak sanggup lagi melihat kenyataan anaknya koma lagi.
__ADS_1
"Lalu sekarang bagaimana kondisi Anton, masa mamah tidak boleh melihatnya?"kata Aryani kepada Fajar memohon untuk segera anaknya.
"Bukan tidak boleh, tapi nanti setelah Anton ada di ruang rawat inap yah, sekarang diruangan itu terlalu banyak orang kasihan Antonnya," Fajar menenangkan mertuanya.
Tak lama nama Fajar dipanggil oleh bagian administrasi dan dinyatakan Anton sudah mendapatkan kamar VVIP sesuai permintaan Fajar.
Setelah menunggu beberapa saat tampak Anton dibawa dengan menggunakan brankar dorong dipindahkan dari IGD ke ruangan yang sudah disiapkan.
Fajar lalu menandatangani sambil menyimpan kartu kredit platinumnya sebagai jaminan.
Semuanya berjalan menuju kamar rawat inap yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Setelah semua alat yang diperlukan untuk mendeteksi kondisi Anton, maka para perawat meninggalkan ruangan kamar tersebut.
"Sengaja saya pilih kamar ini, jadi bisa enak yang akan menunggu Anton disini,"kata Fajar kepada semua yang ada disana.
Lalu Fajar menjelaskan kepada semua mengenai kondisi Anton sesungguhnya, kemungkinan koma ini juga efek dari beberapa tahun yang lalu saat dia kecelakaan.
Mela mendengarkan dengan seksama apa yang Fajar sampaikan, dan dia mulai merasa bersalah.
Seharusnya kemarin dia tidak usah seperti itu, karena memang selama ini antara dia dan Anton tak pernah saling membahas masa lalu mereka.
Dia selama ini juga sudah sangat bodoh selalu menutup diri saat orang bertanya tentang kematian ayahnya.
Dan dia juga sekarang menyesali mengapa tidak pernah bertanya tentang kaki kekasihnya itu.
Kalau memang dia ingin menuntut tanggung jawab kepada penabrak ayahnya, apalagi yang harus dia tuntut.
Anton telah membantu skripsinya, bahkan semua keluarganya Anton sangat mendukung dirinya untuk segera lulus.
Adiknya sekarang bekerja di apotik milik keluarga Anton dan diperlakukan dengan sangat baik.
Bahkan Anton telah membayarkan semua sisa biaya kuliahnya yang nilainya juga tidak sedikit.
Kakaknya Anton, cici Anita selalu memberikan perhatian padanya seperti kepada adik sendiri walaupun Mela belum sah menjadi istri Anton.
Bahkan dari ibunya barusan mendapat kabar bahwa Anton sudah memberikan sebagian tabungannya kepada Wak Darma untuk memperbaiki rumah mereka di kampungnya.
Apa yang sudah Anton lakukan itu semua tanpa Anton sendiri tahu kalau Mela anaknya bapak Suganda yang tak sengaja dia tabrak.
Bertahun-tahun juga Anton ternyata mencari keluarga mereka untuk memohon maaf tapi terhalang oleh daya ingat orang tuanya yang lupa dimana kampungnya Mela.
Hal yang membuat mereka lupa juga karena anak mereka juga menderita koma sekian bulan bahkan kakinya harus hilang satu.
Apalagi Mela....apalagi yang harus Anton lakukan, semua kebaikan sudah Anton berikan kepadanya.
Haruskah Anton membayar semuanya dengan nyawanya. Sekarang dihadapannya Anton terbujur lemah, tak bisa menatap dirinya, tak bisa memanggil namanya, bahkan tak bisa bergerak.
Hanya alat bantu nafas dan alat yang mendeteksi jantung serta kerja otaknya terpasang ditubuhnya.
Tinggal kuasa Tuhan saja yang bekerja, apakah kondisinya bisa bergerak membaik atau menurun bahkan bisa juga hilang.
Tergantung kepada keyakinan semua keluarga Wiharja seberapa besar doa yang dipanjatkan untuk kesembuhan Anton.
Mela berdiri menghadap Aryani, Salim dan Fajar, lalu kakinya dia jatuhkan dan bersimpuh dihadapan keluarga Wiharja.
"Mamah, papah dan koko Fajar, maafkan Mela yang sudah begitu egois menghakimi Anton. Selama bertahun- tahun Mela menyimpan dendam dan murka kepada orang yang telah menabrak ayah sampai meninggal".
"Tapi Tuhan berkata lain, mempertemukan kami dengan cara Nya. Seharusnya kemarin Mela sadar bahwa Tuhan ingin Mela mengampuni kesalahan Anton karena ternyata Anton juga sama menanggung derita selama ini juga dihantui rasa bersalah kepada keluarga Mela".
"Maka dari itu ijinkan Mela mendapatkan kesempatan untuk merawat Anton dan akan berusaha menyembuhkan dia walau Mela tak paham bagaimana caranya. Hanya Mela yakin Anton akan kembali, karena dia mempunyai janji untuk menikah dengan Mela," lalu Mela bersujud dihadapan keluarga Wiharja memohon mereka semua bisa memberikannya kesempatan untuk merawat dan mendampingi Anton selama di rumah sakit.
Aryani segera menghambur memeluk Mela, dia tak bisa berkata apa-apa hanya memberikan pelukan tanda merestui apa yang Mela minta kepada mereka.
Ketika Aryani dan Mela berdiri, segera Salim juga menghampiri dan memeluk Mela yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
Ibu Sinah tersenyum sambil menitikan air mata, dia bersyukur anaknya akhirnya sadar bahwa menyimpan dendam, benci dan angkara hanya akan menghancurkan segalanya.
Sebelum pamit karena harus kembali ke Cirebon dan juga wajib mengabarkan kepada atasannya atas kondisi sahabatnya.
Jaya mendekati ranjang Anton sambil berkata,"
Bro bangun ...ayo bro bangun....aku tak bisa melihatmu seperti ini, kalau besok kamu bangun aku cium banci di dekat rumahku agar kamu puas tertawa. Ayo bro bangun, masih punya tugas kamu mencarikan aku pacar. Awas kalau besok kamu tak bangun ....".
Jaya lalu pamit diantar menuju pool shuttle bus dengan menggunakan ojek online, dan dia berjanji akan datang lagi menjenguk sahabatnya kepada Fajar.
Aryani dan Salim juga ibu Sinah dibawa pulang oleh Fajar karena mereka sudah tua tak mungkin harus menunggu di rumah sakit.
Wahyu masih menemani kakaknya di rumah sakit karena Mela yang akan terus merawat dan mendampingi Anton.
Sebelum pulang Fajar berpesan kepada Mela untuk terus berusaha mengajak Anton bicara.
Karena menurut ilmu yang dipelajarinya, seseorang koma itu bisa mendengar, bisa merasakan sentuhan tapi tidak tahu cara meresponnya.
Salah satu upaya paling efektif adalah menemani dan terus ajak bicara atau melantunkan ayat suci atau memperdengarkan lagu kesukaannya.
Tapi jangan terlihat bersedih dihadapannya, tampilkan panggilan penuh semangat agar dia juga kembali semangat membuka matanya.
Mela paham dan diapun melakukan apa yang Fajar perintahkan.
Semenjak hari itu Mela selalu mengajak Anton bicara bercerita tentang hal apa saja dengan bersemangat.
Dia berbisik, dia menyanyikan lagu kesukaan Anton dengan suara pas-pasannya, dia juga bersholawat kepada Nabi dan Tuhannya di telinga Anton.
Mela menjaga agar cairan infus ke tubuh Anton tidak sampai habis, dia juga membantu perawat laki-laki saat membersihkan badan Anton dengan menegakkan tubuh Anton.
Ketika air seni di tabung yang tersambung dengan pipa kateter penuh juga dia yang mengganti dengan belajar dari perawat.
Kaki Anton setiap hari dia pijat sambil mengajaknya bercerita walau tak ada jawaban.
Bahkan tidur pun dia sambil memeluk paha kiri Anton yang tersisa menempel di tubuhnya.
Keluarga Wiharja juga sangat menghargai keputusan Mela yang sudah lima hari berada di rumah sakit.
Wahyu biasanya yang pulang pergi membawakan makanan dan pakaian untuk Mela.
Anita bekerja sendirian mengurus semua masalah administrasi, untung ada ibu Sinah yang membantu menjaga Kaysan dan Keiza sementara dia sibuk di apotik dan Encum sibuk di dapur atau membersihkan rumah.
Pak Salim dan ibu Aryani setiap hari menjenguk ke rumah sakit, datang pagi hari dan pulang sore hari, melihat perkembangan anaknya yang tak kunjung memperlihatkan reaksinya.
Menurut hasil CT scan dan MRI yang dilakukan beberapa hari yang lalu, disana disebutkan kondisi otak Anton baik-baik saja, dan juga kondisi lainnya juga baik-baik saja.
Berarti saat ini besar kemungkinan faktor psikis menjadi penyebabnya.
"Kayak gitu Fajar, gue sekarang nyerahin ke elu deh...ini mah udah bukan bagian gue,"kata dokter Fauzan ahli Neurologi kepada Fajar sambil menunjukkan hasil CT scan dan MRI nya Anton.
Saat itu Fajar sedang berada di dalam ruangan dokter Fauzan beraama dengan dokter Jaka.
Dokter Fauzan adalah kakak senior satu almamater dengannya, sementara dokter Jaka adalah teman sekaligus pasiennya Fajar untuk urusan konsultasi permasalahannya.
"Nih elu lihat sendiri deh... seharusnya elu paham kan sedikitnya membaca hasil MRI dan CT scan...gue tonjok kalau elu bilang kaga paham,"Dokter Fauzan kalau bicara dengan orang yang sudah akrab pasti seperti itu selalu cuek dan seenaknya.
"Paham....paham bang... hanya yang tidak paham dia punya masalah apa ...,"sahut Fajar kepada dokter Fauzan yang sedang bergaya mengepalkan tinju ke arahnya.
Dokter Jaka tertawa melihat kelakuan rekan-rekannya itu,"Kalian lucu sekali dari tadi seperti melihat lawakan saja...hahahahah".
"Aku kenal Fajar sudah dari kapan tahu Jack....dia anak paling menyebalan... tukang mengerjai orang- orang. Apalagi kepada lelaki yang mau mendekati Anita .... hahahahah,"dokter Fauzan merasa geli kalau ingat kisah lamanya dengan Fajar.
"Fajar ini pandai speak...entah bagaimana caranya dia speak sama mertuanya sampai dia kerja di apotik mertuanya sambil kuliah...padahal modus buat mendapatkan cinta Anita...hahahahah".
Lalu dokter Fauzan bercerita bahwa masa itu Anita anak kampus sebelah terkenal karena kecantikannya.
Banyak lelaki dari kampusnya mencari informasi lengkap tentang Anita.
Suatu saat Fauzan muda diminta kawannya untuk bertandang ke rumah Anita. Kawannya tak bisa disebutkan namanya karena saat ini sudah menjadi seorang pejabat.
"Kami naik motor berdua bapak itu yah...waktu itu sore hari sampai di depan apotik..eh..yang muncul dia...Lalu dia dengan sopan mempersilahkan kami masuk".
"Singkat kata kami sudah berhadapan dengan Anita, tapi orang ini bolak balik...tiba-tiba mengepel lantai, lalu balik lagi mengelap kaca dan apa lagi tidak jelas yang pasti bikin kesal.....hahahaha....giliran Anita mau membuat minuman ...eh...dia yang mengajukan diri untuk membuatnya".
"Tak lama dia datang bawa teh manis ceritanya dan bawanya tiga cangkir pas kami minum rasanya asin mau dimuntahkan tapi melihat Anita minum santai saja...dikerjain kami sama orang ini....hahahahah...".
__ADS_1
"Pas besok ketemu di kampus kami cegat, dia bilang apa coba Jack....maaf bang namanya laki-laki mana hafal gula dan garam....hahahahah....kurang ajar kan dia....hahahah,"dokter Fauzan menceritakan kelakuan Fajar kepada dokter Jaka.
"Hahahaha....abang masih ingat saja kisah itu....hahahaha...maaf bang aku sengaja....hahahaha....,"timpal Fajar sambil sama merasa geli ingat kejadian dulu itu.
"Tapi dia sekarang yang sudah menolong aku Zan...karena dia aku dan istri tidak jadi pisah...bahkan kami sekarang menjadi lebih harmonis,"kata dokter Jaka yang sejam tadi dipanggil Jack oleh dokter Fauzan.
"Hahahaha....masa lalu yah...sekarang kita semua saudara bro...sudah Fajar dari aku sih bawa saja iparmu pulang rawat saja di rumah seperti dulu....sisanya kau urus seperti waktu itu...kau lebih ahli untuk terapi penyembuhannya ," kata dokter Fauzan kepada Fajar sambil memandangnya penuh keyakinan.
"Iya sudah aku periksa juga kakinya tidak ada infeksi apapun, tulang kakinya sebelahnya juga baik-baik saja. Dia orangnya tangguh dan dia sangat memperhatikan higienitas dirinya,"kata dokter Jaka juga menjelaskan tentang analisanya.
"Baik nanti aku bawa pulang saja dia, karena aku juga harus konsultasi lagi dengan dokter Sunita,"kata Fajar menanggapi analisa kawan-kawannya atas diri adik iparnya.
"Urus juga asuransinya bro...rumah sakit ini sudah bekerjasama dengan banyak asuransi,"dokter Fauzan mengingatkan Fajar tentang asuransi adik iparnya.
"Nah iya...aku baru ingat...besok aku periksa dulu asuransinya karena papah mertua yang menyimpan berkas seperti itu".
Taman ini begitu indah sekali, banyak kupu-kupu indah berterbangan kesana kemari, ada yang berwarna kuning, merah, biru dan lainnya.
Kupu-kupu itu bentuknya besar tidak seperti yang biasanya Anton lihat, lalu bunga-bunga di sana juga indah semuanya bermekaran dan anehnya ukurannya lebih besar dari biasanya.
Anton melangkah dengan ringan diatas kedua kakinya, dia berlari kencang kesana kemari di sekeliling taman indah itu.
Ada kolam ikan dengan air mancur yang memercik ke wajahnya.
Air itu begitu segar dan ikan- ikan itu juga berenang mendekatinya saat Anton mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam itu.
Dia menggoyang-goyangkan kedua kakinya saat ikan- ikan itu mendekati kakinya.
Ketika dia duduk di tepi kolam tiba-tiba datang seorang bapak- bapak duduk di sebelahnya.
"Kamu sedang apa disini...bukankah kamu masih harus tinggal disana...,"katanya sambil menunjuk ke suatu arah lorong gelap.
"Wah gelap sekali kesana pak, untuk apa saya harus kesana lebih enak di sini nyaman sekali di taman ini," sahut Anton tak acuh kepada bapak itu.
"Tapi kamu harus kesana, tempatmu bukan di sini, kamu tidak boleh di sini belum saatnya".
"Di sana melelahkan pak, aku tak mau kesana lagi,"Anton mencoba menolak perintah bapak itu.
Lalu bapak itu mengambil sebatang tangkai kering dan dia mencelupkan ke dalam kolam dan memutar-mutarkan airnya.
Air berputar membentuk pusaran air, lalu bermunculan wajah Aryani, Salim, Anita, Fajar juga anak-anaknya dan terakhir wajah Mela.
"Mengapa wajah mereka bisa muncul di dalam kolam ini pak?"tanya Anton keheranan.
"Karena mereka mendoakanmu kembali kesana, masih banyak hal yang harus kau kerjakan anak muda,"jawab bapak itu dengan tegas kepadanya.
Anton memandang wajah bapak itu, dan dia berkata," Aku tak tahu caranya kembali kesana pak".
Bapak itu meraih tangan Anton lalu membawanya ke arah lorong gelap tadi.
" Jalanlah kau lurus kesana, lihat diujung sana ada titik cahaya kecil. Kau harus berjalan terus menuju titik cahaya itu sambil mendengar suara mengaji sebagai petunjuknya".
"Jangan kau menengok ke belakang walau ada yang memanggil namamu sekalipun, dengar terus lantunan suara ayat suci dari titik cahaya itu. Jangan pernah kembali lagi sampai saat itu akan tiba," kata bapak tadi sambil tangannya menunjuk ke arah titik cahaya diseberang lorong sana.
Anton mulai melangkah menyusuri lorong gelap itu, matanya hanya tertuju kepada titik cahaya kecil di ujung sana, dan telinganya dia fokuskan hanya mendengar lantunan ayat suci dari arah lorong tersebut.
Mobil ambulans memasuki halaman rumah keluarga Wiharja, dan setelah berhenti pintu belakang terbuka dan terlihat Anton terbaring di atas brankar.
Lalu brankar diturunkan dibawa menuju ke dalam kamar bawah rumah keluarga Wiharja.
Setelah petugas rumah sakit berlalu, Mela kemudian membersihkan wajah Anton dengan tissue basah.
Begitu juga tangan dan kakinya, dengan bantu Wahyu dia juga mengganti pakaiannya.
Sepanjang dia melakukan semua hal itu, Mela terus berbicara seakan Anton bisa menjawabnya. Wahyu melihatnya sangat miris sekali, dia begitu sedih melihat kakak dan calon kakak iparnya.
Anton masih terbaring, matanya menutup dan tubuhnya tak bereaksi.
Setelah itu Mela mengambil Wudhu, lalu memakai mukena dan mulai melantunkan ayat suci disamping tempat tidur tempat kekasihnya berbaring.
Karena dia juga sudah di rumah keluarga Wiharja maka dia juga kembali mempunyai tanggung jawab dalam pekerjaannya.
Untuk itu dia menyalakan audio murottal 30 Juz Alquran. Rencananya dia akan menyalakan audio itu setiap hari kalau sedang mengerjakan hal lain. Dan kalau sedang bersama Anton akan mengaji sambil setelahnya mengajaknya bicara.
"Bunda apakah kamu menyimpan polis asuransi milik Anton? Tadi aku tanya ke papah katanya bunda yang sekarang menyimpannya," Fajar bertanya kepada istrinya perihal asuransi milik Anton.
"Oh iya ada, kalau tidak salah aku simpan dalam lemari arsip di kamar kita, bersatu dengan polis asuransi milik anak-anak,"jawab Anita kepada suaminya.
"Ya sudah aku coba mencarinya sendiri,"lalu Fajar naik ke lantai dua rumahnya menuju kamarnya.
Dibukanya satu persatu dokumen polis asuransi, ada asuransi pendidikan, asuransi jiwa dan asuransi khusus rawat inap.
Lalu Fajar melihatnya dan tertera nama Anton juga ada periodenya yang masih berjalan.
Dipolis asuransi itu tercantum Nama perusahaan Asuransi SM salah satu perusahaan asuransi swasta terkemuka di Indonesia.
Dan tertera juga alamat kantor cabang Bandung, dan Fajar mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera di sana.
Fajar mencoba menghubungi nomor yang tertera pada bagian belakang polis asuransi tersebut.
"Assalamualaikum, selamat pagi saya dengan Lussy ada yang bisa saya bantu?"terdengar suara lembut dari ujung telepon genggamnya.
"Walaikumsalam, maaf ibu Lussy ini saya dengan Fajar, saya mau minta tolong ibu cek no. Polis asuransi milik adik saya dengan nomor 010567xxx, apakah masih aktif?" Fajar mencoba meminta karyawan asuransi untuk memeriksa aktivasi polis milik Anton.
"Sebentar....oh ya masih aktif pak atas nama Anton Wiharja dan masih berlaku sampai dua tahun yang akan datang, apakah bapak Anton akan mengajukan klaim?"tanya karyawan asuransi itu lagi dengan santun.
Lalu Fajar membenarkan akan mengajukan klaim atas biaya perawatan Anton beberapa waktu yang lalu. Dan dia juga menjelaskan kondisi Anton yang masih belum sadar karena koma.
"Begitu yah pak, sebetulnya tidak masalah kalau nanti yang menandatangani adalah keluarga peserta karena kondisi peserta masih belum sadar. Nanti ada formulir yang bisa diisi oleh keluarga berikut kronologisnya. Bapak siapkan saja dokumen yang kami sebutkan tadi, nanti kami yang akan mengambil ke kediaman bapak," karyawan asuransi itu menjelaskan dengan begitu lengkap berikut ada layanan penjemputan dokumen.
Fajar memberikan alamatnya dan kemudian mereka berjanji akan bertemu di apotik Wiharja Farma siang nanti.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, Fajar sedang membantu istrinya di apotik. Tiba- tiba ada sebuah mobil memasuki halaman apotik dan terlihat seorang wanita hampir setengah baya turun dari mobil itu.
Wanita itu berpakaian rapih dan terlihat cukup menarik diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Maaf saya bisa bertemu dengan bapak Fajar Sanjaya, tadi saya sudah mempunyai janji dengan beliau untuk keperluan asuransi milik Anton Wiharja,"kata wanita itu kepada Sila yang kebetulan sedang berjaga apotik.
"Sebentar bu saya panggilkan, silahkan ibu tunggu diruang tunggu saja,"kata Sila sambil menunjukkan arah ruang tunggu pasien.
Wanita itu duduk sambil menunggu kedatangan Fajar.
Tak lama Fajar keluar ruangan kantor bersama Anita, dan ketika Anita melihat wanita itu terkejutlah dia.
"Ibu Lussy...benarkah Ibu Lussy, masih ingat sayakah ibu?"tanyanya kepada wanita itu dengan tak percaya.
"Hmmm...kamu Anita....kakaknya Anton?...,"wanita itu balik bertanya sambil sama-sama terkejut.
"Iya ibu...masyaallah ...ibu masih ingat kami".
Lalu Anita memeluk wanita itu dan tak lama diapun menangis.
" Kenapa menangis Anita? Tadi saya ditelepon pak Fajar katanya Anton sakit apakah benar? Maaf ibu kira Anton yang lain tapi ternyata...".
Lalu Anita mengenalkan suaminya kepada ibu Lussy, yang ternyata adalah mantan guru sekolah saat Anita dan Anton masih di bangku SMP.
Anita membawa ibu Lussy ke kamar tempat Anton terbaring, dan dia sangat sedih melihat mantan murid terpandainya dalam kondisi demikian.
Pada kesempatan itu Anita mencurahkan seluruh isi hatinya kepada mantan guru favoritnya saat dia SMP dulu. Karena hanya ibu guru ini yang paling bisa dekat dengan semua siswa.
Setelah mendengar kisah Anton dari awal sampai kejadian terakhir, ibu Lussy pun ikut menangis merasa sedih mendengarnya. Beliau mengelus rambut Anton dan membacakan doa untuknya agar bisa pulih kembali.
Tak lama Mela masuk ke kamar itu dan Anita memperkenalkannya sebagai calon istri Anton.
"Nak Mela, saya dulu wali kelasnya Anton saat masih SMP. Dia anak yang baik, jujur dan berkomitmen tinggi. Jangan kau sia-siakan dia yah nak, jaga dia selalu. Saya akan membantu doa yang terbaik untuk kalian,"kata ibu Lussy kepada Mela.
Dan Mela kembali menitikan air matanya terharu saat melihat mantan guru kekasihnya pun memuji kebaikan hatinya.
"Ibu memangnya sudah tidak mengajar lagi?"tanya Fajar kepada ibu Lussy karena merasa aneh mantan guru menjadi karyawan asuransi.
"Hahaha..tidak Mas Fajar, saat terakhir Anton lulus tak lama saya juga mengundurkan diri karena saya menikah. Setelah menikah saya mencoba bekerja paruh waktu dengan bekerja di Asuransi".
__ADS_1
"Karena memang bakatnya belajar dan mengajar, saya ikut semacam sertifikasi dan lulus. Akhirnya malah menjadi karyawan tetap di perusahaan asuransi ini," beliau menceritakan sedikit kisahnya menjadi karyawan asuransi.
Lalu Fajar memberikan semua dokumen yang diminta oleh Ibu Lussy, kemudian ibu itu membawa semua berkas dan berjanji akan membantu proses klaimnya demi Anton mantan murid kebanggaannya.