Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
BAB 01


__ADS_3

Tiga


sahabat sedang asik bermain bola basket, mereka tampak asik saling melemparkan


bola satu sama lainnya. Lapangan bola basket dekat kompleks rumah mereka.


“Jojo, lempar ke gue sekarang” Angel melambaikan tangan ke atas memberi kode


kepada Jonathan. “Nih, ambil” Jonathan melempar bola kesamping dan dengan cepat


Angel mengambil bola lalu memasukkan ke ring. Angel bersorak, seperti orang


memenangkan sebuah pertandingan.


“Angel,


Lo makin hari makin jago aja main basketnya” Puji Jonathan pada Angel. “Iya,


bener kata Jojo” sahut Rendra sambil menundukkan badannya dengan nafas tidak


beraturan. “Thank You everyone guys,


ini tidak seberapa” jawab Angel lalu menghentikan aksinya.


“Istirahat


dulu Yuk” ajak Angel yang dibalas Anggukan oleh kedua sahabatnya. Angel


mengambil botol mineral lalu memberikan satu per satu. Hari minggu adalah hari


libur yang menyenangkan bagi Angel. Basket adalah salah satu olahraga


kegemarannya. “Gaes gue pulang dulu” pamit Angel.


“Kok


cepet banget, baru juga jam 04.00 sore. Biasanya juga jam 05.00 sore baru


balik” ucap Rendra sambil melihat jam yang melekat ditangan kirinya. “ada


urusan. Sampai jumpa besok” mengambil tas lalu menyampirkan di punggung


kanannya. Tidak lama kemudian Rendra dan Juga Jonathan pulang kerumah masing-masing.


Rumah


yang begitu sepi, Angel berjalan masuk kedalam rumah yang tampak sepi, membuka


pintu lalu masuk. Ia hanya melihat seorang Bibi Inem yang sedang mengelap


lemari. “Bibi, sendirian di rumah. Mama sama Papa kemana?” tanya Angel


menghampirinya. “Hmmm, belum pulang Non” mendengar jawaban yang selalu


dikatakannya. Angel hanya bernafas gusar. Kemudian menaiki anak tangga satu


persatu.


Membuka


pintu kamar yang begitu sangat luas, kamar yang dilengkapi dengan Ring basket


yang bergantungan di dindingnya, ada juga sebuah gitar klasik bersender di


dinding kamar serta berbagai macam foto kejuaraan Angel. Dan jejeran piala


kejuaraan. Angel memang berbakat dalam bermain basket. Tak hanya itu, Angel


juga sangat menyukai bela diri yaitu Moa thai.


“Baru


Pulang Lo?” tanya seorang lelaki berparas bule bertubuh jangkung yaitu Reynaldo


Anto atau disapa Rey, kakak Angel.


“Bisa


nggak sih, ketok pintu dulu kalau masuk” jutek Angel kepada kakaknya “Yaelah


jutek amat lo, sama abang sendiri. Lagian kenapa baru pulang?” tanya Rey


“Ya


maaf,” jawabnya, Angel melihat kebawah hingga atas, menatap sang kakak heran.


“Abang dari mana?, rapi banget. Pasti lagi ketemu sama cewek. Ayooo ngaku?”


tanya Angel membuat Rey kikuk. “apa sih Angel. Sok tau Lu” Angel hanya terkekeh


melihat tingkah abangnya. “Abang sekarang keluar dari kamar Angel. Gue mau


mandi” usir Angel, “Pantesan aja ada bau” ledek Rey seketika Angel melempar


bola basket kearah Rey. Hingga ia harus lari keluar dari kamar adiknya.


“Ya


Tuhan kenapa gue punya adik galak amat ya, kayak macan betina” gumam Rey


melihat pintu yang mulai tertutup rapat.


Angel


mengambil handuk yang berada di jemuran kecil. Lalu masuk kedalam kamar mandi. setengah


jam kemudian Angel sudah berada di depan kaca sambil menyisir rambut pendeknya.


Setelah semua rapi, Angel bergegas keluar dari kamar lalu turun menuju ruang


makan. Renata, Martin, dan Rey sudah duduk rapi. Angel mulai duduk rapi.


Makan

__ADS_1


malam sangat hikmat, “Angel, Papa dan Mama harus keluar negeri ke Landon besok


pagi. Dan kamu Rey, jaga adikku baik-baik” Pinta Martin pada Rey. “Siap Pah,”


Rey memberi hormat pada Martin tanda mengerti. Namanya juga seorang kakak harus


jaga adiklah. Gumam Rey yang masih dapat didengar oleh Angel.


“Papa,


aneh. Angel itu sudah gede. Masih dijaga juga” cetus Angel. “ingat kalian jaga


diri, baik-baik Ya” perintah sang Ayah yang dibalas anggukan oleh kedua


anaknya. “huffffttt Papa dan Mama mau


pergi. Gue berharap Papa dan Mama hadir di pertandingan basket gue” batinnya.


Pagi


ini Angel sedang memakai kaos kaki putih serta sepatu sneakers putih. Mengambil


tas punggung lalu menyampirnya tidak lupa dileher menggantung earphone. Ia


menuruni anak tangga. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Seperti


biasanya Rendra dan Jonathan datang menjemput Angel. Mobil audi berwarna biru


terparkir tepat di depan rumah Angel.


“Pah,


Mah. Angel berangkat dulu,” Angel berlari keluar rumah lalu membuka knop mobil


masuk “Let’s Go gaesss” seruuu Rendra menancap gas. Mobil melaju dengan


kecepatan sedang. Jonathan sibuk dengan buku novel yang dibacanya. Ya itulah


Jonathan, ia tidak bisa lepas dengan buku, cowok dingin, Pendiam. Lain lagi


dengan Rendra Si cowok tengil, badboy, dan dikagumi oleh kaum hawa. Sedangkan


Angel si cewek Tomboy, jago karate, jaim, Tengil, satu lagi tidak manja,


seperti cewek pada umumnya.


Tidak


lama kemudian mereka sampai di sekolah, memarkirkan mobilnya. Angel, Rendra,


dan Jonathan berjalan memasuki sekolah Sakti Bangsa. Mereka bertiga memasuki


kelas IPS A1. Angel yang duduk di bangku kedua, Angel duduk bersama Jonathan


sedangkan Rendra duduk di belakang bersama Radit. Si cowok culun berkecamata


hitam.


“Angel”


menghampirinya bersama tiga orang dibelakangnya. “Iya, Ronald. Kenapa?” tanya


Angel pada laki-laki bernama Ronald “sebentar sore kita ada latihan basket.”


Jawab Ronald, lalu menoleh kebelakang menatap sinis kearah Rendra. Rendra hanya


acuh dan tidak memperdulikannya. “Kalau gitu, gue balik dulu. Gue tunggu lo


sebentar sore” kata Ronald di balas anggukan oleh Angel.


Rendra


beranjak dari bangkunya menghampiri Angel yang asik dengan ponselnya. “Angel,


Gue mohon jangan terlalu dekat dengan Ronald” Angel menyerngit dahi bingung.


“Emang kenapa?” tanya Angel yang tidak ditanggapi oleh Rendra. Jonathan memberi


kode pada Rendra agar duduk di tempatnya kembali.


Angel


masih bingung apa maksud perkataan Rendra barusan. Tetapi ia hanya acuh. Toh


Ronald hanya teman satu Tim Angel. Semua siswa menuju ketempat masing-masing.


sosok guru paru baya yang umurnya sudah setengah abad. Guru yang memakai


kacamata layaknya seorang propessor. “Selamat pagi semua” sapa Pak Diot selaku


guru sejarah.


Selama


pelajaran berlangsung, para murid memperhatikan dengan seksama. Jonathan


memandang sosok guru menjelaskan, Angel hanya diam yang masih dengan pikiran


berkeliarang entah kemana. Sedangkan Rendra masih sibuk dengan pikirannya,


entah itu kemana?.


Kringggggg…..


suara Bel sekolah memecahkan keheningan didalam kelas. Para murid sibuk


membereskan bukunya. “Ren, Jo. Mau kekantin nggak” ajak Angel. “Yuk” jawab


Rendra beranjak dari bangkunya. “Gue mau ke perpus” sahut Jonathan “Perpus


mulu, Lo. Sekali-kali kekantin kek. Bareng kita. Lo kan tidak pernah kekantin.


Pokoknya lo harus ikut. Tidak pake penolakan” Jonathan mendengus kesal.

__ADS_1


Jonathan tidak pernah sekalipun menginjakan kakinya di kantin sekali pun hanya


sekedar makan. Atau pun nongkrong. “Oke, gue pergi” jawab Jonathan membuat


Angel senyum penuh kemenangan.


Jonathan


selalu membawa buku novel yang ia baca. Mereka berjalan sepanjang koridor


menuju kantin. Di kantin sangat ramai pengunjung. Mereka duduk di tengah.


Jonathan kembali membaca buku. “Kalau gitu, gue pergi pesan makanan” Rendra


pergi untuk memesan makanan.


“Jo,


apa nggak bosen baca buku mulu?” tanya Angel


“nggak”


jawabnya singkat


“Heh,


ini bukan perpus, udahan dulu bacanya napa” kesal Angel melihat sahabatnya


masih sibuk dengan bukunya. “apa sihh, Angel. Ganggu aja lo. Dan gue tau ini


bukan perpus kali” Tukas Jonathan. Membuat Angel menghelas nafas kasar. Angel


bingung? Mengapa ia memiliki sahabat begitu pendiam. “Hey, gaess. Rendra mana?”


sapa seorang cewek berambut panjang, wajah putih, hidung mancung serta bando


mengikat di rambutnya, bernampilan bak model.


“Lagi


pesan makanan” jawab Angel


Rendra


datang membawa 3 minuman di atas mampang. “Heh, ada ayang beb” sambut Rendra


pada pacar. “ayam kali di panggang. Mamam tuh ayam beb” ledek Angel sambil


menyeruput orange jus. “Tumben Jonathan ada di kantin biasanya nongkrong di


perpus” ucap Sandra heran melihat keberadaan Jonathan.


“Sekali-kali”


jawabnya singkat,


“Hari


ini gue bersnyukur banget, malahan ada Jo. Karena gue tidak di jadiin kambing


conge” ucap syukur Angel karena hari ini ia tidak dijadikan kambing conge alias


obat nyamuk karena sahabat yang satu itu keasikan pacaran tanpa perduli Angel


di sampingnya.


“Sudah


tau, Rendra kayak bagaimana? Masih saja, Makanya cari pacar sana” pinta


Jonathan.


“Iya,


juga sihh, cocok jadi kambing conge. Abis tidak ada yang mau sama dia” ledek


Rendra, membuat Angel geram.


“Enak


aja, sok tau Lo” Tukasnya sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.


Terdengar


suara deringan ponsel, Angel menatap di layar tertera nama Ronald yang


menelponnya. Menggeser slide mengangkat telepon.


“Hallo,”


jawab Angel


“Lo, di panggil Pak


Yoga, buruan kesini”  ucap


Ronald di telpon


“Lo


dimana,?” Tanya Angel lagi


“Dilapangan basket


kali, dimana lagi”jawab Ronald lalu


menutup telpon secara sepihak.


“Yeeee,


dimatiin” gumam Angel menatap ponselnya


“Guesss,

__ADS_1


gue pergi dulu,” Pamit Angel beranjak dari bangkunya lalu pergi meninggalkan


ketiga sahabatnya.


__ADS_2