Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 21. Kamu Cantik


__ADS_3

Mata Lika terbelalak mendengar ucapan Andri. Ia langsung menarik tangan kiri Andri dan,


"Apaan?" tanya Lika penasaran.


"Dasar kepo!" Andri menarik kepang rambut Lika.


"Aauu..."


Mama Siska pun langsung manatap tajam kearah Andri.


"Dahlah...Jadi anak tiri part 2" cibir Andri.


Lika pun terkekeh mendengar ucapan Andri. Lika merasa sangat bahagia punya banyak orang yang peduli padanya.


Sambil menyuapi Lika makan, Mama Siska terus menerus bertanya tentang latar belakang Lika. Lika pun sangat antusias menjawab karena kelihatannya Mama Siska adalah orang yang baik.


Perbincangan mereka pun berlangsung sangat lama. Papa Hendra dan Mama Siska terus menerus mengintrogasi Lika tentang kehidupannya sampai mereka lupa bahwa Lika seharusnya beristirahat saat itu.


Pukul 16.30


"Udah sore nih sayang, Tante sama Om pulang dulu sebentar ya. Nanti malam Tante datang lagi kok" Mama Siska mencium pucuk kepala Lika.


"Iya Tante, hati-hati Tante" jawab Lika dan memberikan senyuman termanisnya.


"Andri...Adi... Mama titip Lika ya. Jangan malah digangguin, dia harus istirahat" ancam wanita itu.


"Siap Tante" jawab Adi meletakkan tangan kanannya diujung alisnya.


"Iya iya mama Ratu. Tuan Putri akan hamba jaga" Andri mencibir mamanya sambil memanyunkan bibirnya.


"Mataku masih ada disini ya, awas kau macam-macam" ancam Papa Hendra pada Adi.


"Viss Om" Adi menunjukkan dua jarinya dan tersenyum menunjukkan giginya.


Sejak kecil Adi sudah terbiasa dekat dengan keluarga Andri, begitu juga sebaliknya. Jadi Adi sudah menganggap orangtua Andri sebagai orangtuanya juga.


Saat Papa Hendra dan Mama Siska sudah keluar dari ruangan itu, kedua lelaki itu menghembuskan nafas lega.


"Ngeriii" Adi setengah berteriak.


"Anak tiri part 2 bro" timpal Andri.


"Bang Andri... Aku mau coklat" Lika mulai mengeluarkan sifat aslinya.


"Enggak, enggak! Kamu harus sembuh dulu" jawab Andri.


Walaupun Andri sedikit cemburu melihat perlakuan orangtuanya terhadap Lika, namun Ia tetap menyayangi Lika. Hal tersebut juga dirasakan Andri saat Andini masih hidup. Andri selalu cemburu karena Andini diperlakukan lebih istimewa darinya, namun begitu Andri tetap menyayangi Andini.


"Abang punya coklat" cetus Adi.


"Serius?" jawab Lika.


Andri menatap Adi dengan tajam. Ingin rasanya ia mencabik-cabik muka Adi.


Adi mengeluarkan sebuah coklat dari kantuk jaketnya. Lalu memberikannya pada Lika tanpa meminta persetujuan Andri. Lika yang menyadari ekspresi tidak senang dari wajah Andri pun ragu menerimanya.


"Gapapa dik, santai aja" Adi menyadari keraguan Lika.

__ADS_1


Lika masih menunggu ekspresi wajah Andri hingga mengisyaratkan boleh.


"Hehh kuda Nil, liat nih adek loe" Adi setengah berteriak.


"Iya boleh" jawab Andri seadaanya.


Setelah mendengar Andri, Lika langsung mengambil coklat itu dari tangan Adi.


"Makasih bang" Lika memasang senyumannya yang paling manis.


DEG...


"Ya Tuhan gadis ini!!" Adi mengutuki dirinya.


Adi sudah mulai jatuh cinta pada Lika, sepanjang hari itu Adi selalu memikirkannya. Hari itu walaupun Adi tak memiliki jadwal kuliah, ia sengaja datang ke kampus hanya untuk melihat Lika. Namun Lika tak ada di kampus, bahkan Adi memberanikan diri bertanya pada sahabat-sahabat Lika tentang keberadaan Lika. Sayangnya tak satupun dari mereka mengetahui keberadaan Lika.


Kekhawatirannya bertambah ketika Andri memberi kabar bahwa Lika dirawat di rumah sakit. Sedih bercampur penyesalan berkecamuk di dadanya. Ia mengutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan dari kampus sampai ke rumah sakit tempat Lika dirawat.


"Ngapa loe?" Andri mengguncang tubuh Adi.


Adi tersentak karena tindakan Andri. Lika tertawa kecil melihat tingkah imut Adi.


"Kesambet apa loe?" ledek Andri.


"Habis gue, ketularan penyakitnya Lika bro. Hobi ngelamun" jawab Adi melawak.


Lika pun mendadak cemberut mendengar jawaban Adi. Ia memanyunkan bibirnya yang membuat dia tampak sangat menggemaskan.


"Ya elah ni bocah imut banget sih" batin Adi.


"Tuan Putri jangan ngambek dong" Adi memelas membujuk Lika.


Adi tak punya pengalaman untuk membujuk seorang perempuan. Jangankan membujuk, dekat dengan perempuan saja tidak pernah kecuali Bundanya.


Lika pun meletakkan coklat yang diberikan Adi di samping bantalnya. Ia merebahkan tubuhnya dan membelakangi Adi dan Andri. Andri tertawa meledek Adi yang hampir frustasi.


"Gue gak ikutan ya bro, gue mau ke kantin dulu bro. Laper gue dari pagi belum makan" Andri mengacak-acak rambut Adi lalu meninggalkannya bersama Lika.


"Lika...Jangan ngambek dong. Maafin Abang ya" Adi frustasi melihat Lika.


Lika pura-pura tidur. Ia ingin mengerjai Adi. Ia terus diam membisu membuat Adi semakin bingung.


"Lika..." Adi menyentuk rambut Lika yang dikepang rapi.


Lika tetap diam tak menjawab Adi. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak namun ia pendam keinginannya untuk membuat Adi semakin frustasi.


"Dik, jangan gini dong. Abang bingung nih harus apa. Lika hukum Abang aja ya" Adi putus asa.


Lika sudah tak tahan dengan sandiwaranya. Lika pun membalik badannya mengakhiri sandiwara itu. Tanpa Lika sangka ternyata tadi Adi meletakkan kepalanya dibelakang kepala Lika karena putus asa membujuk Lika.


Adi menatap wajah polos Lika tanpa berkedip. Matanya memperhatikan setiap sudut wajah mulus Lika tanpa melewatkan satu milli pun.


Lika menatap mata Adi, sungguh dekat sekali wajah mereka. Jika wajah mereka maju sedikit saja, hidung mereka pasti akan bersentuhan. Lika dapat merasakan nafas yang keluar dari hidung Adi, begitu juga sebaliknya.


"Kamu cantik" kata-kata itu keluar dari mulut Adi secara spontan.


Lika tersenyum mendengar ucapan Adi, kata-kata langka yang akan Lika ingat sepanjang malam.

__ADS_1


Lika menarik wajahnya menjauhi wajah Adi. Adi pun duduk di kursi disebelah tempat tidur itu.


"Maaf!" ucap Adi.


"Abang tadi kuliah?" tanya Lika mengalihkan pembicaraan.


"Enggak dik" jawab Adi seadanya.


Adi masih belum bisa melupakan kejadian yang terjadi barusan.


"Abang ke toilet bentar ya" Adi langsung berdiri tanpa menunggu jawaban dari Lika dan berlalu meninggalkan gadis itu.


Lika terus melihat punggung lelaki itu yang semakin menjauh dan hilang saat keluar dari pintu.


"Kamu juga tampan" gumamnya sambil tersenyum sendiri.


Lika lalu kembali membalikkan badannya dan memilih untuk tidur. Bukan hanya Adi yang tidak bisa melupakan kejadian itu, ternyata Lika pun demikian. Ia terus-menerus memikirkannya.


Dikantin Rumah Sakit...


"Woii kuda Nil! Tega bener loe ninggalin gue" Adi duduk dihadapan Andri.


"Hahaha...Sorry bro. Gue dari pagi belum makan. Gue sampai lupa makan karena panik liat Lika" jawab Andri namun tidak terdengar jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Telan dulu nihh bakso loe" cibir Adi.


Andri tertawa geli mendengar ucapan Adi.


"Gimana tuan putri gue? Udah baikan?" tanya Andri.


"Udah dong, gue loe remehin" jawab Adi bangga.


"Banyak ngemeng loe, sayang banget gue gak ambil video muka frustasi loe tadi" ledek Andri sambil tertawa terbahak-bahak mengingat ekspresi wajah Adi saat berusaha membujuk Lika.


"Diem loe kuda Nil!"


Saat Andri tengah terkekeh-kekeh meledek Adi tiba-tiba keluar cairan berwarna merah dari hidungnya.


"Ehh loe mimisan lagi?" Adi panik melihat ada darah keluar dari hidung Andri.


Andri buru-buru mengambil tissue dan menghapus cairan itu, lalu mendongakkan kepalanya.


"Kurang istirahat loe bro, loe kan gak boleh terlalu capek sekarang. Ingat bro, loe boleh perhatian sama orang tapi jangan lupa kesehatan loe juga!" terang Adi.


"Iya iya bawel loe ah. Ingat ya bro, jangan sampe Lika tau" ancam Andri.


"Amanlah itu. Intinya sekarang loe sendiri Kuda Nil!" jawab Adi.


*****


Hai hai Readers...


Jangan lupa like, tinggalkan komentar dan vote aku ya. Dukungan kalian akan sangat mempengaruhi aku dan karyaku.


Peluk Online untuk kalian Semua


Author.

__ADS_1


__ADS_2