
"Hai Lika" sapa seorang gadis cantik dipinggir jalan.
"Hai Indri" sahut Lika dan menghentikan kerbaunya.
"Lika, itu siapa? Ganteng banget. Pacar kamu?" tanya gadis bar-bar itu.
"Enggak kok, temenku" sahutnya sambil mengangkat bahu.
"Waaahhh boleh dong comblangin ke aku" gadis itu mendadak sangat riang.
"Hai bang, aku Indri. Nama Abang siapa?" Indri langsung melancarkan aksinya mendengar lampu hijau dari Lika. Entah mengapa walaupun Adi tidak memiliki hubungan istimewa dengan Lika namun gadis itu merasa cemburu dengan kehadiran Indri.
"Indri, nanti malem yah ngomong lagi. Kami mau ke kebun nih" sela Lika saat Indri sibuk berbicara dengan Adi. Lika memukul punggung kerbau itu agar berjalan. Wajah Lika memerah karena cemburu. Sepanjang jalan menuju kebun dia hanya diam, berbeda dengan Adi yang sibuk mengamati orang-orang yang dilalui mereka.
Saat malam hari tiba, Indri pun berkunjung kerumah. Apalagi kalau bukan menggoda Adi.
"Dasar gak tau malu!!!" batin Lika.
Namun Lika tak pernah menunjukkan ketidaksukaannya pada Indri yang mendekati Adi.
"Kapan si Indri kenal sama Adi?" tanya Rina
"Tadi ma waktu kami ke kebun" sahut Lika malas.
"Kamu cemburu ya?" ledek Rina.
"Mama apaan sih, enggak lah ma. Lagian kita tuh gak ada hubungan apa-apa kok ma" terang Lika sambil menyetrika.
"Kamu yakin?" Rina tak yakin dengan yang dikatakan putrinya itu.
"Apaan sih ma, udah ahh! Mending mama istirahat" sahut Lika.
"Awas menyesal" ledek Rina sebelum meninggalkan Lika.
Lika hanya tersenyum kecut membalas ledekan mamanya. Ia juga sebenarnya cemburu namun tak ingin menciptakan suasana buruk pada Adi yang baru pertama kali berkunjung ke tempatnya.
"Wajarlah banyak yang suka, udah ganteng plus anak orang kaya lagi. Lagian wajarlah kenalan sama teman baru" gumamnya membohongi diri sendiri.
Setiap malam ada saja gadis-gadis yang berkunjung ke rumah Lika dengan alasan bertemu dengannya padahal incaran mereka adalah Adi. Lika semakin kehilangan waktunya bersama Adi. Jika siang hari Adi selalu bersama dengan Anton, dimalam hari selalu bersama gadis-gadis penggemar barunya.
Dua Minggu berlalu Andri pun menyusul Lika dan Adi. Andri memang sengaja tidak berangkat bersama mereka agar mereka memiliki waktu berduaan dan mengenal satu sama lain. Namun jauh dari harapan Andri, ternyata Adi dan Lika malah sibuk dengan diri masing-masing.
Malam itu Andri dan Adi duduk teras rumah Lika. Mereka berbincang mengenai pengalaman Adi selama berada didesa Lika. Dengan antusias Adi menceritakan semuanya. Andri hanya menanggapi Adi seadaanya karena ia hanya menunggu cerita tentang Lika dan sahabatnya itu.
"Loe udah ngutarain cinta loe ke Lika?" tanya Andri tiba-tiba.
__ADS_1
"Kok loe nanya gitu?" Adi bertanya balik.
"G*blok banget sih loe kuda Nil! Loe itu kesini untuk mengenal Lika lebih jauh, bukan malah tebar-tebar pesona dengan gadis-gadis disini!" Andri menggaruk kepalanya frustasi.
Adi hanya terdiam tak menjawab pernyataan Andri. Selama dua Minggu Ia melupakan Lika karena sibuk berkenalan dengan teman baru. Ia hanya bicara seadaanya pada Lika.
"Loe tau gak perasaan Lika saat loe bercanda sama temen-temen baru loe dan lupain dia?" kali ini Andri menghajar Adi dengan bertubi-tubi. Kesal bercampur heran berkecamuk di dalam kepala Andri.
"Serius gak sih loe? Gue paham loe gak pernah pacaran bro, tapi gak gini juga! Gue tanya sekali lagi ya, loe serius gak sama Lika?" Andri menatap Adi tajam.
"Serius lah" sahut Adi dingin.
"Loe punya dua Minggu lagi sebelum kita balik ke Jogja" Andri menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
Adi hanya terdiam tak menjawab Andri. Ia masuk dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Steven. Ia memandangi Steven yang sangat mirip dengan Lika.
"Gue bener-bener br*ngsek!" gumamnya.
Adi pun frustasi. Rasanya ingin meledak kepalanya. Tiba-tiba Andri masuk dan melemparkan sebuah kunci pada Adi.
"Lika ngajak ke pasar malam, manfaatin sebaik mungkin" tukas Andri.
Belum sempat Adi menjawab, Andri langsung keluar meninggalkannya. Dengan raut wajah bingung ia mengganti pakaiannya dan bersiap-siap setampan mungkin.
"Kamu bareng Adi aja ya, Abang kan baru nyampe tadi siang. Capek banget!" ujar Andri berbohong.
"Emang bang Adi gak sibuk?" sindir Lika.
"Aku udah siap nih, yuk jalan" sahut Adi tiba-tiba sudah dibelakang Lika. Adi sangat rapi dan wangi, tambah dengan senyuman komplit Lika akan jatuh cinta sekali lagi.
"Ayo.." Adi menarik tangan Lika dengan lembut.
"Good luck" bisik Andri pada Adi.
"Tumben malam ini fans kamu cepet baliknya" sindir Lika saat mereka sudah berada di parkiran motor.
"Nih pake helm, jangan bawel" sahut Adi.
Selama perjalanan Lika tak berbicara apapun. Terlihat sekali ia marah karena selama ini Adi tidak peka pada kecemburuannya. Saat tiba di pasar malam Lika hanya diam tak selera dengan suasananya. Ia hanya membeli sebuah popcorn dan duduk menonton orang-orang bermain.
"Lika kok lemes gitu sih? Gak suka ya perginya bareng abang?" Adi mencoba memahami isi hati Lika.
"Enggak papa kok bang, Lika lagi males aja" jawabnya sinis.
Adi tahu benar suasana hati Lika sedang tidak baik. Sepertinya perkataan Andri benar, Lika sebenarnya tidak suka Adi terlalu dekat dengan orang lain namun terlalu gengsi juga untuk mengatakan yang sebenarnya. Adi menggenggam tangan Lika dengan lembut, mencoba mengambil hatinya.
__ADS_1
"Maaf ya adik manis. Aku janji gak akan jahat lagi sama kamu" tuturnya lembut.
"Kamu kenapa sih?" Lika masih gengsi melunakkan hatinya.
"Kamu mau gak maafin aku?" tanya Adi.
"Apaan sih nih orang, gak ada romantis-romantisnya sama sekali. Makin bete aku" batin Lika.
"Bentar ya, kamu tunggu disini" ujar Adi tiba-tiba. Ia melepaskan tangan Lika dan pergi entah kemana. Ia meninggalkan gadis yang menyedihkan itu sendirian. Sudah ngambek, malah ditinggal.
"Ini apaan sih ya ampun! Lebih baik tadi aku pergi bareng bang Andri kesini" gadis itu semakin kesal.
Tiba-tiba Adi datang membawa boneka love berwarna merah muda. Dengan percaya diri ia mendekati Lika dan memberikan boneka itu.
"Aku gak tau gimana bersikap romantis dik, aku hanya melakukan apa yang aku tau. Please jangan marah lagi dong" Adi melipat kedua tangannya memohon pada Lika.
Lika hanya tersenyum geli menanggapi pernyataan Adi. Beberapa kali Lika jalan dengan lelaki, baru Adi lah orang teraneh dan menyebalkan seperti itu. Lika mencubit pipi Adi gemas dan tertawa kecil mengambil boneka ditangan Adi.
"Berarti kamu gak marah lagi kan?" Adi memeluk Lika sampai Lika tak dapat bernafas.
"Aku bakalan mati kalo dipeluk gini" tukas Lika.
"Ehh maaf hahaha. Kamu kalo gak suka kelakuan aku bilang aja dong, jangan diem-diem aja" Adi tampak serius.
Lika hanya mengerutkan keningnya karena bingung dengan kata-kata Adi.
"Aku serius tau!" ujar Adi meyakinkan.
"Aku itu bukan siapa-siapa yang bisa larang-larang kamu mau ngapa-ngapain" terang Lika.
"Kamu kan pacar aku!" sahut Adi.
"Pacar? Pacar apaan!!!" Lika memutar bola matanya heran dengan kata-kata Adi.
"Iya dong" sahutnya mantap.
"Kita gak pernah jadian!" Lika memegang pelipisnya frustasi. Entah mengapa ada laki-laki seperti Adi. Adi hanya cerdas dalam kampus tapi sangat amatir masalah cinta.
"Ya udah kita pacaran oke!" ujarnya tiba-tiba. Sungguh pernyataan yang tidak masuk akal.
Lika pun berdiri kesal. Ada memang laki-laki yang tak bisa romantis tapi bukan seperti ini juga. Wanita manapun tak akan mau jadian hanya dengan cara seperti itu.
"Ayo pulang!" Lika berjalan meninggalkan Adi menuju parkiran motor.
"Dasar laki-laki id*ot!!" gumam gadis itu.
__ADS_1