
Rendra
datang menemui Sandra yang sedang duduk sendirian di bangkunya. “Hey, kok
melamun, pasti mikirin gue yah” ucap Rendra, Sandra hanya terdiam tidak seperti
biasanya. “Iya, melamun gue. Emang kenapa?” ketus Sandra, Rendra menyerngit
bingung. “Ada apa sihh, ketus banget ngomongnya. Ada masalah cerita ke gue”
Panik Rendra. Ia mengerti pasti karena masalah semalam.
“Sand,
Gue janji akan berusaha menjaga lo dan mendapatkan restu dari mamamu” ucap
Rendra tulus, Sandra menoleh menatapnya dalam, ia mengangguk sambil memegang
kedua tangan Rendra. “iya”.
Angel
yang melihat dari kejauhan ia hanya bisa menunduk meski hatinya sakit melihat
orang yang disayanginya sedang bersama orang lain. Tetapi ia berusaha
menyembunyikan perasaannya.“Gue akan
selalu membantu lo Rend, demi kebahagiaan lo dengan Sandra” gumamnya dalam
hati lalu pergi begitu saja.
“Yuk
kekantin, laper” ajak Rendra
“Males”
jawab Sandra cuek, karena memang merasa tidak lapar.
“Ya,
kok males sihh, nggak asik” Rendra memasang tampang memelas. “Oke aku temenin”
Sandra beranjak dari bangkunya lalu Rendra ikut mengekor di belakangnya.
Sepanjang
jalan di koridor, semua mata memandang pada sosok Rendra dan Sandra, mereka
berjalan beriringan “Udah dong jangan cemberut lagi” Rendra menatap Sandra yang
memasang muka masam.
“Kak
Rendra” panggil seseorang membuat langkahnya terhenti seketika. Seorang
perempuan berwajah putih memakai bando yang mengikat di kepalanya. “ada apa
Anne?” Tanya Rendra pada empunya. “Kakak di Panggil sama guru Pembina, di ruang
rapat. Karena hari ini ada rapat” jawabnya. Lalu menoleh kearah Sandra yang
masih diam.
Rendra
menepuk jidat saat mngingat ada pertemuan rapat dengan Pembina dan Anggota Osis
lainnya “Aduhhh, gue sampai lupa. Makasih ya sudah ingatin”. Beginilah jadinya menjadi
ketua osis.
“Sand,
gue keruang Guru dulu” pamitnya hanya dibalas anggukan oleh Sandra. “Maaf, aku
nggak bisa temenin lo saat ini” sambungnya.
Rendra
memasuki ruang yang sudah di padati oleh para anggota Osis. Termasuk juga Anne
adik kelasnya. Ia mengambil tempat duduk. Ruang rapat yang luas Rendra dan
Angota lainnya membentuk bundaran, dan guru Pembina Osis, yang memimpin dan
memulai pembukaan dalam rapat tersebut.
Sekolah
SMA Sakti Bangsa akan mengadakan Pentas seni sebelum libur panjang. Hampir
setiap tahunnya mengadakan event tersebut. Rendra hanya terdiam ia masih
terngiang kejadian semalam, Anne yang melirik Rendra yang sedang memikirkan
sesuatu. “Kak” tegurnya, “Ehh, iya” jawab Rendra gegalapan.
“Cukup
sampai disini dulu rapatnya. Nanti kita lanjutkan minggu depan. Membicarakan
tentang kegiatan Pensi ini” tutur Guru paru baya. Semua anggota lain
meninggalkan ruang kelas termasuk Rendra. Ia berjalan sepanjang koridor dengan
tampang lesu, Anne yang melihat kakak kelasnya itu menatap aneh,
“Kakak
ada masalah?” Tanya Anne to the point
“Nggak
ada” jawabnya bohong lalu pergi begitu saja, Anne menyerngit, kemudian Rendra
__ADS_1
kembali lagi “Sekarang lo, bantuin yang nyebarin brosur pentas seninya. Dan
nggak usah urusin urusan gue” ucap Rendra sinis lalu pergi meninggalkannya.
“Dasar Kakak kelas aneh” kesal Anne menatap punggung Rendra yang semakin
menjauh.
Angel
dan Jonathan sedang duduk di bawah pohon, Angel yang mendrible bola basket
sedang Jonathan masih asik dengan buku dan Earphone yang melekat di kepala.
Angel menoleh tersenyum menatap Jonathan. Lalu melemparkan bola basket
kearahnya. “Awhh sakit, Tega amat lo” kata Jonathan sambil melepaskan
Earphonenya.
“Abis,
serius banget bacanya”
“Betewe,
Siapa sih cewek yang lo suka?” Tanya Angel mulai kepo
“Nanti
lo akan tahu dengan sendirinya” jawabnya membuat Angel semakin dibuat
penasaran.
“Nggak
asik lo, katanya sahabat kok gitu” Jonathan hanya diam tidak menanggapi Angel
yang masih menatapnya dengan wajah penasaran sekaligus kekepoan tingkat
dewanya. Rendra datang dengan tampang bingung, ia menatap secara bergantian.
“Hey, kalian sedang bicarakan apa sih, kayaknya serius banget?” Tanya Rendra.
“Asal
lo tahu ya Rend, ternyata sahabat kita yang satu ini. Sedang jatuh cinta” sahut
Angel, Rendra melongo tidak percaya bahwa sahabatnya yang super pendiam ini
bisa jatuh cinta juga. “Yang bener lo?” Tanyanya meyakinkan.
“Iyalah”
sahut Angel lagi Antusias
“Lo orangnya Angel, Lo orang yang
gue suka”ucap Jonathan dalam hati. Rendra langsung duduk disamping
Jonathan dan merangkulnya “Akhirnya sahabat gue bisa jatuh cinta juga.” Kata
“hahaha,
gue nggak nyangka,” katanya tertawa lepas
Rendra
dan Angel tahu bahwa sahabatnya yang satu ini tidak pernah merasakan yang
namanya jatuh cinta. Dan Rendra tahu juga Jonathan sangat tertutup. Dan tidak
pernah mengenal satu pun perempuan, kecuali Angel sahabatanya. Dan hal yang
mustahil bagi Rendra saat mengetahui sahabatnya yang sedang jatuh cinta.
“Jangan
lupa nanti kenalin ke kita ya” ujar Rendra
“Okey,”
jawab Jonathan manggut-manggut
“Dari
pada kita nongkrong disini, nggak jelas. Mendingan kita ke kantin. Laper nih”
usul Angel
“Bener
tuh, sekaligus traktir kita Jo” sahut Rendra menyetujui usulan Angel.
“Yaelah
lo berdua makan mulu dipikirannya.males ahh”
“Jangan
gitu dong, pokoknya harus kekantin tidak pake nolak” Jonathan bernafas gusar
lalu mengusap wajahnya. “Oke, gue ikut. Puas”
Dikantin
Jonathan, Angel, dan Rendra sedang duduk menunggu makanan yang telah mereka
pesan. Seperti biasa Jonathan tidak pernah lepas dari bukunya. Rendra yang
masih asik dengan ponselnya sedangkan Angel hanya duduk diam sesekali melirik
Jonathan.
Angel
bingung siapa orang membuat sahabatnya itu jatuh cinta. Setahu Angel, Jonathan
__ADS_1
tidak pernah dekat dengan seorang cewek kecuali dirinya.
Apa
cewek itu cantik?
Pintar?
Berprestasi?
Dan
Suka membaca juga seperti Jonathan?
Pertanyaan
itu masih terngiang di kepalanya. “Beruntung
banget itu cewek bisa tahklukin hatinya si manusia kutub seperti Jonathan.” Pikir Angel. Seorang pelayan kantin datang dengan membawa tiga gelas orange jus
di atas mampang. Pelayan membagikan kepada tiga sekawan tersebut “silahkan di
minum Aden dan Non”
“Makasih,
Mpok” jawab Rendra sambil memberikan senyum lebarnya.
“Gue
penasaran siapa sih cewek yang bisa buat sahabat gue ini jatuh cinta?.” Rendra
mulai membuka suara sambil mengayungkan telunjuknya di jidatnya. “Nggak usah
kepo” sahut Jonathan “eitss eitss jelas gue kepo sama lo. Gue kan sahabat lo”
Jonathan bernafas gusar. Sambil mengaduk orange jus.
Terdengar
suara deringan ponsel, Angel merogoh ponsel disaku bajunya. Beranjak dari
tempat duduknya dan menjauh dari kedua sahabatnya. Rendra dan Jonathan saling
melemparkan kode satu sama lain.
“Iya
Bang, tenang aja. Gue akan pergi kok. Nggak usah kwatir gue baik-baik aja”
jelas Angel kepada Kakaknya di seberang sana. Lalu menutup telepon dan kembali
ke tempat semula.
“Dari
siapa? Kok bête gitu” Tanya Rendra
“Dari
abang gue” jawab Angel karena yang menelpon memang benar kakaknya.
Angel
berjalan sepanjang lorong rumah sakit dan di temani oleh Rey. “Kak kenapa
sampai temani gue sih?, gue bisa sendiri” keluh Angel “Karena gue nggak mau lo
kabur dan nggak mau cek up. Oke” ucap Rey To The Point. Selama ini Angel selalu
saja kabur dari Rey setiap kali di ajak untuk cek up. Kini mereka sampai di
depan ruangan dokter. Rey membuka pintu lalu masuk.
Angel
menjalani pemeriksaan dari dokter yang masih berusia muda. Setelah itu ia
kembali duduk dan mengatakan tentang kondisi Angel saat ini. “Bagaimana kondisi
adik gue Cleo?” Tanya Rey pada dokter yang bernama Cleo.
“Sejauh
ini, kondisinya baik-baik saja. Asalkan ia selalu rutin meminum obatnya.” Rey
mengangguk paham “Dan satu hal, Angel tidak boleh terlalu capek. Di takutkan
kondisi ginjalnya makin buruk”
“Kalau
gitu, gue akan mengawasinya. Terima kasih ya Cle”
“Santai
aja. itu sudah kewajiban gue” jawab Cleo santai
“Aduh
kalau sudah begini, jadi nyamuk deh gue” sahut Angel meledek membuat keduanya
salah tingkah. Memang Cleo dan Rey berteman dekat sejak dulu, karena Ayah Cleo
juga merupakan dokter pribadi Juanda jadi wajar saja. “Lo ngomong apa sih.
Ngacoo deh” ujar Rey salah tingkah, Angel bersedekap dada. “Udah gue mau
pulang” sambung Angel berdiri lalu keluar begitu saja. Cleo Ananta merupakan
Dokter yang menangani Angel selama ini. dia adalah dokter pribadi di keluarga
Juanda.
“Kalau
begitu gue balik dulu,” pamit Rey pada Cleo.
__ADS_1
“Iya”
Angguknya tersenyum lebar