
Mulai saat insiden malam itu hubungan Adi dan Lika merenggang. Adi masih kesal dengan Lika dan tak ingin bertemu dengan gadis itu. Gadis itu telah menghabiskan seluruh kesabarannya.
Namun dalam hati kecilnya, Adi sudah sangat merindukan gadis itu karena hampir seminggu ia tak melihat wajah imut nenek sihir itu. Ya, sejak malam itu Adi menyebut Lika dengan sebutan nenek sihir.
Bukan hanya Adi yang sedang dilanda Rindu, namun Lika juga merasakan demikian. Lika juga merasa bersalah telah mengerjai Adi.
"Apa aku keterlaluan ya kemarin?" batin Lika.
Lika sedang duduk dilobi kamarnya disebuah kursi santai empuk berwarna pink.
Sore itu Ia sedang menunggu kepulangan Mama Siska dari Korea, sudah seminggu Lika selalu sendiri dirumah besar itu. Kesibukan anggota keluarga di rumah itu sangat banyak, berbeda dengan Lika yang hanya kuliah dan menghabiskan waktunya di rumah. Lika juga mulai menekuni gambar design yang selama ini hanya ia lakukan saat waktu kosong saja.
Tiba-tiba sebuah taxi masuk kedalam pekarangan rumah.
"Itu pasti mama" Lika beranjak dari tempat duduknya dan turun menuju pintu.
Saat Lika keluar dari pintu rumah, tiba-tiba pandangannya tertuju pada Sandra. Ya, wanita jahat sepupu Andri yang sekarang pastinya sepupunya juga.
"Sayang...." Mama Siska langsung memeluk Lika. Wanita itu tampaknya sangat merindukan putri kecilnya itu.
Lika membalas pelukan mama Siska dengan wajah murung karena kehadiran Sandra. Lika mencoba menyembunyikan, namun Mama Siska tetap menyadari hal itu.
"Sayang kamu kenapa? Kok cemberut gitu?" Mama Siska memegang pipi Lika.
"Enggak kok Ma, Lika lagi gak enak badan aja" ucap Lika berbohong.
"Kamu sakit? Duhh... Kita ke dokter yuk" Mama menuntun mereka masuk dan diikuti orang pengurus yang mondar-mandir membawakan barang-barangnya sepulang dari Korea.
"Gue bakalan buat loe gak betah disini gembel!" batin Sandra.
"Enggak ma, Lika baik-baik aja kok. Mama bawa apa dari Korea?" ujar Lika mengalihkan topik.
"Banyak banget Mama bawa buat kamu, kali ini oleh-oleh mama spesial buat kamu semua" ucap Mama Siska sangat riang.
"Wow...Tapi sebenarnya Lika mau juga ma diajak kesana" Lika memeluk Mama Siska dengan manja.
"Iya nanti kalo kamu udah libur, kita sekeluarga jalan-jalan. Kemana pun kamu mau, oke" Mama Siska mengelus-elus rambut Lika yang panjang terurai.
"Beneran ma?"
"Iya sayang...oh iya, Ini Sandra keponakan Mama" ujar Mama.
"Udah kenal kok Tante, seminggu yang lalu Sandra kesini" jawabnya lembut.
"Oh iya? Bagus kalo gitu. Semoga kalian cepet akrab ya sayang" sahut Mama.
"Munafik banget sih si Sandra, coba gak ada Mama udah kayak ratu iblis muka dia" batin Lika.
"Ma, mama tau gak selama Mama gak ada Lika itu selalu sendirian di rumah. Papa itu paling lama dirumah semalem doang abis itu pergi, sementara bang Andri pergi pagi pulang malam" Lika memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Aduhh anak Mama kasian banget...Maafin Mama ya sayang" Mama Siska memeluk Lika dan mengelus-elus pipinya.
"Ya udah sekarang kamu ke kamar gih, buka oleh-oleh dari Mama. Semuanya tadi mama suruh masukin ke kamar kamu" ujar Mama Siska.
"Jadi Mama serius cuman beli oleh-oleh buat Lika?" Lika mendongakkan kepalanya.
"Iya dong sayang... Mama juga mau istirahat ke kamar. Sandra mau sama Tante atau sama Lika?"
"Sandra bareng Lika aja Tante" jawab Sandra.
"Yaudah ya sayang, mama ke kamar dulu" Mama Siska mencium pipi Lika dan berlalu.
Setelah Mama Siska masuk ke dalam kamarnya, Lika pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sandra. Tak sedikitpun Lika menoleh atau mengajak Sandra.
"Nikmatin aja kesenangan loe beberapa saat sebelum gue tepak loe jadi gembel lagi" batin Sandra.
Lika langsung menuju kamarnya. Saat menaiki tangga, Ia berusaha memperbaiki moodnya yang berantakan karena kehadiran Sandra di rumah itu.
Lika membuka pintu dan
"Astaga kamar gue..." Lika melongo melihat tumpukan barang-barang di dalam kamarnya.
"Ya ampun ma... Ini mah bukan oleh-oleh tapi ngebawa Koreanya sekalian ke Indonesia" Lika memijit pelipisnya.
Lika pun duduk diatas tempat tidur dan menatap tumpukan-tumpukan itu.
Lika pun membukanya satu-persatu. Saat Lika sedang sibuk menggunting bungkus oleh-oleh itu Sandra masuk tiba-tiba. Lika menatap Sandra dan langsung mengabaikannya.
"Anggap aja Tante gue lagi nyumbang buat gembel, berbagi rezeki" umpat Sandra.
"Bisa gak sih kamu itu masuk ke kamar orang ketuk pintu dulu, dan bisa gak sih kamu itu gak usah gangguin aku. Aku sebel liat muka kamu tau gak?" Lika mulai mengeluarkan omelan ala-alanya.
"Songong banget loe baru sebulan jadi anak pingit" sahut Sandra.
"Mau aku anak pingit, mau aku anak angkat terserah aku dong" Lika tak mau kalah.
Sandra mengangkat tangannya ingin menampar Lika, namun tiba-tiba mbak Lili datang.
" Non...Kenapa manggil saya?"
"Mbak Lili bantuin Lika buka ini dong, Lika baru dibawain oleh-oleh sama Mama" Lika memberikan sebuah gunting pada Mbak Lili.
"Wahh Non, kamar Non bakalan penuh dengan barang-barang mewah nih sepertinya" mbak Lili menyenggol lengan Lika.
"Hehehe...Gapapa mbak biar gak kelihatan kosong" sahut Lika.
Sandra yang merasa terabaikan pun keluar.
"Gitu kalo sesama gembel udah nyatu, kelihatan banget sih jiwa-jiwa kemiskinan merasuki" umpat Sandra.
__ADS_1
"Non Sandra kenapa tuh Non?" tanya Mbak Lili.
"Gatau mbak, biarin aja" jawab Lika.
"Non, mbak teh mau nanya ke Non Lika"
"Tanya apa mbak?"
"Non Lika kan dikasih uang jajan banyak sama nyonya, kenapa Non lebih betah dirumah aja gak ngapa-ngapain? Kenapa gak pergi belanja-belanja gitu Non atau apa istilah gaulnya kalo anak orang kaya main di cafe itu Non?" tanya Mbak Lili.
"Hangout? Belanja? Hahaha...Mau belanja apa coba mbak? Liat deh di kamar Lika, semua udah dibeliin sama Mama. Lika mau baca udah banyak buku, mau gambar udah banyak kertas dan Canvas, mau makan tinggal minta, mah dandan juga udah dibeliin mama. Jadi Lika harus belanja apa lagi coba" terang Lika.
"Tapi kan Non, bisa aja Non beli tas mewah, pakaian mahal atau perhiasan gitu non"
"Udah dibeliin Mama kok mbak, kalo mau pake perhiasan mending pinjem punya mama kan gak perlu keluar uang hahaha" jawab Lika tertawa.
"Salut mbak sama Non Lika, orangnya sederhana. Beda jauh sama Non yang tadi" ujar Mbak Lili.
"Hushh....Jangan ngeghibah" Lika menyenggol lengan Mbak Lili.
"Hehehe...Maaf Non, tapi beneran Non. Dulu Non Sandra pernah tinggal disini satu tahun karena orang tuanya diluar negeri sementara non Sandra masih kelas 12. Jadi mbak jadi pengurusnya juga, beda banget sama Non Lika, dulu mbak sibuk terus ngurusin Non Sandra. Beda jauh sama Non Lika yang cenderung mandiri, bahkan Mbak sampai gak punya kerjaan lagi disini. Perlakuan Non juga udah sama seperti temen sendiri ke mbak, gak kelihatan kalo Non Lika itu majikan mbak" tutur Mbak Lili.
Lika hanya manggut-manggut mendengarkan Mbak Lili. Ia juga bingung harus merespon apa.
"Mungkin karena Lika udah terbiasa hidup susah Mbak, kalo seandainya Lika terlahir kaya mungkin beda hahaha" ujar Lika.
"Non bisa aja. Ini banyak banget Non oleh-olehnya" sahut mbak Lili.
"Iya mbak" Lika tampak bingung memandangi semua barang-barang itu.
Mama Siska membelikan banyak sekali oleh-oleh untuk Lika, mulai dari makeup dan skincare, pakaian, sepatu, accessories dan makanan dari Korea.
"Yaudah mbak, bantuin Lika masukin ke lemari ya mbak. Bisa pingsan Lika ngerjain sendiri" Lika pun mulai merapikan pakaian terlebih dahulu.
"Susunannya kayak biasa ya mbak" lanjutnya lagi.
"Bagus sih Non kalo nyonya beli sebanyak ini, lemari non jadi gak kosong gitu" sahut Mbak Lili.
Mereka pun tertawa dan melanjutkan aktivitas mereka.
Setelah dari kamar Lika, Sandra duduk dilobi lantai dua rumah itu. Ia sangat tidak menyukai kehadiran Lika dikeluarga Tantenya.
"Gue harus secepatnya singkirin kutu itu dari rumah ini" batinnya.
Saat ia meminum teh yang diberikan pengurus, sebuah mobil yang tidak asing dimata Sandra masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
"Adi! Astaga aku udah seminggu gak liat wajah kamu sayang" gumamnya bahagia.
"Tapi dia kesini pasti mau ketemu sikutu itu, dasar menyebalkan!!! Kenapa semua orang memperhatikan dia" gerutu Sandra.
__ADS_1