
Para
kedua kubuh sudah memasuki lapangan Indoor, mereka berembuk sambil memikirkan
cara dan strategi bermain. Ronald selaku Capten Tim basket SMA SAKTI BANGSA sedangkan yang di seberang sana
terlihat seorang lelaki berbadan kekar sedang menatap sinis. Lalu ia beralih
menatap Angel sambil tersenyum penuh arti.
Seorang
lelaki yang tak begitu familiar dimata Angel. Tetapi ia hanya Acuh tidak mau
melihatnya. “Akhirnya aku bisa bertemu
dengan kamu lagi Angel. aku kangen sama kamu” gumam dalam hati lelaki itu.
Pertandingan
akan segera dimulai, para Capten Tim berhadapan serta ditengahnya wasit “disini
ada koin kalian berdua memilih salah satunya, Garuda atau Angka” wasit meminta
kedua tim untuk memilih, Ronald menunjuk salah satu. Setelah itu wasit memberi
aba-aba untuk memulai perbandingan.
Wasit
melempar bola kepada kedua Tim. Dengan sigap Ronald mengambil bola lalu
mendrible hingga saling melempar bola menuju tiang Ring. Angel mengambil tempat
menunggu bola dari Ronald, “Angel ambil” ia melompat tinggi lalu memasukkan
bola kedalam Ring.
Angel
berlari menunjuk keatas tanda ia sudah mencetak satu poin dalam pertandingan.
Pertandingan semakin meriah dengan bertambahnya Angka buat SMA NUSA BANGSA,
sorot mata lelaki itu menatap dalam pada Angel. Tetapi Angel tetap professional
dalam pertandingan.
“Ronald
kita tertinggal satu angka, Bagaimana lagi untuk mencetak poin” sahut Angel kawatir.
Ronald yang melihat wajah pucat Angel. “mendingan lo istirahat,” perintah
Ronald lebih kewatir. “Nggak, gue nggak apa-apa” elaknya. Pertandingan semakin
sengit di antara kedua Tim. “Bagaimana ini, apa aku bisa mencetak beberapa poin
lagi” ujar Angel.
Angel
mendrible bola ia mendapatkan celah, melompat tinggi lalu melemparkan bola
masuk kedalam ring. Dan beberapa saat kemudian Ronald juga menyusul satu poin.
Hingga Skor menjadi 60-59. Pluit di tiup tanda pertandiangan selesai. Semua
siswa bersorak bahagia termasuk Angel dan Anggota Tim lainnya.
Angel
keluar dari kerumunan siswa, ia merasakan sakit dibagian sekitar perutnya.
Matanya mulai berkunang-kunang seperti hilang keseimbangan. Jonathan yang
melihat sahabatnya dengan sigap menghampirinya.
Brukkk
Angel
seketika jatuh, “Angel” Panik Rey menghampiri Angel yang pingsan tidak berdaya.
“Jo, bantu gue bawa Angel kerumah sakit” angguknya “Ren, gue pinjam mobil lo.”
pintanya. Rey dan Jonathan membopong Angel membawa ke mobil Rendra.
Rendra
yang mengendarai motor Rey untuk menyusul kerumah sakit. “Angel kenapa lo bisa
pingsan. Lo kenapa?” Tanya Rendra kawatir. Rendra mengendarai motor dengan
kecepatan tinggi.
Beberapa
menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, tempat Angel selama ini di rawat.
Para suster dengan sigap menangani Angel dan membawanya ke UGD. “maaf mas,
tidak bisa masuk. Silahkan menunggu saja disini” perintah suster.
Tidak
lama Dokter Cleo keluar dari ruangan. “Rey, sebaiknya kamu ikut keruanganku”
pintanya yang dibalas dengan anggukan. “Jonathan, Abang keruang Dokter dulu,”
ucapnya.
“Bagaimana
keadaan Angel sekarang?”
“Bagaimana
bisa seperti ini?”
“Apa
kata dokter? Apa dia sudah siuman”
Pertanyaan
itu terlontar dari mulutnya, “Woii, satu-satu kenapa? Angel sedang ditangani
didalam. Dan Abang Rey sedang menemui Dokter. Gue tahu lo panic sama kayak gue
panic juga. Lebih baik kita menunggu disini. Sampai Angel siuman” saran
__ADS_1
Jonathan.
Mereka
duduk di ruang tunggu, Jonathan yang melihat dari kaca menatap cemas pada
sahabat sekaligus orang yang ia cintai selama ini. “Angel apa yang terjadi pada
diri lo? Belum pernah gue melihat lo begini? Apa yang lo sembunyiin dari kita”
Tanya pada dirinya sendiri. Menghembuskan nafas panjang. “Sebenarnya Angel
sakit apa?” Tanya Rendra sambil merangkul Jonathan “Aku nggak tahu” jawabnya
tanpa melihat Rendra yang ikut berdiri di sampingnya.
“Rendra,
Jonathan. Apa Angel sudah siuman?” Tanya Rey yang sudah ada di belakang mereka.
“Belum kak”
“Sebenarnya
Angel sakit apa kak? Sampai pingsan begitu dan belum siuman sampai saat ini”
Tanya Jonathan penasaran.
Rey
bingung harus jawab apa? Tetapi Rey hanya diam di hadapan kedua sahabat adiknya
itu. Angel pernah berpesan pada Kakaknya agar tidak memberitahukan siapapun
termasuk pada sahabatnya.
“Bang, gue punya permintaan tetapi
Abang harus janji dulu ke Angel” Pinta Angel yang dibalas anggukan oleh Rey.
“Emang permintaanmu apaan Dek?” Tanya Rey. “Bang gue mohon jangan beritahu
siapapun tentang penyakitku, termasuk Rendra dan Jonathan. Gue mohon Bang.”
Mohon Angel, Rey hanya diam lalu memberikan senyum tipis pada adiknya. “Iya,
Abang akan memenuhi permintaanmu itu”
“Angel
nggak apa-apa, cuman butuh istirahat doang. Kalian tidak usah cemas” jawab Rey
bohong. “Kalau Angel hanya butuh istirahat, gue pamit dulu. Soalnya gue ada
janji.” Pamit Rendra
“Lo
tuhh ya Ren. Sahabat kita lagi sakit main pergi gitu aja” kesal Jonathan,
“Hmmm, Angel akan di pindahkan ruang rawat” tambah Rey.
Angel
kini berada di ruang rawat, ia masih terlelap dalam tidurnya. Jonathan yang
berdiri disampingnya. “gue nggak tahu, kenapa lo bisa seperti ini. gue mohon lo
“Rendra,
gue sayang sama Lo.”
“Rend
gue harap lo tahu”
“Rend
lo dimana?”
Angel
mengigaui, Jonathan bernafas panjang hatinya sakit saat melihat orang ia
sayangi menyebut nama orang lain bukan dirinya. “Segitu cintanya lo sama dia.”
Ucap lirih setelah mendengar mengigau Angel saat tidur.
Jonathan
memilih untuk keluar dari ruang rawat Angel. Perasaan dan hatinya hancur
seketika saat mendengar ucapan Angel saat mengigau, entah apa yang ia lakukan
saat ini. Jonathan hanya bisa memendam dalam hati. Ia juga tidak ingin
kehilangan sahabatnya saat ia tahu perasaan yang sebenarnya.
Jonathan mengetahui perasaan Angel
terhadap Rendra pada saat Rendra telah resmi menjadi kekasih Sandra. Langkah
Jonathan terhenti saat melihat sosok yang tidak familiar sedang duduk
sendirian. Melepas earthphone yang melekat di kepala dan menghampirinya.
“Woiii, Ngapain duduk sendirian?”
Tanya Jonathan mengagetkan Angel “Jojo, bisa nggak sihh. Tidak kagetin”
kesalnya “Abisnya lo ngapain duduk sendirian lagi?” ulang Jonathan.
“Nggak apa-apa” jawabnya sekenanya
“Nggak apa-apa gimana? Mukanya
kusut kayak baju belum setrika” tukas Jonathan mengamati Angel. Yang sedang ada
hal ia sembunyikan dari sahabatnya. “Gue ini sahabat lo, jadi gue tahu kapan lo
ada masalah dan tidak. Jadi lo ngomong masalah lo apaan. Gue akan siap berada
di samping lo” jelas Jonathan menawarkan diri menjadi pendengar setianya.
Angel menghembuskan nafas panjang,
“Gue patah hati, Jo” Jonathan terkejut, “Patah hati? Sama siapa?” Tanya
Jonathan penasaran. Angel masih terdiam, “Rendra,” satu nama yang membuat
Jonathan sesak saat medengarnya. “Re-Rendra” ulang Jonathan gagap.
__ADS_1
“Iya, Rendra. Dia sudah jadian
dengan Sandra. Dan tak tahu kenapa hati gue sakit” jawabnya lirih
Jonathan mendekat lalu memeluk
Angel dan memberikan kekuatan padanya. “Gue lebih sakit Angel” lirih Jonathan
dalam hati.
Medengar
suara deringan ponsel Jonathan segera mengeser slide di ponselnya.
“Hallo,
iya Bang” sapanya di seberang sana
“….”
“Gue
segera kesana Bang” setelah mendapat kabar berita, ia beranjak dari bangku
taman di sekitar rumah sakit. Dengan langkah cepat ia menuju ruang rawat.
Ceklek
Suara
pintu terbuka membuat Angel menoleh seketika. “Lo sudah sadar. Abis bermimpi
ama siapa?” Tanya Jonathan meledek. Angel tersenyum lebar. “Apaan sihh Jojo.
Abis mimpi ke planet mars” jawab Angel polos. “Bukannya nanya kenapa. Kawatir,
gimana keadaan. Ini Tanya abis mimpi apaan. Kepooo amat lo” kesalnya. Jonathan
senang akhirnya sahabat sekaligus orang yang ia sayangi bisa siuman. “Lahh lo
ngapain senyam senyum tidak jelas begitu?” lanjut Angel.
“Bang,
kenapa bisa memiliki adek kayak begini? Tanya Jonathan, Rey menyerngit dahi,
melihat tingkah adiknya serta sahabatnya. “Bang, apa gue bisa pulang sekarang.
Gue males berada disini” pinta Angel memelas. “Kata Dokter Cleo, lo bisa pulang
asal banyak istirahat” Angel hormat pada Rey. “Siap Boss”
“Abang
sudah pesan Taksi, lo pulang bareng Jonathan ya. Biar gue naik motor. Jo, inget
jaga adik gue.” Perintah Jonathan yang dibalas anggukan olehnya. “Tanpa Abang
bilang gue akan jagain” gumamnya masih bisa didengar oleh Angel. “Lo bilang apa
tadi?” Jonathan melongo entah ia harus jawab apa.
“Angel,
sudah kuat apa harus gue gendong?” Jonathan mengalihkan pembicaraan. “tidak
usah, gue kuat kok, Yuk” ajaknya berjalan yang di tuntun oleh Jonathan.
“Jo, gue bingung dengan sikap lo
yang selalu care sama gue. Gue juga bingung dengan sikap lo yang acuh terhadap sesuatu.”Pikir Angel masih menatap Jonathan yang menuntunnya, “Lo selalu ada buat gue disaat gue butuh seseorang. Dan itu bukan
Rendra tapi lo” lanjutnya dalam hati.
Keheningan
terjadi, Jonathan hanya diam menatap jendela, sesekali Angel menoleh melihat Jonathan
yang terus menatap luar. Taksi yang membawa mereka pulang dari rumah sakit.
Angel tahu bahwa jonathan adalah orang cuek bahkan ia jarang bicara. Hanya
kadang juga suka lelucon, kadang juga membuat hal konyol. Sikap Jo yang juga
berubah-ubah.
Jonathan
dan Angel telah sampai dirumah, Jonathan keluar dari mobil ia bergegas membuka
pintu mobil lalu menuntun Angel masuk kedalam rumah. Orang tua Angel duduk di
ruang tamu ia terkejut melihat keadaan Angel yang masih lemas.
“Angel
kamu kenapa Nak, kok bisa seperti ini?” panik Renata, dan membawa Angel duduk.
“Maaf tante, om tadi Angel pingsan di sekolah. Jadi aku dan Bang Rey membawa
kerumah sakit. Tapi Angel sudah di suruh pulang. Dan Angel hanya butuh
istirahat” jelas Jonathan. “Angel kamu tidak kenapa-kenapa kan Nak” kewatir
Renata terhadap anak bungsunya.
“Makasih
ya Jo” ucap Martin tulus
“Sama-sama
Om. Itu sudah kewajiban aku sebagai sahabatnya Angel” kata Jonathan tulus.
“Angel,
Om, Tante. Aku balik dulu” pamit Jonathan sambil menyalami kedua orang tua
Angel.
Jonathan
kini berada di rumah tepatnya sedang berada di kamarnya. Di otaknya masih
terngiang dan masih bertanya-tanya tentang kejadian tadi siang, Angel yang
pingsan secara tiba-tiba. Setahu Jonathan sahabatnya tidak ada sakit apapun.
Tetapi kenapa perasaannya aneh, sepertinya ada yang di sembunyikan. Jonathan
hanya menatap bulan yang begitu terang. Lalu bertanya padanya.
__ADS_1