
"Mama mau masak apa?" ujar Lika melihat Rina memetik tangkai cabai.
"Mau masak ikan, tadi Steven mancing" sahut Rina.
Lika pun menghampiri Rina dan membantu.
"Mama istirahat aja, biar Lika aja yang masak" tukasnya.
"Kan kalian baru sampai, istirahat saja dulu" Rina melirik Adi yang sibuk dengan perapian.
"Tenang aja ma, Lika gak capek kok" Lika meyakinkan.
"Emang kamu masih ingat masak? Semenjak jadi tuan Putri emang masih pernah ke dapur?" goda Rina.
"Hehehe...Gak pernah sih ma, pengurus di rumah itu gak bakalan ijinin aku masuk dapur. Menyebalkan!" Lika memutar bola matanya mengingat selalu ada perdebatan dengan kepala pengurus jika ia ingin masuk ke dapur kotor.
"Lalu kalau begitu gimana ya cara anak perempuan mereka belajar masak? Nanti di rumah suaminya siapa yang masak?" Rina tampak berpikir keras untuk itu.
"Ya pengurus jugalah ma" sahut Lika disambut tawa mereka.
"Yasudah kalo mau masak, mama ngurusin ternak dulu dibelakang ya" pamit Rina.
"Siap" Lika mengacungkan jempol.
Lika dengan sigap memetik sayur-sayuran hijau hasil dari kebun mereka untuk diolah menjadi makanan. Ia terlihat sangat lihai mengerjakannya. Diam-diam Adi ternyata memperhatikan Lika dari perapian.
"Kamu gak kedinginan?" ujar Adi.
Lika menoleh kearah Adi yang tak ingin beranjak dari tempatnya. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya sebenarnya kasihan melihat kondisi Adi. Tak disangka Adi yang selalu kuat dan menyebalkan akan kalah oleh suhu dingin.
"Mau dibantu gak?" Adi menawarkan diri.
"Enggak usah deh, kamu disitu aja sampe badan kamu hangat. Nanti aku buatin wedang jahe juga supaya gak masuk angin" jawab gadis itu.
Lika tampak menawan dengan senyumnya. Dibalik sikap Lika yang selalu galak dan bawel pada Adi, Lika adalah sosok keibuan dan penyayang.
"Makasih ya dik" ujar Adi tulus dan disambut senyuman manis dari Lika.
"Ehh kalian sudah sampai?" seorang laki-laki masuk dan membawa setandan pisang yang masih berwarna hijau.
"Bapak!" Lika menghampiri laki-laki itu dan memeluknya tanpa merisaukan pakaian orang itu yang kotor.
"Ehh anakku. Jangan langsung peluk bapak, nanti bajumu kotor" Anton mengelus kepala Lika.
"Ahh gak penting itu! Bapak mau teh hangat gak? Tadi Lika bawain bakpia loh dari Yogyakarta" tawar Lika.
"Kau memang anakku paling baik. Buatkan sajalah, bapak mau mandi dulu. Oh iya, ini si Andri abangku itukah?" Anton melirik ke arah Adi.
"Bukan pak, ini bang Adi temennya bang Andri. Tadi bang Andri tiba-tiba ada urusan makanya gak jadi berangkat, tapi bakalan nyusul kok" terang Lika. Adi bangkit dan mencium tangan Anton.
"Pucat sekali wajah kau nak, kedinginan?" Anton memperhatikan Adi dari atas sampai bawah.
"Iya Om, sedikit" jawab Adi malu-malu.
__ADS_1
"Kau suruhlah dibuatkan wedang sama adikmu itu, wedangnya top" Anton mengacungkan jempolnya.
"Iya Om, terimakasih" jawab Adi.
Anton pun pun berlalu meninggalkan mereka untuk membersihkan diri. Dalam hatinya Anton menyimpan curiga pada Adi bahwa Adi bukan hanya sekedar teman Andri, tetapi ada hubungannya juga dengan Lika.
Lika mendekati Adi dan memegang dahinya. Terlihat sebuah kekhawatiran diraut wajah Lika.
"Abang istirahat dulu yok pake selimut. Nanti sakit loh! Abang tidur dikamar Lika aja dulu ya" Lika memegang tangan Adi yang sangat dingin.
"Abang baik-baik aja kok dik, asal kamu jangan dingin sama abang" goda Adi.
"Masih sempat ya godain aku!" wajah Lika Morina dan mendorong Adi.
Adi hanya tertawa kecil melihat tingkah Lika.
"Anak ini malu-malu mau" gumamnya.
"Apa Abang bilang?" Lika menyorot tajam.
"Gak papa" sahutnya.
Sore itu Lika kembali menjadi gadis biasa. Ia membantu memasak dan berberes rumahnya. Ia juga membuatkan wedang jahe merah untuk mereka sekeluarga. Lika terlihat sangat perhatian kepada Adi saat itu. Ia khawatir dengan keadaan Adi semenjak tiba di desa. Saat makan malam, Adi juga tampak kebingungan karena hidangannya berbeda dengan yang biasa ia makan dirumah.
Setelah makan malam, mereka duduk santai didepan rumah sambil menikmati oleh-oleh yang dibawa oleh Adi dan Lika ditemani wedang buatan Lika.
"Kalian gak mandi?" tukas Rina tiba-tiba.
"Dingin ma, gak berani mandi. Apalagi bang Adi, cuci tangan aja takut tadi hahaha" jawab Lika disambut tawa mereka semua.
"Kalo kalian sebulan disini, berarti kalian gak mandi selama sebulan?" ledek Steven.
"Ya gak juga lah Stev!" tukas Lika
"Lagian memang dingin hari ini karena turun hujan. Dari pagi tadi sudah mendung" terang Anton.
"Ehh aku lupa ma, Mama Siska nitip oleh-oleh buat Mama tadi. Yuk liat" Lika memegang tangan Rina untuk masuk. Steven yang kepo pun ikut masuk dan tinggallah Adi dan Anton.
"Kau sudah semester berapa?" tanya Anton sambil menghisap rokoknya.
"Semester akhir Om, Agustus nanti saya wisuda" sahut Adi bangga.
"Orangtua kau kerja apa di Jogja?" tanyanya lagi.
"Papa pengusaha restoran dan meubel Om dan Mama ngurus beberapa panti asuhan" terang Adi.
"Ohh begitu. Lalu kau dengan anak saya itu pacaran?" Anton kini menatapnya serius.
Adi pun tersentak. Bagai dihujani panah api rasanya mendengar pertanyaan itu.
"Be..belum Om" jawab Adi terbata-bata
"Kau suka dengan anak saya?" Anton menatap ke langit-langit rumahnya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya iya Om" Adi menghela nafas panjang.
"Baik-baiklah kalian kalau berhubungan. Jaga nama baik keluarga dan jaga kepercayaan keluarga dan diri masing-masing" Anton menepuk pundak Adi.
Sementara didalam kamar Lika,
"Ini apa nak?" tanya Rina.
"Gatau ma, itu dari Mama Siska" jawab Lika.
"Buka lah ma, manatau bom" tukas Steven.
Lika hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan adiknya itu. Sementara Rina membuka pita kotak kecil itu dan melihat isinya. Sebuah kalung berlian mungil tampak berkilau terkena cahaya lampu.
"Astaga cantik banget" tukas Lika.
"Berlian?" tanya Rina.
"Ini yang kemarin Mama Siska beli di Paris ma, bagus banget" terang Lika.
Rina mendadak lesu dan sedih.
"Mama kenapa?" tanya Lika.
"Mama sedih nak, mama seperti menjual anak mama" Rina memeluk Lika dan cairan bening mengalir dari matanya.
"Astaga Mama gak boleh ngomong gitu ma, Mama gak jual Lika kok. Liat sekarang aku disamping Mama, mereka gak pernah melarang aku buat komunikasi sama Mama. Mereka juga mempersiapkan segala sesuatu ketika aku mau pulang kesini ma. Kita itu seperti keluarga baru yang diterima oleh mereka, bukan cuman aku tapi kita semua" Lika mencoba menenangkan mamanya.
Seperti yang dikatakan Lika, keluarga Hermawan tak pernah memberi batasan pada Lika untuk berkomunikasi dengan keluarga kandungnya. Mereka juga menerima keluarga Lika seperti mereka menerima Lika.
"Kalo Steven udah besar nanti aku juga mau kek kakak jugalah" ujar Steven sambil menimang-nimang kalung berlian itu.
"Sini, sini kalungnya. Itu punya mama" sahut Lika.
"Ya elah pelit amat sih kak. Aku mau makan dodollah diluar sama bapak" bocah itu merajuk dan meninggalkan mama dan kakaknya.
Lika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu. Ia lalu memberikan kalung itu pada Mamanya.
"Kamu juga kelihatannya pakai barang-barang mahal ya sekarang nak, mereka sepertinya sangat sayang sama kamu" Rina melihat-lihat pakaian Lika dan kalung berlian yang digunakannya.
"Tapi kalung ini bukan dari Mama Siska ma, ini dari bang Adi" Lika memelankan suaranya.
"Sudah kuduga kalo Adi pacarmu dari tadi" Rina mencolek pinggang Lika.
"Bukan ma, ya ampun mama ini" Lika menggaruk kepalanya frustasi.
"Sudahlah tak usah bohong-bohongan ke mama. Sekarang lebih baik kita tidur, besok banyak kerjaan yang harus dikerjakan" Rina pun menyimpan berlian itu kembali ke kotaknya.
Lika memanyunkan bibirnya kesal karena mamanya tak percaya kalau Adi bukan pacarnya. Tampaknya Lika dalam masalah. Lika pun tidur dalam selimut yang sangat tebal dan betumpuk-tumpuk agar terasa hangat.
Setengah jam setelah Lika terlelap, Adi pun pamit pada Anton untuk tidur. Adi melirik keseluruhan ruangan rumah itu mencari Lika namun ia tak melihatnya. Ia pun masuk kedalam kamar Lika dan merebahkan tubuhnya. Selimut yang bertumpuk-tumpuk membuat Adi tak sadar bahwa Lika telah terlelap dibawahnya. Ia pun masuk kedalam selimut itu dan menutup matanya.
Tak ada yang menyadari kejadian itu karena semua sibuk dengan urusan masing-masing. Orangtua Lika berpikir bahwa Adi beristirahat di dalam kamar Steven.
__ADS_1