Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 32


__ADS_3

Pagi-pagi Lika sudah bangun dan membersihkan dirinya. Ia merasa sangat bugar setelah beristirahat dari aktivitas padat kemarin.


"Bang Andri...Bangun bang...Bangunnnn" Lika menarik selimut dan memencet hidung Andri.


"Apasih adekkk...Sepuluh menit lagi deh" Andri menutup wajahnya dengan selimut.


"Bang Andri...Bangunnnn" Lika merengek menarik-narik selimut.


Andri pun bangun dan duduk menghadap Lika. Tatapannya dingin membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Gabut banget sihh pagi-pagi udah gangguin orang" Andri menarik hidung Lika hingga Ia menjerit.


"Aaaauuuuuu" Lika memegangi hidungnya yang memerah.


"Rasain!!!" Andri pun berbaring kembali dan menutupi wajahnya.


"Bang Andri kok tidur lagi sih? Bang Andri...Padahal aku mau minta kado dari abang lah" gadis itu mengecilkan suaranya berharap Andri akan luluh.


"Shit! Gue lupa beli kado" batin Andri.


"Bang Andri pasti lupa" ujar Lika kecewa.


Andri membuka selimut yang menutupi wajahnya. Lika sudah keluar dari ruangan itu meninggalkannya. Gadis itu pergi dengan perasaan kecewa karena Andri melupakan kadonya.


"Gue dalam bahaya, bisa-bisa gue diacuhkan satu bulan kedelapan sama Lika" Andri frustasi. Andri mengacak-acak rambutnya dan mengutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Ia bisa lupa membeli kado padahal seminggu ini sibuk mengurusi ulang tahun Lika.


"Sayang, mukanya kok ditekuk gitu?" tanya Siska.


"Gapapa ma, Lika hanya lelah" sahutnya lesu.


"Anak Papa luntur manisnya kalo ditekuk gitu, ayolah jangan begitu" bujuk Hendra.


"Enggak kok pa" Lika berusaha tersenyum walaupun terpaksa.


"Papa dan Mama sudah belikan kamu kado, mudah-mudahan kamu suka ya. Maafkan papa gak tau kesukaan kamu sayang" Hendra memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah muda.


"Wahhhh ini apa Pa?" wajah Lika mendadak berubah menjadi ceria. Ia langsung membuka pita kota itu.


"Kunci?" Lika menatap heran.


"Mudah-mudahan kamu suka ya sayang. Oh iya, papa akan segera berangkat ke Papua pagi ini. Kamu baik-baik ya sama mama" Hendra menyudahi sarapannya.


"Makasih ya pa, hati-hati Papa disana" Lika mencium tangan Hendra.


Hendra pun berlalu meninggalkan mereka berdua dan berangkat diantar oleh supir ke bandara.


"Ma, ini kunci apa?" Lika masih melihat-lihat kunci kado dari orangtua angkatnya itu.


"Mobil" jawab Siska spontan.

__ADS_1


"Tapi Lika kan gak bisa bawa mobil ma, gimana mama dan papa bisa punya pikiran beliin Lika mobil" Lika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kan tinggal belajar sayang, ada bang Andri yang bisa ajarin kamu" sahut Siska.


"Iya Abang kan ada" Andri tiba-tiba muncul dan duduk disamping Lika.


"Mending gak usah bawa mobil!" Lika beranjak dan meninggalkan sarapannya.


"Sayang, kok gak dihabisin sarapannya?" tanya Siska khawatir dengan sikap Lika yang tidak biasanya.


"Ehh jangan ngambek dong tuan Putri abang, siapa bilang Abang lupa beliin kami kado? Abang udah punya kok" Andri menaikkan tangannya di depan dada.


Lika menatap tajam ke arah Andri. Tatapan yang dapat membunuh siapapun yang memandang.


"Sini sini duduk lagi yang dedek yang paling aku sayang" Andri menarik tangan Lika dan menuntunnya agar duduk.


"Kalian kenapa sih" Siska menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo habisin sarapannya, nih kadonya" Andri mengeluarkan selembar kertas.


"Apaan kado cuman kertas? Mama bang Andri jahat banget sihh" Lika merengek meminta pembelaan.


"Buka dulu kadonya" Andri menarik telinga kiri Lika.


"Andri jangan gitu sama perempuan, mama gak suka" Siska menatap tajam ke arah Andri.


Lika pun mengambil kertas didepannya dan membuka lipatannya.


"Wahhh kartu peserta kontes designer, atas namaku lagi" mata Lika berbinar.


"Keren kan?" Andri menyombongkan dirinya.


"Tapi ini baru Abang daftar hari ini kan? Jangan bohong sama Lika"


"Duhhhh.... Maafin Abang dong dek" Andri mengelus-elus tangan Lika dengan raut wajah yang meminta dikasihani.


"Berhubung kadonya bagus jadi aku maafin, tapi..."


"Tapi apa?" Andri menyela perkataan Lika.


"Bang Andri harus jadi asisten pribadi Lika seharian" Lika tersenyum jahat.


"Ohh Tuhan...Habislah aku hari ini. Ma, gak ada kompensasi buat Andri ma? Anak laki-laki kesayangan mama bakal dikerjain sama iblis mungil ini" Andri mengedipkan mata kepada Siska berharap bantuannya.


"Kan salah kamu" sahut Siska cuek.


"Mama...." Andri kehilangan harapan.


"Udah mendingan Abang sarapan, banyak kerjaan hari ini. Lumayan kan mbak Lili bisa istirahat hari ini" ujar Lika sambil menyantap sereal gandum di mangkuknya.

__ADS_1


"Dasar Iblis!!!" umpat Andri.


"Mama liat bang Andri" Lika berakting seolah-olah dia adalah korban.


"Andri...Jangan buat mama pusing" sahut Siska.


"Iya iya...Kalian perempuan kalian rajanya" Andri menelan paksa sereal yang ada di depannya.


"Ma, Lika boleh gak belanja hari ini?" Lika mengedipkan matanya.


"Boleh dong sayang, boleh banget malah" Siska mengelus-elus rambut Lika mengisyaratkan kode dari Lika.


"Boleh sayang, hajar aja semau kamu. Mama serahkan semuanya sesuai kemauan kamu" begitulah kalimat itu terdengar dikepala Andri.


"Gue dikerjain dua wanita iblis sekaligus pagi ini. Papa kenapa cepet banget sih berangkatnya" keluh Andri dalam hati.


"Suka-suka tuan putri dan yang mulia ratu" ujar Andri. Andri hanya bisa menghela nafas pasrah menghadapi dua wanita itu memperlakukannya. Bagaimanapun juga mereka adalah wanita-wanita cantik kesayangan Andri.


Setelah selesai makan Andri melangkah ke halaman belakang. Disana terdalat kolam ikan hias dengan ukuran 2x2 dengan banyak ikan hias mahal koleksi Hendra, ayahnya.


Andri mengambil semangkuk pelet ikan dan sebuah kursi plastik. Ia duduk ditepi kolam tersebut dan mulai menabur pelet itu dikolam. Ikan-ikan itu berenang kesana-kemari berebut makanan yang diberi Andri.


"Bang Andri ngapain?" Lika tiba-tiba sudah berada disamping Andri dan memperhatikan ikan-ikan yang sedang makan.


"Ada perintah tuan putri?" ledek Andri.


"Kapan disini ada ikan ya? Kok aku selama ini gak tau ada ikan disini. Ikannya warna-warni. Uhh gemasss" Lika nyerocos mengabaikan perkataan Andri.


"Kamu suka ikan?" tanya Andri.


"Lika punya ikan di kampung bang, tapi ikannya gak warna-warni gini. Ikannya ikan sawah" Lika tertawa kecil.


"Itu mah gurame, ikan mas" jawab Andri.


"Ini mirip kok" sahut Lika dan berusaha menangkap seekor ikan.


"Ini bukan ikan mas hahaha" Andri tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan Lika.


"Iya ya? hihihi" Lika tertawa malu.


Sementara dibalik pintu, ternyata Sandra sudah memperhatikan mereka sejak Lika menghampiri Andri. Sandra sangat geram dengan Lika.


"Semuanya loe rebut ya jal*ng!!" gumamnya. Lalu Sandra meninggalkan mereka menuju gudang rumah itu.


Sandra mengambil sebuah kotak berisi racun tikus. Saat Lika dan Andri meninggalkan halaman belakang, Sandra pun menuju kolam itu.


"Jadi ini yang loe suka Lika? Gue hancurin! Ini baru permulaan, loe tunggu giliran loe sama seperti ikan-ikan ini" gumannya. Ia menuang seluruh racun yang ada di kotak itu setelah memastikan tidak akan ada yang melihatnya.


"Gue pastikan semua ikan ini mati!" Sandra meninggalkan kolam ikan tersebut tanpa meninggalkan jejak apapun.

__ADS_1


__ADS_2