
"Cieeee" ledek Lia.
"Ngeri ya guys...Udah tiba-tiba jadi anak sultan, eh ternyata gebetannya makin Deket lagi" tambah Mia.
"Iya kan, bukan kaleng-kaleng" sahut Adel.
"Jangan lupa ya PJ nya nanti kalo udah jadian" timpal Lia lagi.
"Apaan tuh PJ?" tanya Lika mengerutkan keningnya.
"Pajak Jadian" jawab mereka serentak.
"Sttttttt...." jangan kuat-kuat. Kamarnya bang Andri disebelah tau" Lika langsung menutup pintu kamarnya.
"Lik, ini kamar kamu sendiri?" tanya Adel terpukau.
"Iya dong, masa bareng bang Adi hahaha" jawab Lika bergurau.
"Gede banget ***....Bisa main futsal disini" Adel menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Iya kan...Gede banget. Ehh liat foto kita juga ada di rumah sultan geng" Ria mendekat ke arah foto-foto yang dipajang Lika.
"Ternyata setelah jadi sultan kawan kita belum lupa daratan, masih belum bisa dia berenang" Mia duduk disebuah kursi santai.
"Gak nyambung!!!" sahut mereka serentak.
"Lahh kan betul" Mia memelas.
"Udah udah ahh, bentar ya aku mau turun ambilin makanan. Oiya buat makan malem kalian mau makan apa?" tanya Lika.
"Apa aja yang penting makan enak dan banyak" jawab Ria.
"Setuju, sepakat. Hidup mahasiswa!" sahut Lia.
"Guys...jangan ribut-ribut. Ini perumahan elit loh, gak ada orang bar-bar disini" ujar Widia tiba-tiba.
"Iya Wee...Nanti kita diusir dari sini" sahut Ana sambil tertawa kecil.
"Oo..Berarti kalo dirumah sultan kita harus elegan-elegan gitu?" Mia mulai lagi bertingkah seolah tak pernah kehabisan kata-kata.
"Berarti agak-agak merasa sultan aja dulu kita satu malam ini ya kan, biar gak diusir" sahut Rossa.
"Harus kek gitu memang?" tanya Adel polos.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Adel.
"Enggak kok Del hahaha...Yaudah bentar ya" sahut Lika.
Lika kemudian keluar dari kamarnya dan menuju dapur bersih. Lika tak pernah diijinkan oleh pengurus untuk datang ke Dapur kotor sehingga Ia hanya bisa meminta untuk dibuatkan sesuatu.
"Non Lika mau kemana?" Mbak Lili tiba-tiba muncul disamping Lika.
"Mau kedapur mbak, ada perlu" sahut Lika tersenyum.
"Kenapa gak hubungi mbak aja Non, mbak kan bisa yang nganter ke atas"
"Gapapa kok mbak, Lika sekalian olahraga. Yaudah yuk ke dapur mbak, Lika butuh bantuan mbak bawain sesuatu"
"Iya Non"
Sesampai di dapur, kepala pengurus rumah itu langsung menyadari kedatangan Nona Mudanya.
__ADS_1
"Perlu apa Non?"
"Bu, Lika mau cemilan yang banyak hihihi" Lika tertawa malu.
"Oh boleh Non, lagi Non?"
"Oh iya, nanti malem masakin Semur ayam sama Rica-rica ya Bu. Lika pengen makan itu. Oh iya Bu, temen-temen Lika juga nginep, ada 7 orang" terang Lika.
"Iya Non"
"Satu lagi bik, kan ada salad buah kesukaan aku kan? Anterin juga ya Bu buat kami hihihi. Banyak banget permintaan Lika mah" Lika tertawa sambil menutup mulutnya.
"Baik Non"
Lika mengangguk menyudahi percakapannya dengan kepala pengurus itu.
"Mbak, langsung bawain salad keatas sekarang ya" pinta Lika pada mbak Lili.
Mbak Lili mengangguk dan menuju dapur mengambilkan permintaan majikannya itu.
"Banyak banget makanannya, tapi badan kurus gitu" ujar Adi.
"Dari mana sih munculnya ni alien, buat kesel aja sih" batin Lika kesal.
Lika tiba-tiba tersenyum licik dan pergi berlalu meninggalkan Adi tanpa berkata apapun. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Tok tok...
"Masuk" ujar Lika.
Mbak Lili dan dua pengurus lainnya membawa banyak sekali cemilan. Mata mereka terbelalak melihat begitu banyak makanan yang dihantarkan.
"Makasih ya" Ujar Lika.
"Hajarrrr" Mia langsung mencomot sebuah kue brownies coklat.
"Kau lapar apa doyan?" ujar Ria meledek Mia.
"Itulah kan...Kapan lagi kita makan makanan sultan? Udah bosan makan mie terus di kost ***, pengen ganti menu makanan sehat dan bergizi plus mahal" terang Mia sambil melahap kuenya.
Lika hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan teman-temennya. Ia juga maklum karena awal Lika masuk rumah itu, Ia pun sama seperti mereka. Namun lama-kelamaan Ia bosan sendiri juga.
"Salad ***, cocok buat aku yang diet" ujar Widia.
"Aku mau dong" Ana mengambil satu cup.
"Harus habis ya" Lika tersenyum.
"Aman kalo menghabiskan, tambah satu porsi sebanyak ini lagi pun masih bisa" sahut Mia.
Ria memukul kepala Mia dengan sebuah boneka.
"Mulut kau bangke, kontrol dikit" ucapnya.
Mereka semua tertawa melihat dua sahabat mereka yang memang seperti anjing dan kucing. Dimanapun dan kapanpun selalu ribut.
Ketika malam hari Adi berpamitan pulang kepada Papa Hendra. Ia langsung turun tanpa pamit pada Lika seperti biasa karena didalam kamar Lika sedang ramai oleh teman-temannya. Bukan karena takut, tapi Ia sendiri tidak akan punya kesempatan untuk modus.
Saat tiba di depan pintu, Adi terbelalak melihat ban mobilnya tidak ada.
"Shit! Mana ban mobil gue?" Adi mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Adi mengelilingi mobil itu mencari keberadaan ban, namun dalih menemukan ban ternyata semua ban mobilnya dicopot.
Adi mengepalkan tangannya kesal.
"Siapa yang ngerjain gue!!" kepalanya mulai panas hampir meledak. Kemarahannya sudah hampir diubun-ubun.
Adi pun naik lagi ke kamar Andri dan mengadukan nasibnya itu. Andri hanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Adi. Nampaknya Andri mengerti apa yang sedang terjadi.
"Gue bilang apa bro, jangan cari gara-gara sama Lika. Walaupun loe liat dia polos gitu kalo masalah ngerjain orang loe mah cuman kacang" Andri masih tak bisa menyudahi tawanya.
Adi yang sudah emosi langsung pergi dan menggedor-gedor kamar Lika.
"Lika...Lika..." Adi menggedor semakin kuat.
Andri pun menarik paksa Adi masuk kembali kedalam kamarnya. Ia takut akan terjadi peperangan antara Adi dan Lika. Andri sendiri tak akan menyangka kejahilan Lika akan memcapai level maksimal seperti itu.
"Lik, kenapa gak dibuka tadi pintunya digedor-gedor gitu" ujar Ana.
"Udah biarin aja hahaha. Gak ada yang berani gedor-gedor kamar aku sekuat itu kecuali bang Adi. Pasti dia ngamuk karena tadi aku kerjain Hahah" Lika tertawa geli membayangkan raut muka Adi saat itu.
"Emang kamu apain Lik?" tanya Widia penasaran.
Mereka pun mendekat untuk memulai ghibah yang sepertinya menarik.
"Tadi aku suruh pengurus garasi pretelin mobil dia. Bannya juga aku suruh sembunyikan" Lika masih tertawa geli.
Mereka spontan tepuk tangan takjub dengan kejahilan Lika.
"Gebetan yang selama ini buat galau sekarang dikerjain habis-habisan" ujar Rossa.
"Biarin aja deng. Siapa suruh dia ganggu aku terus hahaha" jawab Lika.
'Emang kamu gak suka lagi Lik? Nanti tiba-tiba galau" ujar Widia.
"Suka sih, tapi aku tuh kesel sama tingkah dia tau gak. Dia itu hobi banget buat aku bete"
"Manatau dia emang lagi cari perhatian kamu Lik, bisa jadi juga loh dia suka sama kamu" sahut Widia lagi.
"Up lah guys, gak ngerti. Aku jomblo dari zigot" sahut Lia.
"Aku penasaran dia ngapain sekarang, apa dia beli mobil baru aja langsung ya kan" ucap Lika.
"Bisa jadi, sultan hahaha" sahut Mia.
"Tapi aneh gak sih, bang Adi dan bang Andri itu kalo ngampus gak kelihatan orang kaya loh. Mereka cuman pake motor, itupun sama kayak motor yang dipake mahasiswa lain. Gak kelihatan kalo mereka crazy rich" terang Adel.
"Iya hahaha...Aku aja heran. Tapi aku dipaksa pake mobil sama Mama, cuman aku males wkwk. Soalnya gak tau nyetir mobil, kalo pake supir males banget" sahut Lika.
Sementara dikamar Andri, Adi tak henti-hentinya memaki Lika karena sangat kesal. Adi sudah menghubungi orangtuanya jika Ia akan menginap di rumah Andri malam ini.
"Sumpah ya bro, pengen gue remes adik loe jadi tape. Emosi gue" ujar Adi masih kesal.
"Aku bisa apa atuh" sahut Andri tertawa.
"Gue gak nyangka bakal dikerjain seapes ini"
"Ya itu salah loe juga cari gara-gara sama dia" sahut Andri.
"Gila!!! Adik loe gila" Adi frustasi.
"Daripada loe kesel mending loe mandi sana, dinginin kepala loe. Gue mau turun beresin mobil loe. Lika pasti minta pengurus garasi yang ngerjain mobil loe, dia mana ngerti masalah mobil"
__ADS_1
Adi hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamar mandi Andri. Dalam kepalanya masih tersimpan dendam membara pada gadis kecil itu.