
"Ahh Bunda kepo...Udah ah Bun, Adi mau istirahat" Adi bergeser dari pangkuan Bundanya dan menarik selimutnya bersiap tidur.
"Gimana sih Di, Bunda kan penasaran calon mantunya Bunda gimana" Bunda menggoda Adi.
"Adi udah tidur Bun" sahut Adi dan menutup kepalanya dengan selimut.
Wanita itu tersenyum melihat kelakuan anaknya, lalu beranjak meninggalkannya. Sebelum keluar ia mematikan lampu lalu menutup pintu dengan pelan.
"Sepertinya aku akan kehilangan anak bawangku" gumamnya.
Lalu wanita itu meninggalkan kamar Adi.
Adi yang belum tidur mengintip dari balik selimutnya, memperhatikan seisi ruangan tersebut memastikan Bunda sudah pergi.
"Duhh Bunda kepo banget sih" Adi mengacak-acak rambutnya frustasi.
Adi membuka kembali ponselnya menatap wajah polos Lika yang terlelap hingga kantuknya datang dan ia pun terlelap.
Keesokan harinya...
Lika bangun pagi-pagi sekali, ia melihat jam dinding di ruangan itu.
"Masih setengah lima, ya ampun aku mau ngapain bangun secepat ini" gumamnya.
Ia beranjak bangun dan melangkah pada cermin,
"Ya ampun pipi aku merah gini, jangan-jangan mau demam. Duhhh bisa digantung bang Andri nih" Lika sangat panik.
Ia mengambil air putih dan minum sebanyak-banyaknya, hingga perutnya kembung.
"Ya ampun aku mau muntah, kebanyakan anj*rr" batinnya.
Ia melangkah ke arah meja mencari ponselnya,
"Oh GOD!!! Papa nelpon aku tiga kali. I am in dangerous. Duhh Papa Lika gak kemana-mana kok, Lika cepet boboknya tadi malam" Lika membayangkan kemarahan Papa.
Lika menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur kembali, mulai berfikir apa yang harus dilakukan saat itu.
"Bodo ahh Aku mau beres-beres nih kamar, udah kayak kandang singa" gumamnya.
Saat Lika melangkah ke kamar mandi, Lika malah salah fokus terhadap sebuah jaket di tumpukan pakaian kotor. Lika tersenyum dan berkata, "Gila sih gue semalem, udah kayak pacaran aja sama bang Adi hahah" gumamnya.
Lika meneruskan aktifitasnya pagi itu tanpa menyadari kondisinya yang kurang Fit.
Saat ingin berangkat ke kampus,
Tin..tin...
"Udah selesai tuan putri?" Andri tersenyum.
"Bang Andri...." jawab Lika kegirangan.
"Mau ngampus kan? Yuk sekalian bareng abang" Andri memberikan sebuah helm berwarna pink yang memang sedari mengenal Lika dibeli khusus untuknya.
"Iya" jawab Lika lemas.
Belum sempat memakai helm tersebut, Lika jatuh pingsan.
"Lika..." Andri panik dan turun dari motornya.
"Astaga kamu kenapa Lika..dik bangun!!" Andri yang sangat panik langsung mencari taxi dan membawa Lika ke rumah sakit.
"Pak...agak dipercepat ya" desak Andri pada supir taxi tersebut. Lika yang dibaringkan di kursi mobil terkapar lemas dan belum sadarkan diri. Tubuhnya panas dan sangat pucat.
"Duhh dik, Abang merasa gagal jagain kamu" Andri seketika merasa hancur dan kembali teringat kecelakaan maut yang memisahkan dia dengan Andini, adik perempuan Andri yang meninggal empat tahun lalu.
Setiba di rumah sakit, Andri langsung sigap menggendong Lika. Andri sangat panik dan tak dapat berfikir jernih. Andri merogoh kantongnya dan mencari ponsel untuk menghubungi orangtuanya.
"Halo Ma...Adik Andri yang sering Andri ceritakan ke mama masuk rumah sakit ma. Mama cepat kesini ya Ma" Andri berbicara dengan nafas yang memburu seperti sedang dikejar-kejar hantu. Wajah paniknya tidak dapat disembunyikan lagi.
"Kok bisa nak? Rumah sakit mana?" sahut mama
"Rumah sakit A ma, deket rumah kita"
__ADS_1
"Oke mama langsung kesana, kamu urus dulu administrasinya ya"
"Iya ma, cepetan ma" jawab Andri dan menutup panggilannya.
Andri langsung ke meja administrasi untuk mengurus administrasi Lika. Setelah selesai, ia langsung kembali melihat Lika yang masih ditangani oleh dokter. Nafasnya sudah mulai tenang namun detakan jantungnya masih berdegup kencang menunggu dokter selesai memeriksa Lika.
Hanya berselang 10 menit, Mama Siska sudah tiba di rumah sakit.
"Gimana keadaannya?" tanya mama
"Dokternya belum ada keluar ma, Andri khawatir dia kenapa-kenapa ma. Andri akan gagal lagi jagain adik Andri" jawab Andri dengan suara yang terjepit.
Mama Siska yang sangat mengerti perasaan Andri memeluk Andri,
"Gadis itu akan baik-baik saja" bisik Mama Siska di telinga Andri.
Andri memang belum bisa move on dari kecelakaan maut yang menghilangkan nyawa adiknya empat tahun lalu. Saat itu Andri menemani adiknya untuk berkunjung ke panti asuhan.
**
Flashback Masalalu Andri 4 Tahun yang lalu
"Kak, kita ke panti asuhan papa yuk" ajak Andini.
"Yaelah Din, hari Minggu juga. Abang cape nih mau rebahan hari ini" sahut Andri malas.
"Kak...Kakak itu cuman main game loh, apa susahnya sih kak. Nanti di panti kan kakak bisa lanjut main gamenya"
"Males tau" cetus Andri cuek.
Andini menarik-narik tangan Andri namun Andri tetap bertahan. Karena geram dengan sikap kakaknya, Andini merampas ponsel yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Andri.
"Din...Jangan rese dong. Balikin!!" Suara Andri meninggi.
Andini malah berlari tak karuan lalu menuju dapur.
"Andini!!!" seru Andri
"Kalian apa-apaan sih. Anak mama itu cuman dua tapi ribut tiap hari buat mama pusing" Mama Siska menatap Andri sinis.
Andri langsung duduk dan memanyunkan bibirnya.
"Dasar perempuan!! Bisanya cuman ngadu doang. Bentar lagi bakalan kena omel pasti" batinnya.
"Nahh ide bagus itu, papa kan lagi sibuk ngurusin Restoran sekarang, jadi kalian bisa sekalian nganterin bulanan ke panti" sahut Mama Siska.
"Nahh kan bagus" sahut Andini kegirangan.
"Iya iya" jawab Andri malas.
Andri langsung beranjak dan mengurus semua keperluan yang akan dibawa ke panti.
"Mama emang amazing " cetus Andini setelah Andri keluar dari ruangan itu.
"Siap-siap gih, nanti kakakmu ngamuk kalo lama" jawab Mama Siska dan mencium kening Andini.
Andini memeluk erat mamanya,
"Andini sayang banget sama mama"
"Mama juga" jawab Mama Siska
"Jadi gak perginya?" Andri berteriak dari garasi
"Dini pamit ya ma" Andini mencium tangan mamanya lalu berkari ke garasi.
Andini langsung masuk kedalam mobil dan mereka langsung berlalu meninggalkan rumah mewah itu. Mama Siska tersenyum menatap kepergian kedua buah hatinya yang selalu bertengkar bagai anjing dan kucing setiap hari dan menghapus kesunyian rumah yang besar itu.
"Mana hp kakak?" cetus Andri
"Nih...Takut banget sih" Andini memberikan Ponsel milik Andri.
Mobil terus melaju dan semakin kencang.
__ADS_1
"Kok kencang banget sih kak nyetirnya, serem tau" Andini memperhatikan Andri yang tanpa ekspresi.
"Takut?" Andri tersenyum sinis.
"Kak...Jangan becanda ya. Kita bisa mati. Kalo kakak emang gak mau ke panti kita balik aja deh ke rumah" Andini yang mulai ngeri dan ketakutan melihat kakaknya.
Andri seperti kerasukan setan, menggoda Andini karena kesal sudah merampas hari santainya.
"Kak...Stop!!!!" teriak Andini
"Gamau" cetus Andri
"Kak.. Dini takut huhu" Andini menutup wajahnya dengan tangannya.
Andri semakin menggila melihat ekspresi wajah Andini, Andri berusaha membuka tangan Andini.
"Kak!! Ada orang" teriak Andini
Andri membanting setir dan
DRAKKKKKKKK........
**
"Keluarga saudari Lika" panggil dokter saat keluar dari IGD
"Ya dokter" Andri langsung berdiri mendekati dokter
"Pasien sudah sadar dan sedang beristirahat" ucap dokter tersebut.
"Kami bisa menjenguknya dok?" tanya Andri lagi
"Silahkan, tapi sebaiknya jangan membuat pasien banyak pikiran dulu. Ibu boleh ikut ke ruangan saya sebentar?"
Mama Siska mengangguk dan tersenyum sambil mengikuti langkah dokter tersebut. Andri langsung masuk dan melihat kondisi Lika yang terbaring lemas dengan infus di tangan kirinya. Dia duduk di samping Lika,
"Apa yang sakit?" tanya Andri.
"Gak ada kok" jawab Lika berusaha tersenyum.
Andri begitu terluka melihat kondisi Lika, gadis yang sudah ia anggap sebagai pengganti Andini adiknya.
"Abang keluar dulu ya, kamu istirahat dulu" Andri mengelus kening Lika dan meninggalkannya.
Saat Andri keluar, terlihat Mama Siska sudah menunggunya.
"Apa kata dokter ma?" tanya Andri panik.
"Gadis kecil kamu itu sepertinya kelelahan, dia harus dirawat" ucap Mama Siska
"Dirawat? Sakit apa ma?" Andri terlihat semakin panik mendengar kata dirawat.
"Kena Tifus kata dokter" jawab Mama Siska.
Andri diam tak menjawab, mulutnya serasa bisu dan sudah kehabisan kata untuk diucapkan.
"Oh ia Ndri, ini resep dari dokter untuk Lika. Ambil di apotik dulu sana" Mama Siska memberikan selembar kertas.
"Ma..." jawab Andri nyengir.
"Kenapa?"
"Pinjem kartu kredit, uang jajan Andri habis ma bayarin administrasi tadi heheh" Andri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Loh gak ada asuransi kesehatan?" tanya Mama Siska sambil membuka dompetnya dan memberikan sebuah kartu kredit pada Andri.
"Gak tau ma, tadi Andri panik banget. Jadi Andri gak kepikiran lagi" jawab Andri polos
"Pantesan minta Mama kesini" Mama Siska memukul lengan anaknya itu namun tetap tersenyum.
"Ya elah Mama, katanya mau jadiin Lika anak. Duit aja pelit" ledek Andri
"Hehh...."
__ADS_1
Andri langsung berlari menghindar dan melanjutkan langkahnya ke apotik rumah sakit tersebut. Mama Siska geleng-geleng kepala melihat sikap anaknya itu.