
Lika siang itu akan dipindahkan ke ruang rawat rumah sakit dan Mama Siska telah meminta agar Lika dirawat diruang VVIP agar Lika bisa beristirahat dengan nyaman dan tenang.
Mama Siska sendiri belum pernah melihat wajah Lika. Ia hanya mendengar cerita tentang gadis itu dari Andri anaknya.
Saat Lika sudah dipindahkan ke ruangannya, Mama Siska berniat untuk berkenalan dengan Lika. Ia menunggu kedatangan Andri agar dapat memperkenalkan mereka supaya Ia ataupun Lika tidak canggung.
Wanita itu melirik jam tangannya,
"Anak itu dimana sih, beli obat aja selama ini" keluhnya.
Karena sudah bosan menunggu, wanita itu memutuskan untuk masuk melihat keadaan Lika. Ia benar-benar tak sabar ingin bertemu orang yang disebut-sebut Andri sangat identik dengan Andini, putrinya yang sudah tiada.
Ia membuka pintu ruangan itu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia tidak ingin mengagetkan Lika. Wanita itu masuk dan mendekati gadis itu. Gadis itu sedang terlelap dan tak menunjukkan pergerakan.
Saat berada disamping Lika, wanita itu sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bagaikan mimpi disiang bolong.
"Ya Tuhan...Dia persis putriku" isak wanita itu.
Mama Siska seperti melihat putrinya hidup kembali saat itu. Emosinya terkuras melihat Lika hingga membuatnya tak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis terisak-isak disamping Lika.
"Tante siapa?" Lika yang mendengar tangisan Mama Siska terbangun.
Air mata wanita itu membasahi tangan Lika. Lika melihat Mama Siska terheran-heran. Ia berusaha mengingat orang yang ada didepannya namun sekeras apapun Lika mengingatnya tak akan berhasil. Lika memang belum pernah bertemu dengan Mama Siska sebelumnya.
Mama Siska menghapus air matanya dengan tissue dan berusaha menenangkan diri. Wanita ini sangat elegan dan berkelas. Dalam sekejab Ia bisa tersenyum seolah-olah bukan dia yang barusan menangis terisak-isak.
Mama Siska tersenyum menatap Lika,
"Saya Siska, mamanya Andri" terangnya.
"Oh maaf Tante, Lika gak tau kalo Tante mamanya bang Andri" jawab Lika polos.
"Istirahatlah lagi, Tante gak akan ngapa-ngapain kamu kok" titah Mama Siska sambil membenarkan posisi bantal Lika.
"Kenapa Tante menangis?" tanya Lika. Gadis itu masih curiga dan penasaran dengan Mama Siska.
Tiba-tiba Andri masuk ke ruangan itu membuat mereka terkejut. Andri yang sadar menjadi pusat perhatian menjadi canggung.
"Kamu dari mana aja Ndri?" Mama Siska meliriknya sinis.
" Maaf ma, tadi aku nelpon sama Adi" terang Andri dan memberikan sebuah kantung plastik berisi obat-obatan kepada wanita itu.
Mendengar nama Adi jantung Lika langsung berdegup kencang.
__ADS_1
"Bang Andri ngasi tau aku sakit gak ya sama bang Adi?" batinnya.
"Kalian udah kenalan nih ceritanya" cibir Andri.
"Udah, kamu kelamaan. Mama bosan duduk di depan" jawab Mama Siska cuek. Ia sibuk membaca keterangan setiap obat yang ada didalam kantung plastik itu.
"Gimana ma? Mirip kan sama Andini?" tanya Andri lagi.
DEG!!!
Jantung wanita itu bedetak kencang. Setiap mendengar nama Andini membuatnya ingin menangis. Ia hanya tersenyum getir karena tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
Suasananya menjadi senyap dan canggung. Lika yang tidak mengerti apa-apa memilih diam saja. Ia memperhatikan Mama Siska, wanita cantik dan sangat elegan. Wanita itu terlihat sangat awet muda mengingat Andri adalah anaknya.
"Lika makan bubur ya?" tanya Andri memecahkan keheningan.
"Iya seharusnya gitu sih" jawab Mama Siska.
Wanita itu mendekati Lika yang masih duduk karena canggung dengan kehadirannya. Ia mengelus rambut panjang Lika yang hitam. "Mama kepang ya rambutnya biar gak berantakan" kata Mama Siska sambil mengelus rambut panjang itu.
Lika mengangguk kepalanya memberi isyarat setuju. Walaupun masih canggung, Ia senang dengan tawaran Mama Siska karena sedikit gerah dengan rambutnya yang panjang. Lika biasanya menggulung rambutnya hingga berbentuk donat, namun saat di ruangan IGD perawat membukanya agar Lika nyaman untuk beristirahat.
Andri yang memperhatikan mamanya dapat merasakan betapa rindunya wanita itu pada sosok anak perempuan. Saat Andini masih hidup, mamanya selalu memanjakan Andini. Yang dilakukan pada Lika saat ini adalah kebiasaan Mama Siska dan Andini setiap sore kala itu.
"Ma...Lik..Aku keluar dulu ya. Andri mau hubungin Papa" terangnya.
Kedua perempuan itu mengangguk mengiyakan. Andri pun keluar setelah memberikan tas Lika.
"Kamu mirip banget sama anak Tante, namanya Andini" Mama Siska membuka percakapan.
"Adik perempuannya bang Andri ya Tante?" tanya Lika memastikan.
Andri pernah bercerita bahwa Ia memiliki seorang adik perempuan yang sangat mirip dengan Lika. Bedanya, Andini memiliki penampilan lebih mencolok dan pakaian berwarna terang, sedangkan Lika lebih menyukai penampilan yang simple dan pakaian yang calm. Namun begitu, sikap Lika sangat mirip dengan Andini.
"Iya...Tapi Andini sudah bahagia bersama Tuhan" jawab Mama Siska pelan.
Lika terkejut mendengar ucapan Mama Siska. Lika tak pernah menyangka jika selama ini sosok yang selalu diceritakan Andri ternyata sudah meninggal. Lika menatap wanita itu, mengiba atas apa yang dialaminya.
"Tapi hari ini Tante seperti melihat Andini bangkit kembali" Mama Siska menghapus air matanya yang tak terbendung lagi.
Ia memeluk Lika, memeluk erat seolah-olah tak ingin berpisah lagi. Tangisnya pecah membasahi rambut Lika, Ia sangat merindukan Andini.
Lika hanya diam dan membalas pelukan wanita itu. Lika juga tak pernah mengalami masalah serumit ini hingga ia tak punya kata-kata untuk menghibur atau menguatkan wanita itu.
__ADS_1
Setelah lama mereka berpelukan tiba-tiba Andri masuk. Kali ini bukan hanya Andri yang datang, ada 2 orang lelaki ikut bersamanya. Lika menatap kedua laki-laki itu, Ia mengenali salah satunya yang adalah Adi. Namun yang lainnya tidak. Namun lelaki itu nampaknya Papanya Andri karena wajahnya sangat mirip dengan Andri.
Lelaki itu memperhatikan Lika dengan seksama. Ia tampak bingung melihat Lika. Lika yang sadar akan itu merasa risih dan mengalihkan pandangannya ke Mama Siska. Lika juga sangat malu melihat kehadiran Adi.
Mama Siska tersenyum menatap pria itu. Ia mengisyaratkan agar pria itu mendekat kepada Lika.
"Ya Tuhan..." pria itu seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mama Siska mengepang rambut Lika seperti yang biasa ia lakukan pada Andini sehingga Lika terlihat sangat mirip dengan Andini.
"Lika...Ini papanya Andri" terang Mama Siska.
Lika yang sedari tadi risih dengan kehadiran pria itu berusaha tersenyum.
"Nama Saya Hendra, panggil saja Om Hendra. Kamu sangat mirip dengan almarhum anak saya" terangnya.
"Sa..saya Lika Mey Om" jawab Lika terbata-bata.
"Gak usah takut sayang...Papanya Andri tampangnya aja kok yang serem, tapi hatinya baik kok" Mama Siska memegang pundak Lika dan mengundang tawa orang seisi ruangan itu.
"Makanya Om, kumisnya dicukur aja" ledek Adi membuka suara.
"Hehh...Langsung kesempatannya kau" jawab Papa Hendra.
Hendra adalah ayah dari Andri. Hendra seorang pengusaha sukses dan memiliki beberapa perusahaan. Salah satu yang paling terkenal adalah Tambang Batubara. Hendra juga berasal dari Medan seperti Lika, namun Ia memilih menikah dengan Siska yang berasal dari Bandung.
"Logatnya Medan banget" batin Lika.
"Lika...Apa yang sakit?" tanya Adi sambil mendekati Lika.
"Heh... Hati-hati kau pegang-pegang anak saja" timpal Papa Hendra.
"Ya elah om, belum juga kena. Cuman mau nanya doang Om" jawab Adi dan melangkah mundur.
"Saya hukum kau tak boleh bicara sama anak saya, kau kan sudah buat dia sakit macam ini. Harus tanggung jawab kau. Siapa suruh kau siram-siram anak saya" omel Papa Hendra.
Ia mendekati Adi dan menjewer telinga kanan Adi. Lika yang melihat kejadian itu terkekeh-kekeh walaupun dibenaknya sedang kebingungan mendengar kata 'anakku' dari mulut Papa Hendra.
"Mungkin karena satu marga aja kali" batinnya.
Andri sangat bahagia saat itu. Ia merasa keluarganya kembali utuh setelah empat tahun kepergian Andini.
"Keluarga dan sahabat yang baik. Aku kira ini anugrah paling indah Tuhan" batinnya.
__ADS_1
"Adi bawa sesuatu buat kamu tadi" bisik Andri pada Lika.