Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 23


__ADS_3

Yogyakarta, Mei Tahun Pertama


*


**


***


Lika dan Adi semakin hari semakin akrab. Hampir setiap weekend Adi selalu mengunjungi Lika dirumah Andri. Posisi Lika yang sekarang menjadi anak angkat di rumah itu semakin menguntungkan bagi Adi. Adi dengan leluasa bisa datang menemui Lika.


"Pagi Lika" sapa Adi langsung masuk ke kamar Lika.


Lika saat itu sedang merapikan buku-buku yang baru dibelikan Mama Siska untuknya.


"Kebiasaan banget nyelonong kamar orang" ujar gadis itu sewot.


"Salah sendiri kenapa pintunya gak dikunci" jawab Adi.


"Ya suka-suka aku dong, kan kamar aku" Lika masih dengan raut muka yang sama.


"Iya iya maaf tuan putri. Andri mana sih dik? Tadi aku ke kamarnya gak ada orang"


"Ke kampus tadi mau bimbingan. Bang Adi kok tumben kesini? Gak bimbingan?" tanya Lika.


"Suka-suka Abang lah, badan Abang kok kamu yang sewot"


Lika hanya menatap Adi tak senang. Ia lanjut membuka plastik buku-bukunya.


"Banyak banget nih buku. Satu kardus men" Adi duduk di samping Lika dan melihat-lihat buku-buku baru Lika.


"Iya kemarin dibeliin mama, katanya sih supaya Lika betah di rumah" jawab gadis itu polos.


"Apaan nih bukunya. Novel Romance semua anjayyy" ledek Adi.


"Enggak semua juga kali, itu ada yang lain" jawab Lika meringis.


"Kamu ngapain sih harus cape-cape beresin ini semua? Kan ada mbak Lili" tukas Adi.


Lika tersenyum mendengar ucapan Adi. Hari ini hampir semua orang dirumah itu mengatakan hal yang sama padanya.


"Aku itu lebih suka beresin barang-barang aku sendiri tau. Pertama, aku jadi ada kegiatan dirumah yang besar ini. Kedua, kalo aku butuh sesuatu aku pasti tau tempatnya. Ketiga, aku udah terbiasa nyangkul di sawah dari kecil, jadi urusan gini doang gak akan capek" terang Lika.


Adi melongo mendengar ucapan Lika, tak pernah Ia sangka wanita manja nan menawan itu punya pengalaman hidup seperti itu.


"Kamu gak pengen gitu hidup seperti putri raja setelah semua yang dulu kamu alami?" tanya Adi.


Lika tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Adi.


"Pertanyaan bodoh apa ini" sahut Lika dan terus tertawa membuat Adi merasa sangat ***** didepan Lika.

__ADS_1


"Kok bisa gue nanya itu, dasar gobl*k" batinnya.


"Udah ahh, Lika sakit perut" ujar Lika.


Lika menata semua buku-bukunya dengan rapi didalam rak.


"Mau dibantuin gak?" Adi menawarkan diri.


"Aku bisa kok" jawab Lika tersenyum.


Walaupun Lika menolak, Adi berdiri dan membantu Lika mengangkat buku-buku itu. Saat Lika berasa di sudut rak itu, Adi mengangkat tumpukan buku terakhir dan memberikannya pada Lika.


"Makasih ya" ucap Lika.


"Sama-sama cantik" sahut Adi dan semakin mendekat kearah Lika.


Menyadari bahwa Adi semakin mendekat, Lika semakin mundur namun tubuhnya terhalang oleh dinding. Lika menatap Adi. Serasa berdiri bulu kuduknya melihat Adi yang semakin mendekat.


"Ngapain?" tukas Lika membulatkan matanya.


"Kenapa dia marah malah semakin menggemaskan" batin Adi.


Lika semakin kesal dan geli melihat tingkah Adi. Lika menginjak kaki kiri Adi.


"Auuu" Adi refleks mengangkat kakinya karena sakit.


"Makanya yang sopan" Lika mengambil sebuah buku dan memukul kepala Adi.


"Gadis sialan!! Digoda sedikit pun gak bisa, padahal perempuan diluar sana mengantri untuk menggodaku" batin Adi masih memegangi kakinya yang memerah.


Lika berlari menuruni tangga menghindari Adi. Saat ditangga terakhir kalinya terpeleset dan,


"Aaaaaaaa" Lika berteriak sangat kencang sehingga seisi rumah itu bisa mendengar.


"Aduhh sakittt" ucapnya Lirih.


Orang-orang pun berdatangan ke arah Lika karena mendengar suaranya. Adi yang tadinya didalam kamar Lika pun langsung keluar.


"Non Lika gak papa?" tanya Mbak Lili khawatir.


"Alahh gitu doang lebay banget sih loe!" tukas seorang wanita muda yang cantik.


Ia adalah Sandra, Sepupu Andri. Sandra seumuran dengan Lika, namun karena penampilannya yang menor dan glamor membuat dia terlihat lebih tua dibandingkan Lika yang imut dan babyface.


"Kamu siapa?" tanya Lika lirih.


Adi menunduk dan melihat darah mengalir dari lutut Lika.


"Loe apa-apaan sih Sandra?! Kira-kira loe kalo kamu becanda!" Adi terlihat sangat marah besar pada Sandra.

__ADS_1


"Mbak... Ambilin obat merah ya" pinta Adi pada mbak Lili.


" Iya" sahut mbak Lili dan langsung berlalu.


"Bisa jalan?" tanya Adi sambil menuntun Lika ke sofa.


"Ini obat merahnya" Mbak Lili memberikan sebuah kotak berwarna putih.


Adi dengan cekatan membersihkan luka di kaki Lika, terlihat sekali ia begitu perhatian terhadap Lika.


Sandra duduk di sofa dengan gaya angkuhnya, tidak peduli dengan Lika yang sedari tadi meringis kesakitan. Namun, hatinya begitu teriris melihat Adi begitu perhatian terhadap Lika.


"Denger ya Sandra, Lika sekarang anak di rumah ini. Jadi loe yang cuman sepupunya Andri jangan banyak tingkah. Kalo sampe kepala Lika yang terbentur lantai tadi mau diganti sama kepala loe?" Adi berbicara setengah teriak kepada Sandra.


Lika hanya diam saja mendengar perkataan Adi. Ia hanya menarik satu kesimpulan, gadis yang membuatnya sampai celaka itu adalah Sandra, yang tak lain adalah sepupu Andri.


"Udah tau! Anggap aja itu perkenalan dari gue" jawab Sandra acuh tak acuh.


"Sudah sudah bubar, biar saya dan mbak Lili yang ngurus Lika" tukas Adi melihat semua pegawai rumah Andri berkumpul. Ia tak ingin mereka mendengarkan perdebatannya dengan Sandra.


"Punya apa sih loe sampe Tante gue mau ngadopsi gembel kayak loe" tukas Sandra.


DEGGG...


Jantung Lika serasa diiris-iris mendengar perkataan Sandra. Tak akan ada yang membungkam gadis sombong itu karena tak ada satupun keluarga Andri berada di rumah. Mama Siska sedang berlibur ke Korea bersama teman-teman sosialitanya tadi pagi dan Papa Hendra sejak Minggu lalu sudah keluar kota. Andri juga sedang sibuk dengan skripsi akhir-akhir ini, sehingga Lika selalu sendirian di rumah.


Jika hari ini Adi tidak berkunjung ke rumah, mungkin Lika akan menghadapi Gadis angkuh itu sendirian. Lika pun beranjak dari tempat duduknya dan berlalu. Ia kembali naik ke kamarnya walau dengan kaki yang masih perih untuk berjalan.


"Emang ya mulut loe beracun!!! Gak pernah pake otak loe" ujar Adi kesal.


Adi pun meninggalkan Sandra sendirian dan menyusul Lika yang menaiki tangga pelan-pelan. Wajahnya merah padam seperti sedang menahan marahnya.


Lika masuk kedalam kamarnya dan ingin mengurung diri, namun Adi dengan gercep masuk sebelum Lika menutup pintunya.


Lika duduk disamping tempat tidurnya dan meratapi dirinya. Sangat sakit hati ia mendengar ucapan Sandra, orang yang baru dia lihat beberapa menit sudah menghancurkan hatinya sesakit itu. Perlahan air mata gadis itu menetes membasahi pipinya. Adi sangat iba melihat Lika. Gadis itu menangis tanpa suara, Adi mengerti betapa hancur hatinya mendengar kata-kata kasar Sandra.


Adi mendekati Lika, menghapus air mata di pipinya. Namun gadis itu semakin terisak-isak membuat Adi bingung harus berbuat apa. Adi pun memeluknya, merangkul pundak gadis itu dan berusaha menenangkannya.


"Kamu gak perlu memikirkan perkataan Sandra, kamu punya Cinta untuk keluarga ini dan kamu punya diri kamu yang sangat berarti bagi mereka. Keluarga ini butuh kamu" Adi terus menghapus air Lika yang masih mengalir deras. Lika tak sanggup untuk mengatakan apapun saat itu, hatinya serapuh itu.


Sandra mengintip mereka dari balik pintu. Ia awalnya hanya penasaran dengan Lika, Ia sengaja mengatakan hal itu karena tidak terima Lika diangkat Tantenya menjadi anak. Namun begitu, bukannya bahagia menyakiti hati Lika tapi Sandra harus semakin terbakar cemburu melihat kedekatan Lika dan Adi.


"Dasar perempuan ******!!! Loe ambil keluarga Tante gue dan seluruh hartanya, sekarang loe ambil pujaan hati gue juga" geramnya dalam hati.


*****


Hai hai Readers kesayangan


Jangan lupa like, komen dan Vote aku ya.

__ADS_1


Jangan Lupa🤗🤗


__ADS_2