Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 68


__ADS_3

Setelah menemukan pagi, Ana bangun dengan sangat semangat. Ia bergegas karena hari ini Ia harus meluluhkan hati Bunda Renaya agar Adi tak perlu kembali ke Indonesia.


Ana membuka pintu kamar Lika dan mengintip sedikit. Ana berharap agar terjadi sesuatu pada mereka, kali aja bisa langsung disuruh nikah.πŸ˜‚


Kepala Ana masuk, hanya kepala saja.


"Huh! Kok mereka gak ngapa-ngapain sih!?" gerutu Ana.


Adi dan Lika masih terlelap, terutama Adi yang masih baru menemukan alam mimpi mustahil sudah bangun.


"Harusnya aku kasih obat aja kemarin supaya mereka..."


"Mereka apa?" sela Andri.


"Eh Sayang!" Ana ketahuan ngintipin orang.πŸ˜…πŸ˜…


"Kamu ngintipin orang ya?" ledek Andri.


"Iya! Tapi mereka gak ngapa-ngapain. Mereka baik banget sih, harusnya mereka tuh ngapa-ngapain gitu kan." terang Ana dengan kecewa.


"Kamu itu gimana sih, Adi itu sayang banget sama Lika. Mana mungkin dia ngapa-ngapain Lika! Udah ah, kita buatin sarapan aja yuk buat mereka, lagian kamu mau nemuin Tante Renaya kan?"


Ana mengangguk, bibirnya dimanyunkan perkara kekesalannya terhadap Adi.


'Dikasih kesempatan kok gak dimanfaatin' gerutunya dalam hati.


(Ini bumil apaan sih, emang maunya bumil ini mereka ngapain?πŸ˜‚πŸ˜‚)


***


"Tante! Pokoknya aku mau malam tahun baru bareng kak Adi. Aku gak mau bareng Andri, Tante bawa Andri aja ya."


Glek!


Andri menelan salivanya kasar. Sungguh ibu hamil muda ini penuh dengan kejutan. Segala macam cara bisa dilakukan agar rencana lancar.


"Tapi Bunda mau jodohin Adi sayang" terang Renaya.


"Jadi Tante tega anak aku nanti ileran kalo udah lahir? Aku tau semua orang memang gak peduli sama aku!" Ana berlari masuk kedalam kamarnya meninggalkan suaminya dan Renaya.


Andri menatap kepergian Ana dengan takjub, jika Ana ikut casting film mungkin akan menjadi pemeran utama dengan judul film Ibu Hamil Ratunya Acting. Eh!πŸ˜…


Renaya merasa tidak enak, Ia teringat saat dirinya di posisi Ana dahulu. Ia pun menyusul Ana kedalam kamar. Ana duduk di tepi ranjang, meringkuk sambil menangis.


(Ini bumil belajar acting totalitas begitu dimana sih, pinter bangetπŸ˜†)


"Ana sayang... Maafin Tante ya. Oke, oke. Tante ijinkan kamu pergi dengan Adi, biar Tante pulang sendiri aja ya sayang. Kamu jangan nangis lagi ya, kasihan bayi kamu." Renaya mengelus-elus perut Ana, merasa bersalah telah menyinggung perasaannya.


'YES!' batin Ana.


'Jangan-jangan selama ini aku bernasib sama dengan Tante Renaya ya?' tanya Andri dalam hati.


"Makasih ya Tante." Ana menyandarkan kepalanya di pelukan Renaya, 'tidak sesulit yang aku bayangkan!' batinnya.


Karena sudah mendapatkan ijin dari Bunda Renaya dan sekarang Bunda Renaya sudah kembali ke Indonesia mereka bisa bebas melakukan apa saja.


***


Sesuai dengan rencana mereka akan merayakan malam tahun baru di menara Eiffel bersama.

__ADS_1


"Semua udah disini kan?" ujar Andri.


"Udah yuk!" sahut Ana.


Malam itu Lika berusaha menjaga jarak dengan Adi. Lika merasa bersalah terhadap Leonard terlebih saat ia bangun pagi menemukan Adi tidur seranjang dengannya walaupun dalam notabene tidak melakukan apa-apa tapi tetap saja itu sudah dinamakan menyakiti hati Leonard secara tidak langsung menurutnya.


Lika menggandeng tangan Leonard dengan mesra, begitu juga dengan Ana bersama Andri. Hanya Adi yang jomblo, jadi untuk menutupi canggungnya Ana meminta Adi untuk menggendong Aygra.


Sebenarnya suasana diantara mereka sangat canggung karena sikap Leonard saat mereka menjemput Aygra di butik milik Lika. Ana sebagai mak comblang dadakan antara Lika dan Adi juga terus menerus mendengus kesal karena risih pada Leonard yang menggandeng tangan Lika dengan posesif.


"Aku mau digandeng Lika..." rengek Ana.


Rahang Andri menegang diikuti mulutnya yang melongo mendengar permintaan aneh istrinya ini. Andri yakin seribu persen kali ini Ana bukan ngidam beneran tapi hanya dibuat-buat.


Bukan hanya Andri, Leonard juga heran melihat wanita yang disebut-sebut sebagai kakak ipar Lika itu. Mata Leonard menatapnya tajam seakan-akan siap menerkam bagai singa memandang mangsanya. Sedangkan Adi hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum geli.


'Lebih baik digandeng Ana sih daripada si bagudung ini' batinnya.


"Jangan gitu dong sayang..." ucap Andri sadar dengan tatapan tak suka dari Leonard.


"Udah gak papa kok bang Andri, jangan ditolak permintaan Ibu Hamil bang! Abang mau anak Abang ileran?" Lika menatap Leonard seakan meminta Leonard melepaskan tangannya agar bisa menggandeng tangan sahabatnya itu.


Leonard mendengus kesal. Jika bukan perempuan, ingin rasanya Ia melemparkan Ana ke sungai Amazon agar dimakan anaconda raksasa.


"Sini Na," Lika menggenggam tangan Ana. "Kalo kamu capek ngomong ya Na, Kita langsung istirahat atau pulang aja soalnya disini dingin banget Na. Gal baik buat kesehatan kamu!"


Ana tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Lika, dalam hatinya sedang bersorak-sorai berhasil memisahkan Lika dengan si kadal (Leonard versi AnaπŸ˜‚).


'Shit! Malam yang akan menjadi malam yang romantis dirusak sama perempuan ini' umpat Leonard dalam hati.


"Makan jajanan yuk, seru kayaknya!" cerocos Lika saat melihat jajanan disekitar mereka. Manik matanya berbinar indah melihat jejeran pedagang.


"Om, turun! Aygra mau sama Aunty!"


"Udah gak Papa kok, sini!" Lika mendekati Adi untuk meminta Aygra dari gendongan mantan tunangannya itu.


Diam-diam Ana memotret moment itu, 'moment langka' batinnya. Beberapa potret.


"Eh! Bentar Lika! Kalian bertiga foto dulu deh!" ujar Ana.


"Hah!?" refleks Lika.


"Ayo cepetan! Nahh disini nih," mengatur posisi modelnya (Aygra, Lika dan Adi). "Kurang deket!" melambaikan tangannya diudara.


Lika menatap wajah Adi sebentar, sebentar saja. Wajah Adi tak berubah, hanya saja pipinya yang semakin tirus.


Tak membuang kesempatan, pose seperti itu malah sebuah keajaiban bagi Ana.


Cekrek! Satu buah gambar.


"Lagi! Lihat sini coba!" titah Ana.


Cekrek! Satu lagi yang sangat memuaskan hati Ana.


"Perfect!" gumam Bumil Rese itu.


Andri menatap mereka dengan senyuman sumringah, lain halnya dengan Leonard. Posisi Leonard seperti tidak dianggap disana. Sejak Leonard datang dan bergabung dengan mereka, dia seperti diacuh. Ini menyebalkan!


Leonard mendekati Lika, memegang pergelangan tangan gadis itu hingga membuatnya mengaduh kesakitan dan menariknya menjauhi Adi.

__ADS_1


"Iyo...Sakit!" ringisnya.


"Kamu itu tunangan aku!" bisik Leonard tepat di telinga Lika.


Deg!


Lika merinding ngeri, satu kalimat seperti pedang memutus kebahagian kecil Lika saat bersama Adi. Ditatapnya wajah pria disampingnya, benarkah Ia akan menikahi laki-laki seperti ini? Membayangkannya saja Lika sudah tak sanggup, bagaimana menjalaninya nanti?


Kepala Lika berdenyut keras, jantungnya seperti maraton dan hatinya mendadak bimbang atas keputusannya untuk menikah dengan Leonard. Kehadiran Adi yang kedua kalinya berhasil menggoyahkan hatinya.


Mengapa Adi datang setelah Leonard melamarnya?


Mengapa takdir mempermainkannya?


Mengapa Adi harus mengkhianati kepercayaannya dulu?


"Ki..kita jajan yuk!" Lika mengalihkan perhatian mereka dengan gelagapan. Menyesal! Sangat menyesal membawa Adi dan Leonard bersamaan.


Mereka akhirnya bduduk di kursi restoran itu, restoran dadakan dan minimalis di tepi jalanan kota dan hanya ada saat-saat perayaan tertentu saja di kota itu. Lika mengamati menu yang diberikan seorang pramusaji, menatapnya malas. Tak ada makanan yang menggugah seleranya, ucapan Leonard beberapa menit yang lalu sudah merusak selera makannya.


"Gak jajanan Jogja disini, apalagi telur gulung mang Udin taman kota!" celetuk Adi. Sadar atau tidak, ucapan Adi menuai pandangan tak suka dari Leonard.


"Ho'oh! Aku kangen pulang ke Indonesia" sahut Lika lesu sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


Sadar gak sih kondisi mereka sekarang itu bagaimana. Leonard benar-benar tak sabar lagi, emosinya sudah meluap-luap seperti dapur magma yang siap meletus kapan saja.


Leonard menggebrak meja, berdiri dengan wajah yang merah padam. Ditatapnya Lika dan Adi bergantian, tatapan membunuh. Leonard benar-benar marah, kesabarannya habis menghadapi Adi yang terus menggoda Lika.


Bugh!


Satu pukulan mendarat tepat di pipi Adi hingga meninggalkan bekas. Tak ada kata yang keluar dari mulut Leonard, hanya hembusan nafas yang memburu.


Lika melotot kaget, apa-apa ini! Lika menghampiri Adi dan membantunya berdiri. Leonard masih sangat marah! Diraihnya leher baju Adi dan satu pukulan lagi mendarat hingga bibir Adi mengeluarkan bercak darah.


"Iyo! Kamu apa-apaan sih? Lihatlah Iyo, kamu jadi tontonan di sini!" ujar Lika marah dan menunjuk gerombolan orang yang menonton mereka.


"Diam!!" bentak Leonard.


Plak!


Untuk pertama kalinya, tangan lembut dan halus Lika mendarat di pipi Leonard.


"Kamu pergi dari sini sekarang!" ucap Lika hampir tak bersuara. Tidak hanya orang-orang yang melihat mereka, Lika sendiri shock dengan perbuatannya barusan.


Hentakan keras dari kaki Leonard mengantarkan kepergiannya, Ia nyaris sudah tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Jika berlama-lama di sana bisa jadi Lika akan menjadi korban kemarahannya.


"Lika..." ucap Ana pelan. Mereka mendekati gadis itu, terlihat rasa menyesal dari raut wajahnya.


πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§πŸ‘§


TEMAN-TEMAN READERS-KU TERSAYANG 😍


TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKUπŸ™πŸ™πŸ™


PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG😌😌


JANGAN LUPA VOTE JUGA YA πŸ˜‡KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULISπŸ’ŒπŸ˜»


Jangan Lupa gabung di grup aku juga ya, supaya kalian gak ketinggalan info Up Novel aku.

__ADS_1


THANK YOU🌈


Anne Chellyca✍️


__ADS_2