
Holaaa...
Aku balik lagi nih gaes😊🤗
Happy reading 🥰
*****
Brak!
Lika membuka pintu ruangan Sandra dengan kasar. Tanpa memperdulikan siapapun yang ada didalam ruangan itu Lika langsung masuk dan duduk di sofa tanpa menoleh sedikitpun. Lika masih tak henti-hentinya menangis, sakit sekali hatinya karena dibentak oleh Adi di cafe tadi.
Semua orang di dalam ruangan itu sangat shock terutama Prasetya, ayahnya Adi. Dengan khawatir Renaya menatap Sandra dan Prasetya, dalam benak mereka ada masalah dengan Doni.
"Sayang...kamu kenapa, kok nangis? Doni ngapain kamu sayang?" tanya Renaya lembut.
Lika tak bergeming.
"Lika? Doni ngapain kamu? Cerita ke kita Lik!" ucap Sandra tak kalah khawatir.
Lika masih tak mau membuka suaranya. Lika hanya menggelengkan kepalanya karena memang tak ada masalah dengan Doni, tadi Lika hanya terbawa perasaan. Entah berlebihan atau bagaimana Lika merasa ditusuk belati tajam saat Adi bicara dengan keras padanya.
Tiba-tiba Adi kembali dengan wajah penuh kekhawatiran. Disapunya ruangan itu mencari sosok perempuan pujaannya.
"Lika...Lika maafin aku..." ucap Adi memohon namun Lika malah mengalihkan pandangan darinya.
"Kalian kenapa? Adi! Kamu apain Lika? Kok sampe nangis gini sih?" tanya Renaya marah. Tak jauh berbeda dengan Renaya, Prasetya menatap putranya tajam.
"Lika...." panggil Adi lagi.
"Diam! Kamu memang gak punya hati ya, gimana mau nikah kalo gini aja kamu udah buat Lika nangis. Kamu apain dia hah!? Jawab!"
'Bunda gimana sih, disuruh diam sekarang malah suruh jawab.'
"Maafin Adi Bunda...Adi emosi, Adi gak sengaja Bunda..."
Air mata Lika masih mengalir di pipinya sementara ia mulai sesenggukan.
"Adi! Ikut ayah keluar!" ucap Prasetya dingin kemudian berlalu keluar.
Adi menatap Lika dengan wajah pias. Adi sama sekali tak bermaksud menyakiti hatinya, Adi hanya terbawa emosi karena Doni membuat Lika menangis. Adi sekarang serba salah, ditambah lagi tatapan dingin ayahnya, habislah!
"Minum dulu sayang, Bunda disini nak" Renaya memberikan sebuah botol minuman.
"Kalian sebenarnya kenapa Lika? Kalian kok jadi berantem?" tanya Sandra penasaran, baru tadi Sandra merasa mereka adalah pasangan bahagia eh kok sekarang Sandra malah merasa mereka tidak cocok sama sekali.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu cerita ke Bunda ya, sebenarnya Adi ngapain kamu?"
"Gak papa kok Bunda, ini salah aku..." jawab Lika kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa. Entah mengapa kepalanya sangat pusing.
"Kamu beneran gak papa?" tanya Sandra lagi.
Karena tak tega melihat Bunda Renaya dan Sandra tengah mengkhawatirkan dirinya akhirnya Lika memilih menceritakan kejadian mereka di cafe itu.
"Aku mungkin terlalu berlebihan..." ucap Lika mengakhiri ceritanya.
"Jadi kamu belum makan nak?" tanya Renaya dan Lika menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja kamu lemas dan pucat begini, ini sudah hampir siang sayang, mana kamu baru menangis lagi. Bunda pesanin makanan dari ojek online ya sayang, kamu harus makan." Renaya mengotak-atik ponselnya memesan makanan untuk Lika.
"Dua ya Bunda, bang Adi juga belum makan..." ucap Lika tulus.
"Ya ampun Lika, gemes deh! Kamu tuh baru aja nangis-nangis sepanjang perjalanan dari cafe ke sini karena kak Adi dan kamu masih peduli sama dia?" ucap Sandra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya nih, harusnya kamu biarin aja dia kelaparan sayang. Siapa suruh buat calon menantunya Bunda sampe nangis gini." Renaya mengelus-elus rambut Lika.
Lika tersenyum malu-malu. Lika sendiri refleks mengucapkannya karena memang Adi belum makan saat mereka berada di cafe. Entahlah, tapi Lika sangat peduli pada Adi apapun yang terjadi.
Adi masuk lagi bersama ayahnya. Dihampirinya Lika yang sedang berbaring sehingga gadis itu refleks duduk. Suasana menjadi canggung diantara pasangan yang baru saja berperang ini, sudah tua tapi entah kapan dewasanya.
"Sama perempuan itu lembut-lembut dong kak, jangan malah marah-marah. Kasian tuh kan Lika jadi nangis!" ucap Sandra meledek.
"Maaf ya sayang, aku benar-benar gak sengaja tadi. Sumpah!" ucap Adi sambil menyeka sisa air mata di wajah Lika. Lika mengangguk dan tersenyum lagi, sejak kapan coba Lika tahan marah berlama-lama pada Adi terlebih Adi sudah minta maaf.
UPS! Lupa! Lima tahun!😂
"Sudah, jangan bertengkar lagi ya. Udah lamaran kok masih bertengkar, malu dong kalo sampe gagal naik pelaminan!" ledek Prasetya.
Wajah Lika menjadi merona, seperti satu Indonesia sudah tau jika mereka telah melangsungkan acara lamaran romantis di Paris. Demi apapun itu membuat wajah Lika selalu merona mengingatnya.
Lika mendekati Prasetya dan mencium tangannya. "Maaf Om" ucapnya.
Prasetya mengernyitkan dahinya, "istri saya kamu panggil Bunda, kok saya dipanggil Om. Panggil ayah juga dong!"
"Eh! I..iya Ayah" ucap Lika sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
"Gitu dong, kamu juga putriku..."
"Enak aja kamu yah, dia itu putriku. Urus saja putramu yang nakal itu." Renaya menarik lengan Lika agar menjauh dari Prasetya. Renaya seakan tak mau berbagi Lika pada suaminya sekali pun apalagi pada orang lain.
"Kok gitu sih Bun? Bukannya dari kemarin Bunda mau menjodohkan Adi sama anaknya temen-temen Bunda, jadi Lika itu putriku saja..."
__ADS_1
"Itu kan kemarin, sekarang beda lagi yah, udah sana jauh-jauh!"
"Ayah...Bunda...Aku putri kalian berdua kok. Sudah jangan bertengkar disini, kasian Sandra kan, dia butuh istirahat" ucap Lika menengahi Renaya dan Prasetya.
Adi tersenyum menatap mereka semua. Hatinya sangat senang melihat kedua orangtuanya menerima Lika sebagai bagian dari keluarga mereka. Selangkah lagi Lika akan menjadi istrinya, sekarang hanya tinggal menyusun kata-kata untuk melamar Lika secara resmi pada kedua orangtuanya di Medan. Memikirkannya saja sudah membuat Adi gugup apalagi menjalaninya nanti, habislah sudah.
"Lika, lebih baik kalian pulang dulu deh ke rumah. Dari kemarin kalian belum pulang kan karena aku, maaf ya. Sekarang aku baik-baik aja kok, lebih baik kalian istirahat dulu di rumah Tante Renaya."
"Iya sayang, biar Bunda sama Ayah yang jaga Sandra disini. Kamu sama Adi pulang aja dulu ke rumah ya."
"Tapi Bun, masa kita berdua doang di rumah?" tanya Lika sambil melirik Adi.
"Tenang aja, banyak pelayan kok dirumah. Lagian anak bunda gak nakal kok, kalo dia nakal langsung Bunda kebiri nanti!" ujar Renaya sembari mengerlingkan matanya.
Adi melindungi miliknya dengan tangannya. Bisa-bisanya bundanya akan memotong miliknya, memangnya Bunda tak menginginkan cucu? Hahaha...Sabar ya Bang Adi.
"Bunda...anak bunda itu Adi loh Bun..." ucap Adi memelas.
"Bunda gak punya anak bodo kayak kamu, males Bunda!" ucap Renaya cuek.
Mulut Adi terbuka sempurna mendengar ucapan Bundanya. Hanya karena seorang menantu Bundanya tidak menyayanginya lagi.
"Kok gitu Bun? Yah..."
"Ayah bela Adi ya? Ayah siap tidur di sofa ruang tamu dong ya?" ucap Renaya sembari memilin-milin rambut Lika.
"Oh jelas tidakk...ayah gak punya anak model begini ya!" ucap Prasetya sambari nyengir tak jelas. Dasar suami takut istri...🤣🤣
Kasian ya Adi...
*****
Hai hai gaes...
Ini dulu ya untuk hari ini, semoga kalian suka😊
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, komen & Vote.
Singgah juga di Novel baru aku, judulnya Allea.
Thank you
Author udah sehat🤗
__ADS_1