Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 92


__ADS_3

Hari sudah semakin sore dan tamu undangan sudah berpulangan. Sekarang di ballroom itu hanya ad keluarga besar Lika dan Adi sementara sahabat-sahabat Lika ada yang sudah pamit pulang dan ada juga yang sudah menghilang entah kemana.


"Kalian berdua gak usah ikut penerbangan malam bareng dek, kalian nginap disini aja" ucap Andri pada Lika.


"Iya Lika, kalian nikmati aja waktu berduaan, kami pulang duluan" timpal Ana.


"Tapi kan gak enak kalo pulangnya pisah-pisah gini" sahut Lika tak terima.


"Jangan begitu nak, sekarang kamu itu seorang istri jadi kamu gak akan ikut kami pulnag lagi. Mulai sekarang kamu harus ikut kemana suami kamu, lagian kan nak Adi juga setuju kok kalo kalian menginap di sini, ya kan nak Adi?" tutur Rina, mama Lika.


"Benar sekali Tante, eh Mama" ucap Adi antusias.


"Tapi Ma, lagian ayah sama bunda juga balik kok ke Jogja."


"Tapi bunda sama ayah udah pesan kamar buat kalian sayang, nih kuncinya!" ucap Renaya dan memberikan sebuah kunci kamar kepada Lika. Dengan berat hati Lika menerima kunci tersebut.


"Jangan kasi kendoorrr!!!" bisik Prasetya pada anaknya.


"Sip yah, beres!!!"


Dengan pasrah akhirnya Lika setuju akan tinggal semalam lagi di Bali bersama Adi kekasihnya eh suami deng. 😚


"Ciie yang malam pertama..." ledek Ana melalui bisikan pada ada sahabat sekaligus adik iparnya.


"Ana!!!" pekik Lika dengan wajah yang bersemu merah.


"Hahaha...ampun!" ucap Ana menjauh dari Lika.


Keluarga besar itu pun meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut di depan ballroom hotel. Lika melepas kepergian mereka dengan berat hati, entah mengapa rasanya ia takut untuk menjalani malam pertamanya.


"Kita ke kamar yuk" ucap Adi. Sontak saja otak Lika langsung berputar, ia merinding. Lika bukan orang yang polos-polos amat, ia mengerti apa yang akan dilakukan pasangan pengantin baru di malam pertamanya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tidak karuan, entah mengapa rasanya sangat sulit untuk bernafas saat itu.


Lika tersenyum kecut, ia mengangguk pelan dan menyeret kakinya ke kamar yang sudah dipesankan mertuanya.


"Kamu sakit?" ucap Adi melihat Lika tiba-tiba berkeringat dan tangannya basah di dalam genggamannya.


"Eh! eng..enggak kok. A..aku cu.cuman capek!"


Adi mengernyitkan keningnya, ditaruhnya tangannya di kening Lika merasa-rasakan.


"Enggak demam kok..."


'Aduhh apaan sih ni badan, gak bisa diajak kompromi banget!' batin Lika.


"Aku gak enggak demam sayang, aku tuh capek banget. Berat banget nih gaunnya seharian aku pake" ucap Lika beralasan.


"Yaudah, sampe kamar kamu buka aja supaya rileks" ucap Adi tulus.


Deg!

__ADS_1


'Buka gaun? Duhh kok sampe buka-buka sih bahasannya. Aku takut! Ya Tuhan...selamatkan anakmu ini' batin Lika.


Ting! Lift terbuka dan mereka sudah sampai di lantai tujuannya. Lika mendahului Adi dengan sedikit berlari hingga membuat Adi keheranan apa yang sebenarnya terjadi pada Lika, mengapa Lika terkesan menghindar. Sesampai di kamar Lika langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Lima belas menit Lika sudah berada di dalam kamar mandi namun tak ada bunyi gemericik air hingga membuat Adi heran. Adi yang tadinya berbaring pun bangkit dan mengetuk pintu.


"Sayang? Kamu ngapain di dalam, kok lama?" ucap Adi sedikit khawatir.


Ceklek! Lika keluar dengan penampilan yang sama seperti tadi ia masuk.


"Aku gak bisa buka resleting gaunnya..." ucap Lika dengan wajah yang memelas dan sedikit menunduk menahan malu. Bagaimana ia harus memposisikan dirinya sementara gaun tersebut hasil designnya sendiri.


"Lahh...kok gak ngomong dari tadi sih!" Adi mencubit hidung Lika gemas kemudian menuju punggung Lika membukakan resleting gaunnya.


Adi menarik resleting gaun putih itu dengan perlahan dan terlihatlah punggung mulus dan putih terawat. Adi menelan ludahnya kasar, astaga! Dengan Refleks tangannya menyentuh punggung mulus itu, merabanya perlahan-lahan.


"Makasih!" ucap Lika lalu mendorong Adi keluar. Lika lalu mengunci pintunya kembali dan langsung mandi.


"Hampir saja!" gumamnya seraya membersihkan make up-nya.


Setelah selesai mandi Lika mengenakan sebuah handuk kimono berwarna merah maroon yang sudah tersedia disana dan membalut rambutnya dengan sebuah handuk hingga leher jenjangnya terekspos begitu indah. Lalu ia keluar dari kamar mandi tersebut menuju meja rias.


Setelah Lika membuka pintu Adi langsung memandangi Lika lekat membuat gadis itu risih. Bagaimana jika Adi langsung menerkamnya saat itu juga, astaga, Lika bahkan tak mau memikirkannya.


"Kamu gak mandi? Bau keringat tau!" ucap Lika canggung.


"Hmm..em..iya, aku mau mandi dulu" ucap Adi lalu beranjak dari ranjang.


Sementara itu, setelah memastikan Adi mandi Lika secepat kilat mencari dan memakai pakaian tidurnya. Lika sengaja mengenakan pakaian tidur yang tertutup, panjang tangan dan kaki. Setelah itu ia langsung naik dan masuk kedalam selimut tebal lalu membungkus tubuhnya seperti kepompong.


"Ya Tuhan...aku takutt" gumamnya memperhatikan pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian Adi membuka kamar mandi dan menampakkan tubuh eh bukan, hanya kepalanya. Adi mencari-cari sosok Lika,


"Sayang...sayang..minta handuk yang tadi kamu pake dong! Gak ada handuk disini!! Sayang!!!"


Aduhhh... apa-apaan ini? Mengapa hanya ada satu handuk di dalam hotel kelas president suite. Lika benar-benar terjebak dalam keadaan, padahal kan Lika udah membuat perlindungan diri saat itu. Huh! Menyebalkan!!!


"Sayang!!! Cepetan dong, dingin nihh!!"


Lika semakin gelagapan,


"Ta..tapi kan udah aku pake tadi, masa kamu pake bekas?" ucap Lika frustasi.


"Gapapa, udah sini dong handuknya!"


Dengan sangat terpaksa Lika keluar dari kepompongnya dan meraih handuk yang tadinya digunakannya lalu menyerahkannya kepada Adi. Lika berjalan mendekat sembari menutup mata, malu rasanya melihat Adi yang tidak mengenakan apa-apa.


Setelah mengenakan handuknya Adi pun membuka pintu sepenuhnya dan keluar bertelanjang dada.

__ADS_1


"Bang Adi! Kok gak pake baju dulu sih, malu tau!!!" pekik Lika dan menutup kedua matanya dengan tangannya.


Jiwa kejahilan Adi pun terpancing oleh sikap malu-malu Lika. 'Dasar malu-malu meong' batinnya.


"Kamu kok tutup mata sih, kan udah sah secara agama dan hukum negara..." ucap Adi menggoda Lika.


"Ihhh...kamu apaan sih! Pake baju sana, dasar mesum!!!"


Adi terkekeh geli, ia malah semakin tertarik menjahili Lika.


"Gimana kalo gitu buat sepupu buat Aygra dan adiknya, kan jadi lucu kalo ada banyak anak-anak..." ucapnya seraya mendekati Lika.


Lika membulatkan mata dan mulutnya, sejak kapan Adi berubah jadi menjijikkan seperti ini.


"Kamu apaan sih! Pake baju sana!" pekik Lika. Lika semakin mundur hingga kakinya tersandung pinggir ranjang. Lika hampir terjatuh namun pinggangnya diraih oleh Adi dan tubuh mereka bersentuhan tanpa jarak. Semarak harum sabun mandi dari tubuh Adi tercium oleh Lika, masih jadi misteri mengapa jika laki-laki mandi malah sangat harum sementara perempuan tidak. Eh😂😂


Seperti sengatan listrik, insting kelelakiannya merespon dengan cepat. Adi mendekatkan wajahnya pada ceruk leher istrinya yang sudah membangkitkan gairahnya. Entah mengapa tubuh Lika seperti sedang memanggil-manggilnya dan menelusuri setiap inchi kulit gadis itu.


"Boleh ya?" ucap Adi telat di daun telinga Lika hingga gadis itu merinding. Jika boleh memilih Lika akan mengatakan tidak, namun apakah Adi akan melepaskannya malam ini.


Adi terus menggerayangi setiap inchi leher gadis itu tanpa melewatkannya sedikitpun. Gairahnya sudah memuncak dan tak bisa dibendung lagi.


Tok..tok..


Suara ketukan pintu, namun Adi mengabaikan dan melanjutkan kegiatannya menyalurkan hasrat untuk memiliki istrinya malam ini.


Tok..tokk....


Pintu semakin keras seperti hendak mendobrak saja. Siapa sih gangguin pengantin baru, kayak gak tau aja mereka mau ngapain. 🤣


"Bukain dulu bang, siapa tau penting!" ucap Lika pelan.


"Argghh! Siapa sih, ganggu aja!!!" ucap Adi dan mengucek wajahnya dengan frustasi. Wajahnya memerah karena menahan hasrat yang menggebu-gebu.


Lika terkekeh pelan lalu memperbaiki kondisi piyamanya yang hampir terbuka semua kancingnya. Lika juga membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan sementara Adi sedang sibuk mengenakan piyama tidur dengan warna senada.


Tok..tokkk...


Suara pintu terdengar kembali membuat Adi tersulut emosi.


"Sabarrrr! Udah ganggu, gak sabaran lagi!" ucapnya penuh kekesalan.


Lika menatap wajah gusar Adi. Terlihat sekali Adi sedang menahan sesuatu yang membutuhkan penuntasan. Adi membuka pintu kamar tersebut.


*****


Aku Cut dulu ya hehehe...


JANGAN LUPA LIKA DAN KOMEN, PLEASE 🥺

__ADS_1


AUTHOR TUH HOBI BANGET BACA KOMENTAR KALIAN😭😭


__ADS_2