
Kondisi Lika semakin hari semakin membaik. Ia dirawat dengan baik oleh keluarga Andri dan dutambah lagi Adi juga setiap hari mengunjungi Lika di rumah sakit.
"Hari ini kamu sudah bisa pulang" kata dokter setelah memeriksa kondisi Lika pagi itu.
"Yeayyy!!!" teriak Lika kegirangan.
"Tapi tetap jaga kesehatan ya, kamu harus makan teratur, banyak minum dan rajin olahraga" terang dokter.
"Denger tuh" timpal Mama Siska.
"Iya Tante hehehe" jawab Lika.
"Kalau begitu saya permisi Bu" pamit dokter itu lalu berlalu keluar.
"Habis ini males makan lagi aja, lumayan aku spot jantung pagi-pagi bawa kamu ke rumah sakit" cetus Andri tiba-tiba diikuti gelak tawa semua orang di ruangan itu.
"Hehh...Gak boleh gitu sama perempuan. Nanti mereka ngambek repot kita" ujar Papa Herman.
Mama Siska hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
"Lika...Kamu pulangnya ke rumah Tante aja ya" Mama Siska bicara sambil menyisir rambut gadis itu.
"Lohh kenapa Tante? Kost Lika emang kenapa?" Lika bingung dengan ucapan Mama Siska.
"Abang mau punya pembantu dirumah, makanya Lika pulangnya ke rumah Abang" jawab Andri bergurau.
Adi langsung memukul kepala Andri,
"Enak aja loe gadis cantik gitu dijadiin pembantu" ujarnya.
"Ya enggak dong, Tante udah punya banyak sayang. Kamu kan belum pulih nak, nanti kamu gak ada yang ngurusin kalo di kost kamu. Kalo dirumah Tante kan banyak, nanti bang Andri Tante jadiin pengurus pribadi kamu" terang Mama Siska sambil bergurau.
"Tapi Tante, Lika udah kuat kok" Lika berusaha menolak permintaan Mama Siska.
Papa Hendra pun mendekati Lika lalu duduk di kursi yang berada di sebelah tempat tidur Lika.
"Sebenarnya kami cuman mau kamu jadi bagian keluar kami nak, kehadiran kamu beberapa hari ini sangat mengobati luka kami saat kehilangan adiknya Andri. Kami gak akan menyulitkan kamu dalam hal apapun termasuk hubungan kamu ke orangtua kamu" terangnya.
Lika terdiam mendengar penjelasan lelaki itu, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Satu sisi ia merasa senang mendapat keluarga yang baru, namun ia tidak ingin menyusahkan siapapun.
Gadis itu memiliki sikap tidak enakan pada siapapun, tak ingin merepotkan siapapun. Namun entah mengapa, ia selalu menyisahkan Andri selama ini. Sangat kontra dengan sifatnya itu.
Ia berfikir dan melihat ke arah Adi, satu-satunya wajah membuatnya teduh saat itu.
Adi yang tersadar dengan tingkah Lika memberikan senyumannya. Adi mengangguk memberi isyarat agar Lika setuju dengan permintaan Mama dan Papa Andri.
"Tapi Lika masih boleh kan main ke kost Lika nanti?" tanyanya pelan.
"Boleh dong" jawab Mama Siska.
"Kalo pulang ke Medan?" tanyanya semakin pelan. Suaranya hampir tak terdengar namun Papa dan Mama Andri yang berada disamping Lika dapat mendengar suara gadis itu dengan baik.
__ADS_1
"Boleh...Tadi kan Om udah bilang" jawab Papa Hendra.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau ikut ke rumah kita?" tanya Mama Siska memastikan.
"Iya Tante" jawab Lika.
Jawaban Lika ini sangat dinantikan oleh wanita itu. Wanita itu langsung memeluknya erat. Ia menangis terharu dan bahagia.
Adi hanya tersenyum melihat moment keharuan keluarga itu. Sudah sangat lama keluarga Andri terasa begitu hampa karena sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan tidak jarang Andri menginap dirumah Adi karena orangtuanya berada diluar kota.
Namun kehadiran gadis ajaib itu mengubah segalanya. Papa Herman yang selalu sibuk mengurus semua perusahaannya bahkan rela meninggalkannya demi Lika.
"Setidaknya kalo Lika tinggal di rumah Andri gue kan bisa ngapelin tiap hari" batinnya.
"Ngapa loe senyum-senyum liatin Lika" bisik Andri.
"Berisik loe!!!" jawab Adi.
"Gue tebak ya bro, kali ini loe udah jatuh cinta sama Lika" Andri memukul pundak Adi.
"Good luck bro!! Gue dibelakang loe" bisik Andri lagi.
Adi hanya tersenyum kecut mendengar semua perkataan Andri. Baginya jatuh cinta adalah sebuah kesalahan, namun tetap saja diam-diam ia semakin jatuh kedasar cinta itu sendiri.
Dirumah Andri...
"Yuk naik keatas, kamar kamu diatas disamping kamar Andri" Mama Siska tetap memegangi lengan gadis itu seakan tak ingin lepas.
Mereka masuk ke sebuah kamar yang sangat luas dengan dinding berwarna putih cerah. Kamar itu hanya berisi sebuah tempat tidur muatan dua orang dengan meja kecil disamping kiri dan kanannya.
"Nanti kalo kamu udah sembuh kita cari furniture ya sayang. Mama gak langsung beli karena takutnya kamu beda selera sama mama" terang Mama Siska.
Lika mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mama Siska.
"Mama?" batinnya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Andri dan Adi tidak ingin rasanya ketinggalan apapun tentang Lika. Lika sudah seperti selebritis idola yang harus terus di-update infonya.
Adi melompat ke atas kasur dan diikuti juga oleh Andri.
"Andri!!! Adi!!! Kalian apa-apaan sih seperti anak kecil saja" omel Mama Siska.
"Kapan lagi ya kan Tan ngerasain kasur baru" jawab Adi.
"Enak banget disini, entar malem tidur disini ahhh" timpal Andri.
"Hehh...Kalian ini. Turun!!!" titah Mama Siska.
Mendengar suara Mama Siska yang meninggi membuat nyali kedua anak muda itu menciut.
__ADS_1
"Mampuss!!!" Papa Hendra tiba-tiba masuk dan meledek mereka.
"Ini lagi!" timpal Mama Siska.
"COWOK SELALU SALAH" Ketiga lelaki itu berkata secara bersamaan.
Mama Siska hanya tersenyum geli mendengar ucapan mereka.
"CEWEK SELALU BENAR" sekali lagi mereka bicara secara bersamaan.
Lika hanya tertawa geli melihat mereka bertiga yang menciut nyalinya jika berhadapan dengan Mama Siska. Sungguh berbanding terbalik jika berhadapan dengan Lika. Mungkin hal itu yang membuat mereka nyaman berada dekat dengan gadis itu.
"Udah cuekin aja sayang. Mereka memang gitu" ujar Mama Siska.
"Iya Tante" jawab Lika denga memasang senyum termanisnya.
Ia memperhatikan seluruh ruangan itu, sangat luas dan mewah. Didepan tempat tidur terdapat dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan kolam renang milik keluarga itu.
Tempat tidurnya yang sangat luas bahkan bisa untuk tempat tidur seluruh keluarganya. Disudut ruangan terdapat pintu menuju kamar mandi dengan pintu yang terbuat dari kaca juga.
Ruangan itu yang masih kosong terasa sangat luas dan bahkan Lika sempat membandingkannya dengan ukuran rumah keluarganya di kampung halaman.
"Gila sih ini... Tiba-tiba jadi Putri Raja" batinnya.
"Oh iya sayang, kamu kan belum punya pakaian disini. Nanti ada mbak Lili yang nganterin beberapa baju buat kamu pake ya, kemarin dibeliin bareng Andri. Mbak Lili itu nanti pengurus pribadi kamu. Jadi kalo kamu butuh apa-apa langsung bilang ke mbak Lili aja" terang Mama Siska.
"What?"Pengurus? Sekaya itu ya keluarga bang Andri sampe setiap orang punya pengurus pribadi. Perasaan bang Andri biasa aja tuh kalo ngampus" batinnya.
"Tapi Tan, Lika biasa kok ngurus diri sendiri. Gak usah pake pengurus bisa kok" Lika memelas.
"Udah jangan ditolak...Mama mau turun dulu Oke. Kamu istirahat dulu" Mama Siska mencium pucuk kepala Lika lalu meninggalkan mereka diruangan itu dan diikuti oleh Papa Hendra.
"Duhh aku gak suka" ujar Lika menjatuhkan dirinya di kasur.
"Kenapa?" Adi bingung dengan perkataan Lika.
"Mana mau dia pake pake pengurus hahaha, loe kira adik gue manja seperti perempuan diluar sana" jawab Andri yang mengerti perasaa6 Lika.
Lika lalu bangun dan mendekati Andri yang dari tadi duduk lesehan di lantai seperti gembel.
"Bang Andri...Aku gamau gini bang, aku gak suka. Bantuin aku ngomong ke Tante dong bang, aku gak suka" gadis itu mengguncang-guncang tubuh Andri agar Andri setuju dengan permintaannya.
"Udah tenang aja, mbak Lili akan nurut dengan perintah kamu. Kalo kamu gak suka dia ngurusin kamu, kamu tinggal suruh dia bantuin kegiatan di dapur bareng yang lain. Gampang kan?" terang Andri.
Adi memilih diam dan memperhatikan gadis itu yang sedang membujuk Andri. Timbul banyak pertanyaan di kepalanya,
"Sebenarnya gadis ini aneh, dikasih enak malah gak suka" batinnya.
"Boleh ya bang gitu? Bagus deh. Lika kan gak suka kalo ada yang jadi CCTV kehidupan Lika" ucapnya polos.
Andri hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan gadis yang sekarang menjadi adiknya itu. Dengan kehadiran gadis itu, perasaan bersalah yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang dengan sendirinya.
__ADS_1