
Hari yang dinantikan pun tiba. Pukul lima pagi Lika sudah bangun dan membersihkan dirinya. Ia pun sarapan sendirian didalam kamar tidur karena sebentar lagi harus bersiap-siap.
Keluarga besar Lika telah berkumpul di kediaman Hermawan, lengkap seluruh keluarga inti dari kampung halaman. Hendra dan Siska juga sengaja mengosongkan jadwalnya khusus untuk Lika. Hanya Andri yang tidak ada kabarnya, seminggu sudah Lika berusaha menghubungi Andri namun tak kunjung mendapat balasan.
Lika juga semakin gelisah ketika Adi menunjukkan gelagat yang sama seperti Andri.
"Mungkin mereka gak bisa datang" batin Lika menguatkan diri sendiri.
Lika telah siap dengan dandanan anggunnya lengkap dengan toga. Jelang pukul delapan upacara wisuda berjalan di auditorium universitas tempat Lika kuliah.
Lika dan teman-temannya sangat ceria dan bahagia. Lika juga berusaha melupakan Andri dan Adi agar tidak mengacaukan suasana hatinya dihari bahagia itu.
Setelah upacara wisuda selesai, mereka pun berswafoto untuk mengabadikan momen tersebut. Lika dibanjiri banyak kado dan buket bunga dari junior, senior, teman-teman bahkan laki-laki yang berusaha mengambil hatinya.
"Kado kita bertujuh banding kado Lika sendirian lebih banyak punya dia" celetuk Lia.
"Kasian tuh mbak Lili mondar-mandir ke parkiran bawain kado-kado kamu Lik, mana gak berhenti-henti lagi" tambah Lia lagi.
"Sesekali Mbak Lili biar ada kerjaan, yuk kita foto yuk. Aku sengaja sewa kameraman buat acara hari ini tau" terang Lika.
Mereka pun berfoto bersama dan begitu juga dengan keluarganya. Tiba-tiba seorang orang laki-laki berdiri dibelakang Lika. Ia membawa sebuah buket bunga besar berbentuk hati dan sebuah paper bag berwarna pink.
"Hai calon istriku" bisiknya.
Lika pun memutar badan dan membulatkan matanya.
"Sayang!!!" Lika langsung memeluk Adi tanpa peduli banyak orang yang melihat mereka. Apa bisa dikata, rindu sudah menjadi berat.
"Happy Graduation day Lika Mey atau aku bilang Nyonya Prasetya" Adi memberikan buket dan paper bag itu pada Lika.
"Aku kirain kamu gak jadi dateng, aku kangen banget sama kamu" Lika masih bergelayut manja pada Adi.
"Mana mungkin aku gak dateng, ini kan hari spesial buat kamu jadi aku harus ada dihari itu"
"Tolong ya bang Adi, ini itu tempat umum dan banyak jomblo disini" celetuk Mia tanpa rasa malu.
"Ohh hai semuanya, gila ya kalian semua wisuda barengan" Adi memperhatikan satu-persatu wajah sahabat-sahabat Lika.
"Mana buket buat kami bang, masa Lika doang?" Lia mengeluarkan kata-katanya dengan santai tapi cukup menyindir lawan bicaranya itu.
"Ehh hahaha, oke oke. Besok aku titipin ke Lika ya. Gak kebawa hari ini" ucap Adi berdalih.
"Ditunggu!" jawab Ria jutek.
"Bang Andri kok gak ada? Bang Andri mana?" Lika celingak-celinguk mencari sosok Andri disekelilingnya.
__ADS_1
"Andri titip salam sama kamu, dia gak bisa dateng. Andri kan harus ngurusin perusahaan yang ada di New York."
"Perusahaan siapa? Perasaan Papa gaj punya perusahaan di New York deh"
"Punya kami dong" Adi menarik hidung Lika hingga memerah.
"Kamu!!! Sakit tau" ucap Lika merengek manja pada Adi.
Siska dan Hendra hanya tersenyum geli melihat tingkah laku putrinya itu. Begitu juga dengan Rani dan suaminya.
"Dasar Bucin. Menjijikkan" ujar Steven yang muak melihat kakaknya terus bermesraan didepannya.
"Kalian gak mau foto?" ujar Siska melihat Adi dan Lika asyik ngobrol dengan teman Lika.
Adi dan Lika pun berfoto berdua. Berbagai fose pun diberikan hingga berpuluh-puluh foto mendiami memori kamera itu.
Teman-teman Lika pun pamit untuk pulang bersama keluarga masing-masing. Keluarga Lika pun pulang bersama dengan Siska dan Hendra.
Namun Lika pulang bersama dengan Adi. Mereka singgah disebuah restoran mewah dan makan disana.
"Lulus juga cieee" ledek Adi.
"Apaan sih kamu"
"Cumlaude dong, keren!" Adi mengacungkan kedua jempolnya pada Lika.
"Ya ampun sayang, itu gak perlu kamu permasalahkan. Kamu udah menjadi yang terbaik, lulusan terbaik disetiap mata orang yang sayang sama kamu" hibur Adi membelai-belai punggung tangan Lika.
"Aku mau ngapain ya abis kuliah?"
"Hei hei hei... Pertanyaan apa-apaan ini, anak muda masa ngomongnya gitu sih" Adi menjewer telinga Lika hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Aduh aduh... sakit!!!"
"Coba ulangin!"
"Enggak enggak...Ampun...Sakit tau" Lika memegangi telinganya yang memerah mengantisipasi Adi akan menjewer kembali.
"Masa lulus Cumlaude malah ngomong gitu. Aku hubungin Lajur nih supaya predikat kamu dicabut. Gak cocok tau" ujar Adi kesal.
"Iya iya maaf. Becanda doang kok"
Mereka pun menyantap makanan yang sudah dihantarkan oleh waiters. Mereka makan tanpa bicara namun sesekali Adi mencuri-curi pandang pada Lika.
Tak pernah ketinggalan, Sandra ternyata mengikuti Adi hingga Indonesia. Sandra tak pernah melewatkan moment apapun yang berkaitan dengan Adi.
__ADS_1
Sandra meraih ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
"Malam ini jalankan sesuai rencana" Sandra menutup ponselnya dan meninggalkan restoran itu.
"Nikmati saja saat-saat terakhir kebersamaan kalian. Aku pastikan ini adalah saat terakhir kalian berpeluk manja" batin Sandra.
Ia memakai kacamata hitam dan masuk kedalam sebuah mobil sport berwarna merah maroon. Ia menjalankan mobilnya membelah jalanan kota Yogyakarta meninggalkan restoran tempat Adi dan Lika.
"Kenyang banget sumpahhh...Mana gerah ni kebaya" Lika mengipas tangannya.
"Kita pulang yuk, biar kamu juga mandi. Nanti malem kita jalan lagi"
"Iya yuk, nihh panas banget. Aku mau mandi" Lika mengambil tasnya dan memasukkan ponsel kedalamnya, sementara Adi meminta bil dan membayar makanan mereka.
Adi mengantarkan Lika pulang menuju kediaman Hermawan. Sesampai dirumah mereka mendapati keluarga besar Lika berada diruang keluarga sedang berbincang-bincang.
"Tumben cepet banget pulangnya?" tanya Siska.
"Lika mau mandi dulu ma, nanti malem kita pergi lagi boleh kan?" Lika nyengir malu-malu.
"Jangan kelamaan pulangnya ya sayang" sahut Siska penuh cinta.
"Siap deh hehehe, Lika mau mandi dulu" Lika berlari kecil meninggalkan semuanya.
"Adi juga naik deh Tante, Om" Adi menggaruk-garuk kepalanya bingung harus berbuat apa.
"Jangan aneh-aneh loh" Siska menatap Adi dengan mata menyergai.
"Tante seperti gak kenal Adi" sahut Adi langsung berlalu karena sadar semakin lama semakin terjebak dalam kata-kata calon mertuanya itu.
Sesampai di depan kamar Lika, ia sedang membuka toga pada rambutnya. Membuka satu-persatu jepitan rambut pada rambutnya.
"Mau dibantuin?" Adi masuk perlahan kedalam kamar Lika.
"Kamu ngapain? Aku mau mandi tau. Kamu belum jadi suami aku masih tunangan"
"Kan bentar lagi jadi istri aku" Adi memeluk Lika dari belakang.
"Ihhh...Lepasin! Aku mau mandi. Kamu pulang aja dulu sana, kamu mandi juga" Lika meronta-ronta melepaskan pelukan Adi.
Adi memeluk Lika semakin erat, enggan sekali melepaskan gadis itu.
"Adi Prasetya...Lepasin aku! Kamu harus nikahin aku dulu sebelum peluk-peluk aku. Lepasin!!!"
"Untung aku belum lulus kuliah di New York, kalo udah lulus aku gak bakalan lepasin kamu hari ini" bisik Adi dan melepaskan Lika.
__ADS_1
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Lika langsung mendorong Adi keluar dari kamarnya dan mengunci pintu agar laki-laki itu tak datang lagi.
"Nikahin aku aja belum, masa mau peluk-peluk aku" gumam Lika sembari berjalan kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.