
Lika pun kembali ke tempat tidur dengan perasaan yang bingung dan menyambung kembali tidurnya.
Pagi hari
Mama Siska masuk kedalam kamar Lika dan membukakan gorden agar cahaya matahari masuk kedalam ruangan itu.
Lika perlahan membuka dan mengucek matanya. Masih setengah sadar Ia duduk melihat wanita didepannya.
"Udah jam berapa ma?" Tanya Lika.
"Jam Tujuh sayang, mandi gih. Bentar lagi gaun kamu dianterin" Mama Siska duduk disamping Lika dan mengecup pucuk kepala gadis itu.
"Kok Mama baru bangunin aku sekarang?" sahutnya memelas.
"Kan tadi malem lama tidurnya, makanya mama gak bangunin. Udah sana mandi, mama tinggu di meja makan" Mama Siska bangkit dan meninggalkan gadis itu.
Lika meraba-raba bantalnya mencari sebuah ponsel. Ia mengotak-atik ponsel itu mencari pesan seseorang.
"Mama emang gak pernah lupa ulang tahun aku, mama papa sehat ya di Medan. Bulan depan Lika pasti ketemu kalian" menetes butiran bening dari matanya.
Ia pun melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah seyengah jam, Lika turun dan menemui mama Siska di meja makan.
"Anak mama udah wangi" mama Siska mencium pipi Lika.
Lika hanya tersenyum pasrah diperlakukan seperti itu oleh Mama Siska.
"Sayang, ini tante Dina temen Mama. Dia seorang designer terkenal dan mama juga minta tante ini yang design gaun kamu buat nanti malem" tutur Mama Siska.
Lika pun tersenyum dan mencium tangan Tante Dina.
"Ma, kita kan cuman kondangan. Apa gak lebay banget Ma pake pakaian designer segala? Lagian mama kan udah beliin Lika banyak baju di lemari" Lika berusaha menolak.
"Udah nurut aja anak manis, kamu harus tampil paling cantik dimana pun" sahut Tante Dina.
"Ya ampun lebay banget sih kehidupan orang kaya" batin Lika.
Lika pun hanya menurut. Ia menyantap sarapannya dengan penuh kekesalan.
Selama seharian Lika ikut dengan Tante Dina, memilih sepatu dan gaun untuknya. Lika juga dibawa ke salon untuk spa.
"Dedek mana Ma? Kok gak kelihatan?" Andri tiba-tiba muncul bersama Adi.
"Lagi sama Tante Dina, lagian kalo dia dirumah susah kan kita jalanin rencana" sahut Mama Siska.
"Pasti bete tuh hahaha...Lika kan gak suka pergi sama orang asing" ujar Adi.
"Iya pastilah, tadi aja berangkat bibirnya monyong gitu" sahut Mama Siska dan dilanjut tawa mereka bertiga.
__ADS_1
Sementara Lika bersama Tante Dina,
"Tan...Udah jam 4 nih, kita pulang yuk. Lika mau siap-siap dirumah" ujar Lika.
"Kamu udah bosan ya sayang? Oke kamu pulangnya bareng supir Tante aja gapapa? Tante nyusul bawa gaun kamu, yang penting kamu bersih-bersih dulu oke" terang Tante Dina.
"Oke Tante" sahut Lika dengan senyuman terpaksa.
Saat Lika tiba dirumah, Ia melihat semua anggota keluarga berkumpul dan termasuk Adi.
"Lika pulang" ujar gadis itu lesu.
"Anak gadis papa udah pulang? Kok lemes banget, Salim dulu nih Papa baru pulang" sahut Papa Hendra.
"Maaf pa, Lika bosen banget sama Tante Dina tadi. Oiya Ma, Pa, Lika naik yah mau bersih-bersih. Kata Tante Dina dia bakalan bantuin aku siap-siap nanti" ujar Lika.
"Yang cantik ya" Mama Lika mengelus punggung Lika, sementara Papa Hendra hanya tersenyum mengangguk.
"Lemes banget sih mukanya" ledek Adi.
"Diem atau aku semprotin cabe?" Lika menatap Adi sinis.
Lika langsung berlalu meninggalkan mereka menuju kamarnya. Moodnya sangat tidak baik saat itu namun Andri pun tak menggubrisnya. Lika pun semakin kesal.
Setelah selesai mandi Lika keluar dari kamar mandi dan sudah ada Tante Dina dan seorang gadis yang seumuran dengan Lika didalam kamarnya.
"Tante..Lika pake ini?" mata Lika terbelalak melihat sebuah gaun diatas ranjangnya.
"Iya dong, sini Tante bantuin" sahut Tante Dina.
Lika tercengang tak percaya,
"Serius Tan?"
"Udah diem aja, kamu dilarang bicara sebelum Tante selesai dandanin kamu ya" Tante Dina meletakkan telunjuknya dibibir Lika.
"Apa gak jadi pusat perhatian nanti aku disana astagaaa" Isak Lika dalam hati.
Pukul tujuh malam, Lika berdiri di depan cermin. Ia seolah tak percaya memandangi orang yang ada dicermin itu.
Lika menggunakan sebuah gaun berwarna biru muda dengan hiasan manik-manik yang mewah diseluruh permukaannya. Gaun itu sedikit terbuka dibagian bahu dan punggung sehingga memperlihatkan kulit mulus gadis itu.
Ia juga menggunakan sebuah sepatu berwarna hitam dengan tinggi kita-kita sepuluh sentimeter. Gadis itu didandani dengan sangat cantik, tambutnya disanggul simpel dengan sebuah mutiara diujungnya.
Awalnya Tante Dina ingin memakaikan Lika sebuah kalung berlian milik Mama Siska, namun Lika lebih memilih menggunakan kalung berlian mungil yang diberikan Adi saat malam itu.
"Gilak gue kayak princess di Disneyland" batinnya.
__ADS_1
"Dedek Abang belum puas nih ngaca?" ujar Andri tiba-tiba.
"Bang Andri..."
"Kamu cantik banget, sumpah Abang gak bohong"
"Abang juga tapi banget pake jas, ikut juga?" Lika melirik Andri dari atas sampai bawah.
"Iya, mama tadi pergi duluan. Jadi Abang mau nganterin kamu, dipaksa Mama" sahut Andri berbohong.
"Apa aku gak lebay banget gini bang?" Lika khawatir.
"Cantik gini kok, udah yuk berangkat" Andri menarik Lika keluar dari kamarnya menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah itu.
Mobil itu menuju sebuah hotel yang paling mewah di Kota Yogyakarta.
Selama diperjalanan Lika memilih diam tak bergeming. Ia masih khawatir dengan penampilannya yang sangat mencolok di pesta orang lain.
"Apa semua orang kaya bakalan gini ya kalo kondangan? Aku kan malu. Mama ngapain sih harus segininya dandanan aku" Lika meringis dalam hati.
Saat tiba di hotel, Lika semakin gugup tak karuan. Kakinya seakan berat melangkah. Andri paham betul perasaan Lika saat ini. Lika adalah gadis yang selalu berpenampilan menarik namun tetap simpel. Namun hari ini Ia didandani bak bidadari sehingga malah membuatnya tidak percaya diri.
"Bang, Lika takut masuk" Lika menggenggam lengan Andri dan menyandarkan kepalanya.
"Yang lain ada loh lebih lebay dari kamu bajunya, biasa aja kok malau" Andri kembali berbohong untuk meyakinkan Lika.
"Bener?" Lika mendongakkan kepala.
Andri mengambil sebuah tisu dari dalam handbag yang digunakan Lika dan menghapus cairan tangan adiknya itu yang basah karena gugup.
"Yuk masuk" Andri tersenyum dan menggandeng Lika menuju aula hotel itu. Andri memang selalu bisa menenangkan gadis itu.
Saat Andri dan Lika tiba didepan pintu, seorang laki-laki membuka pintu aula itu. Ketika mereka masuk terdengar letusan balon dan bunyi terompet. Terlihat sebuah papan bunga elektronik bertuliskan Happy Birthday Princess Lika.
Mata Lika terbelalak melihat pemandangan yang ada di ruamgan itu, sebuah pesta mewah digelar untuknya. Sulit untuk Ia percaya bahwa pesta itu adalah miliknya, Ia adalah bintang utamanya.
"Ya Tuhan kalian bohong" cairan bening menetes di pipi cantik gadis itu.
Andri tak mengucapkan sepatah katapun untuk mengklarifikasi. Andri merangkul Lika dan menuntunnya menuju sebuah kue raksasa, kue ulang tahun Lika yang berstatus Nona Muda Hermawan. Ya, putri dari pengusaha sukses Hendra Hermawan.
Mama Siska pun menghampiri kedua anaknya itu dan menghapus air mata Lika.
"Udah dong nangisnya sayang, masa udah cantik-cantik gini nangis sih" Mama Siska memeluk putrinya itu.
"Kalian kok bohong sih" Lika masih menangis terharu.
"Selamat ulang tahun Nona Lika Hermawan" ucap seorang MC pesta mewah itu.
__ADS_1