Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 61


__ADS_3

Udah pertengahan bulan aja nih hihihi


Author aja gak sih yang ngerasa liburan kali ini cepet banget berlalunya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Oh iya, bab ini author mau flashback dikit-dikit boleh lah ya hehehe


Selamat membaca semuanya๐Ÿท


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Dengan langkah gontai Lika masuk kedalam apartemennya. Ia langsung duduk di sebuah sofa empuk berwarna merah maroon.


Perlahan air mata gadis itu mengalir kembali. Isak tangis kesedihan menghiasi suasana apartemen mewah milik Lika. Kembali terlintas semua yang sudah terjadi antara Ia dan Adi termasuk pengkhianatan yang sudah Adi lakukan.


Lika mengangkat kakinya keatas sofa dan meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Air mata mengalir deras tanpa ketidakmampuan gadis itu menahan luka yang sudah Ia alami.


"Mengapa kita bertemu lagi?"๐Ÿ˜ญ


Lika memukul lututnya untuk melampiaskan sakit hatinya pada semua orang. Adi berkhianat padahal itu hari wisuda S1 baginya, Mama Siska tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah enam bulan Ia di Paris hingga Lika harus berjuang sendiri hingga sekarang. Bukan sekali dua kali Lika jatuh sakit karena harus berkerja dan belajar hingga tak sempat beristirahat.


Setelah Mama Siska menghilang, Lika harus hidup susah hingga tak mampu membayar Lili, pengurus pribadinya lagi. Lika sudah menganggap Lili sebagai saudari sendiri namun karena hal itu Lili harus kembali ke Indonesia. Ia pulang dibantu oleh kekasihnya yang berada di Yogyakarta.


Lika tiba-tiba terperanjat, Ia teringat sesuatu. Ia berlari ke dalam kamarnya dan mencari sebuah kotak yang diberikan Lili sebelum Ia kembali ke Indonesia. Lili berpesan jika Lika bertemu kembali dengan orang-orang di masa lalunya, pasti Ia akan membutuhkan kotak itu.


Setelah menemukan kotak kecil yang dimaksud, Lika membawa kotak itu dan duduk di tepi ranjangnya.


"Dulu aku pikir aku gak akan bertemu mereka lagi mbak, tapi mbak bener. Aku malah bertemu mereka lagi." Air mata Lika kembali menetes hingga jatuh diatas kotak itu.


Perlahan Lika membuka kotak itu. Lika kembali menangis ketika melihat isinya.


"Ya Tuhan...hiks..hiks.."


Kotak itu berisi benda yang berhubungan dengan Adi. Ponselnya, kalung berlian dan sebuah cincin, ya cincin tunangan. Disana juga terdapat sebuah album kecil berisi momentum kemesraan Lika bersama Adi dan sebuah surat.


Lika membuka album foto itu dengan air mata yang masih berlinang. Foto Lika dan Adi saat mereka bertunangan, pesta ulang tahun Lika yang ke dua puluh tahun, kebersamaan mereka di teman kota dan satu yang paling menyakitkan yaitu foto Adi yang menangis histeris pada pemakaman Lika palsu.


Lika memeluk album foto itu dengan perasaan yang campur aduk.


"Maafkan aku..." ucapnya tanpa suara.


(Sesak banget pasti, duhhh Author jadi baper๐Ÿ˜ญ)


Lika pun beralih ke sebuah surat.


'Surat dari siapa?' batin Lika.


*Juni Tahun 20xx (tahun ke tiga dalam novel ini)


Nona Lika yang cantik, Ini Lili Non. Surat ini saya tulis satu malam sebelum kepulangan saya ke Yogyakarta Non.


Lili tau Non Lika mengalami masa-masa yang sangat sulit selama satu tahun ini, tapi saya tau disaat Non Lika membaca surat ini pasti keadaan sudah lebih baik kan Non. Saya juga berharap Non Lika bertemu dengan Mas Adi juga Non.


Saya buat surat ini hanya ingin menyampaikan pesan Tuan Hendra saat keberangkatan kita ke Singapura ketika Non Lika kritis. Tuan berpesan untuk memberikan barang-barang Non Lika kembali saat Non Lika sudah sadar karena beliau yakin ada kesalahpahaman antara Non Lika dan Mas Adi.


Tapi mengingat hati Non Lika saat itu masih dirundung duka saya berpikir ulang untuk memberikannya.


Selama Non Lika masih masa penyembuhan di Singapura, saya juga sering berkomunikasi dengan Tuan Hendra di Yogyakarta. Beliau minta maaf karena keegoisan Nyonya yang tidak dapat ditahan sehingga Non Lika langsung dikirim keluar negeri.


Saat kabar Non Lika meninggal, Mas Adi sangat histeris dan putus asa Non. Tuan mengatakan bahwa beliau curiga jika apa Non lihat sesaat sebelum kecelakaan itu sudah diatur oleh seseorang.


Saya yakin Non jika Mas Adi sangat mencintai Non Lika, terlebih lagi hingga sekarang saat surat ini ditulis Mas Adi setiap bulan kembali ke Yogyakarta untuk ziarah ke makam palsu itu Non.


Tapi saya juga bingung Non mengapa tiba-tiba Nyonya malah menghilang tanpa kabar. Bersamaan dengan hilangnya Nyonya, komunikasi saya dengan Tuan juga terputus.


Lili harap Non Lika senantiasa dilindungi oleh yang mahakuasa. Selamat tinggal Non.


ย 

__ADS_1


Lili*


ย 


"Mbak Lili."


Lika tak kuasa menahan tangisannya saat membaca surat dari Lili. Benar kata Lili, selama lima tahun ini banyak hal aneh yang terjadi dalam hidup Lika.


Lika mengambil kembali ponselnya yang sudah lima tahun tak digunakan itu.


"Mudah-mudahan masih bisa digunakan."


Lika menekan tombol power on/off ponsel yang populer pada zamannya itu.


"Hidup" ucapnya riang. Disela-sela menunggu ponsel itu beroperasi normal Lika mengambil beberapa lembar tissue di meja rias dan menyeka air matanya.


Lika membolak-balik layar ponsel itu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih seperti dahulu. Lika membuka aplikasi WhatsApp, flashback dengan pesan-pesannya dulu bersama Adi.


Pesan teratas sungguh menyayat hati Lika. Pasalnya pesan itu adalah pesan Adi. Lika tau pasti itu adalah pesan yang dikirim Adi saat kejadian di hotel itu.


- *Sayang, kamu dimana?


- Sayang dengarkan dulu penjelasanku


- Lika, kita harus bicara sayang. Ini gak seperti yang kamu lihat


- Sayang?


- Lika, please...Aku dijebak! Tolong percaya sama aku*.


Lika menutup semua pesan itu. Rasanya tidak sanggup Lika harus membuka semua pesan-pesan itu. Hatinya terguncang hebat. Beribu kemungkinan kembali muncul dalam pikiran Lika.


Apa benar Adi dijebak?


Apa benar ini ulang orang lain?


Banyak hal aneh tiba-tiba singgah dalam pikiran Lika. Segalanya nampak berubah dari yang Ia pahami selama ini.


Ditempat lain, Leonard sedang menghancurkan seisi apartemennya. Leonard tak terima jika Lika bertemu lagi dengan orang-orang di masalalu gadis itu. Leonard tau persis apa saja yang sudah terjadi pada Lika selama gadis itu kuliah di kota ini. Hati Leonard sakit, tak terima jika Lika harus kembali memaafkan mereka terlebih Ia akan kehilangan Lika sebagai wanitanya.


Isi apartemen Leonard benar-benar hancur, pecahan kaca bertebaran dimana-mana dan tangan Leonard juga mengeluarkan darah karena menghancurkan cermin.


"Aku tidak akan diam!!! Cila milikku!!"


Leonard menyapu ruangan itu dengan matanya, hancur bagaikan diterpa gempa yang sangat besar. Wajah Lika saat di dalam mobil tadi kembali muncul dalam pikirannya. Pria itu duduk karena kakinya tak mampu menahan badannya lagi.


"Apa aku telah menyakitinya? Lalu apa bedanya aku dengan mereka?" ucapnya lirih.


Selama ini Leonard menjadi satu-satunya sosok pelindung dalam kehidupan Lika setelah pertemuan mereka malam itu.


***


Flashback


Pukul sepuluh malam Leonard baru saja selesai meeting dengan beberapa klien yang penting disebuah restoran. Setiap hari Leonard mengerjakan hal yang sama dari Ia berangkat pagi dan pulang malam.


Awalnya Leonard tidak menyukai pekerjaan ini karena Leonard lebih suka menjadi pilot. Namun setelah Daddy-nya meninggal Mommy memaksanya memimpin perusahaan.


Malam itu Leonard mengendarai mobil seperti biasanya, ia tidak suka menggunakan supir diluar jam kerja. Namun karena sudah lelah Leonard tidak memperhatikan jalanan hingga hampir saja menabrak seorang wanita.


Beruntung saja tak ada satu centi pun kulit gadis itu tergores mobilnya, namun naas wanita itu malah pingsan. Leonard mengutuki harinya yang sial dan membawa wanita itu kedalam apartemennya.


"Cantik!" Satu kata yang keluar dari mulut Leonard ketika membaringkan wanita itu diatas ranjangnya.


Leonard memanggil dokter pribadinya ke apartemennya untuk memeriksa wanita itu. Tak menunggu beberapa lama dokter tersebut sudah sampai di apartemen Leonard.


Tanpa basa-basi lagi Leonard langsung mempersilahkan dokter memeriksa kondisi wanita yang sedang pingsan itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya dok?"


Dokter tersebut membuka stetoskopnya dan menyimpannya kembali.


"Dia baik-baik saja, hanya shock dan mungkin wanita ini kelelahan dan butuh istirahat. Ini ada beberapa vitamin silahkan ditebus ke apotik. Saya permisi dulu." Dokter menyerahkan selembar kertas dan langsung pulang.


Tangan wanita itu tiba-tiba bergerak dan matanya mulai terbuka secara perlahan. Leonard mendekat dan memperhatikan gadis itu seksama.


"Aku dimana? Kamu siapa?" pertanyaan pertama keluar dari mulut Lika dengan ekspresi ketakutan.


(Siapa yang gak takut coba, gadis perawan tiba-tiba bangun di kamar orang. Mana ada cowok lagi disitu๐Ÿ˜Œ)


"Tenang Nona, saya tidak berniat jahat. Kamu ada di apartemen saya. Tadi saya hampir menabrak Nona dijalan dan Nona pingsan," terang Leonard.


Lika kembali mengingat-ingat apa yang sudah terjadi.


"Maaf Sir. Kalau begitu saya pulang saja."


"Jangan, jangan Nona. Kamu tidur disini saja malam ini. Dokter sudah memeriksa kamu dan mengatakan kamu harus beristirahat."


Lika menatap Leonard dengan tatapan menyelidik. Demi apa, dalam kondisi malam hari seperti ini ada yang sedang mengajaknya tidur di kamar yang sama.


"Kamu tenang saja, kamu bisa pakai kamar ini dan menguncinya. Saya akan tidur di ruang tamu."


Lika terdiam.


"Kamu mau kan?" desak Leonard. Sebenarnya bukan kondisi Lika yang dikhawatirkan oleh Leonard, namun pesona gadis ini ternyata telah mencuri hatinya. (Dasar Modus!!๐Ÿ˜Œ)


"Kamu bukan penculik kan? Atau kamu psikopat yang mencari mangsa?" Tatapan Lika sangat tajam dan membuat Leonard tampak canggung.


'Tampan begini dibilang penculik!' batin Leonard gusar. Leonard masih berusaha tersenyum walaupun sedikit kesal dengan tuduhan yang dilayangkan Lika.


"Kamu tenang saja, kamu bisa mempercayai saya."


Lika pun mengangguk pelan walaupun tatapan tidak percaya masih terlihat dimatanya. Leonard pun berdiri dari duduknya.


"Saya akan keluar sebentar, anggap saja ini rumah kamu."


Lika mengangguk lagi dan Leonard pun keluar dari ruangan itu.


Hanya satu menit, jika dihitung mungkin tidak sampai satu menit Leonard sudah kembali.


"Em...anu. Kita belum berkenalan!" Leonard menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Ingin rasanya Lika tertawa terbahak-bahak saat itu, namun Lika menahannya karena. Leonard menyodorkan tangannya,


"Leonard Christian."


Lika membalas uluran tangan Leonard dengan ragu,


"Lika Mey."


Perkenalan yang tidak disengaja itu menjadi awal persahabatan mereka hingga saat Leonard melamar Lika malam itu. (Berubah status deh๐Ÿ˜‚)


Flashback off


***


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


TEMAN-TEMAN READERS-KU TERSAYANG ๐Ÿ˜


TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


JANGAN LUPA VOTE JUGA YA ๐Ÿ˜‡KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULIS๐Ÿ’Œ๐Ÿ˜ป

__ADS_1


THANK YOU๐ŸŒˆ


Anne Chellycaโœ๏ธ


__ADS_2