
Hai teman-teman readers yang baik hati
Maafin author ya kemarin-kemarin gak update...
Hari ini Author usaha banget buat update walau telat
Maaf ya...
Happy reading...
****
Sepanjang perjalanan yang cukup lama Adi tak berani berkutik. Adi hanyut dalam pikirannya sembari sesekali melirik ke arah Lika mana tau gadis itu agak membaik sedikit moodnya. Adi terus-menerus bertanya dalam hati sebenarnya apa yang sedang terjadi pada gadis absurd ini.
Berbeda halnya dengan Adi, Lika malah menikmati perjalanannya dengan tidur dan mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Semenjak berbaikan dengan Adi memang Lika selalu kurang tidur dan ditambah aktivitasnya yang padat di butik juga. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk tidur.
Menjelang tiba di bandara Lika sudah terbangun dan menggeliat walaupun dengan tempat yang terbatas.
"Sayang...udah jam berapa sih? Kita masih lama nyampenya?" tanya Lika begitu melihat Adi menatap ke arahnya.
Adi menggerjap beberapa kali, ia menelan ludahnya kasar. Gadis didepannya benar-benar aneh.
"Sayang? Kamu kok liatin aku gitu sih?" tanya Lika tanpa merasa bersalah sedikitpun. Entah lupa atau pura-pura lupa tapi Lika bersikap seolah-olah memang tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Eh? Enggak kok. Ini udah mau nyampe sih kayaknya."
"Kamu tau darimana kita mau nyampe? Kan kita di udara!"
"Tadi aku telepati dulu sayang."
"Apaan sih bang, ada-ada aja deh." Lika memperbaiki duduknya dan memeluk Adi dengan posisi menyamping. Lika menunjukkan rasa nyamannya pada Adi membuat Adi tak tahan untuk merangkulnya. Gemas sekali jika gadis ini bersikap jinak dan manis.
"Sayang?" ucap Lika sendu sekali.
__ADS_1
"Hmmmm...."
"Kira-kira bunda nanti Nerima aku gak ya jadi menantunya?" tanya Lika seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah kekasihnya itu.
"Ini yang aku pikirkan dari tadi" batin Adi.
"Kok ngomongnya gitu?" Adi mencium kepala Lika.
Sama halnya dengan jalan pikiran Lika, ia pun merasakan hal yang sama. Sikap penolakan yang ditunjukkan oleh Bunda Renaya saat melihat Lika masih hidup sangatlah kecil kemungkinannya bahwa Bunda Renaya akan merestui pernikahan mereka.
"Aku takut aja bang!" Lika semakin membenamkan wajahnya di dada Adi.
"Kamu ingat kan kemarin..."
"Ssttt...Sudahlah sayang. Kamu jangan pikirkan itu lagi ya, kita akan jalanin sama-sama dan kita akan perjuangkan sama-sama. Aku sayang sama kamu, kamu juga sayang kan sama aku?"
"He'em. Tapi aku takut aja bang."
"Tadi aja marah-marah, sekarang melow banget kayak anak kucing. Mana singa yang tadi coba, dasar gak konsisten!" umpat Adi dalam hati.
Saat keluar dari pesawat Lika tersenyum sangat lebar. Wajahnya tiba-tiba berseri-seri dengan lesung pipi di sebelah kanannya.
"Bang..." ucapnya dan merangkul tangan kiri Adi.
Adi menoleh tanpa suara.
"Aku seneng banget pulang ke Indonesia." Lika menghirup nafas panjang dan dikeluarkan dari mulutnya.
"Setelah lima tahun akhirnya menghirup udara tanah air lagi" tambahnya masih dengan senyuman berseri.
"Ini apaan sih? Tadi marah terus sedih ehh sekarang seneng. Aku bisa gila kalo gini caranya. Kenapa kamu malah jadi nyebelin setelah kita mau nikah sayang...."
"Aku seneng kalo kamu seneng. Pokoknya gak boleh sedih, okey?" ucapnya hati-hati daripada harus mencari masalah dengan gadis moody satu ini, bisa-bisa Adi jadi bulan-bulanan.
__ADS_1
Dengan sebuah taxi mereka meninggalkan bandara menuju kediaman Prasetya, rumahnya Adi. Hati Adi mulai tak tenang menduga-duga apa yang akan terjadi di rumah jika ia membawa Lika ke depan Bundanya. Dengan polosnya Lika malah terlihat sangat antusias melihat-lihat kondisi kota Yogyakarta yang ramai karena jam pulang kerja. Lika bersikpa seolah-olah baru pertama kali, ya tidak salah juga karena sudah lima tahun Ia meninggalkan kota bersejarah baginya.
"Bang, bang...Lihat taman itu! Kita pernah jalan kesitu sampe kamu dimarahin mama karena aku pulang telat kemarin. Ingat gak kamu diceramahin sama mama di ruang tamu hahaha" ucapnya mengenang kenangan manis itu.
"Iya ingetlah pasti. Tapi jahat banget kekasihku, udah aku diomelin eh dia malah enak-enak masuk kamar ninggalin aku!"
"Hahahaha...kan aku dihukum juga bang." Lika memeluk Adi, bersyukur atas segala karunia Tuhan karena masih mempertemukan dan mempertahankan cinta mereka setelah diuji oleh waktu.
"Aku sayang banget sama kamu..." ucap Adi membalas pelukan Lika.
"Aku juga sayang kamu Tuan Es Batu!"
"Eh! Kamu pernah ledekin aku itu kayak Es Batu sama temen-temen kamu kan?" ucap Adi dan menggelitiki Lika.
"Kok tau?" tanya Lika sembari tertawa.
"Dasar ya! Dikasih tau Ana lah."
"Emang kamu mirip es batu kan, diem dan dingin. Beku!"
"Tapi kamu cinta kan?" sahut Adi dengan nada meledek.
Begitulah mereka mengenang masa-masa indah mereka sepanjang perjalanan. Walaupun dengan sedikit perdebatan tapi takdir seperti tak menghendaki perpisahan.
*****
Segini dulu yaps buat hari ini, semoga kalian suka.
Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya...
Jangan lupa singgah di novel baru aku
Judulnya Allea
__ADS_1
Selamat membaca
Author Balik lagiš„°