Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 34. Pulang Kampung


__ADS_3

Yogyakarta, Juni Tahun Pertama


Hari ini Lika bangun dengan semangat yang membara. Bagaimana tidak, hari ini Ia akan mengunjungi orang tua kandungnya dan kampung halaman yang sudah sangat Ia rindukan. Bahkan Lika tak dapat tidur semalaman karena tak sabar menunggu pagi.


"Anak mama cantik banget pagi ini" ujar Siska yang berdiri memperhatikan Lika dipintu.


"Ehh Mama. Liat deh ma, Lika cantik kan?" Lika berputar-putar layaknya fashion show didepan mamanya.


"Cantik banget malah, lebih dari Miss World" Siska menghampiri putrinya dan mencium pipi Lika.


"Lika udah gak sabar pengen ketemu semua orang yang di kampung ma, kangeeeeennnn bangettttttt" Lika melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil.


"Iya iya jangan lompat-lompat sayang, kamu itu udah anak gadis. Jangan seperti anak kecil" tukas Siska menghentikan aksi putrinya.


"Oiya nanti Lika keringatan lagi, luntur makeupnya" Lika menghampiri cermin memeriksa dandanannya yang sudah satu jam dipersiapkan mulai dari kepala hingga ujung kaki.


"Yaudah yuk turun, barang-barang kamu udah dimasukkan ke dalam mobil semua" Siska menuntun Lika keluar.


Lika melirik keseluruhan kamarnya memperhatikan apakah ada sesuatu yang tertinggal. Ia meraih tas Hermes coklat miliknya. Ia membuka tas itu dan memastikan barang-barang yang dibutuhkannya ada didalam.


"Gak ada ketinggalan apa-apa kan sayang?" tanya Siska memastikan.


"Enggak ma" Lika tersenyum dan menggandeng Siska.


"Sayang, ini titipan Mama buat Mbak di kampung" Siska memberikan sebuah kotak kecil berbalut pita berwarna biru.


Lika memperhatikan kotak itu dengan seksama, Lika menebak-nebak apa isinya.


"Hehh..Ayo disimpen" ujar Siska.


"Hehehe iya ma" Lika memasukkannya kedalam tas.


"Hai cantik" Adi mencolek dagu Lika.


"Jangan sentuh-sentuh bisa gak sih?" Lika berlindung dibalik punggung Siska.


Adi tertawa menang karena pagi-pagi sudah bisa menggoda gadis itu.


"Kalian hati-hati ya" ujar Andri.


"Loh? bukannya Abang ikut?" tanya Lika.

__ADS_1


"Abang ada urusan Minggu depan dik, entar Abang nyusul" terang Andri.


"Kenapa gak sekalian nyusul sama curut ini aja bang?" Lika melirik Adi.


"Hehhh...Gak boleh gitu sayang" Siska melerai sebelum Lika dan Adi berperang.


Siska sebenarnya sedikit khawatir karena melepaskan putrinya itu pergi bersama Adi. Didepan matanya saja mereka selalu bertengkar apalagi dibelakangnya. Meskipun begitu Andri tetap meyakinkan dia bahwa Lika akan tetap aman bersama Adi.


Andri melihat penampilan Lika dari rambut sampai ujung kaki. Mamanya berhasil mengubah penampilan Lika yang sederhana menjadi layaknya seorang tuan putri. Mulai dari sepatu, pakaian dan aksesoris rambut Lika semuanya barang mahal. Namun begitu penampilannya tetap terlihat simple dan elegan.


Lika juga sudah mulai mendandani dirinya. Itu terlihat dari rambutnya yang dibuat ala-ala selebgram. Hal ini semua atas bujukan dari Siska karena dia selalu membelikan barang-barang mewah namun tak dikenakan oleh gadis itu.


"Btw anak mami udah pinter ya pake barang-barang mahal" ujar Andri meledek Lika.


Lika tersontak dan refleks menyembunyikan tasnya.


"Andri...Kamu ini" Siska melotot.


"Iya deh iya deh...Salah mulu gue" Andri mengalah.


"Yaudah sayang, gak usah pedulikan Andri. Itu kata lain dari kamu cantik. Iya kan Andri?" Siska menginjak kaki Andri.


"Iya ma, adek Andri emang gadis paling cantik" sahut Andri dan memeluk Lika walaupun menahan rasa sakitnya.


"Mama, bang Andri, kami berangkat ya" Lika mendongakkan kepalanya.


"Iya sayang, hati-hati ya anak Mama. Adi! Awas aja anak tante kenapa-kenapa, Tante cincang kamu" ancam Siska.


"Siap Tante" Adi meletakkan tangan di alisnya.


"Non Lika, Ini Bakpianya" Lili memberikan sebuah kantung belanjaan.


"Makasih mbak Lili. Jagain mama ya mbak" Lika mengambilkan kantung itu.


"Yakin gak mau bawa mbak Lili?" Siska memastikan.


"Enggak ma, udah ya" Lika mencium pipi Siska dan masuk kedalam mobil.


"Dahh sayang" Siska melambaikan tangannya.


"Dadahh Mama" Lika pun duduk bersandar. Iya memeriksa wallpaper ponselnya. Keluarga kecilnya di desa yang sudah sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Ponsel baru" ledek Adi.


"Ya ampun kenapa semua orang begitu perhatian padaku hari ini" cibir Lika kesal.


"Tapi kamu cantik banget" Adi menarik tubuh Lika agar bersandar di bahunya.


"Aku udah kangen banget sama kamu” bisik Adi.


Lika menatap Adi curiga, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Adi. Mereka sudah hampir sebulan tak bertemu kecuali dikampus yang hanya saling lihat namun malu untuk menyapa.


"Tapi aku gak terlalu peduli mau kamu sekarang penampilannya gini atau yang dulu kamu tetap cantik" tambah Adi.


Lika tersenyum merona mendengar ucapan Adi. Lika sebenarnya tidak ingin orang menyukainya hanya karena uang. Banyak yang sudah Lika lihat raut wajah penjilat semenjak Ia masuk kedalam keluarga Hermawan. Mereka hanya menginginkan hidup mewah dan berkelas.


Bukan satu dua orang juga yang menggandeng Lika dan berusaha untuk menjauhkannya dari sahabat-sahabatnya. Namun begitu Lika tetap tidak berubah, Ia tetap berlaku seperti sebelumnya.


Setelah tiba di Bandara Adisucipto, mereka langsung Check in dan hanya menunggu 30 menit mereka langsung berangkat menuju Kualanamu.


"Kamu ngantuk?" tanya Adi melihat Lika sudah beberapa kali menguap.


"Sempoyongan" jawab Lika polos.


"Yaudah tidur aja dibahu aku, sekitar tiga jam perjalanannya. Cukup kan buat kamu tidur" terang Adi.


Lika pun mengalihkan pandangannya ke jendela melihat-lihat pemandangan diluar pesawat.


Adi menarik tubuh Lika agar bersandar padanya.


"Udah tidur aja" Adi meletakkan kepalanya Lika dipundaknya dan mengelus tangan gadis itu.


Lika tak melawan sedikitpun, ia juga sudah sangat mengantuk.


"Nanti bangunin ya" ujar gadis itu.


"Iya nanti pasti aku bangunin" Adi sibuk memilah-milah jari-jari tangan Lika memperhatikan setiap kuku yang diberi kutek.


"Tante Siska berhasil membuat Lika terlihat layaknya anak-anak orang kaya lainnya" batin Adi.


Lika pun tertidur dibahu Adi. Sudah beberapa kali Ia naik pesawat namun kondisinya tetap sama, gadis itu selalu sempoyongan. Biasanya walaupun sendiri gadis itu akan tetap tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada tas besar. Namun kali ini beruntung ada Adi yang menemani Lika.


Adi melirik wajah Lika yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Kamu tuh cantik kalo diem gini. Gak kebayang kalo kamu gini, gak bawel dan cerewet seperti biasanya" batin Adi.


Adi terus memegang tangan Lika dan terlihat enggan melepaskan. Walaupun bahunya terasa pegal Ia tetap membiarkan gadis itu tertidur nyenyak tanpa gangguan apapun.


__ADS_2