
Beberapa episode lagi deh ya...
Happy reading 🥰
*****
Disaat sedang menikmati suasana bahagia itu Seorang suster masuk ke dalam ruangan dengan membawakan sebuah nampan makanan untuk Sandra.
"Permisi pak, Bu. Pasien harus sarapan dahulu ya..." ucap suster sopan.
"Silahkan suster" sahut Bunda Renaya.
Sang suster pun meletakkan nampan di atas nakas dan menyuapi Sandra. Kasihan sekali nasibnya harus disiapin suster.😂
"Kalian pasti belum makan kan? Mandi dulu baru keluar cari makan sana, bunda udah sarapan dari rumah tadi!" ucap Renaya pada anak dan calon menantunya.
"Iya Bunda" sahut Lika dan Adi bersamaan.
Setelah membersihkan tubuh masing-masing di kamar mandi rumah sakit Lika dan Adi menuju sebuah cafe di sekitar rumah sakit tersebut. Mereka akan sarapan sekaligus menemui Doni untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah terjadi beberapa tahun ini.
Adi dan Lika sudah berada di cafe menunggu seseorang beserta pesanan mereka.
"Bang...aku mau nanya deh!" ucap Lika setelah memesan makanan.
"Kamu mau nanya apa? Please jangan menjebak, cukup di pesawat aja aku dikibulin sama kamu."
Lika terkekeh mengingat perbuatannya pada Adi di pesawat kemarin.
"Enggak kok, ini serius!"
"Mau nanya apa memangnya?" tanya Adi lagi.
"Kok Bunda tau sih kita di rumah sakit? Kita kan belum ngabarin bunda soal kita pulang ke Indonesia bang, kamu kasih tau dia ya?" tanya Lika beruntun.
"Iya!" jawab Adi singkat, padat dan jelas.
"Terus kok Bunda tiba-tiba baik?" tanya Lika lagi.
Pletak! Adi menyentil kening Lika.
"Emang Bunda aku pernah jahat sama kamu?" tanyanya lagi.
"Aduhh..sakit tau! Bukan gitu maksudnya bang."
"Jadi maksudnya gimana?" tanya Adi menggoda.
"Ihh...Kamu ngerti tau pura-pura gak ngerti. Males deh!" ucapnya cemberut. Mulai deh dramatis sikap manusia planet satu ini.
"Hahahaha...Dasar cewek ya, maunya dimengerti Mulu padahal pengertian gak mau!"
"Ohh...jadi gitu ya?" ucap Lika dengan nada mengancam. Peka dengan sirine bahaya Adi langsung memeluk Lika dan menciumi ceruk leher gadis itu.
"Jangan marah dong sayang...Iya aku ngaku, aku yang kasi tau bunda tentang Sandra yang udah jebak kita dulu. Aku juga udah minta bunda supaya gak marah lagi sama kamu karena aku gak mau nikah kalo gak sama kamu."
Lika memicingkan matanya,
__ADS_1
"Jangan-jangan bunda Renaya diancam sama bang Adi, benar-benar gak ada akhlak!"
"Jangan marah lagi ya sayang..." ucap Adi memohon.
"He"em" jawab Lika.
Bola mata Lika tertuju pada seorang pria dengan kemeja berwarna hijau tua. Pria itu mendekat ke meja mereka.
"Ka..kamu? Kamu Lika?" ucapnya gagap. Tidak jauh berbeda dengan semua orang yang sudah bertemu dengan Lika, semuanya nampak tidak percaya bahwa gadis itu masih hidup.
Lika tersenyum ramah dan menyalami orang di depannya.
"Hai Doni, lama ya kita gak ketemu."
Doni membalas uluran tangan Lika dengan kikuk, demi logika apapun Doni merasa ini sangat tidak masuk akal.
"Kok kamu masih hidup?" tanya Doni penasaran.
"Jadi kamu gak seneng nih aku masih hidup?" tanya Lika menggoda.
Adi menatap Lika dan Doni bergantian. Bagaikan dibakar hidup-hidup, suasana cafe yang adem terasa sangat panas bagi Adi. Ingin rasanya Adi memasukkan Lika kedalam kamar agar tidak ada laki-lakiyang menatapnya seperti itu ditambah lagi Lika tersenyum menambah kecantikan wajahnya di mata Doni. Habislah! Adi kebakaran!
"Se.. senang kok, bingung aja" ucap Doni masih dengan kegugupannya.
"Itu gak perlu dibahas, yang penting sekarang ya kan. Oh iya, Ini Adi, pasti kamu udah kenal kan." Lika melirik Adi agar bersikap lebih ramah pada Doni.
Adi pun mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Doni tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Mereka hanya saling mengangguk dan tersenyum kikuk. Kaku sekali!
"Jadi kamu yang ngajak aku janjian Lik? Kenapa pake ponsel Sandra?" tanya Doni setelah detak jantungnya sudah cukup stabil dan tenang.
DEG!
"Pasti Sandra udah kasi tau Lika kalo gue udah nyekap dia selama ini. Argghh! Sandra!!!"
"Sayang...aku mau ngomong berdua dulu ya sama Doni, boleh kan?" tanya Lika super lembut sembari memegang tangan Adi. Ini memang lembut tapi sebenarnya ini ancaman jika ditolak.
"Boleh kan?" tanya Lika lagi.
Adi tersenyum kikuk dan meninggalkan Lika berdua dengan Doni. Adi berjalan menuju sebuah meja di pojokan yang berada cukup jauh dari posisi mereka saat ini.
Doni menelan ludahnya dengan kasar, mengapa Lika yang bersikap lemah lembut seperti ini malah terlihat lebih menakutkan melebihi monster.
"Kok Adi disuruh pergi?" tanya Doni tenang walaupun jantungnya seperti maraton Nasional.
"Aku cuman mau tau apa yang kamu rindukan dari aku" ucap Lika masih dengan senyum manisnya. Manis tapi menyeramkan!
"Maksud kamu apa?"
"Aku mau kamu buat kesepakatan yang menguntungkan aku karena Sandra gak pernah membunuh aku. Selama lima tahun ini aku baik-baik aja kok, kamu lihat kan aku tanpa cacat sedikitpun!"
"Ka..kamu?" ucap Doni gugup.
"Aku bahkan udah bilang ini saat kita berpisah Don, aku gak akan mau kembali lagi sama kamu. Jadi kenapa kamu harus bersikap seperti itu pada Sandra?"
"Lika! Kamu gak tau apa-apa tentang kami, jangan mengancam ku seperti ini!" seru Doni dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kamu mau aku dan Sandra mau Adi! Aku meninggal dan tidak adil untuk kamu!" ucap Lika santai.
"Kamu tau?"
"Sekarang aku masih hidup dan aku harap kamu tidak akan mengusik hidup Sandra lagi!" ucap Lika penuh penegasan.
"Lika..." Doni memegang tangan Lika. "Aku sayang sama kamu Lika, aku cuman mau kamu!"
Adi mengepalkan tangannya melihat Doni memegang tangan Lika, emosi tingkat dewa! Namun Adi tak berdiri dari duduknya karena percaya pada Lika.
"Kami gak cinta sama aku Don, kamu itu hanya Terobsesi! Sekarang aku tanya, kamu cinta sama aku kan?"
Doni mengangguk.
"Kamu mau aku menghabiskan hidupku dengan bahagia atau menderita?"
"Aku mau kamu bahagia Lika, aku akan bahagiakan kamu!"
"Aku bahagia bukan bersama kamu! Itu nilai mati."
"Lika..." ucap Doni lirih.
"Aku bahagia bersama Adi Don, kamu bilang kamu cinta sama aku, kamu sayang sama aku, kamu mau aku bahagia tapi kenapa kamu malah bersikap seperti ini?" ucap Lika terisak.
"Ma..maaf! Maafkan aku Lika, kamu jangan menangis..." ucap Doni merasa bersalah. Sekejam apapun Doni ia tidak tega melihat Lika menangis seperti itu.
Bugh!
Adi melihat air mata mengalir dari mata Lika. Dengan cepat Adi menghampiri mereka dan memberikan satu pukulan yang sukses merobek ujung bibir Doni.
"Astaga! Bang! Bang Adi!" teriak Lika menarik Adi agar tak memukul Doni lagi.
"Laki macam apa Lo? Cuma banci yang buat perempuan menangis! Dasar Breng*sek! Bangun Lo!"
"Bang Adi udah dong, malu dilihat orang bang..."
"Kamu ngapain megangin aku? Kamu bela dia? Iya!?" teriak Adi di depan wajah Lika.
"A..aku gak mau kamu kenapa-kenapa..." ucap Lika dengan air mata mengalir saat Adi membentaknya.
Lika mengambil tasnya dan meninggalkan mereka berdua. Sakit sekali rasanya Adi membentaknya seperti itu, sepanjang waktu mengenal Adi sekalipun tak pernah Adi meninggikan suaranya didepan Adi. Kata-kata Adi selalu manis dan lembut bagaikan coklat valentine.
Adi ingin menyusul Lika namun manager cafe itu terlanjur datang dan meminta pertanggungjawaban atas kekacauan di cafenya.
*****
Segini dulu ya buat hari ini, happy reading semuanya...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Like, komen dan Vote😊
Jangan lupa singgah di novel baruku, judulnya Allea
Thank you
__ADS_1
Author😚