
Hellaw...I'm come back๐๐
Kita lanjut lagi yaa...
*****
Uwuuu....Lika meleleh. Tapi tunggu dulu!
Lika menatap seikat balon di tangannya dan mendongak melihat berapa banyak balon yang dibeli Adi.
"Kamu kira aku anak kecil dibeliin balon?" gerutu Lika. Adi malah tertawa dan meraih kepala Lika untuk membawanya ke pelukannya. "Bodo amat! Yang penting kamu jangan ngambek lagi."
Lika tersenyum, "Maaci..." ucapnya manja. Aroma maskulin dari dada bidang Adi benar-benar masih sama seperti dulu, Lika sangat merindukannya.
"Kamu mau peluk aku sampai eskrim ini meleleh?" celetuk Adi tiba-tiba.
"Ihh...Kamu apaan sih? Bentar!"
Adi malah terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya. Ini benar-benar Lika yang dikenalnya, tidak ada yang berubah.
"Yaudah, kamu peluk deh sepuasnya. Free kok, gak bayar. Kalo mau lebih juga gak papa, aku malah senang."
Apa? Gimana-gimana?
Lika mengerjap kaget, apa-apaan Adi malah berkata seperti itu.
Bugh! Satu pukulan mendarat di dada Adi.
"******! Jijik banget!" cibir Lika. Sadis Sekali. Tanpa memikirkan Adi, Lika menyerahkan balon-balon itu pada Adi sementara Ia sibuk melahap eskrimnya. Tepat satu menit eskrim itu ludes.
Diliriknya eskrim yang masih lengkap dengan bungkusnya ditangan Adi. Uhh! Kapan lagi membalas perbuatan Adi tadi selain sekarang pikirnya. Dirampasnya eskrim itu dari pemiliknya dan menikmatinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Itu kan punya aku, kok kamu ambil?" tanya Adi tak berdaya.
"Bawel banget sih, diem deh!"
Adi menelan ludahnya, mengapa sekarang malah dia yang seperti itu. Aduhh, Lika ternyata masih jahil seperti dulu.
Menatap Lika yang menikmati eskrim miliknya dengan pasrah, Adi tiba-tiba salah fokus. Adi melihat Lika tak lagi mengenakan cincin pertunangannya dengan Leonard. Lika melepasnya. Bibir Adi tiba-tiba tertarik membentuk sebuah senyuman bahagia, jodohnya sekarang sudah di depan mata. Sekarang Adi tinggal menenteng gadis itu ke pelaminan, eh menggandeng maksudnya.
"Kamu kenapa senyam-senyum?" tanya Lika ketus. Aduhhh...Gadis ini!๐
"Gak papa!" jawabnya santai dan mengambil sebuah sapu tangan dari saku jaketnya. "Kamu makan eskrim aja masih belepotan seperti ini, bagaimana kamu jadi istriku nanti? Kamu akan mengurus anak dan suami!" menyeka sudut bibir gadis itu dengan sapu tangan.
Demi apapun yang berada di belahan bumi paling Utara, Lika benar-benar meleleh.
'Apa tadi? Istri? Mengurus anak dan suami? Ehh! Dia menyeka bibirku!!' batin Lika bersorak-sorai.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Ada yang salah?" ucap Adi membenarkan rambut Lika dan menyekanya kebelakang telinganya. Adi sangat manis, meleleh tembok es di hati Lika. Jangankan hati, jantung Lika saat ini hampir meledak, berdetak seperti lari sprint dan melaju bagai balapan.
'Aduhhh...Mengapa aku jadi seperti anak ABG begini! Tolonglah, aku sudah tua...' jerit Lika dalam hati. Mulutnya seperti kaku dan tidak mampu membalas setiap perkataan yang keluar dari mulut Adi. Laki-laki itu sukses membuat Lika melayang-layang di udara.
Bagaikan jiwa hilang ditelan bumi, tangan Lika malah terangkat dan mengelus pipi Adi, sosok yang terus menghantui pikirannya selama ini. Sekarang, saat ini Lika benar-benar melupakan pengkhianat yang pernah dilakukan Adi padanya.
Adi menggenggam tangan Lika yang berada di wajahnya, "Aku memang tampan sejak dulu!" Tampan apanya! Lika menarik tangannya dan refleks memuluk lengan Adi sangat kuat.
__ADS_1
Plak!
"Aaauuu..." ringis Adi. Mendengar suara Adi, Lika pun meringis ngilu. Setan apa yang merasukinya hingga Ia memukul laki-laki yang selalu mengisi hatinya itu.
"Maaf..." ucap Lika lirik dan mengelus-elus lengan Adi yang barusan dihantamnya dengan kekuatan tenaga dalam. Kalau saja tidak menggunakan jaket pasti cap tangan Lika akan terpampang jelas di lengan Adi. Sadis sekali!
"Kamu marah?" tanya Adi menyelidik raut wajah Lika tanpa memperdulikan rasa sakit di lengannya. Ia lebih khawatir dengan perasaan gadis itu. Gadis impian, cinta pertama dan separuh jiwanya.
"Maaf bang...Gak sengaja..." Lika benar-benar malu dan merasa bersalah. Hal itu ditunjukkan oleh ekspresinya yang menundukkan kepalanya sembari berbicara.
Kesempatan! Bukan Adi namanya kalau tidak menggunakan sebuah kesempatan dengan baik dan benar.
"Aduhh...sakit sekali!" ringis Adi tiba-tiba. Sangat dibuat-buat namun Lika dengan polosnya malah percaya. Lika semakin merasa bersalah, setengah sadar Lika memukulnya tadi sehingga tak tau betul seberapa kuat tadi ia melayangkan pukulan itu.
"Kita ke dokter ya..."
"Gak perlu kok" jawab Adi tapi tetap dengan sandiwaranya.
"Terus gimana? Tangan kamu sakit banget ya? Aku gak sengaja, aku gak bermaksud..." Mata Lika mulai menggenang.
'Ini kenapa jadi pelaku yang malah mau nangis' batin Adi.
"Ada satu obatnya, kamu mau?" tanya Adi memulai rencana liciknya.
"Apa? Cepetan dong biar lengan kamu gak sakit."
'Gemasnya...Gak sabaran banget, kita lihat apa kamu akan seperti itu jika aku menyebutnya' batin Adi. Memang otak Adi perlu dicuci sepertinya.
"Kamu cium pipi aku pasti sembuh..." ucap Adi tanpa ragu sedikitpun.
Yang benar saja, apa hubungannya pipi dengan lengan?๐๐ Sungguh, otak Adi memang perlu di ronsen agar Lika tau kotoran apa yang hinggap di sana.
"Suruh diobatin malah dipukul lagi. Kamu kok jadi jahat sih?" Adi pura-pura marah.
"Ma..maaf! A.aku gak sengaja" Lika menutup mulutnya karena tak menyangka akan tangannya yang bergerak sendiri. Yang benar saja, Lika parah nih.
"Jahat sih..." Adi malah semakin gencar membuat Lika merasa bersalah.
Jantung Lika berpacu lebih cepat, wajahnya memerah karena malu. Benar-benar sudah tak bisa dikontrol tubuhnya itu dan Adi malah semakin gesrek otaknya memanfaatkan keadaan untuk kepentingannya sendiri.
"Jangan gitu dong ngomongnya..."
"Makanya cium!" Potong Adi sehingga Lika melebarkan matanya. "Jangan gitu juga kenapa sih..." ringis Lika dengan wajah memelas.
"Ohh gak mau? Aduh..aduhh...Tanganku sepertinya butuh ronsen ke rumah sakit. Tulangku patah deh."
"Iya, iya...jangan dong! Aku cium..." Lika menyerah dengan suara parau pasrah. Suara imut Lika sangat menggelitik di telinga Adi.
"Aku hitung sampe tiga ya, satu..."
Cup!
Eh....
Adi tersentak. Tanpa aba-aba langsung main cium aja nih Lika ๐
__ADS_1
"Gak terasa..Kamu gak bilang-bilang!" protes Adi membuat Lika yang tadinya masih menunduk malu malah merasakan hawa panas menjalar ke permukaan kulit wajahnya. Mungkin wajahnya sudah sangat merah. 'Keterlaluan!' batin Lika.
"Ulang dong!" pinta Adi tak tau malu.
"Ihhh....Udah ahh aku mau pulang aja!" rajuk Lika membelakangi Adi. Sebenarnya bukan ngambek, tapi menyembunyikan wajah malunya dari laki-laki rese disampingnya.
Bukannya merasa bersalah atas ngambeknya Lika, Adi malah tertawa. Ditariknya tubuh mungil itu mendekat, 'masih kurus seperti dulu' kekehnya dalam hati. Saat dagu Adi menyentuh leher Lika malah membuat jantung Lika rasanya ingin copot dan lebih parahnya lagi Adi bisa mendengarnya. Sungguh jantung itu tak bisa diajak kompromi.
Tapi berdekatan dengan Adi malah membuat Lika bisa mendengar hal sama. Ternyata bukan hanya Lika, Adi pun sama gugupnya seperti Lika walaupun senyum menjengkelkannya masih terlukis indah di bibir laki-laki itu.
"Aku kangeeeeennnn banget sama kamu..." suara lirih Adi menyadarkan Lika dari fokusnya mendengarkan detak jantung.
Lika melirik sedikit, Adi semakin memeluknya erat dengan wajah yang disembunyikan diceruk leher menghirup aroma rambut Lika. "Hemm....." gumam Lika.
"Kamu jangan pergi lagi ya, apapun alasannya. Kamu gak tau aja aku hampir gila hidup tanpa kamu selama ini. Kamu jahat banget."
"Masih hampir kan?" sahut Lika santai, sangking santainya malah menyulut api kemarahan dihati Adi. Apa-apaan Lika menanggapinya sesantai itu.
"Jadi kamu maunya aku beneran gila ya?" tanya Adi sinis melepaskan pelukannya dan memberi jarak antara wajahnya dan Lika.
"Hahaha...Dasar kamu. Udah sini peluk! Sensi banget sih kayak lagi datang bulan aja!" ledek Lika sembari menyandarkan kepalanya dibahu Adi.
"Enggak ya... " sahutnya ketus.
"Udah deh jangan ngambek, nanti kamu beliin aku eskrim deh supaya kamu gak ngambek lagi."
Adi terkekeh. Benar-benar tak berubah sifat Lika, selalu menguntungkan diri sendiri dalam keadaan apapun asal bersama Adi. Mana ada yang marah malah membelikan kado permintaan maaf, tapi itu tidak berlaku bagi Lika. Meskipun demikian Lika tetap gadis kesayangan Adi, tak ada yang bisa menggantikannya.
"Kamu curang ya.." Adi merangkul Lika membawanya kedalam pelukannya lagi, mengelus-elus rambut gadis itu.
"Biarin! Kan curangnya sama kamu!" balas Lika. Manis sekali rasanya kembali ke pelukan Adi setelah sekian lama. Susah payah dulu Mama Siska memisahkan mereka tapi takdir malah mempertemukan mereka kembali. Suratan takdir tak akan berubah walaupun manusia mencoba lari.
"Kita keliling yuk, kamu kan udah lama di Paris. Aku juga udah lama gak penuhin memori ponselku sama muka kamu." Tepat sasaran sekali, kebiasaan Lika di masa lalu selalu meminta difotokan. Namun begitu ternyata Adi sangat merindukan moment itu.
"Yuk!"
*****
Abis ini mereka kemana lagi ya? Kita nantikan besok ya hehehe...
Oh iya guys...
Jangan lupa singgah di Novel aku yang baru ya, judulnya 'Allea'.
Kalo gak singgah Author ngambek nih, hehehe.
TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU๐๐๐
PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG๐๐
JANGAN LUPA VOTE JUGA YA ๐KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULIS๐๐ป
Jangan Lupa gabung di grup aku juga ya, supaya kalian gak ketinggalan info Up Novel aku.
JANGAN LUPA TAMBAHKAN NOVEL INI KE FAVORIT KALIAN ๐ป๐
__ADS_1
THANK YOU๐
Anne Chellycaโ๏ธ