
Pesta ulang tahun Lika terlaksana begitu meriah. Lika tampil sangat cantik bagai seorang putri raja. Bagaimana tidak, gadis itu adalah bintang pesta itu. Diantara banyak undangan ada seorang lelaki yang mengagumi gadis itu, siapa lagi jika bukan Adi.
Adi terus menatapi Lika hingga lupa menyantap hidangan di mejanya.
"Duhh..Bunda sepertinya kenal gadis yang didepan sana" Bunda Renaya menyenggol lengan Adi.
"Siapa Bun?" timpal Ayah Andika.
"Bunda pernah liat di ponsel seseorang" tambah Bunda.
Wajah Adi memerah. Ia tak mengerti bagaimana menjawab perkataan orangtuanya.
"Cantik Di, kapan mau dibawa ke rumah?" bisik Ayah.
"Ayah apaan sih? Bunda becanda tuh" sahut Adi menutupi rasa malunya.
"Ahh masa becanda, sampe ambil tabungan buat beliin doi kado loh" Bunda masih berusaha menggoda Adi.
"Duhh Bunda apaan sih" batin Adi.
"Halo Tante, Om" sapa seorang gadis.
"Hai Sandra, kamu sudah pulang dari luar negeri?" sahut Bunda.
"Iya Tante, Sandra pindah kesini kuliahnya" Sandra pun duduk dimeja mereka.
"Apaan sih ni orang, ganggu aja" batin Adi.
"Bun, Adi bareng Andri yah" Adi pun beranjak meninggalkan mereka.
"Kak Adi, mau kemana?" tanya Sandra manja.
Adi tak mengacuhkan perkataan Sandra, Ia berlalu meninggalkan gadis itu bersama orangtuanya.
"Maklumlah sayang, kakakmu itu lagi jatuh cinta" ujar Bunda membelai rambut Sandra.
"Ternyata tante Renaya udah tau kak Adi suka sama Lika, gue gak bisa tinggal diem sekarang. Lika!! Loe tunggu aja pembalasan gue" batin Sandra.
"Cantik ya Lika. Tante belum pernah ngobrol bareng dia, tapi Adi sering cerita ke Tante" Bunda Renaya membuka percakapan.
"Oh iya ya Tante?"
"Iya sayang, Tante penasaran juga gimana calon mantu Tante Hahah" sahut Bunda Renaya bergurau.
Sandra hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Bunda Renaya. Hatinya terasa panas mendengar ucapan wanita itu. Ia berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit.
Disisi lain Adi mulai mendekat pada keluarga Hermawan. Ia duduk di samping Lika dan mulai mengganggu gadis itu.
"Gak nangis lagi nih princess-nya?" ledek Adi.
"Ya ampun ya Lord! Bang Andri bisa gak sih gak usah bawa ni anak?" jawab Lika ketus.
"Ehh gak boleh gitu" Mama Siska melerai.
"Habisnya buat kesel Mulu ma, aku kan bete" Lika memelas.
"Iya deh maaf tuan putri, jangan ditekuk mukanya. Nanti cantiknya hilang loh" Adi mencolek hidung Lika.
"Hee anak muda! Jangan kau colek-colek anak gadis saya" Papa Hendra buka suara.
"Colek dikit Om" jawab Adi spontan.
"Mana bapak kau? Tak hajar dulu kau didepan mata dia" Papa Hendra melihat ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Jangan Om, saya lamar aja deh Om princess-nya" Adi memainkan alisnya menggoda Papa Hendra.
"Ogahhhhh!!!" sahut Lika.
"Gadis saya saja menolak kau, masih ada muka kau anak muda" sahut Papa Hendra disambut tawa mereka di meja itu.
"Haloo Jeng" Bunda Renaya dan ayah Andika tiba sudah berada dibelakang Lika.
Lika langsung berdiri dan mempersilahkan mereka duduk.
"Silahkan duduk Om, Tante" ujar Lika sangat lembut dan sopan.
"Sayang, ini bunda dan Ayahnya Adi. Ayo salim" ucap Mama Siska.
"Hallo Tante, hallo om" Lika mencium tangan mereka satu persatu.
"Ohh Ini toh calon mantuku" sahut Ayah Andika.
Lika tersipu malu dengan ucapan Ayah Andika. Ingin rasanya ia berteriak histeris mengiyakan perkataan lelaki itu. Lika hanya senyum-senyum tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Om, Tante, Bunda, Ayah. Kami kesana ya" ucap Adi dan menarik tangan Lika. Ia langsung berlalu meninggalkan mereka di meja itu tanpa menunggu jawaban.
"Sepertinya kita harus memikirkan tanggal pernikahan" gurau Ayah Andika dan disambut tawa mereka.
"Jangan dulu Om, saya yang kakak dulu dong" sahut Andri.
"Hahaha...Kita melupakan seseorang ternyata" tambah Ayah Andika.
"Adi jadi betah dirumah kami loh sekarang" Mama Siska menggoda Bunda Renaya.
"Aku sepertinya akan kehilangan anak bawangku" jawab Bunda Renaya menanggapi gurauan mama Siska.
Sementara Lika yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah Adi yang menariknya ke luar dari aula itu tampak meringis.
"Kamu cantik" sahut Adi tanpa mempedulikan ucapan Lika barusan.
"Tangan aku nih sakit" Lika menekuk wajahnya.
"Sakit ya? Maaf ya tuan Putri" Adi mengelus-elus pergelangan tangan Lika.
Lika hanya terdiam tanpa ekspresi, Ia menatap wajah Adi yang fokus pada tangannya.
"Kamu juga tampan hari ini, aku pengen pelukkk" teriak Lika dalam hatinya.
"Masih sakit gak?" Adi tampaknya enggan melepaskan genggamannya dari tangan Lika.
"Engga kok"
"Itu ada kursi, kita duduk yuk" Adi menarik tangan Lika, namun kali ini Adi memperlakukannya sangat halus.
"Silahkan duduk tuan putri" gurau Adi.
"Apaan sih" Lika tersipu.
Sepuluh menit mereka hanya duduk dan diam membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka, namun Adi tetap menggenggam erat tangan Lika.
"Makasih yaa" Adi buka suara.
"Terimakasih untuk apa?"
"Kamu cantik pake kalung itu" Adi melirik leher Lika.
Lika refleks memegang liontin berlian yang dikenakannya. Ia hanya tersenyum malu-malu. Ia sendiri sangat senang berada di situasi itu, berdekatan dengan Adi apalagi Adi sedari tadi tak melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Kamu tau gak dik, Bintang di langit itu kenapa rame?"
"Emang kenapa?"
"Soalnya mereka di langit, kalo di hati aku kan isinya cuman satu"
"Siapa?" tanya Lika memastikan.
"Menurut kamu?"
Lika hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Adi. Wajahnya memerah malu.
Adi menyandarkan kepalanya di bahu Lika, mengelus punggung tangan gadis itu.
"Kamu tau gak dik kalo aku itu belum pernah jatuh cinta sebelumnya"
DEG...Jantung gadis itu berdetak lebih cepat.
"Ke..kenapa?" tanya Lika terbata-bata.
"Gak tau. Kamu udah pernah ngalamin jatuh cinta?" tanya Adi kembali.
"Sudah...Dulu saat Lika masih SMA di Medan Lika udah mengalami jatuh cinta pertama kalinya" terang Lika.
"Sekarang kamu masih jatuh cinta sama dia?" Adi mengangkat kepalanya kemudian menatap Lika serius.
"Enggaklah. Lagian udah lama banget" jawab Lika.
Adi pun kembali menyandarkan kepalanya, lega rasanya saat Lika mengatakan dia tak mencintai orang itu lagi. Entah mengapa tiba-tiba muncul rasa cemburu dihati Adi saat itu.
"Kalo sekarang kamu jatuh cinta sama orang lain gak?" pertanyaan itu pun muncul dari mulut Adi.
"Anak ini ada apa sih, kok tiba-tiba aneh gini. Perasaan dia kan berwibawa banget, kok tiba-tiba mirip anak kecil gini sih" batin Lika.
"Dik?"
"Enggak" jawab Lika spontan.
"Kalo ada yang jatuh cinta sama kamu, kamu bakal cinta gak sama dia?" tanya Adi lagi.
"Kalo yang cinta sama Lika se-Indonesia apa Lika harus cinta juga sama semuanya?" Lika menggoda Adi.
Adi pun bangkit dan menatap tajam gadis itu. Ia pun pergi ke sudut taman itu, duduk disamping kolam berenang hotel itu. Lika hanya tertawa geli melihat tingkah Adi. Laki-laki yang selama ini Ia banggakan, ia kagumi selama ini ternyata tidak lebih dari anak kecil yang akan ngambek jika tidak dibelikan eskrim.
Lika pun menghampiri bayi besar itu. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak namun ia tetap menahannya. Sebenarnya Lika tahu betul apa maksud Adi namun Lika sengaja menggoda Adi, berusaha balas dendam karena Adi selalu cuek dan dingin pada Lika sebelum Ia masuk kedalam keluarga Hermawan.
Namun dilubuk hati gadis itu, Ia sangat mencintai Adi. Bahkan Ia tak menggubris banyak laki-laki hanya karena sudah terlanjur memiliki rasa pada Adi.
"Jadi mau ngambek sampe pagi nih?" ujar Lika.
Adi melirik Lika, berharap Lika akan membujuknya. Namun gadis itu menghentikan langkahnya, sekali lagi gadis itu mempermainkan emosionalnya.
Adi pun berdiri dan melangkah cepat kearah Lika. Ia mengepalkan tangannya, geram dengan Lika. Ia berdiri menatap Lika, menatap tajam wajah mungil gadis itu.
"Kamu itu punya aku, hanya untukku" Adi memeluk Lika.
Sontak saja gadis itupun terkejut, namun ia tak melawan. Ia merasakan kenyamanan jika dekat dengan Adi, namun gadis itu tetap mempermainkan Adi dan selalu berusaha membuat Adi kesal padanya.
"Selamat ulang tahun ya" bisik Adi lirih.
Dibalik bunga-bunga di taman itu, ternyata ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka. Orang itu adalah Sandra, gadis malang yang hanya menjadi penonton kebahagiaan orang lain.
Ia mengepal tangannya dan meremas tangkai bunga mawar didepannya. Duri bunga itu melukai tangan mulus gadis itu. Darah segar menetes dari telapak tangannya perlahan, namun tak terasa perih lagi karena amarah di dalam hatinya.
__ADS_1