Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 47


__ADS_3

Ketika Lika telah mengunci pintu kamarnya, Adi tersenyum geli. Rasanya bahagia sekali menggoda Lika sehingga muncul wajah khawatir seperti itu.


"Sekarang kamu nolak aku ya calon istriku. Tunggu aja kalo aku udah selesai S2, gak akan ada kata tidak apalagi saat aku melamar nanti" Adi semakin jauh pikirannya. Ingin rasanya memboyong Lika ke Amerika agar tetap dekat.


Karena bingung apa yang harus dilakukannya ditempat itu Ia memilih untuk kembali ke rumah dan membersihkan diri.


"Janjian aja deh kalo gitu, daripada nungguin cewek dandan bisa-bisa aku mati jamuran disini. Lagian gak lucu kan kalo nanti Lika dandan cantik sementara aku malah dekil gini, yang ada aku dikirain supir dong" gumam Adi.


Adi mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan WhatsApp pada Lika.


"Sayangku...Nanti kita ketemu di cafe yang biasa ya jam 7. Jangan lupa ya sayang, kecup mesra dariku"


Sembari tersenyum sendiri Ia mengetik pesan itu dan mengirimkannya pada Lika. Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu.


"Tante, Om. Adi pamit pulang dulu ya"


"Lohh katanya kalian mau pergi" sahut Siska menatap Adi dengan wajah bingung.


"Iya Tante, kita janjian nanti malam aja. Adi mau pulang dulu sebentar"


"Yaudah hati-hati ya, titip salam buat Jeng Renaya" ucap Siska.


"Iya Tan. Pamit ya Tante, Om" Adi berlalu meninggalkan mereka keluar dari rumah mewah itu. Ia menyalakan mobilnya dan keluar dari pekarangan kediaman Hermawan itu. Mobilnya melaju membelah jalanan kota Yogyakarta yang padat karena suasana sore pada jam pulang kantor.


Setelah selesai mandi Lika menuju walk in closet mencari pakaian terbaik untuk digunakan dinner bersama Adi. Lika memilih sebuah gaun sepan selutut dengan corak kaligrafi berwarna dasar mocca.


Ia membuka ponselnya dan membaca pesan Adi. Ia mengetikkan beberapa kata mengiyakan tawaran tunangannya itu.


Lika melangkah menuju meja rias dan memoles wajahnya dengan balutan makeup natural dengan rambut ala-ala selebgram. Dipilihnya sebuah high heels 7cm berwarna hitam menyempurnakan penampilannya.


Lika meraih sebuah handbag silver rancangan designer ternama dunia. Dipandangnya bayangannya di cermin,


"Sempurna" gumamnya.


Lika pun turun dari kamarnya menuju mobilnya melewati ruang keluarga.

__ADS_1


"Cantik banget sih anak Mama. Mau kemana?" sapa Siska melihat Lika dengan gaya feminimnya berjalan keluar dari kamar.


Lika hanya cengengesan menanggapi dan pamit pada mereka. Lika mencium tangan orangtuanya dan berlalu meninggalkan mereka.


"Jangan lama-lama pulangnya" teriak Siska saat Lika masuk kedalam mobilnya.


"Iya Queen Inggris" sahut Lika tak kalah kuatnya dengan Siska.


"Suara kalian buat gendang telinga kami pecah" celetuk Hendra yang duduk persis di samping Siska.


"Bodo amat hahaha" sahut Siska bangga walaupun sebenarnya hal tersebut malah memalukan bukan membanggakan.


Sementara ditempat Lika dan Adi janjian, Adi telah tiba terlebih dahulu. Sambil menunggu wanita pujaannya datang, Adi memesan segelas kopi untuk menemaninya.


Saat waiters telah menghantarkan pesanannya, entah karena bosan atau bagaimana Adi langsung menyeruput kopi itu. Awalnya tak terjadi apa-apa, namun sepuluh menit berlalu tiba-tiba Adi merasakan kantuk yang luar biasa. Demi apapun Adi tak dapat menahan kantuknya lagi sehingga secara tak sadar Ia tertidur di sofa cafe itu.


Setelah memastikan bahwa Adi benar-benar tak sadar, datanglah dua orang laki-laki dan seorang gadis membawa Adi.


Diperjalanan menuju cafe itu Lika tiba-tiba dihambat oleh seorang nenek yang memohon mengantarkannya ke sebuah alamat karena kesasar. Lika pun mengiba atas kesulitan yang menimpa nenek itu.


Tanpa pikir panjang Lika pun mengantarkan nenek tersebut kesebuah alamat yang diberikannya. Karena harus mencari-cari hingga Lika pun membutuhkan waktu yang lama agar menemukan tujuan nenek itu.


Setelah memastikan sang nenek sampai di tujuannya, Lika teringat akan Adi sedang menunggunya. Ia melajukan mobilnya menuju lokasi.


Saat tiba di lokasi, Lika celingak-celinguk mencari sosok Adi disetiap sudut cafe itu bahkan Lika sempat naik ke lantai dua dan tiga namun hasilnya nihil. Karena putus asa, Lika memilih bertanya pada seorang waiter.


"Maaf Mbak, apa tadi ada seorang laki-laki yang datang sendirian kesini? Ciri-cirinya ia punya tinggi kira-kira 175cm, kulit putih, pake kaca mata dan kumis tipis."


"Mbak Lika ya?" tanya waiter itu.


"Iya mbak, bener" sahut Lika bersemangat.


"Ini ada titipan surat mbak dari mas Adi" waiter Itu memberi sebuah kertas pada Lika dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu.


Lika dengan raut wajah bingung membuka surat itu.

__ADS_1


SAYANG...


MAAF AKU MENINGGALKAN KAMU


AKU TUNGGU KAMU DI HOTEL XXX KAMAR NO.101


AKU PUNYA KEJUTAN BUAT KAMU


ADI


Lika mengernyitkan dahinya bingung. Tidak biasanya Adi malah memberinya kabar seperti itu. Anehnya lagi mengapa harus ke hotel.


Lika langsung bergegas menuju lokasi yang diberikan pada surat itu. Jalanan kota Yogyakarta yang ramai membuat Lika serasa ingin meledak kepalanya. Jarak antara cafe ke hotel tersebut hanya sekitar 2km namun terasa jauh sekali.


Saat melajukan mobilnya tiba-tiba ada seseorang menyebrang jalan membuat Lika harus menekan rem tiba-tiba.


"Ya Tuhan...Ada apaan sih ini. Kok perasaan aku gak enak banget sih" gumamnya sembari menekan pedal gas secara perlahan.


Lika menarik nafas dalam-dalam menenangkan perasaannya. Ingin cepat rasanya sampai ke hotel itu menemui Adi memastikan kekasihnya itu baik-baik saja.


"Everything is gonna be okay" gumamnya menenangkan diri.


Berulang kali Lika mencoba menghubungi ponsel Adi namun hasilnya nihil. Berbagai praduga negatif merajai pikiran gadis itu. Ada apa? Mengapa? Kenapa? Banyak pertanyaan yang ingin Lika lontarkan kepada Adi.


"Sayang kamu kenapa sih? Gak biasanya juga kamu matiin ponsel kamu gini. Please dong jangan buat aku dilema seperti ini" Lika semakin khawatir kelihatannya. Jantungnya berdebar kencang dan keringan dingin mulai membasahi telapak tangannya.


Saat tiba di depan hotel itu, Lika berhenti sejenak. Seribu keraguan muncul dibenaknya ketika memasuki parkiran hotel itu. Antara ingin masuk atau tidak, Lika tetap memaksakan masuk.


Ia mencari-cari kamar yang dituliskan dalam kertas itu. Saat berada tepat didepan pintu kamar 101 hotel itu ia memastikan sekali lagi dan benar didalam kertas tertulis kamar nomor 101.


Lika mengetuk pintu namun tak ada jawaban, Ia mengetuk pintu tersebut sekali lagi namun tetap tak ada yang menjawab. Lika mulai putus asa dan memegang gagang pintu untuk menyandarkan tubuhnya sejenak. Pintu tersebut terbuka tanpa aba-aba.


"Pintunya gak dikunci? Ada apa sih" gumam Lika sembari masuk. Dilihatnya kamar itu gelap seperti tak ada penghuninya.


"Kok gelap banget sih, Sayang...kamu dimana? Jangan becanda dong, aku takut nih. Disini gelap banget!" Lika meraba-raba dinding mencari tombol power lampu kamar itu.

__ADS_1


"Ahh akhirnya" Lika menekan tombol on dan ruangan menjadi terang. Lika membalik badannya.


__ADS_2