Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 36


__ADS_3

Lika memeluk kedua adiknya. Ia sangat merindukan kedua bocah itu.


"Riri, Rey, kakak kangen banget sama kalian" Lika menciumi kedua bocah itu.


Adi masih melihat dan memperhatikan kedua bocah itu.


"Ukuran tubuh sama dan wajah sangat mirip, apa mereka kembar?" tanya Adi polos.


Lika mengangguk kepalanya. Lika masih sibuk dengan kedua bocah itu.


"Kakak cantik banget sih, wangi banget bajunya" Rey menciumi Jaket yang dikenakan Lika.


"Liat sepatu kakak ada berlian-berliannya" Riri sibuk menundukkan kepala memperhatikan sepatu high heel Lika.


"Udah udah..ayo kita masuk. Bantuin kakak bawain barang-barangnya" Lika membagi barang-barang untuk dibawa kedua bocah itu.


Adi hanya pelanga-pelongo melihat sikap adik-adik Lika yang ceria dan heboh. Ia tak pernah merasakan sensasi punya adik menggemaskan seperti itu karena Adi anak tunggal.


"Heh..Kok Abang bengong, ayo bantuin" Lika memberikan sebuah koper pada Adi. Sementara itu kedua bocah kembar itu sudah kembali dan mengambil barang lagi untuk diantar kedalam rumah.


"Ehh anak gadisku udah pulang, mama kangen banget sama kamu" seorang wanita menghampiri mereka dan memeluk Lika. Langsung terlihat bahwa itu adalah Mama dari Lika, wajah mereka seperti anak kembar. Hanya saja wajah Lika lebih mulus dan tirus.


"Ini siapa? Andri?" Rina melirik lelaki muda dibelakang putrinya itu.


"Bukan ma, ini bang Adi temannya bang Andri. Bang Andri nyusul kesini ma, masih ngurusin skripsi" terang Lika.


Adi mencium tangan Rina,


"Halo Tante, saya Adi" ujar Adi sambil tersenyum.


"Ini temennya Andri atau pacarmu?" bisik Rina pada Lika.


"Mama..." Lika memanyunkan bibirnya.


"Kalo direstui gapapa Tante" sela Adi.


Lika memutar bola matanya. Muak rasanya Ia harus mendengar kata-kata manis empedu Adi.


"Kakak, kakak! Mana oleh-oleh kakak? Kakak bilang kakak bawa baju baru" Riri menarik-narik jaket Lika.


"Iya, iya sabar. Biarkan kakakmu istirahat dulu" Rina menepiskan tangan Riri.


Lika pun menggendong Riri yang sudah terdiam karena ditegur mamanya.


"Nanti kita ambil ya, kakak bawa banyak coklat" bisik Lika.


"Aku juga mau digendong" Rey menarik tangan Lika.


"Sini, sini abang yang gendong" Adi mengarahkan tangannya pada Rey. Sontak saja Rey langsung melompat kearah Adi.


"Namanya siapa?" tanya Adi.


"Reyno! Abang pacar kakak ya?" sahut Rey langsung menghujani Adi pertanyaan paling menakutkan.

__ADS_1


"Kamu bantu abang supaya jadi pacar kakakmu, nanti Abang beli mobilan besar. Gimana?" Adi mencoba menghasut Rey.


"Bang Adi! Jangan aneh-aneh" Lika menepuk bahu Adi.


"Mau" bisik Rey.


"Kakak, Abang itu jahat ya?" tanya Riri polos.


"Jahat banget" bisik Lika.


Rina keluar dari dapur dan membawakan teh hangat untuk mereka. Rina mengerti bahwa mereka sedang kedinginan karena memang cuaca sedang tidak bersahabat.


"Ayo duduk duduk. Kalian berdua kok digendong sih? Itu Abang dan kakaknya lagi capek" ujar Rina.


"Teh manis!" Riri dan Rey langsung menyambar dua gelas yang dibawakan Rina.


"Eehhh itu punya kakak!" ujar Rina.


"Udah gapapa ma, kita kongci kan Ri?" Lika berkompromi.


(kongci\=bagi dua)


"Iya" Riri memberikan gelasnya pada Lika namun tak berhentik mengambil sesendok demi sesendok.


"Kita juga kan?" Adi berusaha mendekatkan diri pada Rey.


"Tapi Abang jadi kan belikan aku mobil besar?" Rey memastikan.


"Iya jadi, udah sini!" Adi menyambar gelas yang didepan Rey.


"Ma, bapak mana?" tanya Lika sambil melirik ke seluruh ruangan.


"Bapakmu diladang berjaga" jawab Rina.


"Kak banyak monyet diladang" sela Rey. Rey pun beranjak dan duduk dipangkuan Lika.


Tak mau kalah Riri juga duduk dipangkuan Lika sehingga mereka terlihat berbagi tempat duduk dipangkuan Lika yang duduk menyilang.


"Iya kak, monyetnya besar-besar kayak kami. Satu mirip Rey kata bapak" Riri menggoda Rey.


Plak.


Satu pukulan mendarat di kepala Riri.


"Hehh.. kok gitu?" Lika mengelus kepala Riri.


Riri langsung kesempatan menangis agar Rey dihukum oleh Lika.


"Kan aku gak mirip monyet!" Rey membela diri.


"Udah udah jangan berantem. Nanti oleh-olehnya gak kakak kasi!" ancam Lika. Mendengar ancaman Lika kedua makhluk rusuh itu pun diam dan membenamkan wajahnya di dada Lika. Lika pun memeluk mereka dengan gemas.


"Mau bakpia gak?" tanya Lika pada kedua bocah itu.

__ADS_1


"Mau" jawabnya serentak. Kali ini kedua bocah itu berubah menjadi tenang dan alim.


"Kakak...Kakak udah pulang?" Seorang remaja laki-laki memeluk Lika dari belakang.


"Steven! Dari mana?" sahut Lika.


"Jangan pegang kakakku!" ujar Rey. Riri dan Rey kembali ke pangkuan Lika.


"Ehh... Ini kakakku! Pulang kerumahmu sana!" ujar Steven.


"Ehhh kau ini, udah besar masih suka gangguin anak kecil" Lika memukul bahu Steven. Lalu Steven mencium tangan Lika.


Adi semakin bingung dengan apa yang dilihatnya. Mau bertanya juga Ia canggung.


"Steven itu adiknya Lika, sementara si kembar ini sepupunya" terang Rina menjawab kebingungan Adi.


"Oo..Saya kira semuanya adiknya Lika" Adi nyengir sambil menggaruk kepalanya.


Lika pun beranjak dan menghampiri tumpukan barang yang dibawa mereka tadi. Ia memisahkan satu-persatu barang-barang. Ia membuka sebuah box yang berisi pakaian untuk oleh-oleh.


"Riri, Rey, Ini punya kalian. Tapi janji ya, abis ini langsung tidur siang" Lika memberikan masing-masing sebuah kantung plastik berisi beberapa pasang pakaian.


"Yeeeeee...Ayo pulang. Kita tunjukkan ke mama" ujar Riri.


"Iya ayo" sahut Rey.


Kedua bocah itupun berlari dan menghilang dibalik pintu. Mereka benar-benar akan menepati janjinya pada Lika.


"Akhirnya tenang juga" ujar Steven.


"Husss...Jangan gitu dong" sahut Lika.


Adi yang sedari tadi kebingungan melihat sikap Riri dan Rey pun menghela nafas setelah kedua bocah itu menghilang. Ia meneguk teh yang tak terasa panas karena dinginnya udara saat itu. Tak ada yang berbicara karena Lika sibuk berberes bersama Steven.


"Kamu asalnya dari mana nak?" Rina memecahkan keheningan.


"Saya tinggal di Yogyakarta Tante, tapi ayah saya dari Klaten dan bunda dari Padang" terangnya. Adi memegangi gelas yang berisi teh agar terasa hangat. Wajahnya pucat dan ia pun menggigil kedinginan.


"Dingin? Ayo kedapur arang saja supaya kamu bisa menghangatkan badan" seru Rina.


Adi pun berdiri mengikuti langkah Rina.Sementara itu, Lika membuka koper Adi untuk mencari jaket.


"Kedinginan kok gak langsung cari jaket sih" batin gadis itu.


Ia menyusul mamanya dan Adi di dapur.


"Nih bang pake, nanti kamu Hipotermia loh" ujar Lika. Dengan senyuman bangga, Adi mengambil jaket itu dari tangan Lika dan langsung memakainya.


Lika mengambil sebuah tempat duduk kayu dan duduk disamping Adi. Ia juga ingin menghangatkan tubuhnya. Walaupun Lika adalah gadis kelahiran desa itu namun ia sudah tidak terbiasa dengan suhu dingin seperti itu.


"Terimakasih Istriku" bisik Adi.


"Ogahhhh aku jadi istri kamu" sahut Lika.

__ADS_1


Rina hanya tersenyum geli melihat kelakuan kedua anak muda itu. Mereka mengingatkan Rina pada masa-masa mudanya dahulu. Kini Lika sudah dewasa dan sebentar lagi akan meninggalkan dia juga.


__ADS_2