Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 27. Ramyeon


__ADS_3

Adi hari ini terlihat sangat cool. Ia menekankan egonya karena sangat merindukan gadis kecil itu.


"Nih pak kuncinya, masukin garasi aja, saya nginep" Adi memberikan kuncinya pada pengurus garasi.


"Baik Tuan"


Adi langsung masuk dan naik menuju kamar Lika. Didepan tangga terlihat Sandra sangat ceria menyambut Adi.


"Kak Adi, udah lama kakak gak main kesini" ujar Sandra.


Adi melewati Sandra dan langsung masuk ke kamar Lika. Dalam benak Adi masih terngiang makian Sandra kepada Lika seminggu yang lalu.


Sandra mengepal tangannya karena tak terima perlakuan Adi.


"Dasar perempuan j*alang. Loe udah buat kak Adi berubah" gumamnya.


Tok...tok...


Adi mengetuk pintu dan membuat Lika terkejut.


"Masuk" jawab Lika dari dalam.


Adi pun masuk dengan sedikit canggung.


"Hai" ucapnya.


"Bang Adi, tumben" Lika menatap Adi curiga.


"Kok kamu liatinnya gitu banget sih, biasa aja dong. Emang gak boleh ya main kesini?"


"Boleh sih" Lika lanjut membereskan barang-barangnya.


Adi memberi isyarat kepada mbak Lili agar keluar. Mbak Lili lalu mengangguk mengiyakan lalu berlalu meninggalkan ruangan itu.


Adi mengambil sebuah kotak makanan oleh-oleh Mama Siska.


"Ada Pepero nih" Adi langsung membuka kemasannya.


"Gak sopan" ujar Lika.


"Lebih gak sopan siapa yang sembunyiin ban mobil orang, bukan cuman itu loh. Solarnya juga raib" Adi menggoda Lika mengingatkan perbuatan Lika seminggu yang lalu.


"Hehehe, maaf deh. Itu salahnya abang tau" Lika memanyunkan bibirnya.


"Kok salah gue nenek sihir" Adi menarik hidung Lika.


"Aauu.. Sakit! Siapa suruh coba ganggu aku terus" Lika memegang hidungnya yang memerah.


"Yaudah sekarang kamu minta maaf cepet" ujar Adi.


"Hah? Minta maaf? Ogahhh!!!" sahut Lika lalu membelakangi Adi.


"Dasar cewek gak pernah mau ngalah ya" Adi memutar badan Lika agar menghadap kearahnya.


"Lagian Abang ngapain sih kesini?" Lika melirik sinis.


"Mau ketemu sama kamu" jawab Adi spontan.


"Ketemu aku? Ngapain?"


"Kangen" sahutnya seperti manusia tak berdosa.


Lika tersentak mendengar ucapan Adi.


"Aku juga kangen sih sebenarnya" batin Lika.


"Habis nih. Itu ada Ramyeon. Masak yuk, katanya kamu hobi masak tapi gak pernah masakin abang"


"Dasar modus" Lika mengacak-acak rambut Adi.


Adi hanya tersenyum menatap Lika. Entah mengapa setelah kejahilan Lika yang sangat keterlaluan pun, hatinya enggan untuk benci.


Sandra mengintip dari balik pintu, mengepal tangannya.


"Lika! Terkutuk loe gembel!" batinnya.


Dia pun memilih pulang karena semakin gerah melihat kemesraan antara Adi dan Lika.

__ADS_1


"Gak usah ngegoda deh, males aku masakin buat kamu" ujar Lika.


"Ohh gak mau ya? Tante Siska kayaknya baru pulang tuh, seru kayaknya ngadu kalo putri kesayangannya ini udah pretelin mobil aku" Adi tersenyum licik.


"Bang Adi jangan bang" Lika mengguncang tubuh Adi.


"Masak atau kena marah?" Adi memegang dagu Lika dengan telunjuknya.


"Iya iya deh" Lika memanyunkan bibirnya cemberut.


"Kamu kok gemesin banget sih Lika...Aku gak tahan! Rasanya pengen aku gigit pipi kamu" batin Adi.


"Adi, kamu kapan dateng?" tiba-tiba Mama Siska masuk.


"Ehhh Tante. Baru kok Tante" Adi mencium tangan Mama Siska.


"Berduaan terus" ledek Mama Siska.


"Mama, ini gak kayak mama kira kok" Lika menjauh dari Adi.


Adi pun menarik tubuh Lika mendekatinya.


"Gimana kalo Adi aja yang jadi mantu Tante?" Adi merangkul Lika.


"Ihhh ogahh aku nikah sama bang Adi" Lika melepaskan rangkulan Adi.


"Sok jual mahal amat sih nenek sihir... Lagian aku juga becanda. Siapa juga mau nikah sama cewek bawel seperti kamu" umpat Adi.


"Najis!!! Weekkk" Lika mengeluarkan lidahnya meledek Adi.


"Sudah sudah. Kalian apa-apaan sih? Udah besar kok masih seperti anak kecil saja. Kalo nanti kalian berjodoh awas aja loh, Tuhan udah mengatur semuanya" Mama Siska menyentuh hidung Lika dan beranjak.


"Mama mau kemana?" ujar Lika


"Mama gamau ahh jaga nyamuk" sahut mama sambil tertawa.


"Mama...." rengek Lika.


"Jadi gak nih masaknya? Laper nih!" kode Adi.


"Bang Adi apaan sih tadi ngomong gitu ke Mama? Mama kan jadi nanggepin serius" Lika cemberut.


"Apaan sih modus" Lika meronta.


"Aku serius. Kamu gak mau jadi jodoh aku?" Adi merangkul Lika semakin erat.


"Gak! Udah ahh lepas, sesak nih" Jawab Lika.


"Tapi kalo kita jodoh jangan kaget ya" Adi melepaskannya.


Lika mengambil dua bungkus Ramyeon dan beranjak.


"Dasar modus! Loe kira gampang mau jadi jodoh gue" Lika melempar Adi dengan sebuah bantal dan berlari keluar dari kamarnya.


"Sesulit apapun suatu saat itu pasti aku pemenangnya" gumam Adi. Ia tersenyum menatap foto Lika yang dipajang di dinding ruangan itu.


Didapur Lika memohon-mohon kepada kepala pengurus untuk memasak namun kepala pengurus tetap tidak mengijinkannya. Lika pun terpaksa berpura-pura untuk melancarkan tujuannya.


Lika menangis di depan kepala pengurus itu. Entah bagaimana caranya, air mata gadis itu benar-benar keluar. Adi yang baru tiba di dapur mengintip dari balik dinding.


"Aku mau bilang mama hiks hiks" isak Lika.


"Jangan Non, jangan" Mbak Lili menahan Nona mudanya itu.


Kepala pengurus itu pun sudah mati kutu saat itu. Ia juga takut menimbulkan masalah mengingat sudah puluhan tahun Ia bekerja disana.


Sesampai di dapur Lika meminta semua pengurus keluar dan hanya tertinggal mbak Lili didalam. Setelah semua pengurus keluar Lika menghapus air matanya dan tersenyum penuh kemenangan.


"Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan" gumamnya.


Mbak Lili hanya geleng-geleng kepala melihat majikannya itu. Tadinya Ia sangat khawatir tapi ternyata mereka hanya menjadi korban tipu muslihat gadis itu saja.


Setelah Lika selesai masak Ia keluar dari dapur menuju meja makan. Ia membawa sendiri nampan dengan dua mangkuk ramyeon siap disantap.


"Nih jadi kan" Lika meletakkan nampan dan memberikan untuk Adi.


Adi menarik mangkuk ramyeon milik Lika.

__ADS_1


"Ini semua punya aku, kamu cuman bertugas masak" ujar Adi.


"Hah? Bang Adi apaan sih?" tukas Lika.


"Nih segelas air putih aja buat kamu"


"Bang Adi jangan curang ya" sahut Lika geram.


"Bodo" Adi memakan ramyeon-nya.


Lika hanya menatap Adi makan. Ia memanyunkan bibirnya karena bete dengan perlakuan Adi. Adi melirik Lika.


"Imut banget sih" batinnya.


"Ini deh, aku becanda" Adi meletakkan mangkuk ramyeon didepan Lika.


"Yeeeee...Maaciw" Lika pun menyantap makanannya.


"Bagus loh tadi acting kamu didapur" bisik Adi.


"Stttt ...Jangan ribut! Demi permintaan kamu loh" sahut Lika berbisik.


"Tapi masakan kamu enak, sama kayak Bundaku" ujar Adi.


"Bunda kamu suka masak juga?" tanya Lika girang.


"Ia... Kapan-kapan main deh ke rumahku. Kamu bebas make dapur kalo mau" jawab Adi penuh semangat.


"Bunda bang Adi dari Bandung juga seperti Mama?"


"Enggak, Bunda dari Padang" sahutnya.


"Oo.." Lika menganggukkan kepalanya.


Mereka melanjutkan makan dan tidak berbicara lagi. Mama Siska hanya memantau mereka dari balik tembok.


"Sepertinya mereka semakin lama semakin dekat. Tapi bagus juga sih, aku tak perlu khawatir kalo mereka pacaran. Aku sudah kenal baik buruknya Adi dari kecil" gumam wanita itu.


"Mama kok ngintip-ngintip gitu?" ujar Lika.


"Upss...Mama tercyduk" sahut mama keluar dari tempat persembunyiannya.


"Mama ngapain ngumpet?" Lika menatap Mama Siska curiga.


"Udah gak usah dibahas, lanjut makannya. Oh iya, besok malem Lika Mama ajak kondangan ya?"


"Hah? Kondangan Ma? Aduh males banget Ma, besok kan malam Minggu. Mama bareng bang Andri aja ma" Lika memelas.


"Emang kalo malam Minggu kamu mau kemana? Udah ada pacar?" sahut Mama Siska.


uhuk uhuk....


Adi tersedak. Adi menyeruput air didepannya karena tenggorokannya terasa sakit. Lika menatap Adi heran.


"Kemarin kata Andri, Lika udah punya pacar. Andri bohong atau enggak ya" batin Adi.


"Bang Adi gapapa?" tanya Lika.


"Enggak kok, gak papa" jawab Adi.


"Yaudah ya sayang, jangan lupa besok dandan yang cantik. Mama udah pesanin kamu gaun untuk besok. Gaunnya mungkin dateng pagi-pagi" ujar Mama Siska.


"Iya ma" sahut Lika lemas.


Mama Siska pun tersenyum dan mengelus pipi Lika. Ia pun beranjak meninggalkan mereka.


"Dik.." panggil Adi pelan.


"Iya bang?" jawab Lika mengarahkan pandangannya ke arah Adi.


"Kamu udah punya pacar?" tanya Adi semakin pelan.


"Belom. Bang Adi mau pacar Lika?" ujar Lika.


Adi melongo menatap Lika.


"Udah biasa aja, aku juga ogahhh pacaran sama kamu wekkk" Lika mencolekkan saos diwajah Adi dan berlari meninggalkan Adi.

__ADS_1


"Shit! Gue kira serius. Mau sampe berapa kali lagi sih gue tertipu wajah polos Lika. Dia ternyata sejahil ini" umpat Adi geram.


__ADS_2