
Tiga puluh menit perjalanan menggunakan mobil harus ditempuh Adi dan Lika menuju Butik. Butik Lika kelihatan ramai sekali pengunjungnya hari ini.
Lika pun masuk dan disambut oleh beberapa pegawainya.
"Selamat siang Bu.." sapa Gina, manager butik Lika.
"Siang Gina, gimana gaun pengantin saya?" ucap Lika sembari terus berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh Gina sedangkan Adi duduk di sofa pengunjung.
"Sudah Bu, Ibu hanya perlu mencobanya untuk mencocokkan ukuran."
"Kalau pakaian keluarga saya bagaimana?" ucap Lika setelah duduk di kursi kebesarannya.
"Itu juga sudah selesai Bu, semuanya sudah selesai berikut sepatu dan aksesorisnya."
"Bagus! Bagaimana dengan butik sampai hati ini?" tanya Lika lagi.
"Butik mengalami peningkatan yang signifikan Bu, jika bulan ini terus meningkat maka saya akan ambil beberapa penjahit lagi Bu" ucap Gina antusias.
"Nice! Kamu memang hebat Gina" puji Lika tulus.
"Bu Lika yang hebat, hasil rancangan ibu yang menarik banyak peminat ke butik ini" sahut Gina lagi.
"Ya sudah Gin, aku mau mencoba gaunku dan berikan juga pakaian untuk Adi agar segera dicobanya."
"Ibu mau mencoba di ruang ganti atau disini Bu?" tanya Gina hati-hati.
"Aku disini saja, gaunku kan kejutan" ujar Lika bercanda.
"Baik Bu..." ucap Gina lalu berlalu meninggalkan Lika mengambilkan semua permintaannya.
Lika memang merancang sendiri gaun pengantinnya, namun untuk pengerjaan dan finishing itu dilakukan oleh pegawai, tugas Lika hanya merancang saja. Bukan hanya gaun pengantinnya saja, Lika juga merancang semua gaun yang digunakan oleh keluarga dan teman-temannya.
Gina pun masuk dengan dua orang pegawai yang akan membantu Lika mencoba gaunnya.
"Silahkan Bu" ucap Gina.
"Adi sudah mencoba pakaiannya?" tanya Lika .
"Saya sudah memberikan pakaiannya Bu dan Pak Adi sedang mencobanya di ruang ganti."
"Terimakasih Gina" ucap Lika tulus.
Setelah selesai mencoba gaunnya Lika pun kembali ke mejanya dan mengurus semua pembukuan keuangan butik yang baru beberapa minggu beroperasi.
"Gin, tolong bilangin Adi ke ruangan saya aja ya. Bilang saya lagi ngurus pembukuan" titah Lika.
"Baik Bu" ucap Gina lalu pergi keluar sementara Lika berkutik dengan pembukuan dan laporan-laporan yang diberikan Gina.
__ADS_1
"Sibuk ya?" ucap Adi.
"Eh? Kapan kamu masuk?" tanya Lika.
"Kamu sih serius banget makanya gak sadar aku masuk."
"Kami bisa aja bang, bentar ya aku liat pembukuan dulu abis itu kita pulang, bentar lagi mereka mau kesini soalnya."
"Siapa?" tanya Adi menyelidik.
"Keluarga Besar kita sayang..." ucap Lika.
"Bunda sama ayah juga?"
"Ho'oh."
"Astaga....udah besok aja kamu ngurusin berkas itu, sekarang kita pergi aja sekarang..." ucap Adi panik.
"Loh? Kenapa bang?" tanya Lika lagi.
"Udah gak usah bawel, ikut aja yukk..." Adi mengambil tas Lika dan menarik gadis itu.
"Bentar sayang, aku kunci dulu ruangannya..."
"Oh iya, cepetan kunciin!"
Saat mereka hendak keluar tiba-tiba Ana, Aygra dan Rina masuk.
"Aunty..." ucap Aygra semangat.
"Hai sayang, kok digendong-gendong sih? Turun!" ucap Lika sewot melihat Aygra digendong oleh Ana.
"Nakal nih Aunty..." ucap Rina.
"Kan aunty bilang jangan digendong lagi, dalam perut mama ada dedek bayi..." ucap Lika memarahi Aygra.
"Maaf Aunty..." ucapnya lalu memeluk Lika.
Lika pun kasihan melihat wajah sendu Aygra, lalu berlutut dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Nih coklat..." ucap Lika lalu memberikan sebungkus permen.
"Ini permen Aunty..."
"Ohh..udah ganti ya namanya?" kekeh Lika.
"Makasih Aunty..." ucap Aygra lalu mengambil permen itu.
__ADS_1
"Aygra...Om ganteng bawa Aunty cantiknya dulu ya. Kamu jangan nakal okey, atau om culik nanti malam!"
"Kalian mau kemana sih? Kok buru-buru?" ucap Rina melihat Adi tergesa-gesa menarik tangan anaknya.
"Mau buat cucu buat Tante..." ucap Adi setengah berteriak.
"Bang Adi! Kok ngomong gitu sih?" ucap Lika saat mereka sudah di depan Butik.
"Hehehe...maaf."
"Kalian mau kemana?" ucap Renaya tepat di samping Adi dan ada Prasetya di belakangnya.
"Oh Gad..." gumam Lika sembari menggigit bibir bawahnya takut Adi akan ngamuk lagi.
Dengan gesit Adi menarik tangan Lika menuju mobil dan bagai dikejar setan Adi melajukan mobilnya meninggalkan kedua orang tuanya.
"Mereka kenapa yah?" tanya Renaya bingung.
"Gak tau Bun, kok kayak ngelihat hantu ya?" sahut Prasetya yang sama bingungnya dengan istrinya.
Sementara di dalam mobil Adi dan Lika malah tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil kabur dari Renaya dan Prasetya.
"Aduhhh bang, sakit perut aku" ucap Lika masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Abisnya mereka ngerecokin kita Mulu sih, biarin aja deh hahahaha" jawab Adi.
"Kira-kira kita ini anak dan menantu durhaka gak ya?" ucap Lika dan mereka tertawa lagi.
"Sayang..." panggil Lika setelah acara menertawai orangtua dan calon mertua selesai.
"Hmm?" gumum Adi seraya mengambil tangan Lika.
"Kita mau kemana?" tanya Lika seraya memperhatikan jalanan yang dilalui mereka.
"Rahasia...." ucap Adi menggoda.
"Ihhh...serius tau!"
"Kita ke lantai ya sayang, kan mulai besok dipingit..." ucap Adi dan diangguki oleh Lika dengan antusias. Sudah lama juga Lika tidak bermain-main dengan air.
Adi melajukan mobilnya menuju sebuah pantai yang dekat dengan kota Yogyakarta. Sembari menemani perjalanan mereka yang lumayan lama Adi memutar sebuah lagu yang membuat mereka bersenandung ria.
*****
**Segini dulu ya untuk hari ini
Jangan lupa jejaknya
__ADS_1
Singgah juga di novel baruku judulnya Allea**