
Pukul 22.30
Mobil Andri memasuki pekarangan rumah mewah itu. Andri langsung turun dengan membawa sebuah kotak.
Adi yang sudah lama menunggu Andri langsung turun menemui sahabatnya itu.
"Lama banget loe kuda Nil!" umpat Adi.
"Sorry bro, gue baru ngerjain revisian bareng temen gue. Oh iya, Lika udah tidur?"
"Udah dari jam 8 dia masuk kamar, gak tau tidur apa kagak" sahut Adi.
"Aman...Ayo naik"
Mereka pun masuk mengendap-endap menuju ke kamar Andri. Ketika Andri sudah masuk kedalam kamar, Adi malah berhenti didepan kamar Lika. Adi membuka pintunya dan mengintip gadis itu.
Lampu kamar Lika sudah mati dan hanya tersisa sebuah lampu tidur redup menemani tidurnya.
Andri baru tersadar jika Adi sudah tak mengikutinya dari belakang. Andri pun keluar dan mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Aaauuuu" Adi setengah menjerit. Andri menarik telinga Adi karena tercyduk mengintip kamar Lika.
"Ngapain loe ngintip-ngintip?"
"Cuman mau mastiin aja dia udah tidur apa belum" Adi cengengesan.
"Banyak tingkah loe kuda Nil! Sejak kapan loe banyak modus gini" ujar Andri.
Mereka pun kembali masuk ke kamar Andri.
"Gimana persiapan untuk besok?" tanya Adi.
"Semua sih udah beres, Papa besok pagi terbang dari Kalimantan dan kata mama juga Lika udah setuju buat pergi besok" terang Andri sambil membereskan kertas-kertas revisi skripsinya.
"Iya tadi gue ada waktu Tante ngajak Lika pergi" sahut Adi.
"Jadi loe udah dari siang disini?" Andri duduk di kursi santainya dan memakan cemilan dari sebuah kemasan kaleng.
"Iya, tadi abis bimbingan gue langsung kesini" sahut Adi.
"Gila loe mau nempel-nempel melulu sama Lika. Gue bilangin dia tau rasa loe!" ancam Adi sambil mengunyah cemilannya.
"Gak ada akhlak loe ya Kuda Nil!" umpat Adi.
"Nyawa loe dia tangan gue ya" ujar Andri.
"Mending loe mandi sana, bau kambing banget loe!" Adi merampas cemilan Andri dan duduk diatas ranjang Andri.
"Shit! Gak ada otak!!!" umpat Andri.
"Mandi loe sana, keburu jam 12" Adi menyalakan televisi.
Andri pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setengah jam kemudian Andri keluar dengan setelan kaos dan celana pendek.
"Seger banget setelah seharian penuh dengan panas matahari dan keringat" ujar Andri.
"Hmmm" jawab Adi malas.
Mama Siska pun masuk tiba-tiba.
"Kamu udah lama pulangnya Ndri?"
"Mama? Baru aja Ma. Mama nyampe jam berapa tadi?" Andri mencium tangan mamanya.
"Tadi sekitar jam 1 siang deh kayaknya, mama juga gak liat jam" sahut Mama.
"Mama udah makan malem?" Andri basa-basi karena bingung dengan tujuan mamanya masuk ke kamarnya.
"Udah sayang. Gimana persiapan untuk besok? Papa jadi pulang?" tanya Mama.
"Jadi ma, besok pagi Papa berangkat"
__ADS_1
Mama Siska duduk di ranjang tepat di samping Adi yang sedang asyik dengan cemilan dan ponselnya.
"Tadi Mama kesini bareng Sandra dan katanya Sandra udah main kemarin saat Mama masih di luar negeri. Ketika Mama tinggal Sandra bareng Lika gak lama Sandra malah pulang. Apa Lika kurang bisa menerima kehadiran Sandra ya?" Mama Siska menghela nafas panjang.
"Sandra aja tuh jahat sama Lika Tante. Baru pertama ketemu udah buat kaki Lika lecet" Adi nyerocos tanpa mikir.
Andri memukul kepala Adi.
"Mulut loe emang gak bisa diem ya setan!" umpat Andri.
"Maksud kamu gimana Di?" Mama Siska mengerutkan keningnya.
"Enggak kok Ma, mungkin karena baru kenal aja ma, kan..." sahut Andri.
"Andri bohong Tante" sela Adi
Andri menutup mulut Adi dengan bantalnya.
"Andri! Biarin Adi ngomong" bentak Mama Siska.
Andri langsung terdiam tak berkutik lagi. Adi pun menceritakan semua yang dia tau kepada Mama Siska. Karena kurang yakin, Mama Siska pun memeriksa CCTV tersembunyi di rumahnya dan memang benar yang dikatakan oleh Adi.
"Kok Sandra bisa seperti itu?" Mama Siska memegang dadanya.
"Ma...Jangan dipikirkan ma" Andri langsung merangkul mamanya berharap sang mama akan tenang.
"Loe sih" Andri menyenggol lengan Adi.
Adi pun mati kutu, bingung Ia harus berbuat apa.
"Sudah, sudah mama gapapa" ucap Mama Siska lirih.
"Malam ini mama mau tidur bareng Lika aja dikamarnya" lanjutnya.
''Ma..Maama...Jangan dong ma. Kami udah beli kue nih ma buat Lika. Kami mau buat kejutan" Andri memohon.
"Astaga Mama lupa nak, yaudah mama ikut boleh kan?" Mama Siska menatap kedua anak muda itu.
"Shit! Batal rencana gue!" batin Adi.
"Maaf bro" bisik Andri.
Adi menggaruk kepalanya frustasi. Rencana yang sudah Ia susun rapi malah harus batal karena malu dengan Mama Siska.
"Yaudah yokk kita ke kamar Lika, udah lewat satu menit" ujar Andri.
Mereka pun masuk pelan-pelan tanpa menimbulkan suara. Lika sangat terlelap dan nyenyak.
Mama Siska menyentuh pipi Lika, gemas dengan Putri kecilnya itu. Lika menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Mama..."
"Happy Birthday" teriak mereka serentak seraya menyatakan lampu kamar Lika.
"Astagaaa..." Lika tersenyum haru.
Andri dan Adi pun menyanyi diiringi gitar Adi.
Hari ini hari yang kau tunggu....
.
.
.
"Tiup lilin dulu" Andri menyodorkan sebuah kue berwarna coklat kepada Lika.
"Sah ya dua puluh tahun" ujar Adi.
"Makasih semuanya" Lika menangis haru.
__ADS_1
"Ehh anak mama jangan nangis dong. Uhh sini sini Mama peluk" Mama Siska memeluk putrinya itu dan mengecup pucuk kepalanya.
"Lika rindu Mama, pengen pulang ke Medan" ucapnya lirik.
Mama Siska menatap Lika seolah-olah mengerti apa yang Lika rasakan.
"Besok kita video call sama Mamanya Lika ya, sini peluk Mama aja dulu" Mama Siska memeluk dan mengelus rambut Lika.
"Udah dong jangan nangis terus, nih potong dulu kuenya" ujar Andri.
Lika pun memotong kue itu menjadi beberapa bagian dan menyuapi mereka satu-persatu.
"Udah jangan nangis lagi ya sayang" Mama Siska mengelus pipi Lika gemas.
"Iya ma" jawab Lika memberikan senyumannya yang paling manis.
"Yaudah kamu istirahat ya, Mama juga mau istirahat. Besok jangan lupa oke" Mama mencium kening putrinya itu dan berlalu pergi.
"Bang Andri...Kadonya mana?" Lika memanyunkan bibirnya.
"Besok ya sayangnya abang, Janji" Andri mencubit pipi Lika gemas dan keluar.
"Awas bohong" ancam Lika.
"Iya" teriak Andri dari luar.
Lika pun beranjak dari tempat tidur dan menuju lobi kamarnya. Adi yang masih duduk di kursi rias pun menyusul Lika.
"Kamu kok sedih di hari bahagianya kamu?" Adi membuka pembicaraan.
"Gapapa bang, aku kangen aja sama keluarga aku di kampung halaman" sahut Lika pelan.
Adi pun merangkul Lika. Gadis itu terkejut namun tidak memberikan perlawanan. Ia tampaknya sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar saat itu.
"Dingin loh diluar" ujar Adi.
"Gak kok" sahut Lika melepaskan pelukan Adi.
"Oh iya, kamu belum jawab pertanyaan aku kemarin. Kamu udah punya pacar belum sih?" Adi melangkah mendekati Lika.
DEG...
Jantung Lika tiba-tiba meronta dengan pertanyaan Adi itu.
"Belum" sahut Lika dan membelakangi Adi menghadapi jari-jari lobi itu menyembunyikan perasaannya.
"Bener?" Adi memastikan.
"Iya! Emang kenapa si?" Lika mulai gugup
"Nih aku punya kado buat kamu" Adi menyodorkan sebuah kotak perhiasan berwarna biru tua.
Lika menatap kotak itu ragu, namun Adi mengedipkan matanya meyakinkan Lika. Gadis itu pun meraih kotak itu perlahan dan membukanya.
"Kalung?" Lika mengerutkan keningnya.
Adi mengangguk mengiyakan.
"Ini pasti mahal. Aku gak pantes menerima ini" Lika menutupnya kembali dan memberikan kotak itu pada Adi.
"Kenapa?" tanya Adi .
"Itu mahal!" jawab Lika singkat.
Adi pun mengambil kalung itu dan membuka kaitnya. Ia memasangkan sendiri ke leher Lika tanpa meminta persetujuan gadis itu.
Adi menggeser rambut panjang Lika dan memasangnya kalung itu. Lika tak sedikitpun memberikan penolakan, gadis itu hanya diam membisu.
"Kamu tau rasa itu lebih mahal dari ini dan memenangkan kamu itu jauh lebih berharga dari ini" Adi membungkukkan badannya agar seimbang dengan wajah Lika.
Lika masih terdiam membisu. Gadis itu bingung dengan pernyataan Adi.
__ADS_1
"Mulai hari ini, hati aku cuman buat kamu. Kamu jangan kemana-mana ya" Adi mencolek hidung Lika dan pergi meninggalkan gadis yang masih kebingungan itu.
"Maksudnya apa?" batin gadis itu.