Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 52


__ADS_3

Kota Paris, Desember tahun Ketujuh


Adi menarik kopernya keluar dari bandara. Perjalanan yang panjang dan sangat tiba-tiba membuat Adi harus terburu-buru dan tak sempat beristirahat malam ini.


'Wellcome in Paris Adi. Dulu aku ingin sekali menginjakkan kakiku disini bersama kamu Lika, tapi takdir berkata lain. Aku malah kesini dengan sahabat dan Abang kamu' gumam Adi seraya menatap keindahan yang ditawarkan oleh kota itu dari dalam tadi menuju apartemen pribadi milik keluarga Hermawan.


"Gue kangen Lika!" Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Adi hingga membuat pasangan suami-istri yang duduk di jok belakang saling menatap satu sama lain.


"Bawa dalam doa aja kak" sahut Ana sangat hati-hati. Betapa sangat menyayat hati mendengar ucapan Adi setelah lima tahun Lika meninggal.


Adi hanya tersenyum kecut. Sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya harus merindukan sosok Lika namun tak tau caranya untuk bertemu. Selama lima tahun Adi hanya mengobati rasa rindunya melalu pertemuannya di mimpi dan ziarah ke makam Lika.


Setelah sampai di apartemen Adi memilih tidur seharian karena cuaca dikota itu sangat dingin dan kondisinya yang masih kurang istirahat semalaman.


*****


Pagi yang cerah disambut sinar mentari yang malu-malu memperlihatkan dirinya dibalik awan.


Adi menggeliat malas diatas ranjang dan bangun dengan terpaksa. Ia membuka jendela menatap kota Paris yang diselimuti kabut.


Dia bergegas membersihkan dirinya dan keluar dari kamar. Adi berencana kabur dari pasangan menyebalkan ala Andri dan Ana. Bagaimana tidak, Ia selalu terkena batunya ketika pasangan itu sedang bertengkar dan bahkan naasnya ia sendiri ikut terjerumus ke dalam masalah contohnya seperti saat ini.


"Kak Adi mau kemana?" tegur Ana saat Ia mendapati Adi sudah rapi dengan setelan ala oppa-oppa Korea saat musim dingin.


"Hari ini gue gak bareng kalian ya, selamat bersenang-senang" sahut Adi dan berlalu pergi dari apartemen itu.


"Ini rasanya bebas dari mereka ya, serasa bebas dari jajahan" gumam Adi terus menapaki jalan-jalan seputaran apartemen itu.


Brukkkk...


Karena terlalu asyik dengan kamera dan tidak memperhatikan jalan Adi menabrak seorang wanita yang sedang berjalan berlawanan arah.


"Maaf Miss, saya tidak sengaja" ujar Adi dan mengumpulkan kertas dan barang-barang wanita itu yang berserakan.


"Tidak apa-apa Sir, saya kurang berhati-hati" sahutnya.


Adi menatap wajah wanita itu dan bagaikan diobrak-abrik badai rasanya. Dunia seketika berhenti atas pemandangan yang disuguhkan didepan mata Adi.


"Lika?" suara Adi getir dan hampir hilang.

__ADS_1


Mendengar namanya disebutkan wanita itu menoleh melihat siapa yang lelaki yang didepannya itu. Seketika wajah Lika menjadi pucat, nafasnya terengah-engah dan jantungnya berpacu dengan cepat.


"Lika...Ini kamu kan Lika?" Adi mengguncang-guncang tubuh Lika hingga Lika tersadar.


"Maaf Sir, saya bukan orang yang anda maksud" jawab Lika dan berlalu meninggalkan Adi. Ia berlari sekencang mungkin menghindari Adi karena Adi mengejarnya. Karena kehilangan jejak Adi kembali ke tempat dimana mereka bertemu tadi dan mengambil kertas-kertas milik Lika yang berserakan.


Ia memilih langsung pulang dan kebetulan Andri dan Ana sudah meninggalkan apartemen sehingga Ia bisa langsung masuk kedalam kamar tanpa meladeni ocehan mereka lagi. Ia duduk diatas ranjang dan memperhatikan kertas-kertas milik wanita itu.


"Ini design gaun. Seingat gue dulu Andri pernah cerita kalo Lika suka gambar seperti ini. Apa benar wanita tadi itu Lika? Lalu siapa yang dimakamkan lima tahun lalu jika wanita yang tadi itu Lika?" Adi terus berpikir dan mengingat-ingat kembali wanita yang ditemuinya hari ini.


Wajah wanita itu persis seperti Lika namun penampilannya bukan Lika yang dulu. Wanita yang tadi ditemuinya memiliki rambut coklat muda dan panjangnya hanya sebahu tidak seperti Lika yang punya rambut berwarna hitam pekat dan panjang hingga pinggang menutupi punggingnya.


Gaya pakaian yang dikenakannya juga sangat kontras dengan Lika, wanita tadi menggunakan blazer dan celana kulot dipadukan dengan high heels hitam ala wanita-wanita karir pada umumnya sedangkan Lika lebih suka menggunakan rok selutut atau gaun casual berpadu dengan high heels ala-ala gadis Korea. Sungguh kontras perbedaannya.


Adi menatap wajah mungil Lika dalam ponselnya, gadis cantik yang selalu bawel dan plin plan.


"Kalau yang tadi benar-benar kamu, mengapa kamu berlari menghindar dari aku? Apa kejadian lima tahun yang lalu masih membekas di hati kamu? Jika bukan kamu apa ini artinya ini semua?"


"Loe kenapa natap-natap foto Lika?" Andri tiba-tiba muncul dan sudah duduk disamping Adi. Ia melirik kertas gambar ditangan Adi. "Sejak kapan loe suka menggambar gini?" tambahnya.


"Gue tadi ketemu Lika" sahut Adi polos.


"Menurut loe gue bohong? Emang sejak kapan gue suka gambar-gambar gaun kayak gini hah?" Adi memutar bola matanya jengah. Ia sudah menduga tak akan ada yang percaya jika Ia benar-benar bertemu dengan Lika, bahkan dirinya sendiri pun masih bingung akan sosok wanita yang ditemuinya tadi.


Setelah pertemuan itu Lika berlari sekencang mungkin menghindari Adi. Lika tak pernah menyangka, setelah lima tahun bersembunyi Ia akan bertemu lagi dengan Adi.


"Miss Lika? Apa yang terjadi Miss? Mengapa Miss berlari-lari seperti sedang dikejar hantu?" Seorang pegawai di butik Lika tampak bingung dengan bosnya itu.


"Air, air. Aku butuh air!"


Gadis itu pun segera mengambilkan Lika segelas air putih. Rasa penasarannya masih ada dan semakin besar melihat keringat Lika bercucuran hebat dari keningnya.


"Tolong hubungin Leonard, aku ingin kembali ke apartemen." Lika memberikan barang-barangnya pada pegawai yang lain dan mengatur nafasnya kembali.


Lika tampaknya belum siap bertemu dengan Adi setelah sekian lama. Lima tahun yang lalu Siska mengirimkannya ke Singapura untuk pemulihan dari kecelakaan maut itu dan setelah enam bulan kemudian Lika dipindahkan ke Paris untuk melanjutkan studinya menjadi seorang designer.


Setahun Lika berada di Paris tiba-tiba Siska tak pernah menghubunginya lagi dan segala fasilitas pun terputus hingga membuat Lika kesulitan secara ekonomi. Beruntung Lika tinggal di apartemen pribadi milik Siska sehingga ia tak perlu menyewa tempat tinggal lagi.


Sejak saat itu tak pernah lagi ada hubungan antara Lika dan keluarga Hermawan karena selama ini hanya Siska yang punya kontak dengan Lika. Lika pun bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang demi kebutuhannya sehari-hari dan untuk biaya kuliahnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan hilangnya kontak Siska, Lili kembali ke tanah air karena akan menikah. Tinggallah Lika sendirian di Paris menyongsong kehidupan yang baru. Semua uang tabungan digunakan Lika untuk membayar administrasi untuk menyelesaikan Magister dinegara itu agar Lika dapat tetap melanjutkan studinya.


Lika menjalani tahun-tahun sulit itu sendirian dan bahkan Lika selalu meyakinkan orangtua kandungnya bahwa ia sedang baik-baik saja. Berulang kali Lika jatuh baik secara fisik maupun psikis dan satu-satunya orang yang ada pada masa itu adalah Leonard. Leonard menjadi satu-satunya keluarga saat Lika berada di Paris.


Sekarang Ia sudah melewati masa sulit itu. Ia sekarang menjadi seorang designer ternama dengan butik yang besar dikota Paris. Semua perjuangan berbuah manis dan dengan bantuan Leonard tentunya.


"Cila...Kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Leonard datang dengan tergopoh-gopoh setelah mendengar kabar dari pegawai Lika.


"Aku mau pulang Iyo, tolong antarkan aku ke apartemen."


"Baiklah, ayo kita pulang."


Sesampai di apartemen Lika, Leonard membuat dua cangkir kopi dan duduk didepan Lika. Leonard memperhatikan raut wajah Lika yang bingung dan khawatir.


"Cila, kamu sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi cila?" Ya. Leonard memanggil Lika dengan sebutan Cila, sedangkan Lika memanggil Leonard dengan Iyo.


"Tunanganku menemukanku."


"Benarkah? Bagaimana dia bisa ada di kota ini Cila? Bagaimana kalian bisa bertemu?" Leonard mengguncang tubuh Lika dengan keras seakan-akan terbawa suasana dan malah lebih khawatir dari Lika.


"Aku juga tidak mengerti apa-apa Iyo. Sudah lima tahun aku tak melihatnya, dia semakin tampan juga."


Leonard menarik hidung Lika dengan sangat kuat hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Mata keranjangmu memang tak pernah hilang padahal kondisinya genting seperti ini."


Lika tertawa renyah, Leonard sungguh mengembalikan mood Lika. Begitulah cara Leonard membuat Lika tetap merasa punya seseorang yang memperlihatkan dan peduli pada Lika walaupun terkadang Leonard terlihat seperti sosok yang menggemaskan.


"Kamu kok tertawa sih Cila?" Leonard memasang muka sebal merajuk seperti anak kecil.


"Oke aku menyerah. Maafkan aku Mr. Leonard Davincent."


"Lalu bagaimana selanjutnya nasib kamu cila? Aku yakin tunangan kamu itu pasti mencari kamu ke seluruh penjuru kota ini."


"Sudahlah Iyo, tidak apa-apa. Dia akan lelah sendiri juga nantinya."


"Cila, tatap mata aku! Kamu masih cinta sama laki-laki itu?"


"Iyo... Aku tidak seperti itu." Lika memalingkan wajahnya dari tatapan Leonard. Ia berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota Paris.

__ADS_1


'Aku tau kamu masih cinta padanya Miss Lika Mey' batin Leonard.


__ADS_2