
Sepanjang
perjalanan pulang Rey terus mengomel, Rey yang mengemudikan mobil sport sedan
civic berwarna biru. Angel hanya terdiam menatap jendela. Ia membiarkan
kakaknya terus mengomel, “Lo dengar gue nggak, kayak bicara dengan tembok gue”
keluhnya karena dari tadi Angel hanya diam saja. “Iya, gue denger” jawabnya
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
Angel
keluar dari mobil yang susul Rey di belakangnya, Renata dan Martin sedang duduk
santai di ruang keluarga. Langkah Angel terhenti saat melihat kedua orang yang
di sayanginya duduk menanti kedatangan “Papa, Mama. Kapan kalian datangnya?”
sambut Angel terkejut dan langsung memeluk keduanya.
“Baru
saja”
“Bukannya
hari ini kamu ada jadwal cek up ya?” Tanya Martin pada anak bungsunya. “Iya
Pah, baru saja dari rumah sakit” jawab Angel masih memeluk ayahnya. “Rey,
bagaimana hasilnya?” Tanya Martin pada anak sulungnya. “Belum tahu pasti Pah,
kata Dokter Cleo. Angel harus banyak istirahat saja” jelas Rey.
“Bagaimana ini, beberapa hari lagi
gue akan ada lomba basket. Jangan sampai ketahuan sama Papa, Mama, dan Bang
Rey” Pikir Angel dalam hati. Semenjak Angel di vonis menderita
Gagal Ginjal oleh Dokter. Kini ia tidak lagi di izinkan bermain basket lagi.
Rey yang mengamati adiknya sedang memikirkan sesuatu.
“Kenapa
Lo? Jangan sampai gue lihat lagi Lo main basket. Gue pites pala Lo” ancam Rey.
“Ngacooo”
jawab Angel beranjak pergi
“Rey,
Papa dan Mama mau kamu jaga adikmu.” perintah Martin yang dibalas anggukan oleh
Rey “Iya Pah,”
“Papa
sama Mama kapan datangnya?” Tanya Rey
“Sekitar
setengah jam yang lalu,” ada jeda “waktu Papa, Mama sampai rumah tidak ada kamu
dan Angel. Kata Bibi kamu kerumah sakit antar Angel untuk Cek up” jelas Martin.
“Iya, Pah.”
Dikamar
Angel mondar mandir seperti orang kebingungan, Bagaimana tidak minggu depan ia
harus mengikuti turnamen bola basket antar sekolah. Sedangkan Kakaknya yang
super duper menyebalkan itu selalu mengawasinya setiap saat. “OH MY GOD” teriak Angel sambil
melemparkan bola basketnya ke ring. Setiap kali Angel ingin pergi latihan
basket selalu saja terhalang oleh Kakaknya.Dengar berbagai cara ia lakukan agar
bisa lolos dari pengawasan Kakak.
Pada
waktu itu ….
Hari libur tiba Angel bersiap-siap
dengan seragam bola basket berwarna biru. Ia mengambil tas sampirnya keluar
dari kamar sambil celingak celinguk. Ia berjalan mengendap-endap, tanpa
disadari olehnya. Dari kejauhan Rey melihat, “Pasti mau kabur” pikir Rey
“Angel,mau kemana lo?” Tanya Rey
membuat Angel terkejut, Rey yang menatap kebawah hingga keatas dengan pakaian
seragam basket yang sering Angel pakai saat pergi latihan. “Mau kemana lo?”
tanyanya lagi “hmmm, anu, hmmmm pergi bentar doang kok Bang” jawab Angel
gegalapan.
“Aduh, ketahuan lagi” pikir Angel
dalam hati
__ADS_1
“Bang, Pleasee. Cuma pergi latihan
doang kok” ucap Angel memohon agar dapat izin pergi.
“Pokoknya nggak, ya nggak” ucap
Rey penuh penekanan.
“Sekarang Lo masuk ke kamar.
Sekali lagi lo pergi. Gue akan lakukan lebih sadis dari ini” ancam Rey membuat
Angel mengangguk pasrah. Kali ini Angel hanya diam lalu kembali kekamarnya,
padahal ia harus ikut latihan bersama tim basket untuk mengikuti pertandingan
antar sekolah.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Angel
tersadar dari lamunannya. “Masuk saja tidak terkunci kok” teriak Angel dari
dalam. Membuat empunya membuka pintu. Rey yang melihat Angel sedang duduk di
bibir kasur king sizenya. “Masih kesal ya, sama Abang” Angel menoleh menatap
tajam “menurut lo” Rey bernafas gusar. Menatap adik semata wayangnya sedang
marah padanya.
Ia berusaha menetralisir
pikirannya “Bukannya Abang tidak mengizinkan lo main basket. Tapi Abang tidak
mau lo terlalu capek, atau terjadi sesuatu pada Lo. Gue tahu main basket adalah
hobby lo sejak dulu. Tapi kali ini aja dengerin Abang ya” jelas Rey yang tidak ingin
terjadi sesuatu padanya.
Angel tahu kakaknya begitu sangat
perhatian dan sayang padanya. “maaf Bang, gue nggak akan membuat lo kwatir
lagi” ucap Angel memeluk Rey. “Thanks ya dek, gue sayang sama lo”Angguknya “Gue
juga sayang banget sama Abang. Maaf ya Bang” ucap Angel tulus.
Angel
masih mendrible bola basket, ia masih duduk memikirkan bagaimana cara bisa
mengikuti turnamen basket. Tanpa pikir panjang idenya pun muncul.
Malam
itu Angel mengajak kedua sahabatnya untuk bertemu di sebuah tempat. Mereka
duduk di balkon sambil bersedap dada, Jonathan yang tidak lepas dari buku novel
yang sering ia bawa sedang Angel hanya duduk di kursi kayu.
“Tumben
ngajak ketemuan, tidak biasanya?” Ujar Rendra
“Gue
minta bantuan sama kalian?” pinta Angel berdiri
“Boleh,
tapi jangan aneh-aneh” sahut Jonathan membuat Angel menyerngit dahi. “Iya.”
“Gue
ada ide” sahut Jonathan membuat keduanya menoleh.
Rendra
memakirkan mobilnya di pekarangan rumah yang bergaya eropa. Ya Rendra berada di
rumah Angel, keluar dari mobilnya melangkah masuk. Menekan bell, seorang paruh
baya membuka pintu “Den Rendra, silahkan masuk” sapa Bibi “Iya Bi,” Rendra
berjalan masuk menuju ruang tamu. Ia mendaratkan bokongnya di kursi empuk.
“Hey
Ren” sapa seseorang ternyata itu adalah Rey kakak Angel
“Hallo
Kak.” Sambut Rendra menjabat tangan Rey
Angel
yang menuruni anak tangga dengan tas punggung yang mengantung. “Rendra, maaf
lama” sahut Angel
“Bang,
Izin gue dan Angel pergi dulu ya” kata Rendra meminta izin pada Rey
“Iya,
gue titip dia. Jagain juga”
__ADS_1
“Emang
gue barang apa di titipin segala” Angel mengerucutkan bibirnya tidak suka.
“Bang
gue berangkat”
“Bang
gue pamit” pamit Rendra sopan
Rendra
menatap heran kepada Rey, yang semakin over protektif pada Angel. Rendra tahu
hal itu, Rey sangat menyayangi adiknya. “Angel, Abang lo itu kenapa? Kok jadi
over begitu ke lo” Angel mengedikkan bahu “Entahlah”
Setelah
Rendra dan Angel pergi, Rey berinisiatif untuk mengikuti mereka. Rey segera
mengambil jaket dan kunci motornya. Dengan gerakan cepat ia menggunakan helm
full face lalu dengan segera menancap gas. Tanpa di sadari Rendra dan Angel,
Rey mengikutinya dari belakang.
Mobil
Rendra melaju dengan kecepatan tinggi, Angel melihat jam di pergelangan tangan
yang sudah menunjukkan pukul 08.30 WITA setengah jam lagi acara Pentas seni di mulai. Tetapi Angel hanya diam menatap
kedepan. Sedangkan Rendra tetap focus mengemudikan.
Lima
belas menit kemudian mereka sampai di sekolah, Rendra menurunkan Angel depan
gerbang sekolah setelah itu Rendra mencari tempat parkir. Angel melangkahkan
kakinya memasuki gedung sekolah.
Hari
ini adalah hari pertama diadakan pentas seni di SMA Sakti Bangsa. Disana para siswa
bebas mengeluarkan imajinasi mereka. Mulai dari membaca puisi, memainkan music
band, Dance dan pertandingan basket antar sekolah. Semua siswa mengenakan
pakaian bebas.
Ronald
yang berada di lapangan indoor bersama Tim basketnya. Sedang melakukan pemanasan
sebelum bertanding. Dilapangan Indoor sudah di meriahkan oleh pemandu sorak
yang mereka sebut dengan Cheerleaders. “Hey, gue nggak telatkan” Ronald menoleh
tersenyum lebar menatap kedatangan Angel.
“Angel
lo yang semangat ya, gue yakin Tim lo. Pasti menang” Jonathan yang tiba-tiba
datang dan menyemangati Angel dan Timnya. “Makasih Ya Jojo” ucap Angel sambil
memegang kedua pipi Jonathan. Ronald yang menyaksikan kedua sahabat itu menatap
tidak suka. “Angel kita di panggil sama Pak Yoga tuhh” panggil Ronald, memang
benar Pak Yoga sedang memanggil mereka untuk berempuk.
Jonathan
dan Rendra mengambil tempat duduk untuk dapat menyaksikan pertandingan yang
sudah di tunggu-tunggu. “Kak Rendra ini name tagnya” seketika Anne memberikan
sebuah name tag bertuliskan namanya sebagai ketua panitia pelaksana jalannya
sebuah acara pertandingan.
“Hey
gaesssss everyone” sapa pemandu acara “Ini adalah adalah moment yang di
tunggu-tunggu. Pertandingan persahabatan antara SMA SAKTI BANGSA dan SMA NUSA
BANGSA. Tapi ini bukan akhir dari sebuah acara. Dan nanti malam akan meriah
lagi. PESTA TOPENG BEST COUPLES” sorak pemandu memberikan informasi pada semua
siswa SMA SAKTI BANGSA dan SMA NUSA BANGSA. Untuk menghandiri acara tersebut.
Semua
penonton bersorak, teriakan hysteria membuat suasana semakin meriah. Angel
sudah mengambil pemanasan untuk segera bersiap-siap.
Tanpa
disadari Angel, Rey yang sedang duduk di bagian atas tepatnya di tempat
penonton. Yang memakai topi serta jaket hitam. “Angel lo bohongi gue lagi. Tapi gue tetap menjaga lo. Kenapa sihh,
__ADS_1
tidak mau dengar kakak.” Rey menghembus nafas gusar dan kembali mengawasi
adiknya dari arah jauh.