Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 35


__ADS_3

Sumatera Utara, Juni Tahun Pertama


Setelah tiba di bandara Internasional Kualanamu mereka pun turun dari pesawat dan mengambil semua barang bawaannya.


"Astaga ternyata sebanyak ini" Lika memegang pelipisnya.


"Ini semua punya kamu ya, aku cuma bawa satu koper dan satu kantung oleh-oleh" cibir Adi.


"Ya ampun...Gimana kita bawa semua ini" Lika mendadak lemas melihat tumpukan barang-barang di troli itu.


"Lagian ngapain sih bawa barang sebanyak ini" keluh Adi.


"Udah ahh...Kamu tuh bawel banget. Balik aja sana ke Jogja" Lika mulai kesal dengan Adi yang terus menyalahkannya.


"Shit! Ini perempuan beda banget tidur sama bangun" batin Adi.


"Jagain nih! Aku mau cari taxi kedepan" titah Lika.


"Emang kita gak dijemput papa kamu?" tanya Adi polos.


"Kamu mau dijemput pake gereta lembu?" Lika semakin jengah melihat Adi.


Adi hanya terdiam mendengar jawaban Lika, Ia bingung harus berkata apa. Sifat anggun Lika di Yogyakarta seketika berubah ketika sampai di tanah sumatera. Lika terlihat lebih galak dan buas seperti induk macan.


"Jagain!" Lika melangkah meninggalkan Adi mencari taxi disekitar Bandara.


"Duhhh kalo barangnya gak sebanyak itu harusnya bisa naik bus, kalo gini ceritanya yang ada nyewa satu bus. Terpaksa deh nyari taksi, belum lagi nanti kalo pake bus itu anak bakalan bawel pasti" Lika mengumpat dalam hati.


Setelah menemukan sebuah taxi dan benegosiasi mereka pun berangkat menuju kampung halaman Lika.


"Makin lama makin dingin ya" ujar Adi.


"Tinggal pake jaket ribet banget sih" sahut Lika cuek.


"Tapi jaket aku dikoper" Adi nyengir tak jelas.


"Ya ampun bang Adi, bisa gak sih gak bikin aku kesel" Lika membuka kain batik khas Batak yang membungkus lehernya.


"Ini pake aja bang, kalo jaket aku kan gak muat sama abang. Nih sekalian topi hangatnya" Lika memakaikannya pada Adi.


"Gitu dong dari tadi, udah kedinginan baru peka" Adi mendekatkan wajahnya pada Lika.


"Modus terus ya" Lika melotot.


"Hahaha...Berapa jam sih ke desa kamu?" tanya Adi sambil melihat-lihat pemandangan para petani diluar jendela.


"Dua setengah" jawab Lika sembari memainkan ponselnya.


"Halo Ma, Kami lagi perjalanan mau kerumah dan bentar lagi pasti nyampe. Kami baik-baik aja ma. See you"

__ADS_1


Lika menutup panggilannya dan memasukkan ponsel itu kedalam tas.


"Kenapa gak hubungin saat kita tiba?" tanya Adi polos.


"Mana bisa, di desa itu gak ada koneksi internet ataupun seluler" terang Lika sambil memakan cemilan yang dibelinya dibandara Adisucipto.


"Serius? Oh God!" Adi melongo mendengar ucapan Lika.


"Maksud kamu aku bohong? Udah kabarin aja Tante Renaya kalo kamu udah tiba. Jangan lupa kabarin semua gebetan kamu sebulan kedepan kamu gak ada kabar" Lika membalik badannya membelakangi Adi.


Walaupun kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri, Lika tampak tak terima jika Adi benar-benar mempunyai banyak cadangan perempuan diluar sana. Adi pun bernafsu menggoda Lika. Ia mengirimkan pesan singkat pada mamanya dan menyimpan ponsel itu kedalam saku celananya.


"Siapa juga yang mau gue hubungin, calon istri gue kan ada disini" batinnya.


Adi meraih rambut Lika, mengelus-elus rambut panjang yang sudah dirawat mahal oleh salon. Terasa sangat halus dan wangi.


"Kamu mau aku kabarin gadis-gadis pengagum aku diluar sana?" goda Adi.


Lika diam tak bergeming. Hatinya penuh kecemburuan membara. Ingin sebenarnya Ia menjambak rambut orang-orang yang berusaha mendekati Adi. Namun Ia sendiri juga dilanda kebingungan karena belum pernah ada sepatah katapun keluar dari mulut Adi yang menjamin bahwa mereka berdua saling mencintai.


Lika frustasi mengingat bahwa Adi hanya mengeluarkan kata gombalan-gombalan selama ini. Terlebih lagi Adi hanya bersikap modus padanya. Gadis itu merasa dipermainkan lelaki disampingnya itu.


"Kena kamu! Alangkah bahagianya liat kamu mati kutu dibakar cemburu" Adi tersenyum menang.


Diantara suasana kedua anak muda itu, supir taxi yang membawa mereka tampak memperhatikan mereka dari kaca spion. Tanpa mereka ketahui ternyata supir taxi itu seorang bujangan yang tadinya sempat tertarik dengan Lika. Namun hatinya patah ketika melihat ternyata Lika bersama Adi.


"Kedua orang ini mau bunuh aku disini? Aku itu jomblo, teganya mereka mesra-mesraan disini" batinnya.


Supir taxi itu hanya menelan salivanya kasar. Kedua remaja dibelakangnya memang keterlaluan, terlebih Adi yang tak henti-hentinya menggoda Lika membuat nasib supir itu semakin 'ngenes'.


"Kamu mau sampe kapan sih ngambek-ngambek sama aku?" Adi tak henti-hentinya menggoda Lika.


"Geser! Sempit tau" Lika mendorong tubuh Adi.


Adi kembali merapatkan duduknya kepada Lika, ia memeluk tubuh gadis itu hingga gadis itu tak dapat bergerak lagi.


"Gini aja, soalnya dingin banget" bisik Adi.


"Ya ampun ini cowok modus banget sih, gak ada ot*k" umpat Lika.


Lika hanya pasrah membiarkan Adi memeluknya. Semakin ia meronta maka lelaki itu akan memeluknya semakin erat.


"Hangat kan kalo aku peluk" Adi berbicara tepat didaun telinga Lika hingga membuat gadis itu merinding geli.


Lika mendongakkan kepalanya menatap Adi dengan kebingungan. Entah apa yang sudah merasuki kepala Adi hingga berlaku seperti ini. Memang mereka pasangan absurd, bilang cinta saja susah.


Dua jam perjalanan telah mereka tempuh, Adi tertidur sambil memeluk Lika. Suasana embun pegunungan ditambah turun hujan membuat suhu sangat rendah saat itu. Kedua manusia payah ini sudah terbiasa dengan suhu kota Yogyakarta sehingga dinginnya udara sampai terasa menusuk ke tulang.


Dalam pelukan Adi, Lika memperhatikan wajah Adi dengan seksama. Wajah putih mulus tanpa jerawat dan flek sangat menawan ditambah Alisnya yang tebal. Lika berulangkali terus jatuh cinta pada Adi.

__ADS_1


Lika membuka kacamata yang dikenakan Adi dan menyimpannya di dalam saku jaketnya.


"Gini kan tampan" Batinnya.


Lika menggenggam tangan Adi yang dingin, lalu mengambil minyak kayu putih dari dalam tasnya. Ia mengolesi minyak itu diantara telapak tangan lelaki itu.


Supir yang sedari tadi tak dapat berpaling dari Lika tampak kesal. Ia tampak tak menyukai perlakuan Lika pada Adi.


"Apa gadis ini bener-bener cinta sama orang itu. Lebih tampan akulah kalo dilihat-lihat" batinnya.


Ia terus mencuri-curi pandang pada Lika. Ia sangat memanfaatkan kaca spion untuk melirik gadis itu.


"Kalo dari penampilannya, gadis ini pasti orang kaya" batinnya lagi.


"Masih sekolah dek?" supir itu membuka percakapan.


"Iya bang, aku kuliah semester 6" jawab Lika sambil tersenyum manis menambah pesona wajahnya. Bagaimana tidak jatuh cinta setiap laki-laki yang berbicara dengannya.


"Kuliah dimana? Kalo boleh tau namanya siapa?" tanyanya lagi.


"Namaku Lika bang, aku kuliah di Yogyakarta" sahut Lika.


"Oh jauh ya, Nama Abang Beni dek" laki-laki itu penuh semangat.


"Salam kenal bang Beni" jawab Lika.


"Itu pacar kamu ya?" tanya Beni memastikan.


"Bang, itu tujuan kami. Berhenti didepannya ya" Lika menunjuk sebuah rumah berwarna kuning dipinggir jalan.


"Udah sampai ya?" sahut Beni penuh kecewa.


Beni pun mengehentikan mobilnya dan memarkirkan tepat didepan rumah itu.


"Bang Adi, bang Adi bangun" Lika menepuk-nepuk pipi Adi.


"Udah nyampe ya?" Adi menggeliat dan langsung keluar dari taxi itu. Udara dingin pedesaan menusuk kulitnya hingga ke tulang.


Lika terlihat sibuk membantu Beni menurunkan barang-barangnya dari dalam bagasi. Ia kemudian membayarkan sejumlah uang kepada Beni.


"Makasih bang, senang berkenalan dengan Abang" Lika mengalami laki-laki itu.


Tak butuh bahan bakar, api cemburu langsung menyulut hati Adi. Adi langsung menghampiri mereka dan merangkul pinggang Lika.


"Terimakasih pak" ucap Adi.


Beni hanya mengangguk dan masuk kedalam mobilnya. Mobil itu berlaku meninggalkan mereka.


"Kakak!!!" dua orang anak kecil menghampiri mereka dan memeluk Lika. Terlihat kerinduan yang sangat mendalam diwajah kedua bocah itu.

__ADS_1


__ADS_2