
Leonard menganggukkan kepalanya menatap Lika penuh harap.
"Apapun itu Cila, kamu akan tetap memiliki tempat istimewa dalam hatiku."
Lika beranjak dari tempat duduknya dan berdiri ditepi kolam yang penuh dengan lilin yang mengapung.
'Apa ini pertanda aku memang harus melupakan Adi. Sudah lima tahun aku mengubur semua kenangan selama aku di Yogyakarta dan bahkan aku sudah tak pernah menginjakkan kakiku dikota itu, tapi tak pernah terpikir posisi Adi akan tergantikan. Apa ini jalan dari Tuhan untuk kehidupanku yang baru?'
"Iyo?" ucap Lika memulai.
"Cila" Leonard ikut berdiri tepat dibelakang Lika.
"Apa aku pantas?"
"Aku tak pernah memikirkan itu girl, cintaku datang tanpa alasan. Jangan pernah bertanya seperti itu!"
Lika membalik badannya menghadap Leonard, Ia menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Lika menutup matanya, berdoa memohon pada Tuhan untuk kehidupannya kini.
'Tuhan...Jika memang Adi bukan jodohku, maka aku siap menerima Leonard' Lika membatin.
Lika mengambil kedua tangan Leonard, menatap pria itu dalam. Lika memperhatikan bola matanya dan sungguh terlihat ketulusan disana. Sekali lagi Lika menarik nafasnya dan,
"Aku mau bersamamu Iyo."
"Are you sure?" Leonard spontan tiba-tiba melompat kegirangan. Suasana sunyi saat penantian jawaban dari Lika berubah riuh tepuk tangan dari para pelayan.
Leonard mengambil kotak cincin dan memasangkan cincin itu pada jari manis Lika. Cincin yang terbuat dari emas putih bermahkota batu Ruby sangat cantik bertahta dijari manis Lika.
Lika terharu dengan suasana ini. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, senang karena bertunangan dengan Leonard atau malah flashback masalalu saat pertunangannya dengan Adi. Yang jelas saat ini Lika menangis sambil memeluk Leonard, sosok yang selama lima tahun terakhir menghiasi hidup Lika baik saat Lika susah maupun senang.
"Thanks Iyo, aku mungkin bukan Lika yang sekarang jika tidak bertemu kamu dulu." Lika menatap wajah tampan Leonard dengan seksama. Perpaduan genetik antara Indonesia dan Prancis membuat lelaki dihadapannya sangat tampan. Hidungnya yang mancung, kulit putih dengan bibir tipis membuat Leonard tampak sempurna.
Balutan jas dengan kemeja putih dan dasi berwarna coklat tampak epic padanya. Posisi yang tanpa jarak membuat aroma tubuh maskulin Leonard tercium oleh hidung Lika.
"Sampai kapan kamu akan memelukku seperti ini Iyo?"
"Sebentar saja aku ingin memeluk dan memandangi wajah cantikmu Cila sebelum arwah harimau Sumatera kembali pada jiwamu!"
"Hei!!!" Lika memukul dada Leonard, "lepaskan aku! Kamu menjijikkan!!!"
Bukannya melepaskan, Leonard malah semakin mengencangkan pelukannya pada pinggang Lika.
__ADS_1
"Jangan mengomel girl, nanti timbul kerutan pada wajah cantikmu jika kamu marah-marah terus."
"Aku baru tau ternyata kamu sangat mesum Iyo, lepaskan aku atau aku jewer telingamu" ancam Lika.
Leonard merenggangkan pelukannya perlahan-lahan, "As you want Miss".
Mereka pun kembali duduk dan menikmati hidangan di restoran itu. Leonard benar-benar manis malam ini, mulai dari cara bicara yang semakin melembut, tatapannya yang penuh cinta dan sentuhan lembut yang diberikannya dalam memperlakukan Lika.
Pukul sebelas malam waktu Prancis, mereka sudah selesai makan dan berbincang. Tidak sedikit Leonard mengeluarkan gombalan-gombalan untuk merayu wanita pujaannya itu. Mereka melangkah keluar dari restoran dan dengan mobil Leonard mereka berlalu meninggalkan tempat itu.
"Iyo, bisakah kita singgah di supermarket? Aku ingin membeli sesuatu."
"As you want Miss" sahut Leonard.
"Stop! Stop Iyo!"
Leonard menekan rem tiba-tiba karena teriakan melengking Lika yang meminta berhenti.
"What happened?"
Lika keluar dari mobil tanpa menggubris pertanyaan Leonard. Leonard kebingungan dan segera keluar menyusul Lika.
"Cila? Cila ada apa?" Leonard menghampiri Lika. Rambut Lika tampak dipenuhi bulir-bulir salju yang mulai berjatuhan.
"Wait for a minute, are you seriously? Kita tidak tau ini anak siapa!"
"Tapi dia bisa mati kalo tidak kita bawa Iyo!"
"Cila, kita bisa disangka penculik karena membawanya pergi. Lebih baik kita hubungi polisi saja, biarkan polisi yang membawanya."
"Kalo kamu gak mau, aku akan bawa sendiri tanpa kamu!" Sorot mata Lika tampak mengerikan, kecewa karena sikap Leonard. Bagaimana bisa Leonard masih memikirkan hal itu sementara kondisi anak ini sudah hampir kritis.
"Ok, ok. As you want. Let me take you two." Leonard menggendong anak itu dan membawanya kedalam mobi.
Karena mobil itu hanya bisa membawa dua orang, Lika masuk terlebih dahulu dan menggendong anak itu selama perjalanan.
"Kemana kita?" Leonard melirik Lika meminta jawaban.
"Apartemenku" ketus Lika.
Lika sibuk dengan balita di pangkuannya, ia mulai membuka blazernya dan memakaikannya pada anak itu. Lika juga menggenggam erat tangannya seolah-olah memindahkan panas kedalam tubuh anak itu.
__ADS_1
"Lebih cepat Iyo!" seru Lika tak sabaran. Raut wajah Lika benar-benar khawatir karena balita itu walaupun Ia tak tahu siapa anak yang dipangkuannya.
Sesampai di dalam apartemen pribadinya, Lika langsung menghidupkan pemanas ruangan karena suhu kota itu sudah mulai menurun.
Lika meminta pegawai butiknya untuk kembali ke butik dan mengantarkan beberapa pakaian anak untuk balita. Leonard juga ikut sibuk, ia memanaskan air dan membuatnya dalam kantung air dan meletakkannya dikaki bocah itu.
Tak berselang lama, seorang gadis mengetuk pintu dan memberikan beberapa pasang baju anak. Dengan telaten Lika menggantikan baju anak itu dan mengurusnya dengan baik.
"Apa kita harus membawanya ke rumah sakit Iyo? Aku takut anak malang ini terkena Hipotermia." Raut wajah kekhawatiran masih terpancar dari wajah cantik Lika karena bocah itu belum sadar juga sampai sekarang.
"Diluar sangat dingin Cila, bisa-bisa dia semakin kedinginan jika kita membawanya keluar."
Lika mengangguk-angguk mengerti namun tetap saja gadis itu khawatir. Setelah mengganti pakaiannya Lika duduk ditepi ranjangnya. Ia memegang tangan anak itu,
"Sudah terasa hangat Iyo, sepertinya Ia mulai baik-baik saja."
Leonard hanya manggut-manggut mendengarkan ocehan kekhawatiran Lika. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar.
"Aku akan pulang ke rumah, jaga dirimu baik-baik. Besok aku akan kesini."
"Kamu yakin akan pulang? Diluar dingin sekali Iyo, tidurlah disini."
"Are you sure?" Senyuman licik terpancar dari wajahnya.
"No, Dikamar sebelah! Dasar mesum! Sana keluar dari kamarku!" Lika mendorong tubuh Leonard dan mengunci pintu kamarnya bahkan hingga dua kali.
"Cila, kamu baru mengenal anak itu dan langsung tidur bersamanya, sementara aku sudah lima tahun mengenalmu malah diusir seperti anjing."
"Sekali lagi kamu bicara akan kukurung didalam kamar mandi!" ancam Lika dan benar saja Leonard langsung bungkam dan tak terdengar suara lagi.
*****
HAI TEMAN-TEMAN READERS
TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU
PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG
JANGAN LUPA VOTE JUGA YA KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULIS
THANK YOU
__ADS_1
Anne Chellyca