
Adi pun membawa Lika pulang ke rumah menggunakan mobil Prasetya dan meninggalkan kedua orangtuanya menjaga Sandra di rumah sakit karena orang tua Sandra sedang perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Kok kita ke rumah ini bang?" tanya Lika saat Adi memasuki pekarangan kediaman Hermawan.
"Kamu gak kangen rumah ini? Kamu kan udah lama gak pulang ke sini, ke rumah aku nanti aja setelah halal."
"Apaan sih! Kangen sih kangen bang, tapi kan gak ada orang disini jadi kita ngapain?" ucap Lika polos.
"Iya gak papa dong, pengurus rumah ini kan masih stay dan siap siaga."
"Gitu ya? Yaudah yuk turun!" ucap Lika kemudian keluar dari mobil Adi. Tak dipungkirinya, Lika benar-benar merindukan rumah ini. Sejenak terlintas kenangan-kenangan manisnya bersama keluarga Hermawan dulu. Lika tersenyum dan menarik nafasnya panjang.
"Are you ready?" tanya Adi menggenggam tangan Lika dan gadis itu pun mengangguk.
Saat Lika mendorong pintu,
"SURPRISE!!!" ucap semua orang disana.
"Kalian?" ucap Lika terharu.
"Anak Mama sudah pulang ya..." ucap Rina tulus. Ia berdiri memegang sebuah kue bertuliskan welcome home disamping suaminya, papa Lika.
"Mama! Papa!" ucap Lika mendekat dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rina meletakkan kue yang dipegangnya dan memeluk anak gadisnya satu-satunya.
"Ma, Lika kangen banget sama Mama."
"Mama dan Papa juga kangen sama kamu, mau nyusul ke Paris takut nyasar" gurau Papanya Lika.
"Papa...kan naik pesawat, bukan jalan kaki" sahut Lika gemas kemudian mereka tertawa.
"Bule lokal ternyata ingat juga pulang" sindir Steven, adik kandung Lika satu-satunya.
"Oh God! Lihatlah adikku sudah besar sekarang, bahkan sudah lebih tinggi dari aku..." ucap Lika kemudian memeluk Steven.
"Kakak masih ingat kan punya adik? Kenapa gak pernah pulang?" tanya Steven sewot.
"Sudahlah stev, kakakmu baru saja kembali dan kamu sudah mengomelinya!" ucap Rina melerai anaknya.
"Kak, kakak tau gak selama kakak di luar negeri setiap hari mama itu ngomongin kakak. Mama telponan sama aku tapi mikirin keadaan kakak dan paling parahnya tiap aku pulang ke rumah dari kota mama selalu nangis tiap malem."
"Stev!" ujar Rina malu.
"Cieee....kangen Lika ya ma?" ledek Lika.
"Aunty! Aunty cantik!" panggil Aygra.
"Ponakan gantengnya aunty, duhhh kangen banget..." ucap Lika memeluk sembari menciumi Aygra.
"Aunty! Jangan cium-cium!" protes Aygra mengundang tawa mereka.
"Biarin! Aunty masih kangen banget, malam ini bobok sama Aunty ya..." pinta Lika pada Aygra.
"Siap, aku menang..." ucap Aygra licik sambil melirik Adi.
"Heh bocah! Masih kecil udah modus Lo!" ucap Adi cemburu.
"Aunty...om jahat, jangan mau sama om, dia jahat!" Aygra menyembunyikan kepalanya di pelukan Lika takut jika Adi akan memarahinya lagi.
"Sama anak kecil saja cemburu..." ledek Ana.
"Maklumlah, udah ngebet banget pengen nikah" timpal Andri.
"Serah gue lah, bodo amat sama kalian berdua" sahut Adi bete.
Rina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anaknya itu.
"Sudah, sudah! Daripada kalian ribut mending kita potong kuenya, ya kan Aygra?" ucap Rina memberikan kue pada Lika.
"Iya Oma, makan kue yeeeeeee......." ucap Aygra kegirangan. Aygra mengambil piring dan sendok untuknya.
"Aku dulu, aku dulu!" pintanya melompat-lompat di samping Lika.
"Iya, iya...Nih, Aunty kasi potongan pertama dan paling besar." Lika meletakkan sepotong kue di piring milik Aygra.
__ADS_1
"Pelan-pelan Aygra" ucap Ana mengingatnya anaknya itu.
"Bagi om dong Aygra" ucap Steven.
"Gak mau! Aunty...Om minta punya Aygra" adunya dibalas gelak tawa Lika meledek Steven.
Semua orang tampak bahagia karena kepulangan Lika terutama kedua orangtuanya. Perpisahan selama bertahun-tahun menciptakan rindu yang begitu besar.
Menjelang sore Lika sedang berbaring di dalam kamarnya sembari memainkan ponselnya.
Tok tok
"Lika? Boleh aku masuk?" ucap Ana dibalik pintu.
"Masuk aja Na, pintunya gak dikunci kok."
Ana kemudian membuka pintu dan berjalan menuju tempat tidur Lika.
"Kenapa Na? Butuh sesuatu?" tanya Lika.
"Emm...Kamu gak mau bilang kamu masih hidup sama semua orang?" tanya Ana.
"Maksudnya?"
"Lia, Mia, Ria, Rossa, Adelia dan Widya!" ucap Ana.
"Oh iya, mereka pasti ngira aku udah meninggal beneran kan? Mereka udah pada dimana ya, aku kangen banget..."
"Video call yuk sama mereka, tadi aku udah janjian. Mau gak?" tanya Ana.
Lika mengangguk. "Mau dong! Duduk disini Na" ucap Lika menepuk sisi disampingnya.
Ana pun menghubungi sahabatnya satu-persatu.
"Hai gaes...kalian pada ngapain?" sapa Ana setelah semuanya bergabung.
"Lagi nungguin duit 1M jatuh dari langit" celetuk Mia.
"Nungguin jodoh" sahut Adel.
"Ya ampun, nikah karena dijodohin aja songong ya" ledek Ria hingga mereka semua tertawa.
Lika menatap mereka dengan air mata berlinang. Sudah lima tahun Lika tak pernah lagi merasakan ocehan riuh dari teman-temannya itu. Ana tersenyum dan menyeka air mata Lika.
"Gaes, aku mau nunjukin sesuatu nih sama kalian. Kalian pasti suka plus kaget" ucap Ana.
"Apaan Na?" sahut Widya.
"Palingan koleksi tas baru lagi dari Bang Andri, maklumlah istri Sultan" celetuk Mia.
"Enggak, kali ini kalian pasti suka deh" sahut Ana.
"Yaudah mana Na, tunjukin dong!" ucap Rossa penasaran.
Ana pun mengarahkan kamera ponselnya hingga terlihatlah Lika disampingnya.
"Taraaa....." ucap Ana hingga semuanya menampakkan wajah shock.
"Astaga! Itu kan Lika" ucap Lia dalam keterkejutannya.
"Berarti bukan cuman aku yang lihat kan, kalian juga lihat itu Lika kan gaes?" tanya Mia.
"Hai teman-teman...aku kangen kalian" ucap Lika lirih.
"Ini gak mimpi kan?" ucap Ria masih dengan mata melotot.
Dengan jahil Ana mengambil screenshot karena wajah kaget teman-temannya benar-benar lucu.
"Kalian lucu banget gaes, mukanya imut-imut!" ucap Ana sambil tertawa.
"Kok bisa sih? Bukannya kemarin Lika udah meninggal?" ucap Adel. Dalam otaknya memikirkan segala logika dan kemungkinan yang terjadi.
"He'eh! Kalo ini Lika jadi yang kemarin itu apa?" tanya Widya.
"Batang pisang!" sahut Ana cekikikan.
__ADS_1
"Kok bisa?" sahut Lia dan Mia bersamaan.
"Tuh kan! Imut banget sih kalian" ucap Ana masih cekikikan sementara Lika hanya tersenyum geli melihat teman-temannya kebingungan.
"Aku emang masih hidup, selama ini aku tinggal di luar negeri" ucap Lika.
"Kenapa?" tanya Adelia.
"Dia cemburu gaes karena Kak Adi dijebak tidur sama cewek. Makanya dia kecelakaan kemarin. Terus Alm. Mama Siska marah dan kirim Lika ke Singapura sementara disini dibuat kematian Lika palsu alias batang pisang" terang Ana.
"Jadi selama ini kamu di Singapura Lik?" tanya Widya.
"Enggak, setelah enam bulan pemulihan aku pindah ke Paris dan kuliah S2 disana."
"Sekarang Lia designer gaes, bentar lagi nikah sama bang Adi" adu Ana.
"Wah wah... pulang-pulang nikah aja!" ucap Rossa.
"Kalo gitu baju kita nanti minta gratis aja gaes!" Mia mulai mengompor.
"Setuju!" sahut mereka semua termasuk Ana.
"Tenang aja gaes, Lika mau nikah sama Sultan. You know lah ya kan gimana kayanya kak Adi" ucap Ana lagi.
"Aman...asal kalian Dateng semuanya aman terkendali" sahut Lika.
"Tapi tadi katanya Kak Adi dijebak, siapa yang jebak dia?" tanya Widya.
"Sandra!" sahut Lika.
"Apa!?" sahut Ana kaget.
"Loh? Ana juga belum tau?" ucap Rossa, Ana pun menggelengkan kepalanya.
"Kok dia jahat sih?" timpal Adelia.
"Sudahlah gak papa, udah berlalu juga kan gaes, yang penting sekarang dia udah baik dan bertobat" ucap Lika.
"By the way Rossa sekarang jadi biarawati ya? Uhhh...cantik banget" ucap Lika melihat wajah Rossa.
"Hehehe, Tuhan memanggil" sahut Rossa.
"Wahh...gila seh! Terus doain kami ya Ros" ucap Lika tulus.
"Selama ini aku selalu doain arwah kamu Lik, eh ternyata masih hidup. Ya ampun, kami mempermainkan kehidupan" ucap Rossa.
"Khotbahin Ros, biar jera dia" ucap Mia.
"Hehehe maaf ya semuanya" ucap Lika merasa bersalah.
"Kamu gak tau aja Lik, muka mereka gimana nangisin batang pisang itu" ucap Mia.
"Kamu juga sama bangke, gak usah ngeledek kami!" ucap Lia geram.
"Hahaha...aku udah liat kok di album foto. Gemesin banget sih kalian" ledek Lika dan mereka tertawa.
"Oh iya, tadi aku screenshot muka imut kalian loh, cek group deh" ucap Ana kembali cekikikan.
"Ana!!!" ucap mereka bersamaan sementara Lika terkekeh geli.
"Abis kalian gemesin sih" ucapnya lagi.
"Maklumlah gaes, bumil ini agak jahil!" ucap Lika.
"What? Ana hamil lagi? Ngeri ya, gercep banget sih Bang Andri" ucap Mia dengan nada meledek.
"Semangat terus buat adek buat abang Aygra, semangat 45!" timpal Lia.
Mereka semua tertawa-tawa apalagi muka Ana kini memerah malu. Mereka terus berbicara hingga tengah malam membahas tentang konsep pernikahan khayalan mereka untuk Lika dan pembahasan-pembahasan tak penting lainnya.
*****
Jangan lupa jejak ya 😊
Singgah juga di novelku yang lain, judulnya Allea.
__ADS_1
Thank you 🤗