
Air mata Sandra pun tak terbendung lagi, ia menangis sesenggukan melihat pemandangan di depannya.
"Apa gak malu menangisi kebahagiaan orang lain?" Seseorang tiba-tiba sudah di belakang Sandra.
"Loe siapa? Gak usah ikut campur masalah gue" Sandra menghapus air matanya.
"Nih hapus darah loe yang terbuang sia-sia" Doni memberikan sebuah sapu tangan.
Sandra menerima sapu tangan itu dan membersihkan luka tangannya yang tertusuk oleh duri mawar.
"Gue Doni, mantan Lika. Gue tau loe suka sama Adi, jadi tujuan kita gak beda jauh. Gue mau Lika dan loe mau Adi" terang Doni.
"Maksud loe apa?" Sandra menatap Doni curiga.
"Gue mau nawarin kerjasama, kita buat mereka saling benci. Setelah itu kita bisa dapatkan apa yang kita mau"
Sandra menganggukkan kepalanya mengerti.
"Gue bisa manfaatin orang ini, bodo amat dia mau apa yang penting cewek ****** itu menjauh dari suami masa depan gue" batinnya senang.
"Gimana? Loe mau gak?" Doni memastikan.
"Oke, gue setuju. Kita tukeran kontak buat mempermudah komunikasi kita nanti" sahut Sandra.
Sandra pun mengeluarkan ponselnya dan mencatat kontak Doni. Gadis itu langsung masuk kembali kedalam aula takut ada yang melihat keberadaannya bersama Doni, sementara Doni yang geram terus-menerus melihat Lika berduaan dengan Adi memilih pulang.
"Kamu mau meluk aku sampe kapan sih? Sesak nih gak bisa napas" Lika berusaha melepaskan diri.
"Bentaran doang" sahut Adi.
"Ehh jomblo!!! Modus amat sih" umpat Lika.
"Kamu juga jomblo kan, yaudah sih" Adi malah semakin mempererat pelukannya.
"Mama...." Lika berteriak.
Adi langsung menutup mulut Lika dengan tangannya.
"Jangan teriak, nanti aku dituduh ngapa-ngapain kamu lagi" ujar Adi.
"Makanya lepasin aku dong" Lika memelas.
Adi pun melepaskan pelukannya dari Lika namun tangannya tetap enggan melepaskan gadis itu. Ingin rasanya ia membawa gadis itu pulang dan memeluknya sepanjang malam.
"Malam Minggu entar kita jalan-jalan yuk" tawar Adi.
"Kemana?"
"Ya kejutan dong, mau ya?" Adi mengelus-elus kepala Lika.
"Tapi aku takut mama bakalan marah" Lika beralasan.
"Aku bakalan minta ijin, tenang deh" Adi meyakinkan.
"Duhh nekat banget sih ini orang, padahal kan aku cuman ngelak doang" gumam gadis itu.
"Bilang apa" Adi menatap Lika serius.
"Ihhh apaan sih, ngajak atau ngancam?" gerutu Lika.
Adi hanya tertawa kecil mendengar perkataan Lika.
"Aku gak akan lepasin kamu, kamu harus tanggung jawab udah buat aku jatuh cinta" batin Adi.
__ADS_1
Lika menyandarkan kepalanya di lengan Adi, hati kecilnya sangat bahagia. Orang yang selama ini dianggap Lika suatu kemustahilan malah secara terang-terangan menyatakan cinta.
"Berduaan terooosssss" ledek Mia.
Entah kapan datangnya sahabat-sahabat Lika tiba-tiba sudah berada dibelakang mereka.
"Yang pacar baru lupa kawan" ujar Lia.
"Dedek sedih" tambah Adel.
Lika pun berdiri dan memeluk sahabat-sahabatnya itu.
"Enggak dong, kalian masih sahabat terbaik aku"
"Bang, jangan dimodusin doang. Kapan nih sahnya?" Kali ini Lia benar-benar memanah tepat sasaran. Adi langsung dibantai di depan gadis incarannya dan bahkan oleh juniornya sendiri.
"Tunggu tanggal mainnya" sahut Adi dingin menutupi rasa malunya.
"Main-main doang itu" sahut Andri yang muncul tiba-tiba.
Sungguh kalah telak nasib Adi saat itu. Tidak ada yang memihak padanya dan bahkan sahabatnya pun kali ini ikut mempermalukan dirinya. Bagaimana tidak, gadis incarannya sekarang adalah adik dari sahabatnya itu.
"Udah ahh...Kasian" Lika berusaha melerai mereka.
"Oo..oo.. Udah dibelain sekarang guys. Masih ingat deh aku doi dibilangin es batulah, manusia es lah" kali ini Ana pun ikut serta meledek mereka.
Lika nyengir malu. Ia melirik wajah Adi yang mulai memerah.
"Udah ahh aku mau masuk" Lika pun berlalu meninggalkan mereka di taman.
"Makin diladeni makin telak nanti" batinnya.
"Sayang...Dari mana?" tanya Mama Siska ketika Lika kembali ke ruangan dan duduk di meja dimana orangtuanya dan orangtua Adi ditinggalkannya tadi.
"Kak Adi mana sayang?" tanya Bunda Renaya.
"Diluar Tante, bareng bang Andri" Lika memasang senyuman termanisnya.
Mereka pun berbincang-bincang dan sesekali Bunda Renaya mengajak Lika bercanda tentang hubungannya dengan Andri.
Pukul 12.00 pesta itu pun usai dan mereka kembali kerumah. Lika sangat lelah dengan pesta itu, ditambah lagi dengan gaun berat dan sepatu high heels yang dikenakannya.
Sesampai di kamar Lika langsung membersihkan tubuhnya dengan cepat. Matanya sudah sangat berat, ingin Ia secepatnya pergi ke alam mimpi. Saat ia sudah berbaring Mama Siska masuk kedalam.
"Udah tidur?" Mama Siska naik keatas ranjang.
Lika pun menggeser kepalanya ke pangkuan Mama Siska. Ia mulai terbiasa bermanja-manja dengan wanita itu.
"Lika suka gak sama kak Adi?" tanya Mama Siska.
Lika langsung membuka matanya yang tadinya sudah sangat berat. Ia pun duduk dan menatap Mama Siska bingung.
"Gapapa sini tidur lagi sayang, mama kan nanya doang. Mama sih malah seneng" Mama Siska menarik tubuh Lika agar berbaring kembali.
"Kenapa ma?" tanya Lika pelan.
"Gapapa sayang, Mama cuman mastiin perasaan anak Mama" sahut Mama Siska.
"Lika suka, tapi Lika malu" Lika menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu.
Mama Siska tertawa mendengar kejujuran putrinya itu.
"Lika tau gak kalo Adi itu memperlakukan kamu sangat spesial. Kado yang dia beli buat kamu itu uangnya sama sekali bukan berasal dari Tante Renaya atau Om Andika" terang Mama Siska.
__ADS_1
"Terus darimana dong ma?" tanya Lika penasaran.
"Itu uang tabungannya yang seharusnya mau dibelikan koleksi barang favoritnya. Tapi untuk pertama kalinya seorang Adi malah beliin seorang gadis perhiasan" tambah Mama Siska.
Lika diam tak bergeming.
"Segitu spesialnya aku buat dia? Tapi aku malah mempermainkan dia terus hahaha" batin Lika.
"Ehhh senyum-senyum sendiri. Pasti mikirin kak Adi kan?" goda Mama Siska.
"Mama apaan sih" wajah Lika merona.
"Cie cie hahah...anak Mama bentar lagi gak jomblo lagi nih"
"Mama apaan sih. Lika tuh mau kuliah dulu ma. S1,S2, mau kerja dulu, mau keliling dunia dulu baru nanti Lika pikirin begituan" terang Lika.
"Kali ini anak mama boong" Mama Siska mencolek hidung Lika.
"Ah tau ah gelap" Lika menutupi wajahnya dengan selimut.
"Gak sabar Mama gendong cucu" Mama Siska tertawa geli membayangkan ucapannya.
"Mama....Lika masih 20 tahun ma. Mama mikirin apa sih, geli tau" Lika tak menyangka mamanya akan berfikir sejauh itu.
"Ya gapapa, kan peraturan pemerintah umur 19 tahun udah boleh" Mama Siska masih belum puas menggoda putrinya itu.
"Ihh Mama, gamau gamau" Lika pun bangkit dan meninggalkan wanita itu.
"Ehh Lika mau kemana sayang?" Mama Siska masih tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Lika.
Lika berjalan keluar dan menuju kamar Andri, kebetulan Andri belum masuk kedalam kamarnya. Lika pun membaringkan tubuhnya. Karena kondisi tubuh yang sangat lelah, tak butuh waktu yang lama Lika sudah tertidur pulas.
Saat Andri masuk kedalam kamarnya hendak beristirahat, Ia melihat Lika yang sudah tidur nyenyak diatas ranjangnya.
"Loh kok disini" gumamnya.
Andri mengelus-elus kepala Lika dengan lembut, "Maafin Abang ya sibuk terus akhir-akhir ini. Jarang banget punya waktu buat kamu" ucapnya pelan.
"Udah tidur nyenyak yah?" tanya Mama Siska.
"Udah ma, kok bisa disini tidurnya?" tanya Andri bingung.
"Iya, tadi mama ledekin dia di kamar, malu deh dia. Ternyata kabur kesini" Mama Siska tertawa geli.
"Tentang Adi?" sahut Andri.
"Iya hahaha"
"Dasar Mama, pasti malu lah dia. Yaudah ma, biar aja dedek tidur disini, Andri nanti tidur dikamarnya aja. Dia pasti lelah setelah seharian ini kesana-kemari"
"Iya sayang, kalian istirahat ya. Mama tinggal oke" Mama Siska mengecup kening Lika dan meninggalkan mereka berdua.
Andri pun membersihkan dirinya, lalu mematikan lampu kamar itu. Ia menutup pintu perlahan agar tidak menggangu Lika.
Malam itu mereka pun bertukar kamar untuk beristirahat. Ketika dikamar Lika, Andri tak sengaja menemukan sebuah buku catatan kecil diantara boneka Lika. Buku mungil dengan cover motif Hello Kitty berwarna merah muda.
Dengan penasaran Andri pun membuka catatan itu dan membacanya lembar demi lembar.
"Shit! Ternyata Lika udah dua tahun diem-diem suka sama Adi. Kok gue bisa gak tau gini. Gue bahkan gak tau dia sampai memendam rasa sebesar itu ke sahabat gue sendiri. Kalo tau dari dulu gue kenalin dari dulu ke Adi, gak perlu sampe selama ini juga! Gue bener-bener gak berguna" gumamnya.
Andri menutup buku itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia mematikan lampu dan menarik selimut hingga ke dadanya.
"Shit! Kenapa harus Pink semua sih dek" umpatnya.
__ADS_1