
Selama jam mata kuliah Lika sama sekali tidak mengingat masalahnya. Ia fokus mendengarkan dosen. Setelah 3 jam berlalu mereka pun bubar dan berhamburan keluar dari ruangan.
"Duhh calon istri orang beda ya, jodoh udah didepan mata" ledek Mia.
"Apaan sih Mi, gak cape-cape ya ledekin aku" sahut Lika saat memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
"Sudahlah guys, kasian nih Lika. Pasti dia pusing juga mikirin masalahnya" Adel berusaha menghentikan teman-temannya.
"Iya iya deh. Oh iya, kita jadi bimbingan? Udah pada mikirin judul belum?" Intan mengeluarkan sebuah berkas.
"Gak kerasa ya udah skripsi aja, perasaan baru kemarin mahasiswa baru" sahut Lika dengan wajah menggemaskan.
"Yuk berangkat yuk, udah janjian kan sama Dosen" Adel menggandeng tangan Lika.
"Semangat banget sih mau lulus cepet!" ledek Gita, salah seorang teman sekelas mereka. Mereka menyambut candaan Gita dengan riuh tawa hingga mengganggu kelas yang masih belajar.
"BTW selamat ya Lika atas pertunangan kamu dengan kak Adi, gak nyangka kamu bakal tunangan sama dia. Ditunggu traktirannya loh" Gita menyalami Lika.
"Makasih ya Gita, kalo gitu kami duluan ya" Lika dan teman-temannya pun berlalu meninggalkan gedung itu.
Setelah menyelesaikan semua urusannya Lika menghubungi Adi untuk menjemputnya sesuai janji karena Adi tak mengijinkan Lika menggunakan taxi.
"Minggu depan aku bareng Andri bakalan berangkat ke New York, kamu jangan nakal ya" Adi sesekali menoleh kearah Lika menatap wajah cantik gadis itu.
"Kok cepet banget sih bang, baru juga kalian wisuda" Lika memanyunkan bibirnya cemberut. Dalam lubuk hatinya yang dalam sebenarnya bukan masalah itu, namun rasanya terlalu cepat untuk memulai hubungan jarak jauh dengan Adi.
Adi hanya senyum-senyum merespon Lika yang ngambek kecil. Adi hanya tak mau menyia-nyiakan waktu terlalu lama lagi untuk menempuh pendidikannya.
"Kalian satu kampus? Satu jurusan juga?" dua pertanyaan sekaligus keluar dari mulut Lika.
__ADS_1
"Iya, kamu mau ambil bisnis" sahut Adi.
Lika menarik nafasnya dalam-dalam, perasaan tak rela melepaskan Adi. Namun Ia memilih tidak banyak protes. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Adi.
"Nanti kalo kamu suka sama perempuan yang lebih cantik disana gimana dong? Nanti ada perempuan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan tipe kamu gimana? Nanti kalo kamu gak suka lagi sama aku gimana?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut gadis itu. Berbeda dengan biasanya, kali ini Lika terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan overthinking dulu. Aku gak akan berbuat macam-macam, kamu itu yang paling penting dihati aku" terang Adi. Adi benar-benar tak mengerti jalan pikiran gadis itu. Tadi pagi Ia begitu semangat bertanya kemana Ia akan melanjutkan pendidikannya. Sekarang gadis itu nampak tak rela melepaskannya.
Lika tampak diam membisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Kita ke taman pelangi yuk, pasti seru" usul Adi.
Lika mengangguk kepalanya. Ia tampak tak berselera namun tak ingin menolak juga. Adi melajukan mobilnya menuju lokasi tujuan mereka. Sesekali ia melirik gadis yang disampingnya. Kali ini gadis itu tampak lebih pendiam sama seperti pertama kali Adi jalan bersamanya menuju pantai.
"Wahh bagus ya lampu-lampunya" ujar Lika saat berjalan didalam taman itu.
"Gak nyesel kan?" Adi membanggakan diri didepan Lika berharap dapat pujian.
"Kita selfie yuk" Lika mengeluarkan ponselnya. Layaknya perempuan lain, sekali dua kali foto tak akan cukup. Pipi Adi pegal meladeni Lika yang terus-menerus mengajaknya berselfie.
"Gantian sini aku fotoin kamu pake ponsel aku" Adi merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. Beberapa menit saja ponselnya langsung penuh oleh Lika mulai dari selfie mereka berdua hingga Lika sendiri.
Tiba-tiba ponsel Lika berdering. Siska sudah mengkhawatirkan keadaan Lika karena sudah pukul delapan malam namun gadis itu tak kunjung pulang. Saat dijawab sama seperti ibu-ibu yang lain, Siska mengomel bagai kereta api.
"Iya ma, Lika pulang sekarang" tutup Lika. Ia nyengir malu pada Adi. Walaupun Lika sudah berumur dua puluh tahun Siska sangat mengkhawatirkannya.
Adi pun mengantarkan Lika pulang dan sudah mempersiapkan kata-kata untuk menghadapi Siska. Habislah kali ini Adi akan diomeli bukan layaknya anak lagi, tapi layaknya seorang laki-laki yang menyukai anak perempuan orang lain.
Saat tiba dikediaman Hermawan Lika langsung diminta masuk kedalam kamar dan belajar. Lika tak boleh keluar sampai pagi termasuk makan malam pun harus didalam kamar. Sementara Adi akan diadili oleh Siska. Andri turun dari kamarnya karena penasaran dengan Adi. Bagaimana tidak, Adi selama ini bebas keluar masuk ke rumahnya dan sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh orangtuanya akan dihukum seperi dalam film India saat berkunjung kerumah pacarnya.
__ADS_1
Satu jam penuh Adi diomeli oleh Siska. Lama-kelamaan Siska juga tidak tega. Awalnya ia hanya ingin iseng pada anak itu.
"Sebelum kamu pulang, kamu makan dulu dana. Ingat jangan diulangi lagi" titah Siska sebelum Ia menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.
Saat makan Adi diledek habis-habisan oleh Andri. Andri tertawa terbahak-bahak didepan Adi. Tak disangkanya sahabatnya itu akan berakhir konyol seperti ini.
"Ketawa aja terus!" Adi menyantap hidangan yang disajikan.
"Baru juga tunangan sehari ehh udah diprotes mertua" Andri lanjut tertawa.
"Ngomong-ngomong Lika gak ada turun bro, dia gak makan malem?" tanya Adi khawatir.
"Tenang aja loe, nyokap gue sayang banget sama Lika. Gak mungkin nyokap biarin Lika kelaparan. Makan aja itu makanan loe!" tutur Andri.
Sementara didalam kamarnya Lika malah sibuk dengan foto-fotonya saat bersama Adi. Ia terlihat sibuk mencetak foto-foto itu dan memasukkannya kedalam album khusus. Ia memilih sebuah foto saat Adi merangkulnya dan memasukkannya kedalam sebuah bingkai.
"Kalian serasi banget Non" ujar Lili memandangi foto-foto itu.
"Liat mbak, ini waktu acara pertunangan kemarin. Gemes kan mbak, aku cute banget sih". Lika memandangi satu-persatu foto di album itu. Ia meletakkan dua buah foto didalam bingkai, satu dalam ukuran besar agar diletakkan pada dinding kamar dan sebuah lagi untuk diatas meja tepat disamping ranjangnya.
"Non Lika bagus banget sih badannya, mbak juga mau" Lili ikutan sengklek memandangi foto itu. Bagaimana tidak jika ia memiliki majikan jelmaan bidadari. Bukan hanya itu, tunangan majikannya juga seperti jelmaan pangeran.
"Mbak Lili udah punya pacar belum sih?" pertanyaan aneh pun keluar dari mulut Lika.
"Hahaha Non Lika mah bisa aja atuh. Kagak ada pertanyaan yang lain Non"
"Ihhh aku tuh serius Mbak!" Lika mendekatkan wajahnya pada Lili meminta kejujuran.
"Iya iya hahaha...Mbak jujur ya. Mbak itu punya pacar Non, dia masih kuliah di kampusnya Non Lika juga" jawab Lili malu-malu.
__ADS_1
"Hah? Kuliah di kampus aku? Jurusan apa mbak? Asalnya dari Desa mbak juga?" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Lika membuat Lili semakin malu.
Mereka terus asyik bercerita sambil menyelesaikan foto-foto Lika. Kedua gadis itu sudah seperti sahabat saja, bukan sekali dua kali mereka tidak tidur karena menggosip sepanjang malam.