Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 51


__ADS_3

New York, Desember Tahun Ketujuh


"Dasar menjijikkan. Keluar dari ruanganku sekarang! Kalau yang menyuruhmu kesini adalah ibuku, katakan padanya aku menyukai sesama jenis. Keluar!"


Sontak matanya terbelalak mendengar ucapan Adi, pria mapan dan rupawan malah mengaku menyukai sesama jenisnya. Gadis itu perlahan mundur dan meninggalkan ruangan Adi. Adi memegang pelipisnya, hampir gila ia harus menghadapi kejadian serupa selama 5 tahun belakangan.


Ia kembali duduk dan bergelut dengan berkas-berkas yang ada dimejanya. Adi tak habis pikir dengan Renaya bundanya, bagaimana bisa Bundanya itu memaksa agar Adi dekat dengan wanita ditengah kesibukannya yang sangat padat. Adi juga tampak bingung dimana Bundanya terus menerus mendapatkan wanita-wanita yang mau mendekatnya.


"Sejak kapan loe menyukai sesama jenis? Jangan-jangan loe suka sama gue?" Andri sengaja datang dan masuk kedalam ruangan Adi setelah mendengar keributan tersebut hanya untuk meledek sahabatnya itu. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka jika setiap hari ada keributan di ruangan Adi.


"Diem loe kuda Nil! Loe sama aja. Bisa-bisanya loe ngasi ijin mereka masuk tanpa ngomong sama gue."


"Jelas beda dong bro, gue udah nikah dan Aygra adalah bukti kalo gue gak suka sesama jenis seperti loe." Andri tertawa terbahak-bahak meledek sekaligus menatap raut wajah Adi yang semakin ditekuk. Adi menjadi hiburan tersendiri bagi semua orang yang bekerja dalam gedung itu.


Tiba-tiba pintu ruangan Adi diketuk dan masuk seorang wanita dan balita.


"Papa...Om ganteng" Aygra berlari-lari menggapai Andri.


"Ehh anak Papa dateng, sini-sini duduk sama papa." Andri menepuk-nepuk sofa yang kosong disampingnya.


"Ruangan orang serasa ruangan bapak loe ya, kenapa sih loe sama ngeselinnya kayak bokap loe anak kecil!" Adi menangkap dan menggendong Aygra sebelum anak itu sampai di pelukan Papanya.


"Turunin aku Om ganteng, aku mau sama Papa."


"Jawab dulu pertanyaan Om, siapa Aunty paling cantik di dunia ini?"


"Aunty Lika."


"Kalo Om yang paling ganteng?"


"Om ganteng adalah Om paling ganteng."


Adi tersenyum puas mendengar jawaban Aygra. Ia pun menurunkannya dan membiarkan anak 4 tahun itu memeluk Andri.


"Tapi kalo Om udah dapat Aunty cantik" ledek Aygra setelah merasa aman diperlukan Papanya.


"Aygra...Gak boleh gitu sayang." Ana duduk disamping Andri dan mengelus-elus kepala Aygra.

__ADS_1


"Bocah edan! Sama aja loe sama bapak loe!"


Ana hanya tersenyum geli melihat kekesalan Adi. Biar bagaimanapun Adi selalu jadi bulan-bulanan suami dan anaknya.


"Kak Adi belum Adi niat untuk membuka hati pada wanita lain kak?" tanya Ana melihat foto cantik sahabatnya Lika masih terpajang di dinding ruang kerja Adi. Ana tau benar bagaimana perasaan Adi pada mendiang sahabatnya. Cinta memang tak pernah sejalan dengan logika sampai-sampai Adi bahkan tak tertarik lagi dengan wanita manapun.


"Entahlah Na, aku ngerasa hati aku gak bisa terbuka lagi untuk siapapun." Adi kembali duduk dan memandangi foto Lika dari tempatnya. Sungguh abadi cinta Adi ada Lika hingga membuat Adi tetap mencintai wanita itu walaupun Adi menyaksikan sendiri Lika sudah dimakamkan dan tak akan mungkin kembali hidup dan mencintai Adi.


"Ada baiknya jika Kak Adi ikhlas dan mendoakan Lika. Kak Adi gak boleh berlarut-larut dalam duka seperti itu. Ini sudah lima tahun."


Adi bangkit dari tempat duduknya menghampiri sebuah foto yang dibingkai cantik dan terpajang di dinding ruangan tersebut.


"Apa aku harus membiarkan orang lain mengisi posisi Lika? Apa memang tak akan ada lagi kesempatan atau keajaiban Tuhan atas hidupku?"


"Kita semua tau kalo Kak Adi sangat mencintai Lika, tapi apakah Lika akan tenang disana jika Kak Adi terus seperti ini. Mungkin Tante dan Om sudah ingin melihat kak Adi menikah makanya selalu berusaha mendekatkan kakak dengan seorang gadis."


Adi diam terpaku memandangi foto Lika seraya mencerna satu-satunya kata-kata Ana. Namun entah kenapa hati kecilnya menolak untuk menerima kenyataan bahwa Lika benar-benar bukan jodohnya.


"Atau jangan-jangan emang suka sesama jenis?" goda Andri.


"Andri diem!" Ana menatap Andri dengan tatapan membunuh, nampaknya Ana mengisyaratkan ingin berbicara serius.


"****** loe kuda Nil, gak dapat jatah" ledek Adi seolah-olah balas dendam.


"Jatah itu apa ma?" tanya Aygra polos.


Andri pun gelagapan atas rasa ingin tahu dari anaknya itu. Terkadang punya anak pintar dan cerdas juga malah menjadi petaka tersendiri saat moment seperti ini.


"Sayang main diluar dulu ya, mama dan papa mau ngomong sama Om."


Aygra pun mengangguk mengiyakan perkataan Ana.


"Supaya kamu dapat Aunty cantik" tambah Ana.


Setelah Aygra keluar, Ana menatap Andri dan Adi bergantian.


"Kalian berdua hati-hati dong kalo ngomong didepan anak-anak! Mau di lem mulutnya?"

__ADS_1


Kedua mulut yang biasanya nyolot dan bertengkar seketika diam membisu melihat tatapan mematikan dari Ana. Selain menjadi ibu, Ana juga dalam kondisi hamil muda anak keduanya dengan Andri.


"Maaf" sahut Adi dan Andri bersamaan.


"Sebagai permintaan maaf dari kalian berdua aku mau kita liburan Natal dan Tahun baru ke Paris, pokoknya gak ada tapi-tapian titik!" Ana mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan itu.


Adi melebarkan matanya terkejut, Ia memijit pelipisnya perlahan menenangkan diri.


"Bangkrut gue ngadepin ibu hamil kayak istri loe!"


"Diem loe! Makanya nikah biar bisa ngerasain punya istri hamil!" Andri mengacak-acak rambutnya frustasi. Pasalnya bukan hanya Ia yang harus menanggung akibat dari kehamilan istrinya, tapi Adi juga terseret kedalamnya.


Melihat rasa bersalah terpancar dari raut wajah Andri, hati Adi pun mengiba.


'Apa salahnya juga ke Paris, lagian gue juga butuh liburan dari perempuan-perempuan suruhan Bunda' batinnya.


"Udah santai aja loe! Gue juga butuh liburan kok." Adi berusaha mengurangi rasa tidak enak dari Andri. Biar bagaimanapun Andri dan Ana adalah sahabat yang selalu mengerti kondisinya selama lima tahun ini.


"Thanks and Sorry bro. Tenang aja, gue gak bakalan ngerepotin loe selama di Paris."


Andri pun pamit dan menemui istri kesayangannya bersama Aygra. Andri mencium pipi Ana yang sedang ngambek.


"Makin ditekuk mukanya kok makin cantik?"


"Diem!"


"Jangan ngambek dong sayang, iya nanti kita ke Paris jalan-jalan ya. Adi juga udah setuju kok, jangan ngambek dong please..."


"Serius kita ke Paris? Beneran?"


"Iya dong, masa aku bohongin istri aku yang paling cantik sedunia." Andri mengelus-elus pipi Ana merasa menang.


"Oke kalo gitu, kami pulang aja deh kalo gitu, mau packing. Besok kita berangkat ke Paris."


Andri melongo mendengar ucapan istrinya itu. Bagaimana tidak, Ana memutuskan sekehendak hatinya tanpa bertanya tentang kesiapan dirinya dan Adi. Memang ibu hamil gak pernah bisa ditolak, apa lagi wanita yang selalu merasa benar.


"Apa gak bisa Minggu depan aja sayang?"

__ADS_1


"Enggak. Aku pergi dulu ya, dah sayang." Ana beranjak meninggalkan Andri yang masih memasang raut wajah bingung. Sekali lagi Ia akan pusing tujuh keliling menghadapi Ana.


"Ampun gue buat anak. Jera banget gue, jera!" gumamnya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


__ADS_2