
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Andri dan Ana tapi sangat menyiksa bagi Adi. Mulai hari ini Adi dan Lika akan menjalani masa pingitan mereka sebelum menikah sesuai permintaan dari Renaya, bunda Adi selaku adat istiadat dari keluarga mereka. Berbeda dengan Adi, Lika malah terlihat antusias menjalani setiap proses menuju pernikahannya dengan sang kekasih tercinta.
Hari pertama dipingit Lika melaluinya dengan mengirimkan undangan pada semua teman-temannya secara online dan sebagian mengantarkannya sendiri bersama supir. Lika sangat bahagia dengan pernikahannya ini sehingga tak satupun teman yang terlewat dari list tamu yang diundangnya. Teman SD, SMP, SMA, Kuliah, rekan kerja dan bahkan sekedar kenal pun jika Lika memiliki kontaknya Ia undang.
Karena kesibukannya itu Lika jadi melupakan seseorang yang bisa juga disebut sebuah perangko yang merindukan surat. Adi beberapa kali mengumpat karena Lika tak menjawab teleponnya dan paling memancing amarahnya saat Adi menelpon ke rumah ternyata Lika sedang pergi keluar.
"Kenapa keluar tidak membawa ponsel, dia ingin aku mati karena merindukannya!" Adi bersungut-sungut membuat Renya terkekeh geli melihat bayi kecilnya yang sebentar lagi akan menikah.
Berbanding terbalik dengan Lika yang bebas kemana pun yang ia mau asalkan menggunakan supir, Adi malah dikurung oleh ayah dan bundanya di dalam kamar. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi Adi agar tak menemui Lika karena mereka tau Adi kehilangan kewarasannya jika itu menyangkut dengan Lika.
"Bunda...kenapa Adi harus dikurung begini sih Bun? Adi mau keluar, Adi mau kerja!"
"Kerja apa? Andri juga sudah membereskan pekerjaan kalian semenjak kamu di Paris. Jangan coba-coba menipu Bunda ya, mau bunda kebiri aja kamu?"
Seperti pencurian yang tertangkap basah, Adi malah cengengesan tak jelas. Sangat benar yang dikatakan bundanya, semenjak Adi berada di Paris kemarin Andri yang mengurus perusahaan mereka sepenuhnya dan Adi hanya makan gaji buta.
"Adi bosen Bun, Adi pengen ketemu Lika."
"Adi! Kalian lagi dipingit, mana boleh bertemu" tegas Renaya tak paham dengan jalan pikiran anak semata wayangnya itu. Renaya jadi semakin yakin akan mengurung Adi selama masa pingitan.
"Tapi Bunda, Adi kangeeeeeeennnnnn banget."
"Pamali Adi, kalian gak boleh bertemu sebelum hari H nanti. Setelahnya kan kamu bakalan sama Lika terus, kalo perlu kalian bulan madu setahun penuh!" ucap Renaya ngegas karena berang melihat sikap kekanak-kanakan Adi.
Renaya keluar dari kamar Adi dan kembali mengunci pintunya. Renaya benar-benar kesal melihat Adi.
Sementara itu, beralih kepada Lika yang sedang berbelanja ria bersama keponakan gantengnya, Aygra. Andri sedang sibuk-sibuknya mengurus semua persiapan pernikahan Adi dan Lika sekaligus mengurus perusahaannya dari jauh sementara Ana sudah sering kelelahan mengawasi Aygra karena perutnya semakin membuncit sehingga Lika mengajukan diri untuk membawa Aygra kemana pun dia pergi. Karena itu Andri memberikan sebuah kartu kredit kepada Lika untuk memenuhi permintaan tak terduga dari Aygra.
Setelah mengantarkan undangan pada teman-temannya Lika mengajak Aygra untuk nge-mall ria menghabiskan uang Andri, bukan uang Lika. 🤣
"Kamu mau kita kemana dulu sayang?" ucap Lika.
"Mau makan burger Aunty" ucap Aygra semangat.
"Ayam goreng mau? Kentang goreng? Es krim, gulali, atau pizza?" tanya Lika kalap. Habislah penghasilan Andri selama setahun sepertinya.
Air liur Aygra mencair seperti hendak menetes mendengan Lika menyebutkan makan junk food kesukaannya satu persatu. Tidak salah lagi, Lika memang Aunty kesayangannya.
"Mauuu..." ucap Aygra antusias.
"Bagus! Kita habiskan uang Papa kamu hari ini ya..." ucap Lika mengacak-acak rambut Aygra.
Mereka pun berjalan menuju sebuah restoran junk food yang mendunia di mall tersebut. Masih memegang tangan kecil keponakannya Lika dengan kalap menyebuti makanan yang terpajang.
"Tiga juta tujuh ratus beserta pajaknya mbak..." ucap Kasir dan diangguki oleh Lika. Lika pun memberikan kartu kredit milik Andri. Aygra yang tidak tau apa-apa hanya diam dan senang ria menunggui Lika.
"Yukk duduk!" ucap Lika menarik tangan Aygra.
Dimeja sudah terhidang makanan yang sangat banyak dan menggugah selera. Sama dengan Lika yang kalap memesan, keponakannya yang masih empat tahun pun kalap memakan makanan di depannya.
__ADS_1
Ditempat lain Andri seperti spot jantung membaca notifikasi yang masuk ke ponselnya. Bagaimana tidak kaget Andri melihat penggunaan kartu kredit sebesar itu hanya di sebuah restoran junk food.
"Mereka makan apa sampai sebesar ini tagihannya, bukannya mereka hanya berdua" gumam Andri memegangi pelipisnya.
Setelah selesai makan, Lika dan Aygra duduk tertatih seperti b*abi resep yang sudah kekenyangan. Wajar saja, makanan yang mereka makan sangat banyak dan hanya dimakan berdua.
"Aunty...Aygra kenyang..." ucap Aygra lemas.
"Aunty juga kenyang banget, kita duduk aja sebentar sampe kenyangnya hilang ya.." ucap Lika dan diangguki oleh Aygra.
"Likaaa..." ucap seorang wanita mendorong kereta bayi.
Lika menoleh melihat wanita itu secara samar-samar sampai ia mendekat.
"Widya!? Astaga...aku gak nyangka ketemu kamu disini, padahal besok aku mau ke rumah kamu nganterin undangan" ucap Lika kemudian.
"Hai hai manusia yang bangkit dari alam kubur... Seneng banget ketemu kamu lagi..." ucap Widya menyindir.
"Kamu bisa aja! Eh ini anak kamu?" tanya Lika memperhatikan seorang bayi mungkin yang tertidur pulas.
"Iya, baru 5 bulan" ucap Widya lalu melirik meja makan yang penuh dengan piring kotor.
"Tadi rame?" tanya Widya penasaran.
"Enggak, berdua doang. Ini keponakan aku, anaknya bang Andri sama Ana." ucap Lika.
Widya pun geleng-geleng menatap Lika tak percaya. Makan sebanyak ini dan malah tubuh masih berbentuk ideal sempurna, ini anak cacingan atau gimana. 😂
"Kamu udah lama nikah?" tanya Lika kemudian.
"Satu setengah tahun yang lalu Lik."
Lika pun membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
"Mana undangannya, katanya mau anterin undangan" ucap Widya lagi.
"Oh God! Aku hampir lupa karena mandangin si kecil ini lohhh" ucap Lika lagi.
Lika mengeluarkan sebuah undangan dari tasnya dan memberikannya pada Widya.
"Baju kamu udah nyampe alamat kan?" tanya Lika memastikan.
"Udah kok, bagus banget sumpah deh!" ucap Widya lagi.
"Awas loh kalo gak Dateng, aku nikah di rumah kamu!" ancam Lika.
"Masa aku gak dateng, ini itu pernikahan yang paling dinantikan semenjak kuliah tau!" ucap Widya lagi.
"Gitu dong!"
__ADS_1
"Eh Lika, nanti kita ngobrol kapan-kapan lagi ya. Tadi aku kesini beli susu baby aku dianterin sama ayahnya. Gak papa kan?" tanya Widya tak enak.
"Santai aja kali yang penting nanti kamu datang oke..."
Saat Widya ingin pergi mereka tertegun melihat Aygra menusuk-nusuk pipi baby kecil Widya dengan jarinya sembari memastikan baby kecil itu tak terbangun. Tak hanya itu Aygra juga menciumi pipi bayi itu dengan gemas.
"Aygra... kapan-kapan ya main sama dedeknya, Tante pulang dulu. Salam sama Mama kamu ya." ucap Widya kemudian mengacak-acak rambut Aygra.
Aygra mengangguk dan mengerucutkan bibirnya melepas kepergian Widya beserta baby kecil yang menggemaskan.
"Kamu kenapa?" ucap Lika melihat keresahan Aygra.
"Aygra mau dedek bayi...." ucapnya serak.
"Kapan-kapan ya sayang, dedek bayinya gak boleh lama-lama diluar makanya Tante Widya bawa pulang."
"Adek dalam perut Mama kapan keluar aunty? Aygra mau lama-lama cium adek gemas..." ucap Aygra kemudian menangis.
"Uhh..sayang... bentar lagi Aygra kan punya adek, adeknya perempuan lagi kayak tadi. Nanti boleh deh Aygra jagain sampe lamaaaaaaa.... banget." Lika menepuk-nepuk punggung Aygra dan menggendong keponakannya yang sudah mulai keluar aura kakak-nya itu.
"Nanti kalo Aunty punya baby, Aygra juga yang jagain..." tambah Lika lagi.
'Kalo aku siap punya anak sih' Lika meringis dalam hati.
"Bener Aunty? Nanti dedek bayi Aygra banyak dong?" tanya Aygra antusias.
"Ho'oh. Nanti om Steven kalo udah nikah juga pasti punya baby, Aygra juga yang jagain..."
Mata Aygra berbinar bahagia membayangkan akan banyak adik bayi lucu menghiasi hari-harinya. Aygra bertekad akan menyayangi adik bayi itu.
"Kalo om Steven bisa punya dedek bayi kenapa Papa sama Om ganteng gak punya Aunty? Kalo mereka punya juga kan adek Aygra jadi banyak."
Aduhh! Lika terperangah mendengar pertanyaan Aygra, bagaimana Lika harus menjelaskan pada anak kecil ini mengenai hal seperti ini. Bukankah usia Aygra masih terlalu kecil untuk menerima penjelasan dari pertanyaan itu. Huh! Lika kesal.
"Aygra...yang bisa punya adek bayi itu cuman mama-mama, kalo papa-papa gak bisa" terang Lika setelah berpikir cukup lama.
"Kalo aunty-aunty bisa?" tanya Aygra lagi membuat kepala Lika serasa akan meledak. Apa makan terlalu banyak membuat Aygra jadi keponakan menyebalkan seperti ini?😂🤣
'Ini apaan sih, kok aku mendadak jadi IQ jongkok. Kalo aku jawab lagi pasti Aygra makin banyak pertanyaannya. Ya Lord, tolong aku' batin Lika lagi.
"Aygra mau beli pesawat remot kontrol gak?" tanya Lika mengalihkan pertanyaan Aygra yang membuatnya pusing.
"Aunty mau beliin?" tanya Aygra antusias.
"Ho'oh! Yuk!" ucap Lika. Ia mengambil tasnya dari sofa restoran itu dan menggandeng keponakan kecilnya mengitari mall tersebut. Bodo amatlah nanti Andri marah-marah karena uangnya habis atau terlalu memanjakan Aygra daripada bingung menjawab pertanyaan ajaib yang keluar dari bibir mungilnya itu, Lika lebih baik diomelin Andri nanti.
*****
Jangan lupa tinggalkan jejaknya
__ADS_1
Like dan Komen kalian gak pernah muncul lagi nihh...Aku kangen!