
Hai hai Para Readers yang baik hati..
Aku balik lagi bersama Lika & Adi
Selamat merayakan idul Adha untuk teman-teman umat muslim dan muslimah😇🙏
Jangan lupa bagi-bagi daging kurban buat Author ya hihihi
Happy Reading!🌻
*****
Leonard melangkah mendekati Lika dan Adi. Entah mengapa hati dan otaknya tak bisa sejalan. Otaknya menolak untuk menemui gadis itu namun hati dan tubuhnya menginginkannya.
"Cila!" ucapnya cepat dan pelan namun masih dapat terdengar oleh Lika. Lika menoleh dan diikuti oleh Adi juga.
"Iyo?" sahut gadis itu lembut. Lika tak menaruh dendam pada Leonard, setelah beberapa kali menemui psikiater Ia juga sudah dapat berdamai dengan sosok Leonard.
"Ngapain Lo disini?" bentak Adi. Biar bagaimanapun dalam benak Adi masih teringat jelas bagaimana Ia menemukan Lika terkulai tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Adi tak dapat melupakan itu, sungguh membekas di ingatannya.
Lika dapat membaca aura kemarahan dalam diri Adi. "Hei" memegang tangan Adi dengan lembut, "jangan gitu dong. Semua orang bisa berbuat salah toh, kamu juga tak luput dari kesalahan kan?" Lika tersenyum sangat manis, "Malah sakitnya yang kamu buat lebih sakit tau!" bisik Lika pelan namun menyakitkan.
Deg! Jantung Adi berdetak kuat. Mengapa Lika masih tak percaya padanya? Mengapa Lika masih menganggap dia berselingkuh. Asalkan Lika tau, bahkan saat Lika digigit nyamuk saja Ia tak rela apalagi menyakitinya seperti yang ada dalam benak Lika.
Adi meredup. Adi tak mengeluarkan satu kata pun membalas ucapan Lika. Itu menyebalkan!
"Cilaa...Aku minta maaf karena yang kemarin..."
"Gak papa, aku udah lupain itu" sela Lika cepat. Lika tak ingin mendengar kejadian itu lagi. Mengalami hal tersebut sangat menyakitkan, namun Lika memilih berdamai dengan keadaan seperti anjuran psikiater.
"Kamu pasti sangat membenciku Cila, aku bisa mengerti itu."
"Tidak Iyo, kamu tetap temanku yang baik. Datanglah makan malam bersama kami nanti, aku ingin memberikan sesuatu untukmu."
Adi membelalakkan matanya mendengar Lika mengundang Leonard makan malam. 'Apa-apaan ini? Kenapa Lika mengundang ba*jingan itu!?"
Adi menatap Lika penuh tanda tanya. Apa yang sedang dipikirkan Lika hingga Ia mengundang musuh kedalam kandang. Tatapan itu malah dibalas senyuman lembut dari Lika dan satu kedipan mata menenangkan pikiran gundah Adi.
Tak hanya Adi, Leonard juga sama bingungnya. Tidak disangka Lika masih mau mengundangnya makan malam setelah apa yang Ia lakukan.
"Jangan lupa datang Iyo, kamu menunggumu." Lika melambaikan tangannya dan menarik Adi juga.
Jauh di dalam lubuk hati Leonard, Ia sangat cemburu melihat Lika memperlakukan Adi sangat istimewa. Dulu ia sendiri punya kesempatan, tapi hanya karena kebodohannya mabuk-mabukan membuat kesempatan berharga itu hilang dan tak ada kesempatan kedua lagi.
"Kenapa kamu ngundang dia?" celetuk Adi saat mereka sudah tiba di apartemen Lika.
"Memangnya salah?" sahut Lika cuek. Ia tau Adi mulai cemburu. Biar bagaimanapun Lika tau semenjak pertama kalinya bertemu dengan Leonard, Adi sudah menganggapnya saingat berat. Jadi alasannya bukan hanya kejadian malam itu.
__ADS_1
"Kamu kan tau dia...."
Cup!
Satu kiss pendamai suasana.😅
"Udah diem aja deh, percaya aja sama aku. Sekarang lebih baik kamu mandi dan bersiap-siap setampan mungkin. Okey!" Lika mendorong tubuh Adi pelan.
"Tapi masa aku pake ini lagi, aku kan gak bawa baju!" ujarnya sembari menyodorkan tubuhnya mendekat.
"Kamu ngeraguin butik designer ternama seperti aku? Jangankan pakaian kamu hari ini, sampai satu tahun pun bisa aku sediakan!" ucap Lika sombong. Lika sebenarnya geli mengucapkan kalimat itu, tapi entah mengapa lepas begitu saja dari mulutnya.
"Baiklah, baiklah ibu Designer yang Kaya Raya..." cibir Adi yang dibalas kekehan geli oleh Lika.
***
Malam itu Lika berdandan sangat cantik dengan balutan dress hitam panjang tanpa lengan. Dress itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih bening membuat siapapun yang melihatnya akan menatap terpesona.
Disana juga sudah hadir Adi dan Leonard dengan penampilan terbaik mereka. Pandangan Adi tak jenuh-jenuhnya tertuju hanya pada satu objek, siapa lagi kalau bukan Lika. Leonard ditemani Hans tampak calm dan tak banyak bicara. Melihat Adi yang menatap Lika terus-menerus sudah membuat hatinya panas. Jika bukan menjaga kehormatannya sudah Ia tinggalkan makan malam itu.
"Leonard Christian! Kita bisa bicara empat mata?" ucap Lika serius. Tidak biasanya Ia bicara formal seperti itu.
"Tentu!" sahut Leonard mantap.
"Aku jamin aku akan baik-baik saja, kalian tunggu disini saja yah. Please..."
Adi hanya mengangguk pasrah. Kesal bercampur penasaran.
Lika pun mengajak Leonard beranjak dari meja makan menuju ruangan kerjanya. Ruangan itu berbeda dengan ruangan lain. Ruangan itu bernuansa fairy tail, sangat indah. Warna putih dan pink membuatnya enak dipandang mata.
Lika menyerahkan dua buah kotak perhiasan, satu berwarna navy yang didalamnya semua perhiasan yang pernah diberikan Leonard pada Lika. Satunya lagi berwarna merah, isinya sebuah cincin. Ya! Cincin saat Ia menyatakan cintanya sekaligus melamar Lika.
"Maaf Iyo! Aku tidak bermaksud menyakitimu, hanya saja kita tidak bisa bersama lagi. Selama ini aku memaksakan diri untuk menerima kenyataan, namun apa dayaku ini, hatinya masih untuk Adi walau apapun yang sudah terjadi diantara kami." tutur Lika.
Leonard masih bengong menatap benda yang ada di tangannya. Baru kali ini Ia menemui wanita seperti Lika ini.
"Kamu berhak bahagia Iyo, tapi itu bukan bersama aku. Aku minta maaf dan terimakasih untuk selama ini Iyo!"
"Cila..." ucap Leonard lirih. Suaranya parau menandakan dadanya sangat sesak menerimanya.
"Maafkan aku Iyo... Kamu sahabatku yang paling aku sayangi... Maafkan aku Iyo..." Cairan bening mengalir dari mata Lika, Ia sungguh tak tega telah memberi harapan palsu pada Leonard.
"Tidak Cila, tidak... Kamu tidak bersalah..."
"Maaf Iyo!"
__ADS_1
"Aku yang minta maaf...bisakah aku memeluk sahabatku ini?" Leonard merentangkan tangannya meminta Lika memeluknya. Sekali saja, sekali lagi Leonard ingin memeluk Lika.
Lika mengangguk, berjalan ke pelukan Leonard. Leonard adalah sosok malaikat penolong selama ini. Biar apa pun yang terjadi, tidak dapat dipungkiri bahwa Leonard berjasa besar padanya beberapa tahun ini.
"Cila..Kamu harus berjanji padaku, kamu harus bahagia. Kamu harus berjanji, kamu mau kan berjanji padaku?" ujarnya sembari memeluk Lika.
Lika mengangguk, air matanya terus mengalir di kemeja Leonard.
"Hei...jangan meninggalkan air matamu di kemejaku cila. Apalagi cairan yang keluar dari hidungmu itu..." kekeh Leonardo ditengah tangisan harunya.
Bugh!
Lika memukul dada kekar Leonard, bisa-bisanya bercanda disaat seperti ini.
"Bercanda terus!"
"Aku juga sayang kamu Cilaa.."
"Apa-apaan sih Iyo, aku benci kamu...sangat benci!"
"Aku lebih menyayangimu!" gumam Leonard.
*****
Yeyeyeye....
Akhirnya Lika dan Leonard berdamai👐👏
Setelah ini akan ada kejutan apa lagi ya? Tetap nantikan update Cinta Dalam Diamku setiap hari ya😘
Jangan lupa juga singgah di Novel aku yang baru ya, judulnya 'Allea'.
Kalo gak singgah Author ngambek nih, hehehe.
TERIMAKASIH UDAH SETIA MENUNGGU DAN MEMBACA SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU🙏
PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG😌😌
JANGAN LUPA VOTE JUGA YA 😇
Jangan Lupa gabung di grup aku juga ya, supaya kalian gak ketinggalan info Up Novel aku.
JANGAN LUPA TAMBAHKAN NOVEL INI KE FAVORIT KALIAN 🌻😉
THANK YOU🌈
Anne Chellyca✍️
__ADS_1