Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 33


__ADS_3

Seharian Lika mempermainkan Andri dengan seluruh kata-katanya. Lika memperlakukan Andri sangat buruk dan bahkan Lika belum pernah berlaku demikian pada pengurus pribadinya.


Sesampai dirumah Andri langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang Lika.


"Capek!!" ujar Andri.


"Bang Andri kok istirahat sih, belanjaan di mobil kan masih banyak" sahut Lika.


Andri pun bangkit dan menarik kedua pipi Lika dengan tangannya.


"Nye Nye Nye...Kamu tuh parah ya ngerjain Abang seharian ini. Kamu jadiin abang asisten pribadi, kamu belanja pake kartu kredit abang, dan kamu hampir buat pinggang Abang encok plus betis sakit" geram Andri.


"Bodo amat" ledek Lika.


"Coba deh nanti saat papa bayarin tagihan kartu Abang nanti pasti dia curiga abang beliin perempuan barang-barang sebanyak itu. Padahal itu semua belanjaan kamu Lika" kali ini kesabaran Andri habis. Ia mengacak-acak rambut Lika dan menarik-narik pipinya hingga memerah.


"Mamaaaaa......" Lika berteriak karena pipinya terasa sakit.


Siska yang mendengar teriakan putrinya itu langsung menghampiri.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Siska khawatir. Ia memperhatikan pipi Lika yang memerah.


"Bang Andri ma" sahut Lika sambil memegangi kedua pipinya.


"Ngaduuuuu" cibir Andri.


"Andri kamu ngapain? Liat pipinya" sorot tajam mata Siska pada Andri.


"Mama...Jangan belain adek terus dong. Jangan-jangan mama juga ikutan ya sama Lika buat ngerjain Andri" Andri frustasi.


"Iya. Mama yang kasi ide pake kartu kredit kamu" sahut Siska bangga.


"Mama...." Andri tak menyangka kalau ini semua ulah mamanya.


"Apa kamu? Cariin obat sana! Liat yang kamu buat" titah Siska.


"Dasar perempuan. Siapa yang salah siapa yang dihukum" cibir Andri.


Setelah memberikan kotak obat Andri duduk di samping Lika. Ia memperhatikan pipi adiknya yang sangat merah karena ulahnya. Sebercak rasa bersalah pun menyelimuti hatinya, apalagi ditambah Lika tidak meliriknya sekalipun.


"Ehh tadi kalian kasi makan ikan papa ya dihalaman belakang?" Siska memecah keheningan.


"Iya ma, ikannya banyak. Gemes" sahut Lika semangat.


"Kenapa ma?" tambah Andri.


"Kalian kasi makan pake pakan yang biasa?" tanya Siska lagi.


"Iya ma. Emang kenapa sih" Andri semakin penasaran.

__ADS_1


"Ikan-ikannya mati. Sepertinya keracunan" Siska menghela nafas.


"Kok bisa mati?" tanya Lika panik.


"Keracunan gimana ma? Tadi kita sendiri kok yang kasi makan" tambah Andri.


"Makanya itu mama juga heran"


"Yahh padahal Lika mau buat aquarium di kamar. Lika rencananya mau ambil beberapa ekor" sahut Lika lemas.


"Kok bisa keracunan ya? Selama bertahun-tahun ikan itu baik-baik aja kok" Siska masih bertanya-tanya apa yang terjadi dengan ikan-ikan itu.


"Yaudah lah ma. Kalo ikannya mati emang mama mau nangis tiga hari tiga malam?" cibir Andri.


"Kamu tuh kebiasaan ya Andri. Lagi ngomong serius kamu malah bercanda. Mama hukum kamu nanti lebih dari yang Lika buat hari ini. Mau?" ancam Siska.


"Wadidaw jangan ma. Ini aja menjawab pertanyaan papa tentang tagihan itu aja nanti aku bingung, gimana mau nambah lagi coba" Andri menggaruk kepalanya frustasi.


"Kasian banget sih hahahaha" ledek Lika.


"Adek! Mau ditambahin" Andri meraih pipi Lika.


Dengan cepat Siska menepis tangan Andri.


"Hehh..Gak ada hati ya ini anak. Udah sana mandi, kamu itu udah bau kambing"


"Tapi mama tetap sayang kan" Andri menggoda Siska. Andri memeluk dan mencium pipi Mamanya itu.


"Hahaha...Mama suka kan?" goda Andri.


"Huhh..Bau kambing" Siska menutup hidungnya untuk mencibir Andri.


"Apa kamu senyam-senyum. Kalo bukan karena kamu Abang gak akan bau kambing gini. Sini Abang mau balas dendam" Andri memeluk Lika.


"Aaaaaa...Bang Andri lebih bau dari kambing" teriak Lika.


"Biarin, biar kamu juga kena" Andri terus memeluk Lika erat walaupun Lika meronta.


"Udah ahh Andri. Mandi sana!" titah Siska.


Andri pun melepaskan pelukannya dari Lika.


"Iya iya" Andri beranjak dan meninggalkan ruangan itu.


"Berapa juta?" bisik Siska.


"Mungkin lima" jawab Lika.


Mereka tertawa terbahak-bahak karena berhasil mempermainkan Andri dan menyebabkan masalah baru bagi Andri. Lika sebelumnya dihasut oleh Siska agar menggunakan kartu kredit Andri untuk berbelanja di mall. Lika bebas membeli apapun yang dia mau walaupun sebenarnya Lika tidak terlalu membutuhkannya.

__ADS_1


"Mama..." ujar Lika tiba-tiba.


"Kenapa?" sahut Siska yang masih fokus membuka belanjaan putrinya itu.


"Lika jadi kan ma pulang ke Medan liburannya" Lika memasang muka kasihan.


"Sebulan kan?" tanya Siska.


"Iya ma, abis Lika dari Medan baru kita main ke Maldives"


"Tapi Andri dan Adi mau ikut katanya sayang" sahut Siska.


"Hah? ikut?"


"Iya ikut" sahut Siska yakin.


"Tapi ma, Lika itu bukan pulang ke kota dengan kondisi seperti disini. Lika itu pulangnya ke desa, gak ada pengurus rumah tangga, makanan enak dan bahkan setiap hari Lika bakalan ke ladang atau sawah. Masa anak sultan mau diajak" terang Lika.


"Mama juga udah jelasin ke mereka, tapi mereka tetap ngeyel mau ikut sayang. Mama harus gimana dong?" jawab Siska.


"Aduhh yang ada bakal buat masalah nih" Lika memegang pelipisnya.


"Mama juga gak tau harus bilang apa" sahut Siska.


"Kok mereka kepikiran mau ikut Lika sih ma?" tanya Lika penasaran.


"Pasti ada sesuatu" bisik Siska.


"Apa lagi coba yang mereka rencanakan ya ampun" Lika frustasi.


"Mama gak tau sayang, tapi mama seneng juga sih. Setidaknya ada yang jagain kamu" Siska mengelus rambut Lika.


"Mama, Lika itu udah besar. Lagian heran deh, mereka kan harus skripsi. Masa mau ikutan bareng aku?"


"Kan mereka tinggal meja hijau sayang, udah ada tanggalnya lagi. Jadi mereka udah santai dong" sahut Siska.


"Dasar dua orang aneh. Gak bisa apa gak ngekor aku kemana-mana" kesal Lika.


Siska hanya tersenyum geli melihat kekesalan Lika. Walaupun Andri dan Adi tidak mengutarakan secara langsung, Siska tau jika ini rencana mereka agar Adi dan Lika semakin dekat satu sama lain. Wanita itu tahu persis jika Ia hanyalah alat kedua anak laki-laki itu.


"Mama kok senyum-senyum?" tanya Lika heran.


"Enggak kok sayang, mama cuman bayangin gimana nanti Andri kena becek pertama kalinya" sahut Siska bohong.


"Makanya itu ma, apa gak bisa ya mama bujuk Abang supaya gak ikut?" tanya Lika penuh harap.


"Mama udah coba sayang, tapi Abang kamu tetap ngeyel mau ikut kamu ke Medan. Papa kamu juga udah dukung supaya mereka juga ikut. Mama bisa apa?" lagi-lagi Siska berbohong demi melancarkan tujuan Andri dan Adi.


"Yaudah lah kalo udah papa yang ngomong. Nanti Lika bilangin Abang supaya pesan tiket kami" Lika mengalah.

__ADS_1


Siska mengelus-elus rambut panjang Lika. Memeluknya erat seolah-olah sudah sangat lama tidak bertemu.


__ADS_2