
Yukk Lanjut hehehe ๐
Selamat membaca guys!
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Ambilkan kompres!" titah Andri pada istrinya. Ana mengangguk dan keluar mengambil Air.
"Sakit?" Andri memperhatikan pipi Lika. Lika hanya mengangguk pasrah. Tadinya Lika berpikir Ia akan ditolak semua orang, namun setelah melihat perlakuan Andri, Lika sadar ternyata perasaan Andri belum berubah. Andri masih abangnya yang baik seperti dahulu.
"Sekarang ceritain ke abang semuanya, Abang harus denger sendiri dari kamu kenapa kamu masih hidup dan berada di sini."
"Jadi bang Andri gak seneng aku masih hidup?" Muka Lika cemberut.
"Kamu itu ya, udah lima tahun tapi masih sama aja!" Andri geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Lika.
Ana masuk membawa sebuah mangkuk berisi es batu dan sebuah handuk kecil untuk mengompres wajah Lika. Ana mendekat pada Lika dan mencoba mengompres sahabatnya itu.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi Lik? Kok bisa kayak gini sih?" tanya Ana masih penasaran.
"Aauu... Pelan-pelan Na. Sakit.."
"Iya, ceritain makanya!"
"Jadi gini Bang, Ana, lima tahun lalu abis kita wisuda malemnya aku mergokin Adi lagi tidur sama perempuan di hotel. Aku kecewa banget..."
"Tapi kata Kak Adi itu fitnah Lika..." sela Ana.
Andri mengangkat tangannya, "Biarkan Lika cerita dulu sayang."
"Aku sakit hati, dan aku ngebut dan kecelakaan itu benar adanya." Lika meremas ujung jaketnya menahan sakit mengingat kenangan pahit itu lagi.
"Terus..." sahut Ana.
"Aku dibawa ke rumah sakit dan karena masih shock aku ngomong ke Mama kalo Adi selingkuh dan setelah itu aku dikasih obat penenang dan ketika aku sadar aku udah di Singapura bareng Lili. Aku fikir aku hanya dirawat disana bang.." Lika menggenggam tangan Andri, "tapi karena kondisi psikis aku yang banyak pikiran butuh waktu sampai enam bulan hingga aku benar-benar sembuh."
"Jadi kok kamu gak balik ke Indonesia Lik?" tanya Ana lagi.
"Aku juga pengennya balik ke Indonesia Na, tapi Mama ceritain semuanya ke aku. Aku baru tau saat itu kalo kalian di Indonesia benar-benar berfikir aku sudah meninggal. Aku benar-benar kecewa sama keputusan Mama, tapi gak ada lagi yang bisa aku perbuat hiks...hikss" Lika menangis sesenggukan.
Andri memeluk Lika untuk menenangkan wanita itu. Ana juga memberikan segelas air putih pada Lika. Setelah minum, Lika pun menarik nafas dan melanjutkan ceritanya.
"Jadi Mama memutuskan untuk mengantarkan aku ke Paris, Mama meminta aku lanjut kuliah disini dan memulai hidup baru. Mama dan Papa juga tetap mengunjungi aku setiap bulan sampe beberapa bulan tapi akhirnya Mama dan Papa tiba-tiba menghilang. Aku merasa dibuang disini...." Air mata Lika semakin banyak mengalir.
Ana dan Andri saling menatap, gundah antara membiarkan Lika meneruskan ceritanya atau menghentikan saja.
"Aku gak punya uang, jadi aku minta mbak Lili pulang ke Indonesia karena aku udah gak sanggup buat bayar gajinya mbak Lili. Semua tabungan dan uang yang ada di rekening aku gunakan buat bayar uang kuliah hingga aku lulus sehingga aku bener-bener gak punya uang lagi saat itu..." menyeka air mata, "Jadi aku kerja jadi waiter di sebuah restoran sepulang kuliah sampai malam. Hingga akhirnya aku ketemu Leonard, dia seperti malaikat. Dia memintaku jadi asisten pribadinya, tapi dia memperlakukan aku bukan seperti bawahan melainkan seperti sahabat dan adik."
Ana dan Andri hanya diam tak bergeming, setelah mendengar itu semua mereka jadi paham atas sikap Leonard di butik beberapa hari yang lalu.
Lika menghela nafasnya, "Leonard mengira kalian yang membuang aku, dia orang yang baik."
Andri memeluk Lika lagi, mengelus-elus rambut Lika perlahan.
"Abang gak tau kamu sangat menderita selama ini dek, maafkan Abang."
"Ini bukan salahnya bang Andri atau siapapun, ini udah takdirnya Lika." Lika masih berusaha tersenyum, pahit memang kisah Lika selama ini.
"Jadi kamu beneran udah tunangan sama laki-laki yang kemarin Lik?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Ana.
Lika mengangguk pelan, "Dia melamar aku dimalam yang sama saat kami menemukan Aygra" terang Lika.
__ADS_1
"Apa kamu mencintainya?" tanya Ana polos. (Duhh ini Bumil gak bisa ngerem pertanyaannya gak sih๐)
Deg!
Deg!
Lika menatap Ana, pertanyaan Ana sangat mengobrak-abrik hati Lika. Lika tersenyum, "Aku akan menikah setelah musim dingin selesai!"
"Apa!?" Andri memperhatikan Lika, menelisik adanya kebohongan disana. Ah! Tak ada kebohongan, hanya raut wajah yang pasrah.
Lika mengangguk pelan, tersenyum pada Andri dan Ana.
"Apa kabar Mama dan Papa sekarang?" ucapnya lirih.
"Kamu marah dengan mereka?" suara Andri sama pelannya mengimbangi suara Lika. Lika menggelengkan kepalanya, "Sama sekali enggak bang, mereka pasti punya alasan untuk itu."
"Kamu benar!" Andri menghela nafas panjang, "Mama dan Papa sudah meninggal." Andri menutup matanya, Ia tak siap melihat ekspresi wajah Lika mendengar kabar ini.
Demi apapun, Lika sangat shock. Lika kehilangan dua sosok sekaligus.
"Kalian jangan becanda sama aku!" Lika menangis histeris, tak pernah terpikir oleh Lika dia akan kehilangan Siska dan Hendra secepat ini.
"Kami serius Lika!" timpal Ana seraya mengelus-elus pundak Lika.
"Mereka dirampok dan perampok itu menembak mati Papa dan Mama" tambah Ana.
Lika menatap Ana meminta jawaban, "Apa karena itu Mama dan Papa menghilang tanpa kabar untukku?"
Ana tak sanggup menjawab lagi, Ana hanya mengangguk.
Tangis Lika pecah, selama ini dibenak Lika mereka sudah tega membuang Lika di negara ini. Kenyataan ini sangat pahit, bahkan Lika tak ingat pasti kapan pertemuan terakhir mereka yang pasti itu terjadi di apartemen ini.
Andri dan Ana memeluk Lika, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menenangkan gadis itu. Selama lima tahun ini penderitaan gadis itu sudah cukup menyakitkan baginya. Mereka pun sengaja untuk tidak membahas perihal Adi melihat kondisi Lika yang benar-benar terpuruk seperti ini.
"Kamu masih punya kami, kami sayang banget sama kamu Lik."
"Iya dek, kamu juga masih punya Papa dan Mama di Medan. Mereka masih sehat" tambah Andri.
Lika mengangguk pelan, mengingat orangtuanya Ia merasa menerima kekuatan ditengah kenyataan ini.
"Mereka tau kok kalo aku masih hidup!" ujar Lika tiba-tiba.
Sontak saja Andri membulatkan matanya mendengar ucapan Lika pasalnya selama ini Andri selalu mengunjungi orangtua kandung Lika dan mereka bersikap seolah-olah Lika benar-benar sudah meninggal. Namun Andri tak mempermasalahkannya, pertemuan dengan Lika sudah mengobati rasa sakit karena kehilangan seluruh anggota keluarganya.
Lika tiba-tiba tersenyum, memasang senyumannya semanis mungkin.
"Bang Andri, aku baik-baik saja. Aku akan kembali sekarang!"
"Ehh...Gak boleh!" celetuk Ana. Ana malah memeluk Lika erat seperti enggan berpisah.
"Kita kan baru ketemu dek, kamu nginap aja ya..." bujuk Andri.
"Enggak usah bang, aku gak enak sama Bunda Renaya. Sepertinya Bunda belum menerima kehadiranku bang, lebih baik aku pulang aja."
"Kalo gitu aku ikut!" timbal Ana.
(Kambuh lagi deh ini bumil๐)
"Jangan dong sayang, masa suami ditinggal sendiri..." Andri memegangi tangan Ana yang masih memeluk Lika erat. Moment yang tadinya hari dan menyedihkan berubah jadi menggelikan.
"Pokoknya aku ikut! Kamu cuman gak mau karena gak ada yang kelonin kan!?" Mulut barbar dan kebangetan menjadi kebiasaan baru bagi Ana.
__ADS_1
Lika malah terkekeh geli, matanya yang sembab dan membengkak karena menangis sangat tidak cocok dengan ekspresinya melihat pasangan didepannya ini.
"Udah ah, aku mau ikut Lika. Kamu dirumah aja, jagain rumah!" Ana meninggalkan mereka keluar kamar.
"Sabar ya bang hehehe" kekeh Lika geli.
Diruang keluarga, Adi sedari tadi menunggu mereka keluar. Dalam hati kecilnya Adi benar-benar merindukan Lika walaupun kenyataannya sekarang Lika sudah bertunangan dengan orang lain.
"Ana! Bagaimana? Dimana Lika?" sergah Adi saat melihat Ana.
"Hem?" Ana benar-benar bingung dengan pertanyaan Adi.
"Mama! Aunty mana?" Aygra turut menghampiri mamanya.
Ana menggendong Aygra dan berkata, "Kamu mikirnya Aunty terus ya," menoel-noel hidung Aygra, "kita bobok di rumah Aunty yuk! Mau!?"
"Pasti mau dong" sahut Lika.
"Yaudah nih gendong bentar ya Aunty, Mama siapin pakaian kita dulu."
"Eh! Gak usah Na. Kamu pake punya aku aja nanti, ukuran kita sama kan? Kalo Aygra ada banyak kok disana kemarin baru aku beliin."
"Semangat banget mau ninggalin suami!" ujar Andri dengan wajah cemberut.
"Yaudah yuk!" Ana melangkah dengan semangat setelah memakainya pakaian untuk dilindungi Aygra dari dinginnya salju.
"Lika..." ucap Adi lirih, seperti teriris pisau rasanya diabaikan oleh orang terkasih. Belum pernah Adi mendapatkan perlakuan seperti ini dari Lika sebelumnya.
Lika hanya menatap Adi iba, kemudian Ia tersenyum kecil dan berlalu pergi. Adi ingin menyusulnya, tapi tangannya ditahan oleh Bunda Renaya.
"Kenapa sih Bun? Adi kangen sama Lika!"
"Dia udah bohongin kamu Adi! Buka mata kamu!! Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk kamu lalui dalam kebohongan yang dia buat!!!" suara Bunda Renaya meninggi.
"Lupakan dia!!!" bentaknya lagi.
Suara Bunda Renaya sangat keras hingga terdengar oleh Lika dan Ana.
Deg!
Deg!
'Ya Tuhan...' jerit Lika dalam hati. Langkahnya terhenti, kakinya terasa kaku mendengar semua perkataan Bunda Renaya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
TEMAN-TEMAN READERS-KU TERSAYANG ๐
TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU๐๐๐
Mulai hari ini aku akan UP tiap hari setiap pukul 00.00 khusus buat kalian๐
PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG๐๐
JANGAN LUPA VOTE JUGA YA ๐KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULIS๐๐ป
Jangan Lupa gabung di grup aku juga ya, supaya kalian gak ketinggalan info Up Novel aku.
THANK YOU๐
Anne Chellycaโ๏ธ
__ADS_1