Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 50


__ADS_3

Sandra dan keluarga juga hadir pada pemakaman Lika. Ketika semua orang bersedih karena peristiwa itu, hanya Sandra yang sangat bahagia dan bersemangat.


Sekali dayung, dua pulau terlampaui.


Begitulah posisi Sandra saat itu. Awalnya Sandra hanya berniat untuk memperkeruh hubungan antara Adi dan Lika namun siapa sangka rencana itu malah memusnahkan musuh tanpa mengotori tangannya.


"Tidurlah dengan damai bersama cacing ya Lika sepupu kesayanganku. Kak Adi dan keluarga Tante Siska aman bersamaku" batin Sandra saat menabur bunga diatas makam.


Sorak-sorai kemenangan memenuhi hati Sandra melihat nisan Lika dibubuhkan.


"Sampai jumpa di surga."


Sepulang dari pemakaman, keluarga Hermawan dan Prasetya kembali kerumah duka. Mereka akan melakukan doa bersama untuk kepergian Lika.


Adi masuk kedalam kamar Lika, kamar yang mayoritas isinya berwarna merah muda itu rasanya sangat hampa. Pajangan foto-foto Lika malah semakin mengiris hati Adi.


Samar-samar terlihat Lika sedang berdiri didepan meja riasnya dengan gaun merah maroon seperti pada pertunangan mereka setahun yang lalu. Tidak...Tidak ada Lika disana. Bayangan Lika hanya ilusi dari Adi, tak akan ada lagi pertemuan dengan Lika bahkan saat mengantarkan Lika ketempat peristirahatan terakhirnya pun Adi tak dapat lagi melihat wajahnya karena Lika langsung dimasukkan kedalam peti. Tanpa ada yang tau peti itu isinya bukanlah Lika.


"Gue gak nyangka bakalan kehilangan adik gue lagi" suara parau Andri mengagetkan lamunan Adi. Adi menoleh dan mendapati Andri sudah duduk diatas ranjang Lika.


"Maafin gue gak bisa jagain Lika, gue udah buat Lika sampai kehilangan nyawanya bahkan dihari yang seharusnya dia bahagia." Adi mengambil sebuah foto Lika saat ulang tahun.


"Gue gak nyalahin siapa-siapa, mungkin memang takdir sudah begini. Gue gak bakalan nyari adik perempuan lagi, gue gak mau mereka terus berakhir seperti Andini dan Lika."


Adi hanya mengangguk pasrah, dia sendiri masih tidak tau bagaimana kehidupannya kedepannya. Pertemuan dengan Lika melukiskan banyak kebahagiaan tapi perpisahan tanpa pertemuan lagi malah menggoreskan sepuluh kali lipat kesedihan dan luka dibandingkan kebahagiaan yang dahulu pernah ada.


"Lika membawa pergi nyawa gue." Adi bahkan sudah tak memiliki suara lagi mengatakan kalimat itu.


Andri beranjak dan membuka laci meja belajar Lika. Ia mengambil sebuah buku dengan cover merah muda. Ia menyerahkan buku itu pada Adi.


"Ini buku diary Lika, dulu sempat gue baca beberapa lembar yang isinya tentang cinta dia ke loe. Lika udah suka sama loe dua tahun sebelum kalian tunangan, sebelum loe tau."

__ADS_1


Adi mengambil buku itu dari tangan Andri, cover merah muda yang bagian dalamnya sudah ditempelkan sebuah foto saat Adi dan Lika berada di taman sebelum keberangkatan Adi ke New York.


25 Agustus...


Aku harap tanggal ini akan abadi


Aku harap kamu tak pernah pergi


Begitulah tulis Lika dibawah foto itu. Adi memeluk buku itu. Entah sihir apa yang dibuat Lika sehingga dua kalimat itu mampu mendatangkan air mata dari seorang Adi yang biasanya sangat dingin kepada wanita.


"Lebih baik besok kita kembali ke New York, semakin lama kita disini Mama akan semakin benci sama loe. Mama masih menyalahkan loe atas kejadian yang menimpa Lika. Kita juga gak boleh terus bersedih, kita harusnya doakan keselamatan jiwa Lika."


Adi mengangguk setuju. Ia masih hanyut dalam kesedihan yang entah kapan berakhirnya. Rasanya untuk melanjutkan hidupnya sudah tak ada gunanya. Memang benar, kepergian seorang Lika yang selama ini membuat mereka pusing malah sangat menyakitkan.


Renaya tiba-tiba masuk.


"Nak, ayo kita pulang. Kata Andri tadi besok kalian kembali ke New York kan?"


"Adi gak tau Bun, apa Adi masih bisa melanjutkan hidup Adi setelah ini."


"Kamu enggak boleh seperti ini nak, Lika akan sedih disana kalo tau kamu malah putus asa seperti ini."


"Kalo Lika sedih kenapa dia memilih pergi Bun? Kenapa saat itu Lika gak mau dengerin Adi Bunda? Sekarang Adi malah harus menanggung semua ini sendirian Bun, padahal Adi gak pernah melakukan itu." Adi kembali terisak, begitu berat beban yang harus ia pikul karena kejadian yang menimpa Lika. Adi bahkan menjadi kambing hitam karena Lika mengemudi setelah melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh Adi.


"Masih ada gue yang percaya sama loe, untuk kebaikan loe makanya gue mau kita secepatnya pulang ke New York. Gue gak mau loe terus-terusan nyalahin diri sendiri."


"Benar kata Andri nak, ayo kita pulang sekarang. Tuhan pasti sudah mengatur semuanya untuk kamu."


Adi hanya mengangguk pasrah,


"Iya Bunda."

__ADS_1


Jauh dari semuanya, Lika dirawat disebuah rumah sakit besar di Singapura. Kondisi tubuh yang lemah dan hati yang hancur membuat Lika harus dirawat secara eksklusif.


Lili dengan setia menemani dan merawat Lika. Saat Lika sadar, Lili harus menjawab semua pertanyaan yang akan keluar dari mulut Lika padahal dia sendiri pun tak mengerti mengapa majikannya itu dikabarkan meninggal padahal Lika masih hidup.


Saat Lika membuka matanya, Lika melihat sosok orang yang selama ini setia membantunya.


"Non Lika sudah sadar? Masih sakit ya Non?"


"Lika dimana mbak?"


"Non lagi dirumah sakit Non, kita di Singapura" tutur Lili hati-hati.


"Mbak, kenapa Lika harus dibawa kesini mbak?" Benar dugaan Lili, Lika akan bertanya alasannya dibawa ke rumah sakit ini.


"Non Lika sembuh dulu ya, nanti setelah sembuh saya jelaskan semuanya. Yang penting sekarang kesembuhan Non Lika."


Lika tak menjawab perkataan Lili. Ia menatap langit-langit ruangan itu dan berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi. Ya...Lika memergoki Adi tidur dengan seorang gadis dihotel. Air mata Lika pun kembali menetes membahasi pipinya, sakit hati yang tak ada obatnya.


"Mbak Lili, tinggalin Lika sendiri ya."


"Tapi Non..."


"Lika gapapa kok mbak, Lika cuman butuh waktu sendiri."


Lili menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu. Rasa bingung harus berbuat apa memaksanya melakukan apa yang diminta Lika.


"Kalo ada apa-apa panggil mbak ya Non."


Lika tersenyum getir, sangat terlihat senyuman itu dibuat dengan terpaksa. Wajah cantik Lika sekarang dipenuhi Luka di bagian kening dan banyak goresan dari pecahan kaca pada pipinya. Sungguh dahsyat kecelakaan maut itu melukai gadis itu.


"Tuhan... Sebenarnya apa Tuhan rencanakan untuk aku. Apa aku sanggup menghadapi ini semua? Kenapa dia tega melakukan itu? Mengapa kami harus tunangan kalo dia sayang sama perempuan lain? Kenapa dia malah jahat sama aku?" Lika meremas seprai ranjang pasien yang ditempatinya. Air mata terus mengalir dari matanya yang bahkan sudah membengkak karena terus menerus menangis dari kemarin.

__ADS_1


__ADS_2